Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Was-was


__ADS_3

Sebelum membaca, jangan lupa like dulu ya?


.


.


“Hi. Lilis, Santi. Ini aku ada uang buat jajan nih?” Luky memberikan sejumlah uang pada kedua adik sambungnya itu.


Sebelum mengambil, kedua abg itu saling pandang satu sama lain. Dalam hati saling bertanya ambil gak ya? sedangkan rejeki itu tidak boleh di tolak.


Namun pada akhirnya, mereka berdua mengambil juga uang dari Luky. “Terima kasih Kak.”


“Sama-sama.” Luky tersenyum penuh arti dan menatap ke arah Lilis dan Santi. “Jajan sana!”


“Kak Luky ikhlas, kan? Memberi kami berdua uang?” Lilis menatap curiga kepada Luky.


“Hoho ... ikhlas dong ... masa gak ikhlas sih ... ikhlas lah, sudah sana jajanin?” tambahnya Luky sambil tersenyum licik,


Kemudian Lilis dan adik nya itu ke warung depan untuk jajan cemilan, meninggalkan Luky sendirian. Di dalam ada Alisa yang belum lama ini pulang dari kerjanya.


"Sedang apa kau cantik?" Luky menyelinap ke dalam kamar Alisa yang ukurannya cukup kecil tersebut.


Membuat Alisa terkejut. Untung saja dia berpakaian lengkap. "Mau apa ke sini! keluar sana? pamali!"


Alisa menghindari Luky yang semakin mendekat dan dengan tatapan intens ke arah Alisa yang berwajah cemas itu.


"Saya hanya ingin berdua saja dengan mu Lisa." Tangan Luky mencoba meraih tangan Alisa yang langsung menjauh.


"Jangan!" Alisa ingin melewati Luky dan keluar dari tempat tersebut. "Aku mau keluar, awas ya? aku akan teriak nih." Ancam Alisa pada Luky yang tatapan matanya itu cukup menakutkan.


"Silakan saja kau teriak. Kebetulan di rumah ini tidak ada siapa-siapa juga. Ha ha ha ..." suara tawa Luki terdengar mengerikan.


"Ya Allah ... Lilis dan Sinta kemana mereka?" gumamnya dalam hati Alisa sambil mencari cara agar. bisa keluar dari kamar tersebut.


"Permisi, Bang ... aku mau keluar mau memasak!" Alisa berusaha melewatinya kembali. Namun tidak bisa, yang ada malah tangannya akan di tangkap.


"Emangnya kenapa bila kita berdua di sini! asyik lah kalau kita cuma berduaan." Luky malah semakin mendekat.


Alisa nyerobot ke dekat pintu yang kebetulan terbuka, Alisa keluar dari kamar tersebut. Dan akhirnya dia bisa bernafas lega setelah berada di ruang tengah.

__ADS_1


Namun ternyata olah raga jantung Alisa belum berakhir. Karena tangan Luky menangkap tangan Alisa dari belakang.


Membuat Alisa dengan cepat menepisnya, tetapi tangan Luky mengunci sehingga Alisa sulit melepaskannya.


"Jangan kabur, Lisa ... kita hanya duduk-duduk berdua saja kok. Jangan takut?" Luky menarik tangan Alisa agar mendekat padanya.


Alisa ketakutan dan semakin berdebar-debar dadanya. Bikin was-was dan berusaha menarik tangan nya agar bisa lepas dari genggaman tangan Luky.


"Lepas Abang? ngapain sih pegang-pegang segala?" Alisa memohon.


Sesaat kemudian. Terdengar suara motor yang datang ke halaman rumah tersebut dan terdengar pula suara Lilis dan Sinta di sana.


Alisa merasa mendapatkan kesempatan untuk lepas dari Luky dan dengan cepat menepiskan tangannya dari genggaman Luky.


Kini hati alisa semakin was-was bila ada Luky di sana. Alisa buru-buru keluar menghampiri kedua adiknya dan siapa kah yang datang? Rahman apa sahabatnya, Liana.


“Kalian dari mana sih? Kakak mencari kalian.” Alisa menggenggam tangan kedua adiknya itu.


