
Setibanya di rumah, Alisa langsung menghidangkan air hangat buat Hadi sebelum dirinya juga membersihkan diri. Tidak lupa dengan pakaiannya.
Alisa mendatangi kamar Liana, sebelum melanjutkan langkahnya ke kamar dia. Namun Liana gak ada di tempat.
“Apakah anak itu belum pulang?” gumamnya Alisa sambil menutup kembali pintu kamarnya.
Kemudian Alisa menyadarkan pandangan pada Dirga yang kebetulan melintas di sekitar sana.
"Dirga, kakak mana? udah pulang belum?" tanya Alisa.
"Kak, Lian belum pulang Kak. Kakak Lisa ... temenin Dirga berenang yo?" anak itu menarik tangan Alisa.
Sebenarnya Alisa mau mandi. Tapi karena tangannya ditarik Dirga, dia tidak bisa menolak.
Terpaksa Alisa membuntuti Dirga ke kolam renang yang berada di lantai atas.
“Kan baru hujan sayang, emangnya gak dingin?” Kata Alisa sambil berjalan.
"Nggak pa-pa. Aku lagi pengen berenang. Kakak Lisa tungguin di sini ya?" kata anak itu, lantas dia menceburkan diri ke kolam renang yang airnya begitu jernih dan biru.
Alisa duduk di kursi yang ada di tepi kolam tersebut. Dia menghela nafas dengan panjang.
“Kak, turun dong …” pinta Dirga yang langsung mendapat respon gelengan dari Alisa.
Tampak Alisa melamun dan anteng dengan tatapan kosongnya ke kolam renang.
Selesai berenang, Dirga barulah mengajak Alisa pergi ke tempat tersebut. Alisa yang berjalan dengan Dirga sesekali mengusap rambut Dirga yang basah dengan handuk.
"Dari mana?" suara bariton itu mengagetkan Alisa memang sedikit melamun.
“Dari berenang, Pah. Kak Alisa menemani aku, lihatin maksudnya,” sahut Dirga sambil memainkan handuk.
“Ooh, sudah. Mandi sana? kak Lisa nya mau Papa suruh dulu,” pinta Hadi pada Dirga yang langsung memberi anggukan.
Alisa berdiri terdiam menunggu perintah dai Hadi yang entah mau menyuruh apa?
Hadi melirik Alisa. "Bikinkan aku makanan ya? lapar nih.”
Kepala Alis mengangguk pelan sambil berjalan menuju lift. Setelah beberapa langkah, membalikan badan ke arah Hadi yang memunggungi dan sedang sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
“Em, bawa kemana, atau makan di maja makan saja?” tanya Alisa menatap punggung Hadi.
Kepala Hadi berputar dan berkata. “Bawa saja ke ruang kerja saya aja, oya. Kamu belum mandi ya, mandi dulu saja? nanti setelah itu baru bikinkan saya masakan.”
Alisa mengamati penampilannya dan mencium bau badannya sendiri. Ketika melihat ke arah Hadi, orang tersebut sudah menghilang. “Eh, kemana orangnya? cepat amat menghilangnya.”
Kemudian Alis buru-buru masuk ke kamar, dengan niat mau membersihkan dirinya. Dan setelah itu barulah memasak, sesuai permintaan Hadi.
...----...
Di kedai chicken wings, Liana sedang menikmati minuman dengan kopi bersama Rahman dan ibu nya.
“Bung, kapan kau mau mengajak Liana ke rumah? ajaklah ... mama senang sekali bila kau mengajaknya ke rumah.” Ujarnya sang ibu.
Rahman melirik dan berkata.“Iya Mam, lain kali saja. Liana nya masih banyak urusan dan mau mengadakan acara di gudangnya. Iya kan?” sambil melirik ke arah Liana.
“Iya tante, oya datang ya kalian berdua di acara keluargaku besok lusa.” Balas Liana sambil menyesap minumnya.
“Acara apa gitu? tante sih senang sekali dan terima kasih terima kasih sudah di undang oleh Liana,” ucapnya ibunya Rahman.
“Em ... biasa lah acara keluarga.” Kata Liana sambil melirik ke arah Rahman yang sepertinya kurang baik saja. “Kau baik-baik saja?”
“Hujannya sudah reda, Ibu mau pulang dulu ya?” ibunya Rahman beranjak dari duduknya.
