
Melihat Hadi menggeleng. Alisa merasa menciut hatinya, yang tadi mulai berbunga-bunga mendadak layu. Begitupun dengan yang lain mendadak lesu.
Alisa terduduk lesu begitupun dengan sang ibu mertua dan Liana. Yang tadinya berdiri menjadi duduk dan berwajah tanpa semangat.
Kemudian Hadi menghela nafas dalam-dalam lalu dihembuskan dengan panjang.
Dirga yang sedari tadi terdiam dan tidak sepatah pun kata yang terucap dari bibirnya. Hanya menggerakkan kedua netra matanya kepada sang ayah dan Sang mommy.
"Isya Allah ... kalau menurut Papa nih ya? insya Allah mommy ... positif. Jadi ... mommy hamil," ucap Hadi sambil merangkul Alisa yang bengong.
Semua melongo. Senang dan setengah belum percaya bercampur aduk menjadi satu.
Kemudian Alisa mendongak melihat wajah sang suami. "Asli yank, aku positif?"
"Iya, insya Allah ... dan besok pagi-pagi kita bisa ke dokter untuk meyakinkan nya, ke dokter kandungan!" cuph bibir Hadi mendarat di pucuk kepala Alisa.
"Hore ... aku punya adik, terima kasih ya Allah ... sudah mengabulkan doa Dirga. Akhirnya aku mau punya adik juga, di sekian hari, sekian Minggu. Sekian bulan dan sekian tahun aku menunggu!" Dirga sangat bersorak mendengar obrolan sang ayah dan mommy nya.
"Alhamdulillah ... semoga saja Besok pas periksa ke dokter itu memang benar, untuk meyakinkan saja kalau Alisa benar-benar hamil. Semoga kelak menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah harap sang bundanya Hadi sembari mengusap wajahnya.
"Lah terus, gue gimana Lisa? nanti gue gendong bayi lu dikira bayi gue!" ketusnya Liana.
"Yey ... mana gue tahu, eh! jangan lo gendong aja. Biarin aja ngapain susah-susah!" balasnya Alisa sambil mesem dan dia tahu kalau Liana bukan ketus tapi pura-pura saja.
"Gue jadi terharu! gue segede gini mau punya adek lagi hik-hik-hik," ucap Liana dengan ekspresi wajah yang pura-pura sedih lalu dia memeluk Liana menggeser tubuh sang ayah.
"Gue terharu, Lisa ... gue sudah berapa tahun? eh berapa puluh tahun, sama si Dirga saja gue beda jauh. Apalagi sama yang sekarang, gue. Tapi percaya deh ... gue bakalan sayang kok sama adek-adek gue!" suara Liana sambil memeluk Alisa.
"Kakak udah dong ... peluk mommy nya, sekarang giliran Dirga yang peluk Mommy! kan Dirga yang paling pengen punya adiknya juga! bukan ... bukannya akak! mau jadi Abang!" Dirga menarik baju Liana agar menjauh dari Alisa.
__ADS_1
"Ini bocah, apaan sih?Abang-Abang, Abang tukang bakso!" Liana menoleh pada sang adik.
"Eeh kakak nggak tahu. Aku kan anak laki-laki kalau aku punya adik berarti panggilannya Abang, sama aku juga. Masa nggak tahu sih?" ucapnya Dirga sembari memeluk Alisa dari samping.
"Ya Allah ... alangkah bahagianya hati ibu ini, selamat ya Lisa ... dan semoga kehamilannya baik-baik dan sehat! dijaga juga pola makan, kesehatan. Jangan terlalu capek dan stress! Ibu jadi was-was seperti kemarin yang sudah, kamu juga Hadi ... jaga istrinya dengan baik." Kata sang bunda sambil menoleh ke arah Hadi, putranya.
Kini giliran sang ibu mertua yang memeluk Alisa sebagai mantunya itu. "Hamil muda itu banyak pantangannya! kalau menurut orang tua dulu. Tapi kalau menurut zaman sekarang sih nggak apa-apa! cuman paling makanan juga wajib dijaga!"
"Tapi kan Oma ... itu kebanyakannya mitos, nggak bener!" ucapnya Liana menatap pada sang oma.
"Kalau orang zaman dulu itu ... kepercayaannya beda Dan itu memang tidak jauh dari kepercayaan mereka! tapi ya sudahlah kita berserah saja pada yang maha kuasa. Tapi dibalik itu juga kita harus berusaha dan menjaga," ucapnya sang Oma kembali.
"Alisa kan nggak tahu apa-apa. Bu ... jadi mohon banyak dikasih tahu atau diingatkan, sebab antara pandangan Ibu di sini dengan ibu aku di sana itu pasti berbeda, karena kan dalam segi usia juga berbeda!" balasnya Alisa sembil menatap ke arah sang ibu mertua.
