
"Lian, kau baru pulang, Nak? itu mobil sudah siap untuk ke bandara!" sebuah mobil yang sedang dipanaskan pak Mur.
"Ya Oma, sebentar aku mau mandi dulu ya? bentar saja!" Liana sedikit berlari memasuki mension untuk menuju kamarnya.
"Kak Lian mau ke mana sih! mau ikut gak?" suara sang adik Dirga memekik ketika melihat sang kakak berjalan terburu-buru.
"Ikut, tunggu saja 15 menit kok. Aku mandi dulu," teriaknya Liana sambil menaiki anak tangga.
"Ha ... paling 15 nya sampai nanti sore." Gumamnya Dirga dengan lemas.
Kemudian Dirga menghampiri omanya lalu mendudukan dirinya di kursi yang berada di teras.
"Iih ... lama sekali. Mandi atau berendam sih?" gerutu Dirga sambil menghentakkan kedua kakinya yang merasa jenuh menunggu sang kaka yang belum juga muncul.
"Sabar, Dirga ... kan kakak nya harus mandi dulu dan wangi. Dari kampus kan?" kata sang Oma lirih.
"Iya Oma. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan papa dan Mommy." Dirga tampak sangat merindukan papa dan Mommy nya.
"Iya, Oma juga ngerti. Oma juga rindu sama mereka dan bukan Dirga seorang." Tambah Oma nya sambil menunjukan senyumnya dan mengusap penuh kasih sayang kepala anak itu.
"Itu, Akak." Dirga menunjuk ke arah sang kakak yang tampak segar dan cantik.
Lalu kemudian mereka bertiga memasuki mobil yang sudah disiapkan oleh Pak Mur, yaitu untuk berangkat ke bandara menjemput Hadi dan Alisa.
Mobil terus melaju dengan lumayan cepat agar segera tiba di bandara, cuaca sedang galau dengan terkadang tampak teduh kadang juga panas.
Dirga yang riang, karena mau bertemu papa dan Mommy nya. Duduk di depan bersama pak Mur, sementara Liana bersama sang Oma di belakang.
"Lian, kok Oma tidak melihat sekalipun Rahman datang untuk menemui atau menjemput mu." Suara oma nya dengan lirih.
Liana yang sedang anteng melihat ke luar jendela melihat suasana yang di lewati oleh mobil. Menoleh pada sang Oma. "Oya Oma. Tidak pernah dan itulah yang semakin memantapkan hati aku untuk berpisah."
Sang oma melihat ke arah cucunya dengan tatapan sedih. Baru saja menikah harus menelan pil pahit seperti ini. Namun wanita sepuh itu hanya bisa menghela nafas dalam-dalam.
"Nanti kalau papa sudah istirahat omongkan dengan papa ya? cari solusinya yang terbaik!" kata sang Oma sambil merangkul bahunya Liana.
"Aku sudah mantap Oma. Aku ingin berpisah saja." Lia mengusap sudut matanya yang basah.-
"Ya Allah ... berikan cucu ku jalan terbaik. Beri kebahagiaan padanya, anak semuda ini harus mengalami kegagalan dalam rumah tangga dalan hitungan jam saja." Batin Oma nya.
Selang beberapa puluh menit kemudian. Mobil yang membawa mereka Liana, Oma dan Dirga sudah tiba di area bandara.
__ADS_1
Dan tidak lama menunggu, terlihat Alisa yang di genggam erat tangannya oleh Hadi berjalan dengan raut wajah yang tampak bahagia. Langsung melempar senyuman kepada orang-orang yang sedang menunggu nya.
Hadi yang mengenakan kaca mata hitam tampak kul dan ganteng bak pria yang masih sangat muda dengan outfit kaos shirt berwarna hitam menyoren tas nya. Mendorong koper besar.
"Papa, Mommy ..." sambut Dirga sambil memeluk keduanya bergantian.
"Hi ... anak ganteng? sehat kan?" Alisa mengacak rambut anak itu setelah memeluknya.
"Sehat dong ... gimana mana adik buat aku, sudah hamil belum?" anak itu langsung menanyakan perihal adek.
Hadi mesem sambil menyentuh dagu anak itu. "Sabar ya? sedang Allah siapkan!"
"Ya ... lama lagi dong!" Dirga lesu.
"Emangnya membuat adik itu gampang ya anak ganteng! kan proses nya lama, kecuali Dirga mau dibikinkan dari terigu atau boneka, mau? tapi ih amit-amit masa Dirga main boneka, laki-laki Maco gitu!" Alisa mengulum senyumnya.
