Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Pikirkan


__ADS_3

"Seharusnya yang bersamamu sekarang ini adalah aku, bukan dia. Pria yang lebih pantas menjadi ayahmu, hem!" pria itu terus memandangi ke arah Alisa dan Hadi.


Kemudian pria itu pun melangkah meninggalkan tempat tersebut. dengan perasaan yang bercampur aduk, marah menyesal dan cemburu.


Namun Liana yang berada di mejanya Hadi, melihat sekelebat pria yang dia kenal dan dia langsung berdiri dan menyusulnya.


"Tunggu sebentar, aku keluar dulu!" suara Liana terburu-buru sambil setengah berlari meninggalkan mejanya.


Hadi dan yang lainnya cuma merasa heran, namun tidak mau ambil pusing toh dia nanti balik lagi.


"Man, Aman! kau mau kemana?" panggil Liana setelah dekat dengan Rahman yang terus berjalan keluar dari restoran.


Rahman menatap datar ke arah Liana. "Ada apa Lian?"


"Kamu kenapa nggak mendatangi aku? kenapa nggak menemui aku sama keluarga?" selidik Liana sambil menatap ke arah Rahman yang tampak dingin.


"Emangnya kita ada janji gitu? kan nggak ada. Nggak ada janji ketemuan di sini!" jawabnya Rahman dengan begitu jutek nya.


"Memang sih ... kita nggak ada janji ketemuan di sini, tapi apa salahnya kalau kita ketemu dan kau menghampiri ku! ingat, Man ... dengan apa yang kita lakukan. Aku menunggu niat baikmu untuk bertanggung jawab!" tatapan Liana sangat tajam kepada Rahman.


"Itu masih aku pikirkan!" jawabnya Rahman begitu singkat lalu dia mengeluarkan kunci mobil dari sakunya.


"Apa, masih kau pikirkan? dengan apa yang sudah kamu dapatkan dari aku! kau masih pikirkan untuk kelanjutannya?" kata Liana dengan perasaan marah yang menggebu-gebu.


"Kita melakukannya sama-sama suka, bukan atas dasar paksaan. Jadi nggak usah lah terburu-buru! yang penting saya mau tanggung jawab nantinya!" jawabnya kembali Rahman.


"Man, jujur aku takut! aku takut hamil. Jadi sebaiknya kita lebih cepat untuk menikah sebelum aku hamil, Man!" ucap Liana dengan lirih dan penuh dengan permohonan.


Pria itu melipatkan kedua tangannya di dada sembari menatap Intens ke arah Liana. "Sebelumnya kamu atau aku tidak pernah memikirkan akibatnya kan? cuma setelahnya saja sibuk, takut ini takut itu! kita santai, rileks dalam melakukan hal itu sebelumnya.''


"Bener kali ya pria itu habis enak-enak, malahan dia enak! yang tenang saja juga nggak ada bekasnya, sementara wanita? harus menanggung aib dan menanggung malu, kehilangan semuanya--"


"Makanya jadi perempuan itu jangan terlalu bodoh, jangan terlalu murah--"


Plak ....


Tamparan telapak tangan Liana membungkam mulutnya Rahman, sehingga dia berhenti berbicara.

__ADS_1


"Tapi kenapa pria itu suka sama wanita yang bodoh dan murahan bukan? sehingga dengan mudahnya dia mendapatkan apa yang dia mau mendapatkan hidangan lezat gitu kan?" manik mata Liana mendelik dengan sempurna pada Rahman. Rahangnya mengeras, marah. Kesal dengan perkataan dari Rahman barusan.


Rahman terdiam tak bergeming sambil memegangi pipinya yang terasa panas! yang kemarin saja masih terasa akibat tamparan dari Alisa, sekarang ditambah lagi dengan tamparan dari Liana.


"Pokoknya aku tunggu kamu datang bersama ibumu!" jelasnya Liana sembari membalikan badan masuk kembali ke dalam restoran.


Liana berjalan gontai menghampiri keluarganya dan Alisa memandangi ke arah Liana dengan tatapan yang meneliti dia tidak tahu kalau barusan ada Rahman di sekitar sana.


"Dari mana? kita bersiap mau pulang atau kita mau jalan-jalan dulu?" tanya Hadi yang ditujukan kepada Liana sembari menyandarkan punggungnya ke bahu kursi.


"Aku ... dari luar sebentar." jawabnya Liana sembari menoleh ke arah belakang sesaat.


"Kalau kalian mau jalan-jalan atau mau nonton kah. Tidak apa-apa, tapi Ibu pengen pulang aja!" ucap sang Bunda sembari melihat ke arah Putra, mantu dan cucunya.


