Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Bicara


__ADS_3

Setelah membantu mendandani suaminya, Alisa pun hendak turun untuk menyiapkan sarapan suaminya.


Geph.


Tangan Hadi menangkap tangan Alisa seraya berkata. "Mau ke mana sayang?"


"Mau siapkan sarapan, memangnya kenapa?" jawabnya Alisa dan diakhiri dengan sebuah pertanyaan.


"Bikin sarapannya yang ringan-ringan saja ya? jangan sampai membuatmu capek. Oke?" ucap Hadi dengan tatapan yang sangat dalam kepada sang istri.


"Perasaan aku bikin sarapan selalu yang ringan-ringan saja deh, nggak pernah yang berat-berat. Seperti bawa ember berisi air ... aku nggak pernah, cucian basah yang banyak juga? nggak pernah! cuman masak nasi goreng doang dan menyiapkan roti, itu aja!" jawabnya Alisa.


Hadi menggelengkan kepalanya sembari menyunggingkan bibir. "Ada-ada saja jawabnya, ya udahlah. Sana bikin sarapan! aku lapar dari semalam senam mulu, jadi capek dan lapar."


Alisa mengerucutkan bibirnya. "Siapa suruh senam mulu! makanya di tempat tidur itu tidur! bukan bereaksi terus. Jadinya kan capek."


Hadi menjepit dagunya Alisa dengan jarinya. "Tapi suka, kan ... suka kan dengan permainanku? apalagi kalau lebih dari itu!" Hadi memainkan matanya sambil tersenyum.


"Nggak siapa bilang suka? aku nggak suka!" jawabnya Alisa pura-pura cemberut.


"Hem ... sekarang bilang gak suka. Tapi malam malah minta!" Hadi menggoda.


"Nggak tau ach." Alisa sembari ngeloyor ke luar.


Hadi senyum simpul. Kemudian myisokan barang-barang yang akan dia bawa kerja.


Alisa keluar dari lift di lantai bawah dan bertemu dengan Liana yang tampak bermuram durja.


"Kenapa kamu murung begitu sakit?" tegur Alisa sambil berdiri mengamati Liana.


Liana menggeleng seraya berkata. "Nggak. Aku baik-baik saja."


"Gimana, ada komunikasi dengan Rahman dan apa katanya? kapan dia akan datang bersama keluarganya?" tanya Alisa kembali sambil mengajak Liana bejalan menuju dapur.


"Entah, masih di pikirkan katanya!" Liana menggeleng.


"Apa? masih di pikirkan?" Alisa shock mendengarnya.


Liana mengangguk pelan dengan raut wajah yang sendu.


Seketika Alisa tertegun tak


bergeming. "Dasar kurang ajar!"

__ADS_1


Alisa menarik tangan Liana dan kembali memasuki pintu lift. Alisa menekan tombol untuk membuka pintu.


"Mau di ajak ke mana gue?" Liana kaget.


"Kita harus bicara dengan papa mu soal ini. Sebelum terlambat." Alisa tetap memegangi tangan Liana.


Alisa marah dan kesal dengan perkataan Liana yang bilang soalan dari Rahman.


"Tapi gue takut Alisa ... gue takut papa marah!" Liana menarik tangannya dari Alisa.


Namun genggaman Alisa mengunci. "Biarpun marah, itu wajar. Karena kesalahan mu juga, kalau kita gak bicara sekarang mau kapan lagi? menunggu dia bereaksi? nyatanya sampai sekarang belum juga datang."


Liana pun terdiam. Keduanya berjalan menuju kamar Hadi yang kebetulan dia pun muncul dari balik pintu.


"Yank, kita harus bicara di ruang kerja kamu!" jelas Alisa sambil terus berjalan menarik tangan Liana.


Hadi mgerutkan keningnya melihat sang istri yang katanya mau bikin sarapan namun malah menarik tangan putrinya dan mengajak mengobrol di ruang kerja.


Namun tak ayal Hadi pun menyusul keduanya. "Ada apa sayang katanya mau bikin sarapan!" tanya Hadi dengan malas duduk di sofa berhadapan dengan kedua wanita muda tersebut.


"Iya, nanti aku bikinkan! tapi ada yang penting dulu. Harus kita bicarakan!" suara Alisa begitu nampak serius.


Kedua netra mata Hadi mengedarkan pandangannya ke arah Alisa yang tampak serius dan Liana yang sedang menunduk dalam serta menautkan kedua tangannya di atas pangkuan.


"Yang ingin kukatakan ini adalah masalahnya Liana. Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu. Kalau dia ... sudah melakukan hubungan yang terlarang dengan Rahman kekasihnya. Sementara mereka masih sebatas kekasih!" jelasnya Alisa sembari menatap Hadi lalu ke Liana yang menunduk.


"Ooh ... gitu," dengan santainya namun detik kemudian. "Ha? apa? sudah melakukan hubungan terlarang, maksudnya." Hadi berubah kaget, sekaget-kagetnya.


Alisa menggigit bibir bawahnya, lalu melanjutkan perkataan. "Iya, dia ... Liana dan Rahman sudah melakukan hubungan intim!" ragu-ragu.


