
"Ada masalah apa sih dia sama aku? gitu amat. "Gumamnya Alisa sambil menggerakkan kakinya melangkah naik.
Kini Alisa sudah berada di kamarnya dan Hadi sudah bertelanjang dada dan memakai handuk, duduk di sofa memangku laptop.
Alisa membawa langkahnya ke kamar mandi untuk menyiapkan masakan Hadi mandi. Tidak lupa dengan aroma terapinya, lanjut keluar dan menghampiri wardrof untuk menyiapkan pakaiannya.
"Mau makan apa?" tanya Alisa sambil menyimpan pakaiannya di atas tempat tidur.
“Apa saja boleh,” jawabnya Hadi sambil menyimpan laptopnya di atas tempat tidur.
"Ya udah, makan yang ada saja. Gak usah aku bikin kan, bingung ach," Alisa mengayunkan langkahnya keluar kamar.
"Mau kemana?" tanya Hadi yang hampir masuk ke kamar mandi.
Alisa yang hampir melintasi pintu menoleh dan menjawab. "Aku mau ke kamar tante Diana."
"Oh." Hadi mengangguk.
Saat ini Alisa sudah berada di kamar nya Diana dan mengobrol dengan Diana dan ibu mertua juga ibunya Diana, lantas datanglah suami bu Lia. Jadinya di kamar yang besar itu terasa ramai.
"Diana, kami besok mau balik dan kamu baik-baik ya di sini. Nanti kalau ada apa-apa bilang saja telepon saja lagian ada Dania di sini, jadi kami tidak perlu khawatir." Ujar sang ayah.
"Kenapa tidak tinggal di sini saja besan?" ibunya Hadi menatap besannya.
"Saya masih punya urusan di sana, jadi tidak bisa lama-lama di sini, lain kali saja ke sini lagi." Balas ayah nya Diana.
“Iya, bukannya gak mau di sini, tapi memang gak bisa lama-lama.” Tambahnya ibu Lia.
''Iya, Bu ... Ibu tinggal saja di sini. Pinta Diana menatap ayah dan ibunya.
Bu Lia, Manarik nafas dalam-dalam sambil memegangi tangan Diana. "Ibu juga ingin tinggal di sini menemanimu. Namun Abah masih punya urusan di sana, jadi Ibu harus pulang."
"Ya sudah kalau begitu, aku tidak bisa memaksa kalian berdua." Timpal Diana sambil mengembuskan nafas dari mulutnya.
"Besan kan nggak punya tanggung jawab, jadi besan saja di sini temenin Diana," ucap nya Bu Lia sembari menatap ke arah Ibunya Hadi.
"Iya sih ... memang seperti itu, kalau di minta sih ... saya pasti akan di sini," lirihnya ibu mertua Diana seraya melirik ke arah Diana.
“Iya benar, besan di sini saja tinggal bersama Diana.” tambahnya besan laki-laki.
“Insya Allah, besan …” ibunya Hadi mengangguk.
Alisa hanya diam dan melihat ke arah mereka secara bergantian dan mendengarkan percakapan dari mereka saja.
__ADS_1
Hingga datanglah Hadi yang tampak segar. "Wah ... sedang berkumpul nih. Ngobrolin apa nih?"
"Ini, Abah bilang ... kita besok mau pulang dan gak bisa tinggal di sini lebih lama. Karena ada urusan di kampung." Jawabnya sang bapak mertua.
"Oh iya. Gak pa-pa, kalau memang gak bisa tinggal lebih lama di sini." Hadi duduk di dekat Diana.
Kemudian mereka, ibunya Hadi dan Alisa keluar lebih dulu sementara orang tua Diana belakangan. Kini tinggallah Hadi dan Diana yang berada di kamar tersebut.
Diana menoleh pada sang suami dan menunjukan senyumnya. "Abang sudah makan?"
"Belum sayang, masih kenyang," jawabnya Hadi sembari mencium pucuk kepala sang istri dengan mesra.
"Makan lah, nanti kau sakit." Pinta Diana sambil terus tersenyum.
"Sayang sudah makan dan minum obat?" selidik Hadi sambil menarik bahunya Diana ke dalam pelukannya.
"Sudah, semua sudah aku lakukan. Gimana salam, berhasil!" tiba-tiba sang istri bertanya demikian.
Hadi mengerutkan keningnya. "Apanya?"
"Itu, semalam Abang sudah melakukan kewajiban Abang sebagai suami belum sama Lisa?" Diana mendongak sambil senyuman terus melengkungkan bibirnya.
"Hem, masih coba-coba sayang!" Hadi mengeratkan rangkulannya.