“Kami dari warung, kak. Habis jajan,’ jawabnya Lilis sambil menunjukan yang mereka beli.


“Iya. Kak, tadi kami di kasih uang oleh abang Luky." Tambahnya Sinta.


Alisa menatap ke arah Liana. “Iya ada apa Lian? tumben kesini jam segini?”


“Kebetulan kau belum jalan sama kekasih mu itu.” Gumamnya Liana sambil menghampiri Alisa dan kedua adiknya.


“Belum. Lagian kayanya gak ada rencana tuh, ada apa lian?” tanya kembali Alisa merasa heran.


“Aku mau mengajak kamu, jalan yo? Mumpung cuaca bagus nih ... mending jalan-jalan yo?” ajak nya Liana.


Alisa menatap cemas ke arah kedua adiknya dan ke arah dalam rumah yang ada Luky nya, dia takut dan cemas kalau Luky juga usil kepada kedua adiknya tersebut.


“Lian, sepertinya aku gak bisa ikut deh, ibu ku belum balik-“


“Emang nya kenapa kalau ibu mu belum balik?” selidik Liana memotong perkataan Alisa sembari mengerutkan keningnya.


“Em ... aku khawatir saja sama adik-adik ku, Liana.” Sahutnya Alisa, rasanya berat. Takut dengan Luky yang ada di dalam usil sama kedua adiknya juga.


“Mereka, kan sudah besar. Lagian gak pa-pa juga, biasa nya juga kau tinggalkan. Gak pernah kau khawatir?” sambungnya Liana lagi merasa aneh.

__ADS_1


Wajah Alisa yang tampak gelisah dan celingukan ke arah pintu. “Kau tidak akan mengerti biarpun


ku jelaskan juga.”


“Gimana aku akan mengerti? kau pun tidak jelaskan padaku!” Liana semakin tidak mengerti dengan yang Alisa maksudkan.


“Ck,” Alisa berdecak kebingungan. Dia Melihat ke arah kedua adiknya yang sedang menikmati makanannya.


“Yah, gue lupa!” Liana menepuk jidatnya.


“Kenapa kau ini? sakit kepala?” selidik Alisa menatap heran.


“Bukan, gue bawa makanan buat kedua adik mu,” Liana mengambil kantong yang tergantung di motor, kemudian dia bawa ke kedua adiknya Alisa yang duduknya agak jauh dari mereka berdua.


“Ini nih ... kak Lian bawakan makanan buat kalian berdua. Banyak nih satu karung! kata orang boong sih, hi hi hi ... di makan ya? lain kali Kak Lian bawakan lagi bila kalian suka.” Ucap Liana dengan ramah terhadap mereka berdua yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri itu.


“Wah ... makanan enak nih, makasih ya Kak Liana? Kakak memang baik sedari dulu juga,


sekali lagi makasih ya Kak?” ucap Lilis dan Sinta yang tampak senang sekali mendapat makanan enak dari Liana.


“Iya sama-sama ya? jangan lupa di makan ya? jangan di buang lho!” pinta Liana sambil kembali ke dekatnya Alisa yang hanya melihat ke arah mereka.


Alisa menunjukan senyumnya seraya berkata. “Makasih ya? sudah ingat membawa makanan


segala? tetapi buat gue mana? he he he ...” canda Alisa


“Alah ... justru itu aku mau mengajak mu jalan. Sebenarnya aku mau menjemput mu untuk main ke rumah, mama ingin bertemu dengan mu.” Ucap Liana meyakinkan.


“Bertemu dengan ku? Perasaan aku gak punya salah apa pun sama kamu Lian, terus aku mau


dia apain ya kira-kira? oya, gimana kabar tante nya sekarang, Liana?” tanya Alisa tentang bundanya Liana.


“Agak baikan sih, ayo kita pergi?” ajak Liana lagi.


Alisa menghela nafas dalam-dalam dan menoleh ke arah pintu dimana Luky masih berada di dalam.


Untung datang lah ibunya dan pak Anwar berboncengan, membuat hati Alisa merasa lega. Tidak terlalu was-was atupun takut lagi! toh orang tua nya sudah berada di rumah ....


.

__ADS_1


...Bersambung!...


__ADS_2