Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Dilema


__ADS_3

"Om, aku gak mau ini menjadi aib konsumsi publik. Biar ini kita saja yang tau ya? aku mohon Om?" Alisa terus memohon kepada Hadi yang diam.


"Bila perlu, ibu juga tidak boleh tahu tentang ini!" sambungnya Alisa kembali.


"Baiklah," pada akhirnya Hadi mengalah walau hatinya meronta ingin membuat Anwar jera dengan melaporkannya ke polisi. Namun apalah daya orang yang bersangkutan tidak ingin ke polisi.


Mobil Hadi meluncur ke jalanan raya, menuju kediamannya untuk mengantar Alisa ke sana. Biar gadis ini tinggal di rumahnya saja dari pada tinggal bersama orang tuanya yang bejat itu.


Alisa melepas pandangannya ke luar jendela dan memorinya terus berputar mengingat kejadian tadi. Dan juga dia pun menjadi delima atas masalah ini, harus tahu kah ibunya?


Atau dia pendam sendiri saja?tapi kalau tidak cerita? dengan kepindahannya yang di bawa oleh om hadi tentunya akan menjadi pertanyaan buat sang bunda. Saat dia dan om Hadi belum menikah.


“Jangan melamun jadi, nanti kau sakit! syukuri saja kalau kau tidak kanapa-napa,” ucap Hadi sambil melirik sebentar.


Sebagai tunangan. Dia merasa punya tanggung jawab penuh akan keselamatan Alisa, sehingga dengan cepat memutuskan untuk membawa gadis itu ke rumahnya, dan dia yakin kalau Diana pun akan setuju apalagi kalau tau cerita yang sebenarnya.


“Om belum jawab, aku mau dibawa ke mana?” Alisa melirik sekilas.


Bagiamana pun kamu Tunangan saya, dan saya bertanggung jawab akan keselamatan mu. Jadi saya akan bawa kamu ke rumah,” jawabnya om Hadi sambil tetap fokus menyetir.


“Tapi, Om.Bagaimana dengan tante Diana?” selidik Alisa yang jadi merasa was-was.


“Dia tidak akan jadi masalah, justru dia akan merasa senang dengan tinggalnya dirimu sendiri di sana, yang jelas keselamatan nya kamu akan lebih terjaga.” Sambung Hadi.


“Bagaimana dengan tante Dania yang jelas-jelas kurang suka dengan ku, aku jadi gak enak hati Om sama dia. Aku lihat ... dia suka sama, Om. Naksir sama Om.” Jelas Alisa sambil buang penglihatannya ke luar jendela.


“Tidak perlu berpikir, saya pun tidak ingin memikirkannya. Biarlah dia seperti itu. Nanti juga kalau dia sudah punya jodohnya ... dia akan lupa sama saya.” Tambah Hadi sembari tetap memfokuskan pandangannya ke depan.


Alisa melirik sekilas lalu mengalihkan pandangannya ke botol minum yang lantas dia ambil dan meneguknya.


“Jangankan Diana, Liana pun pasti bahagia kau tinggal di sana—“


“Iya kalau sudah menikah, ini kan belum.” Ucap Alisa kembali.

__ADS_1


“Sudahlah, jangan bantah kenapa sih? ini untuk kebaikanmu!emangnya mau kalo dia berbuat semacam itu lagi? saya sih biar pun tidak akan menyentuhmu nanti ... tetap tidak suka bila tubuh mu di jamah orang yang bukan haknya. Kecuali suamimu,” ujar Hadi sambil menepikan mobilnya di pinggir halaman rumah.


Alisa bergidik mendengar omongan Hadi barusan dan merasa ngeri bila membayangkan hal itu terjadi menimpanya.


“Boleh saya bertanya?” tanya Hadi sambil sedikit menghadap ke arah Alisa yang bersiap untuk turun.


“Apa, Om?” manik mata Alisa melirik dan merasa penasaran.


“Tadi … pak Anwar bilang kau sudah menyentuhnya? apa saja yang sudah dia sentuh darimu?'' selidik Hadi.


"Ha? menyentuh apa? tangan dan kaki terus ... pinggang. Itu saja." Akunya Alisa sambil mengingat-ingat lagi.


"Jujur?" Hadi menaruh curiga.


Membuat Alisa tidak sanggup membalas tatapannya. Membikin dadanya berdebaran.”Jujur, hanya itu saja kok. Belum sempat ngapa-ngapain kok.”


