Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Tidak suka


__ADS_3

"Sedang masak apa sayang?" suara dari seseorang yang langsung memeluknya Alisa dari belakang.


Tentunya Lisa pun sudah hafal dengan suara siapa? dan tangan siapa yang merangkul di perutnya. "Jangan ganggu aku lagi masak nanti kena panas! mau?"


"Justru aku ingin menyelamatkan istriku! dari panasnya minyak dan biar aku yang menggoreng ayamnya, kebetulan aku belum ganti pakaian." Ungkapnya Hadi sembari meletakkan dagunya di atas kepala Alisa.


"Ya sudah, kalau mau bantu-bantu, dengan senang hati aku akan pasrahkan semuanya pada mu!" balasnya Alisa sambil mengaduk nasi goreng dan sebelahnya sedang menggoreng ayam.


"Baiklah! menggoreng-goreng biar bagian aku sayang! sayang bagian nasi gorengnya saja," ucap kembali Hadi, namun dia tak kunjung juga melepaskan rangkulannya di tubuh Alisa.


"Kok nggak dilepas sih? lepasin iih ... malu juga di lihat orang." Alisa tersipu malu sambil melihat ke arah asisten yang sedang menyiapkan masakan membuat sarapan yang lainnya.


"Ya nggak apa-apa, orang memeluk istri sendiri! yang salah itu memeluk istri orang, itu baru salah!" jawabnya Hadi sembari mengecup pipi Alisa yang terasa nyess dingin.


Namun berapa saat kemudian tanga Hadi pun melepaskan rangkulannya dan mendekati gorengan ayam yang dia sanggupi untuk menggantikan sang istri.


Dan kini Alisa lebih leluasa mengurus nasi gorengnya yang belum dia bumbui.


Dari anak tangga terlihat Rahman berdiri, memperhatikan ke arah Alisa yang tanpa ekspresi.


"Hanya pagi ini aku bisa melihat dia pagi-pagi buta seperti ini, dan besok lusa tidak akan lagi karena aku takkan tinggal di sini!" gumamnya Rahman sembari berdiri dan memegangi pagar tangga.


"Kamu sedang apa bengong di sini? jangan bilang kau sedang memperhatikan Alisa! dia itu Ibu sambung aku dan sudah menjadi mantanmu." Suara Liana mengagetkan Rahman yang sedang melamun.


"Ha? aku mau turun dan mencari sarapan!" elaknya Rahman sembari menurunkan langkahnya.


"Ya udah, mau aku bikinkan teh hangat manis atau air hangat putih?" tanya Liana sambil mengekor Rahman dari belakang.


"Teh hangat saja!" jawabnya Rahman sambil mendudukan dirinya di dekat meja makan.


"Halo pengantin lama, yang selalu seperti pengantin baru!" godaannya Liana kepada sang ayah dan Alisa.


"Eeh ... kamu Lian, sudah bangun!" balasnya Anisa sembari menoleh ke arah Lian dan juga Rahman.


Melihat Rahman berada di sana, membuat Hadi semakin mendekati sang istri dan tangan yang satunya merangkul pinggang istrinya tersebut. Kecupan pun mendarat di pipinya.


"Iih malu, apa-apaan sih?" protesnya Alisa sembari mendelik pada suaminya.

__ADS_1


"Biar saja, mereka pasti mengerti kok!" dasarnya Hadi yang bandel dan lagi-lagi mencium pipi Alisa dengan sangat mesra.


Kemudian, Liana pun merangkul bahunya Rahman yang berusaha melepas karena tidak mau di rangkul Liana. Rahman tampak canggung di hadapan Alisa dan Hadi.


"Wahhhh ... semuanya sudah berkumpul nih." Suara ibunda Hadi yang baru saja datang ke tempat meja makan.


"Iya, Ibu. Kita sarapan bersama!" Alisa, kemudian Alisa mengalihkan pandangannya pada mbak. "Mbak tolong panggilkan Dirga ya? kok belum turun!"


"Baik, Non ... akan saya panggilkan!" Mbak langsung memutar badannya untuk menjemput Dirga.


Kemudian Alisa mengambilkan sarapan buat Hadi yang tentunya nasi goreng sebagaimana permintaannya.


"Ibu mau nasi gorengnya? atau mau nasi putih saja sama ayam goreng, masih anget loh tanya Alisa kepada sang ibu mertua yang tak pernah pudar mengulas senyumannya.


"Ibu, nasi putih saja sama ayam gorengnya, juga sayur!" pintanya sang ibu mertua menyodorkan piringnya kepada Alisa.


Tidak lama kemudian, Dirga pun datang dengan mengenakan baju seragam dan tas sekolah di punggung.


