
Alisa sudah mulai berada di rumah. Untuk mempersiapkan diri menjelang pernikahan yang tinggal dua hari lagi, dan hari ini Hanya Hadi saja yang masuk bekerja.
Kini Alisa sedang berada di kamarnya dan tampak gelisah atau gusar. Perasaan gugup sudah mulai menerpa hati. Apalagi mengingat ibunya yang pernah bilang entah datang atau tidak. Membuat dia semakin gelisah.
"Ya Allah ... semoga Ibu mau datang ke sini. Menyaksikan pernikahan ku!" Alisa mendongak, melihat langit-langit.
"Ya ampun! wali ku, apa sudah diberi tahu belum ya? wali ku itu kan paman Lukman," gumamnya Alisa sambil melonjak lalu mengambil ponselnya yang tersimpan di bawah bantal.
Jari Alisa sekrol ke bawah dan ke atas balik lagi. Mencari kontaknya Hadi. "Mana ya om Hadi? kok nggak ada sih!" Gumamnya sambil menggembungkan kedua pipi kontaknya.
"Nah ... sudah dapat nomor nya. Kok nama kontaknya my love sih? siapa yang bikin!" Kepala Alisa menggeleng.
^^^Hadi: "Halo? Lisa. Apa kau kangen aku, sehingga telepon segala?"^^^
^^^Alisa: "Kangen? oo! ngarang, aku mau ke sana dan mau bicara."^^^
^^^Hadi: "Bicara apa? aku kira kangen? Padahal tadi pagi ketemu!"^^^
“Oo, kangen? mana ada gue kangen?” Alisa menantang sambil menjauh dari mulut ponsel.
^^^Alisa: "Bukan, ada yang mau aku marah!"^^^
^^^Hadi: "Ya sudah, datang saja!"^^^
^^^Alisa: "Oke!"^^^
Setelah sambungan telepon terputus, Alisa langsung menyimpan ponselnya ke dalam tas. Yang kemudian dia berdiri dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor Hadi.
Lalu dia berjalan keluar dari kamarnya dan kebetulan bertemu dengan Liana yang sepertinya memang mau ke kamar Alisa.
“Kau, mau kemana?” tanya Liana menatap Alisa dengan intens. “Rapi amat, kan gak masuk kerja hari ini?”
"Aku mau ke kantor bentar dulu!" jawabnya Alisa. "Kebetulan kita ketemu, ikut yo? temenin aku!"
“Lah, kan kamu libur. Ngapain ke sina segala?” Liana menatap heran.
"Ada yang mau aku ngomong sama dia," jawabnya Alisa sambil melihat isi tasnya kali saja ketinggalan sesuatu.
“Sepenting itu kah? sehingga harus ke kantor segala?”tanya kembali Liana.
"Iya, aku baru ingat. Kalau wali aku entah di kasih tau atau belum!" Kata Alisa lagi. "Temani aku ya?"
"Hem. Boleh lah, tapi gue mau ngambil kunci dulu dan tas." Liana pun mengangguk, lalu buru-buru ke kamarnya mengambil tasnya.
Alisa pun menunggu di depan pintu kamar, sementara Liana nya masuk ke dalam kamar.
Sebelum pergi. Keduanya berpamitan terlebih dahulu pada Diana yang sedang berada di ruang tengah. Sedang melihat orang-orang yang sedang mendekor tempat tersebut.
“Tante, aku mau pergi dulu!” Pamit Alisa pada Diana yang menatap ke arah dirinya.
“Oh mau kemana Lisa … kan Lisa libur dari kantor beberapa hari ini.” Ucap Diana dengan suara pelan.
“Kangen katanya, Mah …” Liana melirik ke arah Alisa.
Dengan refleks, sikunya Alisa menyiku menyenggol tangan Liana sambil berkata. "Apaan sih? ngarang amat."
“Iya, kan? emang mau ngapain coba? nanti juga ketemu, di rumah?” Liana merayu Alisa.