"Iya, tinggal lu saja nanti pusing nho ... mau nurutin yang mana? Ibu lu yang di sana atau yang di sini? tapi kayaknya kalau ibu lu sih, masih Ibu zaman now gitu. Kalau di sini kan ibu-ibu zaman kapan ha ha ha ..." Liana tertawa sambil melirik ke arah sang oma, wanita sepuh itu hanya tersenyum mendengarnya.
"Wah ... senang sekali ya kalau Nona Lisa sebentar lagi punya baby, di sini akan ramai lagi dengan suara tangisan baby. Seperti dulu ketika dia juga masih bayi!" timpal Mbak yang memang sudah lama kerja di sana. Dan yang lain pun pada mengangguk.
Pria yang akan menyambut kehadiran Putra atau putrinya yang ketiga. Kalau ada sih 4 mungkin, dengan yang keguguran kemarin Alisa.
"Iya dong Lian ... Papa ini sudah berpengalaman. Lagian kemarin juga, kan siapa yang tahu kalau Alisa hamil!" jawabnya sang ayah.
"Ya sudah ... yang udah nggak perlu dibahas lagi yang penting kedepannya gimana." Kata sang Bunda menengahi antara Putra dan cucunya.
"Iya, Bu insya Allah aku akan menjaga Lisa dan juga kehamilannya!" Hadi melirik ke arah Alisa yang juga kebetulan melirik ke arah dirinya.
"Gimana kalau soal kerjaan?" tanya sang Bunda kepada Hadi.
"Kalau soal ngantor. Terserah! mau ngantor boleh, nggak juga boleh. Tapi aku tetap membutuhkan tenaga kamu biarpun memantau dari rumah!" Hadi menyentuh tangan Alisa sembari mengelus punggungnya.
__ADS_1
"Tapi kalau lagi mabok, seandainya nih Alisa ngidamnya mabuk. Ya ... jangan dipaksain mau di kantor maupun di rumah, biarkan saja istrimu istirahat. Kamu cari saja asisten baru!" menurut sang Bunda.
"Nggak-nggak, aku nggak mau berhenti jadi asistennya! nanti kalau diganti apalagi cewek dia dekat-dekat sama cewek. Nggak boleh!" timpalnya Alisa dengan sikap yang protektif pada sang suami karena sesungguhnya sih ... dia cemburu! takut suaminya deket-deket sama perempuan lain, apalagi kalau asisten kan satu ruangan.
"Tuh kan, Bu ... dengarkan? dia itu nggak mau saya deketin wanita lain sekalipun hubungannya asisten dan Bos. Kalau khawatir soal ruangan kan bisa dipisahkan sayang ... biar dia nanti di ruangan lain!" Hadi melirik ke arah sang istri dan bundanya bergantian.
"Nggak-nggak. Nggak mau!biarpun seandainya aku mabuk karena ngidam. Aku mau tetap ngantor. Enak saja." Sambarnya Lisa dengan kekeh.
"Iya sayang ... Iya! aku nggak ngambil asisten lain. Cukup kamu saja." Hadi mencubit hidungnya Alisa.
"Gue baru melihat kamu cemburuan gitu Lisa, lu sadar ya? kalau laki lo itu ganteng juga biarpun dia udah tua, lihat dong ketampanannya. Jangankan wanita muda! nenek-nenek saja suka sama dia!" ucap Liana sembari yang menunjuk pada sang ayah.
"Iya dong ... Papa kan ganteng, tampan! wajar lah banyak yang suka. Jangankan kayak, banyak duit, kalau miskin aja kalau wajahnya kayak gini sih bakalan laku pesat nih." Candanya Hadi.
Dugh.
Siku tangan Alisa sedikit menonjok perut Hadi. "Apa? mau tebar pesona? atau cari yang lain! awas ya lihat aja nanti!" ancamnya Alisa.
"Nggak sayang nggak! ya ampun ... segitunya!" Hadi berlutut di hadapan Alisa yang duduk di kursi serta memegangi kedua tangan sang istri.
"Aku ini sudah tua, kan tahu itu. Buat apa sih aku macam-macam dengan perempuan Hem ... aku bukan tipe laki-laki yang seperti itu dari dulu juga, kamu tahu itu sayang ... jadi tidak perlu istriku ini mencurigai ku!" Hadi menciumi punggung kedua tangan Alisa bergantian.
"Habis kamu itu, suka sih godain cewek di depan mata ku--"
"Itu kan cuman bercanda sayang ... cuman godain kamu saja! pengen tahu kamu cemburu atau enggak!" sambungnya Hadi.
Sementara Alisa mengusap sudut matanya yang basah. Lalu melihat kanan dan kiri, tidak ada siapapun! membuat Alisa melongo seraya bertanya. "Orang-orang pada ke mana yank? kok tiba-tiba nggak ada?"
"Mereka pasti kabur karena melihat sayang merajuk!" Hadi pun celingukan karena memang orang-orang yang tadi ada di sana itu nggak ada satupun, ibunya. Liana, Dirga maupun para asisten itu nggak ada, hilang ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Mohon dukungannya ya makasih.