
Rahman bengong melihat Liana yang menangis tersedu di atas tempat tidur, namun dia tidak peduli. Dia malah berlalu dari kamarnya tersebut lantas bertemu dengan sang Bunda.
"Man, kamu nggak sarapan dulu, mana istrimu?" sapa sang Bunda.
"Biar aku sarapan di kedai saja, Bu ... Liana ada di kamar!" jawabnya Rahman sembari menunjuk ke arah kamarnya, lalu dia pun pergi keluar melalui jalan belakang untuk mengambil mobilnya.
"Oh masih di kamar! tumben belum keluar." Bu Irma langsung mengayunkan langkahnya untuk menemui Liana di kamar Rahman.
Setibanya di depan pintu kamar Rahman, yang terbuka lebar. Bu Irma bengong sejenak berdiri melihat ke arah Liana, yang menangis di atas tempat tidur sembari memeluk guling.
"Adu-du-duh ... sayang, kenapa menangis? masa pengantin baru menangis, bukannya pengantin baru itu saat-saat begitu membahagiakan bukannya sedih begini. Bu Irma mendekati dan duduk di tempat tidur, mengusap punggung Liana.
Mendengar suara ibu mertua, Liana menghentikan tangisnya yang kemudian dia bangun dan mengusap wajahnya yang banjir dengan air mata.
"Jamu ini kenapa pagi-pagi dah berderai air mata segala? bukannya senang-senang sama suami, atau nyiapin makan buat suami. Ini malah nangis," suara bu Irma tanpa ekspresi menatap wajah sang mantu.
Liana celingukan mencari keberadaan suaminya.
"Kamu mencari siapa? suamimu sudah berangkat kerja! dia nggak mau sarapan. Lagian istrinya bukan nyiapin sarapan buat suami, malah nangis! nangisin apa sih?" tambahnya Bu Irma.
"Oh, nggak kenapa-napa kok, aku hanya kangen rumah saja!" jawabnya Liana beri alasan yang tidak masuk akal, orang baru semalam di situ.
"He he he ... kamu ini gimana sih, di sini itu baru semalam. Masa sudah kangen berat sehingga menangis begitu!" Bu Irma menggelengkan kepalanya sungguh alasan Liana tidak masuk akal.
"Iya memang, baru satu malam!tapi berasa lama sekali." Jawabnya Liana dengan suara parau.
"Dengar ya? kalau sudah punya suami itu, sayang harus bangun pagi-pagi, terus nyiapin sarapan buat suaminya. Biar sebelum berangkat kerja itu dia sudah sarapan. Biar kerjanya di kedai jualan nasi dan ayam, tetap saja dari rumah itu sarapan dulu! untuk jaga-jaga kesehatannya. Ngerti?" ujar Bu Irma.
"Iya Bu!" Liana mengangguk sambil kembali mengusap wajahnya dengan tisu.
"Apakah hari ini kamu akan masuk kuliah?" selidiknya Bu Irma.
"Iya, Bu ... aku mau kuliah," lagi-lagi Liana mengangguk.
__ADS_1
Bu Irma mengedarkan pandangannya ke sekitaran kamar, dan melihat ada tumpukan baju kotor di kursi! handuk basah di atas tempat tidur.
"Aduh ... kamu ini gimana sih sayang? kok jorok banget itu pakaian kotor numpuk di sofa! handuk basah di tempat tidur. Bersihkan dong dibereskan! kamu kan sudah menjadi istri bukan anak gadis lagi yang serba dilayani pembantu! di sini biarpun ada pembantu. Tapi kan kamu harus bisa mengerjakan sendiri karena kamu sekarang sudah menjadi istri dari Rahman!" ujar nya Bu Irma.
"Aduh ... ibu mertua ngomongnya nyerocos bagai petasan. Banyak banget bikin kepala aku tambah pusing!" Batinnya Liana sambil mengedarkan pandangan ke arah pakaian kotor dan handuk yang berada di sampingnya.
Kemudian Diana pun mengambil handuk tersebut, bekas Aman tadi. Terus memungut pakaian kotor yang lantas dia masukkan ke dalam wadah.
"Sebelum kamu kuliah, kamu nyuci dulu pakaian kamu dan suami. Kalau pakaian yang lain mah nanti-nanti saja! mungkin bila kamu sudah pulang dari kuliah."
"Apa? gue harus nyuci punya yang lain juga sepulang kuliah!" Liana menatap ke arah sang ibu mertua.
"Pulang kuliah ... aku mau ke mension dulu, mau nganterin papa yang mau pergi keluar daerah." Ucapnya Liana.