“Kangen juga gak apa kok, masa gak boleh kangen sama calon suami.” Lirih Diana tersenyum tipis.
__ADS_1
“Ooh, kan sudah ku bilang. Aku baru ingat kalau wali ku itu, entah sudah di kasih tahu atau belum!” akunya Alisa.
“Kan ada, ibu kamu. Dia lah yang mengurusnya.” Timpal Liana sambil menatap lekat.
Alisa yang memang sedang dilanda bimbang terhadap ibunya itu, ditambah lagi di telepon pun tidak diangkat. "Em ... telepon ku gak di angkat. Jadi aku harus ngomongin ini sama Om, biar aku yang datangi dia."
“Tapi kangen juga gak ngapa-ngapa kali, iya kan Mah?” Liana melirik pada Diana. Sang mama.
“Iya dong … oh gitu.Sangat penting!ya sudah, hati-hati ya!” dia mengangguk.
Setelah itu, Liana dan Alisa pergi ke kantor boncengan dengan motor berdua. Suara angin yang kencang menerpa rambut Alisa yang berada di bawah helm. Juga menelusup ke dalam kulit, menghiasi perjalanan mereka.
Selang dua puluh menit kemudian. Motor Liana sampai di halaman kantor. Namun Alisa mengajak Liana ke restoran yang berada dekat dengan kantornya Hadi, karena kata Hadi tunggu saja di tempat tersebut! biar dia saja yang datang.
“Kok, ke sini sih? nggak ke kantor langsung?” Liana heran.
“Kata Om, kita menunggu di sini saja!” Alisa duduk di kursi nomor 4 dan menunggu Hadi di sana.
Keduanya duduk manis sambil menikmati makanan yang baru saja mereka pesan.
Dari arah kantor, Hadi tampak berjalan menuju restoran yang sudah di janjikan.
Melihat bayang-bayang sang ayah, Liana beranjak. “Saya malas ach, nanti jadi kambing conge antara kalian dan mendingan gue menjauh dulu lah."
“Lho, kok begitu sih? duduk aja di sini napa?” Alisa kerutan keningnya.
“Ach … sudah lah. Gue mau duduk disitu aja.” Liana membawa langkahnya ke kursi yang berada di pojokan dengan membawa piring dan minumannya.
“Sudah lama?” sapa Hadi sambil mendudukan dirinya di kursi yang berada di depan Alisa sambil menolehkan kepalanya ke arah Liana yang kini duduk sendiri di meja sebelah kanan.
“Em … lumayan. Gimana pertemuannya lancar?” Alisa balik bertanya.
“Kangen-kangen, apaan sih?mana ada, tidak-tidak ... aku mau ngomongin soal wali aku, aku gak tau apa paman sudah di hubungi apa belum. Ibu gak bisa dihubungi. Dan aku tidak tahu nomor paman Lukman nya,” ungkap Alisa sambil menyesap minumnya.
“Oh jadi namanya paman Lukman? datangi saja dianya, tahu kan alamatnya?” jelas Hadi.
“Terus aku ke sana sama siapa?sendiri, boleh?” tanya Alisa sambil melihat ke arah Liana yang sibuk dengan ponselnya.
Hadi meneguk minumnya, lalu berkata. “Langsung saja ke rumah nya paman kamu, dan kita pergi sama-sama ke sana.”
“Boleh. Kalau kau mau ikut ke sana? tapi kalau sibuk sih. Biar aku sama Liana saja.” Kata Alisa lagi takut Hadi sibuk! lagian biasanya bekerja sama dengan dirinya dan sekarang sendirian.
“Nggak pa-pa, kita pergi saja.” Hadi beranjak dari duduknya sambil meraih tas kerja nya.
Alisa mendongak dan bertanya. “Sekarang?”
“Nggak, bulan depan saja. Buat apa sekarang?” Hadi mesem-mesem sambil berdiri.
“He he he … Om bisa aja,” Alisa pun beranjak dan menggeser kursinya lalu mengeluarkan dompet hendak membayar bill nya.
