
Tangis Alisa yang tak bersuara hanya bersaksi bantal dan guling yang ia peluk. Dan tidak seorang pun yang tahu gimana perasaannya saat ini.
Keesokan harinya pagi-pagi cuma kita sudah berangkat ke sekolah, dan sang Ibu pun sudah berangkat ke tempat perumahan kompleks. Untuk jurusan mencuci dan lainnya.
Sementara di rumah, Alisa sedang beres-beres di area dapur dan kebetulan Pak Anwar pun masih berada di rumah.
"Bapak gak jalan ngojek?" tanya Alisa ketika melihat sang ayah sambung menghampirinya di dapur.
"Tidak Papa sedang enak badan sayang istirahat aja di rumah." Jadi apa Anwar sambil merindukan bokongnya di usia yang ada di pojokan.
"Oh, begitu." Gumamnya Alisa sambil mengangguk pelan.
Entah kenapa hatinya merasa risih, seandainya memang Pak Anwar tidak kemana-mana, hanya di rumah saja. Sementara dirinya tidak tahu harus ke mana?
"Bikinkan, Bapak kopi dan antarkan ke kamar?" pintanya Pak Anwar sembari beranjak dari duduknya.
Alisa menoleh dan menatap ke arah Pak Anwar dengan heran. "Lho, bukannya tadi Bapak sudah ngopi? dibikinkan ibu?"
"Iya, itu tadi pagi. Bukan sekarang! dan sekarang saya pengen ngopi lagi." Balasnya pak Anwar sembari ngeloyor ke dalam kamarnya.
Alisa mengalihkan pandangannya ke arah lain sembari menghembuskan nafas yang terasa berat. "Huuh ... kok perasaan ku jadi gak enak ya?"
Kendati demikian Alisa pun membuatkan kopi buat sang Ayah sambung, meskipun hatinya terasa mendadak was-was dan cemas.
Lalu Alisa pun membawa secangkir kopi tersebut mendekati pintu kamar sang Ibu sekaligus ayah sambungnya tersebut, dengan ragu-ragu. Alisa berdiri di ambang pintu! dengan perlahan jari-jarinya mengetuk daun pintu kamar.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Pak ini kopinya sudah siap aku simpan saja di dapur ya?" ucap Lisa dari balik pintu.
"Masuk saja! bawakan ke sini?" pinta pak Anwar dari dalam kamar.
Alisa menggaruk tengkuknya. Kebingungan. "Aku malas ke dalam, masa aku harus simpan di depan pintu?"
__ADS_1
Kemudian tangan Alisa mengarah ke handle pintu yang di dorongnya dengan pelan.
Blak ....
Pintu terbuka dan manik mata Alisa mendapati kamar tersebut kosong. Dengan mata tertuju ke depan dan menyisir ruang tersebut sembari menyimpan cangkir kopi di atas meja kecil.
Dan tiba-tiba ceklek! pintu kamar di kunci dari dalam membuat Alisa sontak berbalik.
"Pak Anwar?" Alisa sungguh merasa kaget, shock dibuatnya. takut, cemas khawatir bercampur menjadi satu.
Sementara Pak Anwar menyunggingkan bibirnya, menatap tajam ke arah Alisa yang begitu tampak tengah ketakutan. "Tidak usah takut? saya tidak akan macam-macam, saya hanya ingin berbicara sama kamu!"
"Bi-bi, bicara apa? la-lagian ... kenapa mesti dikunci pintunya? kan bisa bicara di luar!" suara Alisa terbata-bata.
Alisa merasa serba salah, mundur mentok ke tempat tidur. Maju justru di hadapannya berdiri seorang pria yang bertubuh gemuk dan tidak terlalu tinggi, menatap tajam ke arah dirinya.
"Saya ingin mengatakan sesuatu yang selama ini saya pendam!" sambung pak Anwar, yang sedikit demi sedikit melangkah maju.
"Ki-ki-kita. Bisa bicara di luar, ti-tidak perlu dikunci pintunya, tidak enak nanti bila di ... didengar orang!" lanjut Alisa dengan suara yang tampak ketakutan serta wajahnya sangat yang gelisah.
Dengan cepat Alisa menepis tangan nakal itu. "Jangan macam-macam Pak? kalau mau bicara, ya bicara saja. Sa-saya mau keluar!"
