
Saat ini Hadi sudah berada dalam kamarnya dan baru saja selesai mandi, sehingga masih bertelanjang dada. Dengan handuk di pinggang. Dia berjalan mondar-mandir terus kepikiran istri mudanya itu, lalu dia duduk namun tidak terasa nyaman. Akhirnya dia berdiri kembali dan berjalan ke sana kemari bak setrikaan yang tidak tentu arah.
"Haduh ... aku jadi gelisah begini. Sedang apa ya dia sekarang ini?" Hadi mengambil ponselnya dan melihat foto Alisa yang bersama dirinya.
Selanjutnya Hadi berbaring. Namun tak Lena sehingga dia guling-guling tak karuan. kata cerai dari istri kecilnya itu mengganggu telinganya.
Kemudian. Dia buru-buru ke wardrof mengambil pakaian setelan. Dan dia memutuskan untuk menyusul Alisa ke Lampung saat ini juga. Berdiam di sini pun alamatnya takkan bisa tidur dan tidak akan tenang, karena kata-kata itu terus menghantui hati dan pikirannya.
Sejenak Hadi sibuk dengan ponsel nya lalu tas yang dia masukkan ke dalamnya tidak lupa dompet, kacamata hitam serta charger dimasukkan pula ke dalam tas itu, lalu dia buru--buru menemui ibunya untuk berpamitan dan juga Putra dan putrinya.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Ibu? apakah Ibu sudah tidur?" pekik Hadi dengan suara yang rendah.
Blak ... kemudian pintu pun terbuka dan tampak sang ibu berdiri. "Iya, ada apa?" tanya sang Ibu sembari melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul 10.00 malam.
"Aku mau pamitan sama ibu dan titip anak-anak--"
"loh mau ke mana!" selidik sang ibu yang yang tampak kaget.
"Aku harus menyusul Alisa ke Lampung. Aku kepikiran terus dan aku yang seharusnya bertanggung jawab atas semuanya itu kan aku, tidak melimpahkan atau membebankan pada dia terus-menerus." Jawabnya Hadi sambil meraih tangan sang ibu Lantas diciumnya.
"Oh ... ke Lampung bagus itu Ibu dukung, soal anak-anak tidak usah khawatir mereka akan mengerti, hati-hati ya?" sang Ibu memeluk sebentar putranya tersebut.
"Ya ... Ibu doakan saja ya? dan aku sebentar lagi akan ikut penerbangan ke sana." Setelah itu Hadi pun meninggalkan sang ibu untuk menemui Liana di kamarnya.
Kebetulan pintu pun masih terbuka, karena di kamar Liana ada di Dirga yang sedang belajar dan ditemani kakaknya.
"Kalian belum tidur? sudah malam lho ... Dirga tidur! nanti kesiangan, besok masuk sekolah," Hadi mendekati mereka berdua.
__ADS_1
"Lho ... kok Papa sudah rapi! mau ke mana malam-malam begini?" tanya Dirga sampai menatap sang ayah dengan tatapan sangat meneliti.
"Papa mau ke Lampung menyusul mommy. Kalian berdua baik-baik ya? Papa mau minta maaf sama mommy dan akan memberikan dia cuti agar dia bisa berlibur!" jawabnya Hadi sembari tersenyum.
"Hore ... Papa mau nyusul mommy! nanti pulangnya bawa adek ya?"
"Huuus ... ngomong apa sih ni anak? emangnya adik itu dibikin pakai terigu apa? ada-ada saja kamu ini," celetuk sang kakak.
"Kakak, aku ini sudah besar teman-temanku sudah banyak yang punya adik, ada yang dua ada yang tiga. Aku saja yang belum punya adik satupun. Aku pun ingin seperti yang lain punya adik yang lucu, gemuk menggemaskan. Unyu-unyu gitu deh." Ungkap anak itu sembari memegangi pipinya.
"Bilangnya sudah besar, pengen punya adik. Sudah sebesar gitu malah manja!" tambahnya sang kakak lagi dengan sinis.
"Sudah-sudah, yang penting kalian doain saja ya? semoga kami semua selamat bisa pulang lagi ke sini, dan tentunya bisa memberikan adek buat kalian." Hadi senyum simpul mendengar perdebatan mereka berdua.
"Iya Pah, hati-hati. Aku hubungi Alisa tidak dibales, Entah sibuk atau sedang ada masalah sama Papa," Liana menatap tajam ke arah sang ayah.
"Papa nggak bisa bercerita, ini urusan papa dan istri papa. Dan sekarang ini ... Papa mau selesaikan! Papa mau minta doa dari kalian semoga kami baik-baik saja!" lalu Hadi memutar badannya untuk pergi.
Hadi berbalik dan menggerakkan tangannya membentuk tanda oke. Lalu meninggalkan mension tersebut yang diantar oleh pak Mur ke bandara Soekarno Hatta.