"Emang papamu Dalam rangka apa? mau keluar segala? urusan kerja kan itu biasa." Selidiknya Bu Irma.
"Mereka mau ke raja Ampat, karena mau liburan!" jawabnya Liana sembari membalikan badan.
"Dalam rangka liburan? kenapa kamu nggak ikut. Ngajak suamimu liburan juga, kan uang banyak! Oh iya. Ibu mau transfer uang biaya nikah, ke rekeningmu saja ya 50 juta." Kata ibunya Rahman sembari memegang ponselnya.
"Kenapa kamu nggak ikut? ajak liburan Rahman, bulan madu." Ulang Bu Irma kembali.
"Ngapain liburan, atau bulan madu? disentuh aja nggak mau. Kalau ada maunya aja! baru mau bersentuhan. Kalau nggak ada maunya? benci kali sama aku!" gumamnya Liana dalam hati.
"Sayang, kenapa diam, tidak menjawab?" kata Bu Irma.
"Oh itu ... lain kali aja deh bu sekarang biar. Papa aja dulu!" jawabnya Liana sembari membawa cucian ke dapur.
Bu Irma pun mengikuti langkah Liana meninggalkan kamar itu.
"Emangnya kamu nggak mau pergi liburan, bulan madu sama suami mu." Selidik Bu Irma kembali.
Liana menoleh sambil memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci. "Iya, nanti dipikirkan lagi. Bu ... untuk sekarang kan Liana masih sibuk kuliah!"
__ADS_1
"Oh gitu ya sayang? masih ingat nggak sama barang yang itu tuh ... yang di mall tempo hari, kapan saya mau dibeliin?"
"Lho ... kan sudah aku belikan tas mahal, Bu." Timpalnya Liana sembari mengerutkan keningnya.
"Itu kan tas, yang Ibu mau sekarang itu cincin berlian itu lho." sambungnya Bu Irma.
Membuat Liana terbengong-bengong. "Cincin berlian? terus kemarin sudah ku belikan tas mahal banget. Sekarang minta berlian! gue aja dapat mas kawin cuma cincin 2 gram, aneh banget jadi orang!" gumamnya dalam hati, tanpa dia mengatakan sesuatu.
"Kapan dong sayang ... rasanya Ibu sudah tidak sabar pengen membelinya! Ibu minta sama Rahman nggak dibeliin! alasannya uangnya buat modal, buat gaji karyawan. Buat ini buat itu!" rakuk Bu Irma.
"Tapi aku juga nggak punya uang lho, Bu ... kemarin saja waktu beli tas! aku kekurangan uang dan aku pinjam sama Alisa dan Papa belum ngasih lagi!" jawabnya Liana sambil menyalakan mesin cuci.
"Lah gimana sih sayang? kan itu uang sudah Ibu transfer 50 juta! ya jangan dikasih sama papa mu anggap saja itu uang kamu." Bujuk Bu Irma.
"Apa? itu uang nggak usah dikasihkan sama papa? anggap aja uang gue dan gue harus belikan dia cincin berlian? aduh ... lama-lama gue pusing." Liana menggelengkan kepalanya, namun dia tidak berkata apapun.
"Sayang ... kau dengar Ibu?" panggilnya Bu Irma.
"Sepertinya nggak bisa nih, Bu ... bagaimanapun aku harus kasihkan uang itu pada papa. Kalau uang jajanku itu lain lagi," sahutnya Liana.
"Yah ... kalau gitu nggak jadi deh dapat hadiah cincin berlian dari mantu! gagal deh ..." ucap Bu Irma dengan ekspresi wajah yang sedih.
"Aku minta maaf ya Bu? untuk saat ini aku belum bisa. Mungkin lain kali atau aku dan Rahman ngumpulin dulu nanti dibelikan buat ibu." Bujuknya Liana.
"Padahal ibu sudah bermimpi pengen beli itu! eh gagal." Bu Irma menjatuhkan bokongnya di atas kursi.
Dia terlihat kecewa dan dia sendiri nggak nyadar kalau liontin Rahman buat mas kawin, masih dia pegang bahkan uang buat biaya pernikahan pun dia lipat juga! dan itu pun nggak segera diberikan sama yang bersangkutan.
"Ibu bisa mati berdiri nih, gara-gara mikirin cincin berlian seperti kemarin itu!" ucap kembali Bu Irma.
"Lha, Masa bodoh lah! emang gue pikirin! lama-lama gue jadi ilfil kalau kayak gini, ya sama ibunya. Sama anaknya bete gue!" suara hati Liana sembari menatap mesin cuci ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Ayo ... jangan lupa like! comment dan ratingnya ya jangan pelit-pelit!ya biar aku tambah semangat, makasih banyak.