“Biar saya yang bayar dengan makanan Liana kan?” Hadi mengambil dompet dari tasnya.
“Iya, sama Liana.” Alisa mengangguk.
Melihat Alisa dan papanya beranjak pergi, Liana pun mendekat. “Mau kemana nih?”
“Mau ke tempat paman Lukman dan … apa kau mau ikut?” Alisa menoleh pada Liana.
“Gila. Gue ke sini Cuma nganterin lu doang?” Liana membelalakkan kedua matanya.
__ADS_1
“Makanya, ikut kita—“
“Mau ikut gak?” timpal papanya.
Sejenak Liana diam seakan sedang berpikir. “Nggak ah. Gue mau pulang saja, eh. Gue mau main aja mumpung gak kuliah, he he he…” Liana tawa garing.
“Hem … maunya. Ya sudah aku mau pergi dulu!” Alisa menyoren tasnya.
Mereka berjalan beriringan keluar dari restoran tersebut dan bertemu dengan Zidan di depan pintu.
“Eh, Alisa. Gak masuk kerja. Kok ada di sini juga?” Zidan memandangi Alisa dengan aura yang berbeda.
Alisa melirik ke arah Hadi sebelum menjawab. “Em … aku ada perlu sama pak Hadi, iya.”
“Mereka ini mau—“
Dugk.
“Auw, apaan sih? lihat-lihat dong.” Liana mengangkat kaki kirinya yang terasa sakit.
"Maaf maaf. Tidak sengaja." Dalihnya Alisa.
Kaki Alisa sedikit menginjak kaki Alina agar dia tidak bilang dia dan Hadi mau menikah. Sehingga hentikan ucapan Liana yang hampir saja mengatakan kalau mereka berdua mau menikah.
Hadi mengerti maksud Alisa. “Saya ada urusan sedikit dan harus keluar dulu, dan dia memang sedang libur dalam beberapa hari ini.”
“Oh, sepi dong. Gak bisa lihat wajah cantikmu itu.” Zidan tersenyum ke arah Alisa. Lalu berpamitan dan memasuki restoran tersebut di susul oleh staf lain.
Hadi dan Alisa memasuki mobil, dengan tujuan ke rumah pamannya Alisa.
Sementara Liana kembali mengendarai motornya dan lebih dulu meluncur sambil berkata. “Aku duluan ya.”
Alisa melambaikan tangannya ke arah Liana yang sudah lebih dulu meluncurkan motornya hingga kini jarak sangat jauh dari mobil sang ayah.
“Kenapa gak diomongin dari lama soal wali mu hem?” ucap Hadi sambil menyetir melewati kendaraan lainnya.
“Kapan bicaranya? kan aku langsung dibawa pindah.” Jawabnya Alisa sambil melirik ke arah Hadi yang sedang fokus nyetir.
“Oke. Ya sudah, kita ke sana saja,” lanjut Hadi.
Lalu kemudian mereka terdiam dan tidak ada yang mengeluarkan suaranya lagi selain suara mobil. Kini mereka memilih sibuk dengan pemikirannya sendiri-sendiri.
Setibanya di tempat yang tidak jauh dari kediaman pamannya Alisa.
“Dimana rumahnya?” tanya Hadi sambil turun dan hendak membukakan pintu buat Alisa. Namun Alisa lebih dulu membukanya sendiri.
Alisa celingukan. “Di depan sana, terhalang dua rumah, semoga saja pamannya ada.”
Sebelum berjalan, Hadi mengenakan kaca mata hitamnya untuk menghindari silaunya terik mata hari.
Alisa memandangi sebentar, lau berjalan lebih dulu memasuki sebuah gang yang masuk sekitar dua motor saja.
“Ini rumahnya nya,” ucap Alisa sambil terus memasuki teras rumah yang dia tunjukkan.
Hadi melihat bangunan tersebut sebentar lalu menyusul Alisa yang kini sudah berada di teras untuk bertamu ....
.
...Bersambung!...
__ADS_1