"Iya," Hadi mengangguk.
"Abang akan berdosa bila Abang mengabaikannya atau juga terlalu memaksa, harus pelan-pelan dan sabar. Dia kan masih virgin kan?" lagi-lagi Diana mendongak, menempelkan dagunya di dada Hadi.
"I-iya," Hadi mengangguk kembali.
"Mana ada aku melakukannya. Yang ada aku tersiksa semalaman. Menahan hasrat yang meronta itu," batinnya Hadi sambil mengecup keningnya nya Dania.
Kemudian jadi mendekatkan wajahnya ke bibir Diana dan mengecupnya dengan mesra. Tapi yang Hadi rasakan! tidak ada hasrat untuk melakukan lebih.
"Abang, besok mau masuk bekerja dengan Lisa juga. Abang kerjaan kami pasti sudah numpuk!" ucap Hadi setelah mengecup bibir Diana yang penuh kehangatan.
"Oh, iya. Semakin semangat saja ya? sekarang ... Abang bekerja dengan seseorang yang halal buat Abang." Tangan Diana mengusap dadanya Hadi dengan lembut.
"Em ... besok juga dokter akan datang untuk memeriksa sayang, dan Abang akan usahakan untuk pulang sebentar." Tambahnya Hadi.
"Oke, sekarang ... Abang balik lah ke kamar Abang. Jangan lupa makan dulu." Punta Diana sambil mengangkat bahunya dari dada sang suami yang agar dia kembali ke kamarnya bersama Alisa.
"Ya, Abang juga masih ada beberapa pail yang harua di selesaikan malam ini juga." Hadi pun beranjak dari baringan nya, Duduk dengan tegak.
__ADS_1
"Abang ... ini bukan waktunya Abang bekerja, itu besok saja kerjakannya. Sekarang bersenang-senang lah dengan istrinya, aku tahu Abang sangat menginginkan itu dari Alisa." Sebut Diana sambil menepuk bahu suaminya itu.
Sesaat Hadi menatap lekat ke arah sang istri, Diana cukup mengerti dengan kebutuhannya, namun sayang. Dia sudah tidak berdaya untuk melayaninya di ranjang.
"Baiklah ... Abang pergi dulu, sayang bobo yang nyenyak ya!" cuph kecupan bibir Hadi mendarat di kening sang istri. Sembari menyelimutinya.
Hadi turun dan lalu mengayunkan langkahnya yang lebar itu keluarga dari kamar Diana. Sebelum menutup pintu, dia menoleh dan memberikan senyuman kepada sang istri yang juga sedang tersenyum.
Hadi berjalan di koridor melewati beberapa ruangan dan akhirnya sampai juga di kamar dan mendapati Alisa sedang membaca buku di Sofanya.
"Belum tidur?" tanya Hadi sambil berjalan mendekati tempat tidurnya dan langsung meraih laptop.
"Sudah, ini sedang ngorok!" Jawabnya Alisa sekenanya saja.
Hadi menempatkan laptop di atas pangkuannya yang duduk bersila. Namun sebelum memulai aktifitasnya membual dulu bajunya sehingga mengekspos dadanya yang bidan dan berotot tersebut.
"Suaminya belum makan nih," ucap Hadi setelah beberapa saat sembari menoleh Alisa yang tampak asik membaca bukunya.
Alisa melirik ke arah Hadi. "Tadi kan aku tanya mau makan apa! jawabnya gitu, kenapa gak makan yang ada di dapur saja!"
"Hem, gimana kalau di dapurnya tidak ada makanan? apa saya harus makan meja, kursi gitu?" Hadi sambil mesem.
"Ya, makan saja kalau memang itu yang ada hi hi hi ..." Alisa cekikikan sendiri.
"Kau pikir suami mu ini rayap apa?" Hadi menggeleng dengan pasang mata mengarah ke layar laptop.
"Lagian ya? orang banyak duit, gak mungkin di dapur gak ada makanan. Gak ada, bisa pesan!" tambah Alisa sambil berdiri.
"Ceplok telor saja empat ya? sama kentang goreng saja!" Pinta Hadi tanpa menoleh.
"Iya," Alisa berjalan mendekati pintu.
"Makasih sayang?" ucap Hadi.
"Sayang? Iiy ..." Alisa bergidik di panggil sayang oleh Hadi yang tampak serius dengan laptopnya.
Pasang mata Hadi menoleh ke arah pintu dimana Alisa menghilang, bibirnya mengulas senyuman tipis ....
.
Jangan lupa like komen dan dukungan lainnya ya?
Makasih.
__ADS_1