"Besok dirga mau sekolah, jadi jangan terlalu malam. Mendingan kita pulang saja ya!" ajaknya Lisa sembari mengusap kepala Dirga yang masih menikmati es krimnya.


"Ya sudah, kalau gitu kita pulang saja!" suara Liana sembari meraih tas yang berada di atas kursi bekas dia duduk.


"Oke, kalau begitu kita pulang saja Lagian memang saya juga capek," Hadi berdiri sembari memasukkan dompet ke dalam saku celananya.


"Jamu mencari siapa Lian?" tanya Lisa sambil ikut celingukan.


"Ach nggak, nggak nyari siapa-siapa!" jawabnya Liana sambil masuki mobil mewah sang ayah lalu duduk di sisi dekat pintu.


"Oh, perutku kekenyangan! jadinya ngantuk!" suara Dirga sambil mendudukan dirinya. Di sebelah Oma.


Alisa dan ibu mertua tersenyum mendengarnya dan melihat anak itu yang berapa kali menguap.


"Sini tiduran di pangkuan oma!" tangan oma menarik kepala Dirga agar tiduran di pangkuannya.


Sementara Liana hanya menggeleng sambil menepuk bahu anak itu.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, setelah semuanya berada di dalam mobil, duduk dengan nyaman.


Di dalam mobil terasa hening karena tidak ada ocehan dari Dirga yang tertidur.


"Sayang, aku juga lelah ..." gumamnya Hadi sambil nyender ke bahu sang istri yang duduk bersandar.

__ADS_1


"Iya, lah ... belum istirahat kan? Oya kita dan Zidan sudah mulai libur belum?" tanya Alisa sambil mengusap rambut sang suami.


"Mulai besok mereka cuti. Satu Minggu." Jawabnya Hadi.


"Em ... Kalau gitu besok aku mulai kerja lagi ya? aku udah agak baikan kok rasanya bosan di rumah terus, ya? boleh ya? boleh?" Alisa menyatukan kedua tangannya seolah memohon agar besok dia bisa masuk kerja kembali.


Hadi menegakkan duduknya. "Sayang ... dengar sayang, kamu itu masih dalam masa pemulihan. Nggak boleh capek."


"Kan ada kamu, jadi kerjanya aku nggak berat, nggak harus mikir yang berlebihan! kecuali kalau kerjanya sendiri, ya boleh ya? aku bosan di rumah terus!" rengek Alisa.


Hadi menghilang nafas panjang. "Apa sih yang kurang sayang, Hem? uang aku transfer dan kalau kurang tinggal ngomong mau beli apa?"


"Bukan soal itu akhir-akhir ini. Aku kan sibuk jadi pas aku diam di rumah itu rasanya gimana gitu! kecuali kalau tubuh aku masih lemah atau gimana, ini sudah baikan kok!" Alisa terus merajuk.


"Emang benar Alisa itu masih dalam masa pemulihan gak boleh capek-capek!" timpal sang ibu mertua.


"Tapi Ibu ... kalau kerjanya sama Abang, aku nggak harus capek-capek. Beda dengan waktu itu, aku harus keluar kota, harus mikir sendiri wajar aku kalau aku capek." Alisa kekeh ingin masuk kerja lagi.


"Iya baiklah ... besok masuk kerja lagi, tapi ingat harus menurut semua kata aku!" Hadi menyentuh tangan Alisa dan meremasnya.


Setelah selang waktu beberapa puluh menit. Akhirnya tiba juga di halaman mension dan Hadi mengangkat tubuhnya Dirga di bawanya ke dalam kamarnya.


Setelah itu barulah menyusul sang istri yang lebih dulu masuk ke tempat peraduan. Hadi menutup dan mengunci pintu kamar namun Alisa tidak ada di sana. Langkah Hadi mendekati kamar mandi yang terdengar suara air yang mengalir dari keran.


"Sayang, apa kau ada di dalam?" tangan Hadi memutar handle pintu dan mendorongnya.


Tampak Alisa kaget dengan masuknya Hadi di saat dia sedang berdiri dekat kloset. "Mau apa?"


"Mau pipis! dan ambil air wudu nih," Hadi mendekati sang istri.


"Ooh, iya." Alisa membasuh mukanya dengan pencuci muka.


Ketika Hadi sudah punya wudu. Alisa menyeringai dan niat menggoda buat menyentuh tangan Hadi yang langsung di angkat ....


...🌼---🌼...


Like, komen ya makasih.

__ADS_1


__ADS_2