"Jangan bercanda kamu sayang!" Hadi melonjak bangun seakan tidak percaya dengan apa yang di omongkan Alisa.


"Sebaiknya kamu tanya sendiri orangnya, apakah dia benar melakukannya? atau sekedar cerita bohong sama aku!" lagi-lagi Alisa melirik ke arah Liana.


Kini Hadi mendekati Liana dengan tatapan yang tajam, marah!kecewa. Lalu dia bertanya sembari mencengkeram dagunya Liana. "Katakan pada Papa, apa yang sebenarnya terjadi? apakah yang dikatakan oleh Alisa itu benar? jangan mengarang cerita!"


Dengan wajah yang ketakutan dan perasaan yang bercampur aduk Liana mengangguk pelan. "Yang ... yang dikatakan sama Alisa memang benar, Pah. Aku, aku sudah--"


Plak ....


Tamparan yang tidak terlalu keras mendarat di pipinya Liana dan tak ayal membuat Alisa merasa kaget dan langsung menghalangi Hadi agar tidak berbuat lebih dari itu.


Hadi benar-benar merasa kecewa, putri yang seharusnya dia banggakan yang akan dia persiapkan untuk menggantikannya perusahaan! telah berbuat di luar dugaan.

__ADS_1


"Apa yang sudah dia lakukan padamu ha? dan kenapa kamu menyerahkannya? kamu itu adalah putriku yang seharusnya bisa menjunjung dan menjaga kehormatanmu. Bukan dengan mudahnya diberikan kepada pria yang bukan haknya!" teriaknya Hadi dengan amarah yang menguasai hati dan otaknya.


Suara Hadi yang keras, jelas terdengar oleh sang ibu yang kebetulan mau menyusul mereka ke kamar. Lalu buru-buru menghampiri ruangan tersebut.


Alangkah kagetnya beliau melihat cucunya yang menangis dan memegangi pipinya di sebelah Alisa.


"Ada apa ini ribut-ribut?" sang Oma langsung merangkul bahu Liana yang sedang menangis dan mengusap pipinya itu.


"Sayang, jangan teriak-teriak. Harus tenang! bicarakan baik-baik, nggak enak dengan orang rumah lainnya!" suara Alisa menenangkan Hadi yang sedang terbakar dengan amarah tersebut.


Hadi yang benar-benar sedang dilanda kemarahan, rahangnya begitu mengeras dan tangannya mengepal ingin rasanya menonjok atau menghajar putrinya tersebut, Liana.


"Kenapa dan kejadiannya kapan? kenapa baru bilang sekarang? kamu memang saat ini sudah dewasa tapi bukan berarti sebebas untuk itu. Anak perempuan yang seharusnya bisa menjaga kehormatan sebagai perempuan." Suara Hadi yang masih menggebu namun tidak terlalu keras seperti tadi.


"Ya Allah ... ada apa ini?" tanya sang ibu yang tidak mengerti dengan permasalahannya.


"Liana sudah memberikan kehormatan kepada kekasihnya itu, dan laki-lakinya belum juga datang untuk memberikan tekad yang baik untuk menikahinya, kan?" ujar Alisa kepada sang ibu mertua.


"Apa?" ibunya Hadi begitu shock mendengar ucapan dari Alisa tentang Liana yang sudah tidak suci lagi oleh perbuatan sang kekasih.


"Apa yang dikatakan oleh Alisa itu benar Liana? Oma sudah sering bilang jaga, jaga kehormatan mu sebagai wanita kalau sudah begini. Siapa yang menanggung malu kalau bukan kamu juga Nak!" suara omanya bergetar sambil menangis. Air matanya berjatuhan di pipi yang sudah tidak kencang lagi itu.


"Maaf Oma. Aku nggak bisa menjaganya dan aku menyesal Oma!" akunya Liana sambil menunduk, menangis juga memegang pipinya yang masih terasa panas.


Dugh!


Hadi menonjokan tangannya ke atas sofa. "Terus, sekarang gimana bentuk tanggung jawab pria itu? datang kan dia padaku! kalau tidak, akan ku laporkan pada pihak yang berwajib atas tuduhan perko-sa-an."


Degh.


Semua pasang mata melihat ke arah Hadi yang tidak akan main-main dengan omongannya itu.


"Kat-katanya-katanya dia ... akan datang untuk bertanggung jawab! tapi entah kapan mau datangnya," suara Liana terbata-bata.


"Sebenarnya kejadian itu gimana! kamu dipaksa?" selidik omanya sangat lirih, yang merasa penasaran dengan kronologinya.


"Mendengar pertanyaan dari ibunya itu, Hadi langsung menatap ke arah Liana. Dia pun ingin tahu jawaban dari sang anak.


Liana menggeleng karena kejadian itu bukan paksaan tapi sama-sama suka. "Kita melakukannya, kita melakukan itu ... begitu saja!"


Brakkkkkk .....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Mohon dukungannya ya? biar tambah semangat nih.


__ADS_2