“Mau aku antar gak Tante?” tawar Liana sambil berdiri juga.
“Nggak usah, makasih ya calon mantu Mama. ”Ibu itu memeluk dan cium pipi kanan dan kiri nya Liana.
“Oh … ya sudah kalau begitu, hati-hati saja Tante.” Liana merasa senang menyebut calon mantu.
“Hati-hati ya Mah …” Rahman mencium tangan ibunya.
“Iya. Sama supir kok, jangan khawatir sama Mama. Temani saja Liana ya.” Ibunya Rahman berlalu.
Tinggallah Liana dan Rahman yang masih duduk di sana.
“Bung, bolehkah aku bicara sesuatu?” kata Liana sambil menyampingkan bulu yang panjang di bawah bahu tersebut.
“Apa itu? serius amat.” Rahman sambil mesem.
__ADS_1
“Asli, emang serius.” Akunya Liana kembali.
“Hem … iya katakan saja?” kata Rahman dengan tangan mengaduk minumnya.
“Em … aku, sebenarnya … suka sama kamu, Man. Sebelum kau mendekati Alisa, aku cinta sama kamu, Man. Aku baru berani mengungkapkannya sekarang karena kamu sudah tidak sama Alisa lagi, dia sebentar lagi akan menjadi ibu tiriku.” Tanpa ragu Liana dengan berani mengungkapkan perasaannya kepada Rahman.
Rahman bengong, tidak menyangka kalau Liana akan seberani ini mengungkapkan isi hatinya. Tanpa diungkapkan pun sebenarnya sudah ketahuan sih, dari bahasa tubuh dan perhatian dia selama ini juga.
“Em, maksud kamu … gimana?” Rahman sekalian saja pura-pura tidak mengerti dengan maksud Liana.
“I-iya maksud gue … ku sayang sama kamu, Man, gue cinta sama kamu,” ucap Liana tanpa ragu dan meyakinkan.
Rahman menatap ke arah Liana yang tampak penuh harap. “Aku, gak tau harus bilang apa sama kamu. ”Rahman kebingungan sambil terluka tengkuknya.
"Pria. Sekarang kan Alisa sudah mau menikah dan tinggal menghitung jam saja. Jadi... Kamu tidak mungkin bisa bersama lagi. Mau gak jadi pacar aku? Aku sayang sama kamu dari dulu banget," ucap Liana sambil menyentuh tangan Rahman.
Rahman semakin bengong dan kebingungan. Tidak tahu harus menjawab apa. "Eh ... aku."
Liana memegangi tangan Rahman dan di tatapnya dengan mesra. “Kita jalani aja dulu yo?” ajakannya Liana penuh harap.
“Aku, pikir-pikir dulu ya?” Rahman mau nolak gak enak mau terima juga hatinya masih belum mau terima.
“Jadi, kau menolak ku?” kata Liana dengan raut wajah yang sedih.
“Ti-tidak menolak juga, aku Cuma butuh waktu untuk memikirkannya. Itu saja, bukannya menolak.” Rahman menjadi gak enak hati.
“Man, aku paling tidak suka di gantung, aku lebih suka yang jelas biarpun menyakitkan. Mau, bilang sekarang dan gak mau juga bilang sekarang. Aku tidak suka digantung-gantung begitu, meskipun itu menyakitkan.” Ungkap Liana.
Tampak menatap wajahnya Liana ... Rahman menjadi tidak tega. Lagian apa sih yang kurang dari Lian. Cantik, pinter iya. Anak orang kaya itu jelas, pendidikan pun diperhatikan. Baik dan sopan juga. Rahman berpikir sambil menatap gadis itu sangat dalam.
Begitupun dengan Liana yang masih menggenggam tangan Rahman dan membalas tatapannya, betapa indahnya saat ini, bisa saling menatap. Memegang tangannya, seakan merasa kalau dunia ini milik berdua dan yang lain hanyalah ngontrak.
Kemudian Rahman mengalihkan pandangannya ke arah lain sewaktu-waktu, sebelum akhirnya kembali melihat ke arah Liana.
“Jawab, Man. Aku butuh jawaban sekarang juga biar hati aku merasa tenang,” suara Liana lirih.
.
...Bersambung!...
__ADS_1