"Tenang, santai saja. Nggak usah takut, jangan cemas begitu mukanya, bikin saya tambah gemas." Kata pak Anwar.
Alisa menggerakkan tubuhnya, menggeser ke samping. Begitupun dengan Pak Anwar, bila Alisa ke kiri pak Anwar pun bergeser ke kiri dan jika Alisa ke kanan Pak Anwar pun sama! intinya dia menghalangi Alisa untuk mendekati pintu.
"Sa-saya mau keluar! kalau anda mau bicara, bicara saja di luar. Jangan di kamar." Alisa masih berusaha bergerak untuk mendekati pintu.
"Saya bilang, tenang? santai dan tidak usah ketakutan begitu!" bentak pak Anwar dengan suara sedikit tinggi.
Membuat Alisa semakin shock. Ketakutan dan bingung harus berbuat apa-apa.
"Sebenarnya ... saya itu sangat menyukai kamu! dan sebenarnya saya tidak ingin menikahi ibu kamu, karena yang sebetulnya saya itu ingin melamar kamu. Bukan ibu mu." Jelas pak Anwar.
Duarrrrr ... suara pak Anwar, bagai suara petir yang menyambar di tengah hari yang panas tanpa mendung ataupun hujan.
"Ma-maksud anda?" Alisa semakin kebingungan.
__ADS_1
"Masa kamu tidak mengerti cantik? saya suka sama kamu bukan sama ibu kamu, ibu kamu saja yang geer mikirnya saya menyukai dia dan ingin menikahinya. Padahal itu salah sasaran. Sebab! yang saya inginkan adalah ... memiliki dirimu seutuhnya, bukan seperti ayah dan anak."
Degh ....
Perkataan Pak Anwar bikin Alisa benar-benar spot jantung, siapa sangka laki-laki yang menikahi ibunya itu. Ternyata mengejar dirinya, sungguh tidak pernah dia duga sebelumnya.
Pikiran Alisa yang melamun, membuat dia sedikit lengah, sehingga Pak Anwar dengan cepat mendorong bahunya ke belakang sehingga tubuhnya terjerembab ke atas tempat tidur.
Blak ....
Tubuh Alisa terlentang dengan sempurna. Tatapan mata pak Anwar mulai aneh bak singa lapar yang siap merekam korban.
Manik mata Alisa melotot dengan sangat sempurna. Melihat ke arah Pak Anwar yang semakin mendekat dan hampir saja menindih tubuhnya, untungnya Alisa langsung melonjak bangun dan berlari menuju pintu. Lantas membuka buru-buru membuka kunci tersebut.
Dengan kepala yang celingukan, melihat ke arah pak Anwar dan kunci pintu bergantian.
Untunglah pintu pun terbuka dan Alisa berusaha untuk keluar dari kamar sang ibu. Termasuk dari tawanan sang Ayah sambung.
Namun apa yang terjadi? baru saja Alisa mau melangkahkan kaki untuk melintasi pintu! pinggangnya Alisa di raih oleh tangan pak Anwar. Alisa meronta memegangi ujung pintu dan berusaha melepaskan diri.
"Lep-lepaskan aku? nanti ku adukan pada ibu ku?" pekik Alisa.
"Silakan manis, karena ibumu akan lebih percaya padaku ketimbang dirimu, karena ibu cinta mati sama saya! makanya saya mau memiliki mu malah dia yang mau menikah dengan saya, ha ha ha ..." ancaman dari Alisa tidak membuat pak Anwar merasa gentar.
Alisa terus meronta, memukuli tangan pak Anwar yang memeluk perutnya dari belakang. Namun alisa kalah telak dengan tenaga pak Anwar yang lebih kuat.
Selanjutnya tubuh Alisa ditarik kembali ke dalam kamar, lalu dihempaskan ke atas tempat tidur.
Bugh!
Alisa terbaring di atas tempat tidur yang langsung kakinya di kunci oleh kedua kaki pria bertubuh gempal tersebut ....
.
...Bersambung!...
Dapatkah Alisa menyelamatkan diri? jangan lupa klik subscribe di titik tiga bagian kanan. Like komen dan dukungan lainnya🙏
__ADS_1