Dan selama beberapa waktu, mobil pun sudah tiba di area bandara. Dengan cepat Hadi memasuki bandara tersebut yang sebelumnya berterima kasih kepada Pak Mur yang telah mengantarkannya.
Pak Mur tersenyum, ikut bahagia. Akhirnya sang majikan mau menyusul sang istri ke Lampung. Karena bagi dia ... sungguh kasihan Alisa yang sedang terpuruk dalam kesedihan atau mungkin ada masalah, namun harus berusaha tegar dan memikul beban, tanggung jawab yang besar atas perusahaan yang selama ini Hadi abaikan.
Kini Hadi pun sudah berada di dalam pesawat yang sudah mulai take-off, melayang di udara menembus Awan membelah langit yang hitam pekat tanpa adanya bulan dan bintang yang menghiasi gelapnya malam.
Kira-kira sekitar kurang lebih dari satu jam, si burung besi melayang di udara. Akhirnya landing juga di terminal yang sudah ditentukan.
Hadi pun dengan segera mendapatkan sebuah taksi untuk membawanya ke sebuah hotel di mana istrinya menginap di sana bersama staf lain.
"Tunggu aku sayang, sebentar lagi aku akan sampai! Menemui mu." Gumamnya Hadi.
Putaran jarum jam sudah menunjukkan pukul 00.00 lewat. Pas tiba di hotel, dan dengan mudahnya Hadi mendapatkan informasi kamar yang digunakan oleh Alisa untuk menginap.
__ADS_1
Hadi berjalan melewati koridor dengan menenteng tas dan sebuket bunga yang dia beli tadi di depan hotel. Pegawai hotel sudah menawarkan hadiah untuk diantar ke kamar dengan nomor xx.
Namun Hadi tolak dengan alasan dia bisa mencari sendiri. Ya ... dengan mudahnya Hadi menemukan kamar yang dia cari.
Dengan berbekal kunci serep yang dia pinta dari resepsionis. menjadikan dia bisa masuk ke kamar yang dihuni oleh Alisa, dan dia sudah bilang pada pihak hotel, kalau dia itu adalah suaminya. Ingin membuat surprise untuk sang istri yang kebetulan ini hari ulang tahunnya Alisa yang sempat Hadi lupakan.
Dengan perlahan, Hadi mendorong handle pintu hotel tersebut yang tampak dihiasi sinar yang temaram.
"Assalamu'alaikum ..." suara Hadi begitu sangat pelan hingga nyaris tak terdengar.
Namun kedatangan Hadi mengagetkan orang yang berada di kamar tersebut. Alisa kaget bukan main melihat pintu terbuka dan masuklah seorang pria yang kacamata hitam menjinjing tas kerja dan memeluk sebuket bunga.
"Si-siapa kau?" Alisa melonjak bangun seraya menyalakan lampu hingga keadaan terang benderang dan tampak lah siapa yang datang yang kini Sedang menutup pintunya kembali.
Alisa yang hampir saja spot jantung, menatap tidak percaya ke arah Hadi. Dia pikir orang jahat yang masuk ke dalam sana. Namun setelah diperhatikan benar-benar dia memang Hadi.
Sejenak Hadi berdiri tidak jauh dari pintu dan menatap ke arah Alisa sembari senyum, tadinya dia pikir Alisa pasti sudah tidur nyenyak! tetapi pada kenyataannya istrinya itu belum tidur. Gagal lah bikin surprise nya.
"Be-benarkah, itu kamu yang datang? aku tidak sedang bermimpi kan." Alisa bergumam sembari menepuk-nepuk kedua pipinya.
Alisa tidak percaya, kok Hadi berada di sana? bukannya dia males keluar dan paling tidak ... dia mengurus kantor pusat. Kenapa tiba-tiba dia berada di sini!
Hadi membawa langkahnya mendekati Alisa, setelah menyimpan tas di atas sofa dia berjalan dengan buket bunga di tangan. "Iya sayang ini aku datang!"
Alisa semakin mengerutkan keningnya, tidak habis pikir! masih lekat diingatan. Apa yang pria itu bilang. Kalau dia itu malas untuk keluar, paling tidak ke kantor pusat saja dan membiarkan dirinya dengan yang lain pergi ke Lampung ini. Mengurus semuanya.
"Kok Diam sayang? ini aku datang untukmu!" Hadi semakin mendekat dan membuka kacamata hitamnya dia simpan di atas nakas, kemudian dia memberikan sebuket bunga kepada Alisa dengan tulisan happy birthday.
Bikin yang baca terharu dan meneteskan ingusnya bukan sekedar air mata lagi, meskipun belum menerima bunga tersebut. Alisa merasa shock dan kaget ....
...🌼---🌼...
Apa yang akan terjadi? Oya makasih reader ku tercinta.
__ADS_1