"Nggak mau ach, ngapain boneka." Dirga menggeleng.
Sementara itu tadi berbincang dengan ibunya dan sesaat saling peluk melepaskan rindu.
"Wieeh ... satu minggu saja di raja Ampat, badan kamu melar begitu! tampak sekali kalau kamu itu sangat happy aku jadi iri!" suara Liana lantas memeluk Alisa.
"Hem ... Emangnya kamu tidak bahagia kamu kan pengantin baru!" bisa kan membalas pelukan ibu sambungnya dengan sangat erat.
"Eeh, kenapa kamu menangis? yang happy dong nikmati hidup ini sekarang kamu sudah dewasa dan mempunyai suami sama seperti aku, yang happy lah." Alisa membingkai wajah Liana.
Liana pun tersenyum samar sembari mengusap air matanya yang mengalir di sudut pipi.
"Sudah, jangan sedih! apa sih yang harus kamu tangisi?" Alisa pun ikut mengusap Air mata Di pipi Liana.
"Apa mungkin aku harus happy di saat aku terpuruk sampai sekarang ini, kamu tidak tahu kenyataannya Seperti apa Lisa!" batinnya Liana.
Kemudian Alisa beralih pada sang ibu mertua. "Apa kabar ibu ..."
"Baik Lisa ... gimana kabar mu Nak? kau tampak semakin cantik dan gemuk." Kata ibu. "Hadi membahagiakan mu kan selama di sana!" tanya sang ibu mertua sambil tersenyum.
Begitupun dengan Alisa dia tersenyum simpul lalu melirik ke arah suaminya. "Alhamdulillah Bu ... selama di sana aku di siksanya. He he he ... bercanda. Nggak-nggak! sangat baik kok!"
"Sangat terlihat kalau kalian berdua itu sedang happy. Ibu sangat bahagia melihat kalian berdua bahagia!" ucap wanita sepuh itu sambil perlahan memudar rangkulan seraya melirik Liana yang berusaha melihat ke arah lain.
"Ya sudah, kita pulang sekarang saja, saya capek ingin istirahat!" ajak Hadi untuk segera pulang.
__ADS_1
"Iya." Alisa merangkul bahu Dirga dari tadi tampak ingin bermanja dan tidak jauh-jauh dari Alisa.
Hadi dan Pak Mur membawa koper lalu dimasukkan ke dalam bagasi.
Kini semuanya sudah berada di dalam mobil dan mobil pun segera melaju dengan kecepatan sedang dengan tujuan pulang ke mension.
Di dalam mobil, mereka sambil mengobrol dan selingi canda dan tawa.
"Kalau nanti pergi ke sana lagi, gue ikut pokoknya gue ikut nggak mau tahu!" kata Liana pada Alisa.
"Iya nanti kita sama-sama ke sana lah, ya! ibu juga ikut ya?" ucap Alisa sambil melirik ke arah ibu mertua.
"Nggak ach Ibu gak ikut. Biar ibu di rumah saja." Jawabnya sang ibu mertua dengan lirih.
"Dirga ikut sama Mommy juga ya. Jadi perginya kalau Dirga lagi libur ya!" pintanya Dirga.
"Iya lain kali ya?" Alisa mengusap rambutnya Dirga.
"Beneran ya Mommy, ajak aku juga liburan Nanti ke sananya, atau sama adek bayi juga!" tambahnya Dirga.
"Oke," Alisa mengiya-iyakan saja.
Kemudian Hadi meminta supir untuk berhenti di sebuah restoran, biar sekalian makan malam terlebih dahulu sebelum sampai ke mension.
"Hore ... kita akan makan di restoran." Dirga bersorak.
Setelah melewati berapa puluh meter kemudian, mobil berhenti dan menepi tepat di depan sebuah restoran mewah.
Dirga turun lebih dulu dan menarik tangan Alisa agar memasuki restoran itu bersama. Anak itu masih tampak manja kepada sang Ibu sambung yang beberapa hari ini tidak bertemu.
Sang oma hanya bisa tersenyum Melihat tingkahnya Dirga yang terkadang sangat manja kepada Alisa.
"Dirga ... mommy nya masih capek jangan diajak ngobrol mulu!" ucap Oma nya dengan lirih.
Mereka duduk di sebuah meja nomor xx lalu mereka pun memesan menu kesukaannya masing-masing.
Tidak lama menunggu, pesanan pun datang dan semuanya langsung menyantap makanan nya dengan lahap.
Dari jauh terlihat seorang pria tampan memasuki restoran yang sama, dengan keluarga Hadi ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Jangan lupa like comment dan subscribe juga makasih.