"Kok, Papa masih pakai baju rumah, belum pakai baju formal. Apakah libur?" tanya anak itu sembari menatap ke arah sang ayah dan juga Ibu sambungnya bergantian.


"Nggak libur, cuman barusan Papa bantuin mommy dulu, mumpung belum ganti baju!" jawabnya Hadi.


"Lian, Papa harap. Di manapun kamu berada dan tinggal! soal kuliah jangan ditinggalkan dan biaya kuliah Papa yang nanggung. Dan ingat belajar yang benar, sekalipun kamu sudah menjadi istri!" ucap sang ayah kepada Liana di sela-sela sarapannya.


Liana mengangguk seraya berkata. "Iya, Pah ... aku tidak akan berhenti kuliah kok."


Alisa mengedarkan pandangannya ke arah sang suami juga anak sambungnya itu.


"Hari ini, aku akan berkemas pakaian dan buku-buku keperluan kuliah ku. Aku akan tinggal dengan suami ku, tapi aku boleh kan sering main ke sini?" Liana menatap haru pada papanya dan Alisa.


"Tentu. Kamu boleh sering main ke sini, kan ini rumah mu juga. Kau bisa kapan saja datang ke sini." Alisa menatap ke arah Alisa.


Rahman memandangi Alisa yang sedang bicara pada istrinya, Liana.


Hadi yang melihat itu merasa sedikit cemburu. "Kamu boleh datang kapan saja dan siapa yang larang kamu datang ke sini? pintu ini terbuka untuk mu!" ucap Hadi pada Liana.


"Oya sayang? ambilkan sayuran dong!" pinta Hadi pada Alisa dan cuph mengecup pipi nya.

__ADS_1


Rahman langsung mengalihkan pandangannya dan merasa kikuk malu sendiri.


Alisa pun pipinya berubah merah, merasa malu dicium di depan orang rumah. Namun mengangguk lalu mengambilkan yang Hadi pinta.


"Kak Liana mau pindah ya?" Dirga menatap lekat ke arah sang kakak.


"Iya. Kakak mau pindah! tapi kakak pasti sering main ke sini kok," Liana mengangguk pada Dirga, sang adik.


"Oma juga akan merindukan mu, Nak ... yang betah ya dan jadilah istri yang baik. Nak Rahman ... titip Liana ya? selama ini dia tidak pernah jauh dari orang tua. Dan baru sekarang dia akan jauh." Oma melihat ke arah Rahman dan Liana bergantian.


"Iya, Oma. Aku pun akan sangat merindukan Oma." Liana membalas perkataan omanya.


Selesai makan. Hadi langsung beranjak dan menarik tangan sang istri untuk berganti pakaian. "Ayo sayang, ganti pakaian!"


Alisa mengekor dari belakang dengan tangan yang memang di tarik oleh Hadi yang sebenar tidak ingin sang istri di pandang oleh sang mantu.


Setibanya di kamar. Alisa pun mengganti pakaian terlebih dahulu di wardrof, lalu membawa pakaian buat Hadi.


"Saya tidak suka bila dia, matanya jelalatan pada istri saya. Padahal sudah jelas-jelas mempunyai istri." Ungkap Hadi sambil meraih pakaiannya.


Alisa terdiam, dan dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia pun merasa risih sebenarnya.


"Oya. Besok kita jadi ke Bali dan hanya kita berdua." Jelasnya Hadi kembali. "Zidan dan Mita besok mulai masuk lagi."


"Tapi yank?" Alisa menatap ragu pada sang suami.


"Apa sayang?" Hadi sambil memasang jam di tangan.


"Em ... aku, aku ... maunya ke raja Ampat. Perginya," akhirnya Alisa mengutarakan ke inginnya pergi bulan madu ke raja Ampat bukan ke Bali.


Hadi tersenyum. "Nah ... gitu dong! bilang maunya kemana! aku senang mendengarnya. Oke kita akan pergi ke raja Ampat." Hadi memeluk sang istri, menatapnya dengan dangat erat.


Hadi merasa senang mendengar permintaan dari Alisa yang lama Hadi tunggu-tunggu itu. Lalu Hadi menciumi wajah Alisa dengan lebat. Dan berakhir di bibir dengan sangat mesra.


"Aku akan tahan keinginan ku ini, biar nanti sampai di sana saja kita melakukannya." Suara Hadi pelan setelah melepas bibir Alisa.


Namun detik kemudian kembali ********** dengan durasi yang lama dengan kedua tangan menarik punggung Alisa sehingga tubuh bagian depan mereka berdua begitu rapat atau menempel satu sama lain ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Terima kasih ya ... bagi yang masih mengikuti dan setia!


__ADS_2