“Em ... saya sih tidak perduli ya, tapi karena saya calon suami kamu jadi wajar lah kalau saya tanya,” sambung Hadi, sok tidak perduli tapi banyak tanya juga.


“Benar, Om. Buat apa aku bohong? tidak ada gunanya berbohong. Lagian tidak sudi juga disentuh dia ih ...” Alisa kekeh tidak mengakui sesuatu yang tidak terjadi. "Jangan-jangan dia bicara yang tidak-tidak ya?”


Setelah turun, Hadi tidak menyuruh scurity untuk membawa koper milik Alisa. Sementara Alisa berdiri di tirai pintu utama, sampai Hadi mengajaknya masuk ke dalam rumah mewah dan berlantai empat tersebut.


“Ayo masuk? mau berdiri terus di situ?” suara Hadi yang membuyarkan lamunan Alisa.


“Oh ya,” balas Alisa sambil membuntuti langkahnya Hadi yang lebih dulu berjalan menuju pintu utama.


Hadi menunggu Alisa yang berjalan begitu gontai di dekat pintu. “Saya antar kamu ke kamar langsung ya? kau tampak lelah dan masih shock, biar saya yang menemui istri saya dan bilang kalau kau akan menginap di sini.”


Alisa mengangguk pelan. “Kira-kira … Tante gak akan marah kan, Om?”


“Nggak. Diana akan merasa senang dan kamu pun akan lebih mudah, dekat bila mau berangkat keja dengan saya. Oya kamu bukan haya menjadi sekertaris saya di kantor, tapi juga asisten pribadi saya. Jadi kamu akan menyiapkan segala kebutuhan saya di rumah juga.”


“Apa, maksud pribadi Om? Semua keperluan Om aku yang siapkan?” Alisa kaget.

__ADS_1


“Iya. Dulu istri saya yang melayani saya dan mulai sekarang kamulah yang akan menggantikannya,” ucapnya Hadi sambil berjalan. Kemudian menoleh scurity yang dia perintahkan membawa koper. "Langsung saja kopernya dibawa ke kamar dia.”


“Aish … tapi kan saya belum jadi istri, Om. Masa harus semuanya juga?” gumamnya Alisa sambil mencibirkan bibirnya.


“Tapi, kan kamu sebelum menikah adalah karyawan saya. Jadi apapun yang saya perintahkan harus mau dong!” tambah Hadi kemudian hentikan langkahnya setelah berada di depan pintu kamar yang diperuntukan buat Alisa.


Bugh! Kening Alisa menabrak punggungnya Hadi. “Aduh… berhenti jalan itu bilang-bilang dong …” Alisa mengusap keningnya.


“Apa? kau kira punggung ku tembok lagi? kebiasaanya kalau jalan itu gak lihat-lihat depan.” Hadi geleng-geleng kepala.


“Om juga sih … tinggi banget, kaya tiang listrik aja. Mana keras lagi,” lagi-lagi Alisa mengusap keningnya yang terasa panas.


Blak ... istirahat lah dulu nanti kalau lapar turun dan makan, jangan memikirkan kejadian tadi terus,” perintah Hadi sambil memutar tubuhnya.


“Om, mau kemana?” tanya Alisa menghentikan langkah Hadi yang langsung menoleh ke arah Alisa.


“Apa saya perlu menemani mu itu?” goda Hadi sambil mengerutkan keningnya tersebut.


“Ti-tidak, tidak perlu.” Alisa mengibaskan tangannya di depan wajah.


Kemudian Hadi menemui sang istri yang berada di kamarnya, namun kamar tersebut kosong. Dan Hadi mencari di taman dan kebetulan berada di sana bersama asistennya.


“Assalamu'alaikum ... sayang, sedang apa di sini siang-siang begini? Panas.” Sapa Hadi sambil dicium pucuk kepalanya sang istri.


“Wa'alaikum salam ... Abang dah pulang?” Diana menatap heran pada sang suami. Yang belum lama ini pergi, sudah kembali lagi.


Hadi tersenyum lalu duduk di depan sang istri yang menatap lekat ke arah dirinya. "Abang pulang cepat ... karena ada keperluan yang mendesak dan sangat penting."


“Sepenting itu kah, Bang?” selidik Diana semakin merasa heran,


Kemudian Hadi menoleh ke asistennya Diana yang mengerti dan langsung mundur meninggalkan majikannya agar lebih leluasa mengobrol ....


.

__ADS_1


...Bersambung!...


__ADS_2