
Kini Alisa dan Dirga sudah berada dia mension, Dirga pun meminta Alisa untuk menemaninya berenang. Dan Alisa pun mengiyakan.
Alisa duduk di tepi kolam renang dengan merendam kedua kakinya di sana. Alisa melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 20 malam.
"Dirga ... udah yo? naik, nanti kamu masuk angin lho. Sudah kelamaan nih!" panggil Alisa sambil memandangi anak itu yang tampak asik bermain air.
"Iya, bentar lagi. Aku naik kok." Dirga menjawab yang kesekian kalinya seperti itu, namun tidak naik juga.
"Sayang ... Kak Lisa capek, belum mandi dan belum beres-beres juga di kamar. Papa minta Kak Lisa paking barang lho!" lanjut Alisa.
Hadi minta Alisa paking pakaiannya biar bila diperlukan, tinggal bawa saja. Hadi chat Alisa kalau dia akan membawa Diana ke luar Negeri bila dalam beberapa hari ini kesehatannya tidak berubah juga.
Alisa memegang ponselnya sambil menatapi isi chat dari Hadi. Ada rasa yang gimana gitu yang gitu, yang tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata.
"Iya, ini juga naik nih, Kak Lisa bawel juga kaya Mama.' Gerutu anak itu bikin bibir Lisa tertarik ke samping.
Alisa menoleh mbak yang kebetulan datang ke sana membawakan handuk buat Dirga.
"Mbak, tolong ya? paking kan pakaian Dirga, gak banyak sih secukupnya saja. Biar bila satu saat mau pergi! tinggal bawa saja." Titah Alisa pada mbak.
"Ooh, iya. Tapi mau kemana emang?" selidik mbak merasa penasaran.
"Em ... mungkin maksud tuan, bila kondisi ibu tak membaik juga. Akan di bawa berobat keluar Negeri. Tapi aku kurang tahu juga Mbak." Alisa berdiri lalu melirik ke arah Dirga yang sudah di handuk.
"Ooh, iya. Nanti saya paking kan." Kata mbak.
Mereka memasuk kamarnya masing-masing. Dan Alisa setelah mandi, masuk ke wardrof untuk menyiapkan pakaian Hadi sesuai permintaannya.
"Ha ... sudah selesai. Orang cuma beberapa potong juga." Alisa menarik koper ke pinggir.
Lalu dia berbaring sambil menarik selimutnya. "Hem ... berarti aku di sini sendirian dalam waktu yang panjang dong. Tak apa lah, berarti aku gak harus melayaninya!" gumamnya Alisa sambil terpejam dan beberapa kali menguap.
Namun sambil terpejam, Alisa kepikiran bila Hadi bersamanya khususnya ketika berada di luar kota, perlakuannya yang manis dan memanjakannya, emang ada maunya sih.
Alisa membayangkan setiap sentuhan yang dia berikan. Sampai Alisa tidak ingat apa-apa lagi. Dia tertidur sangat nyenyak.
__ADS_1
Sekitar pukul 01.00 malam. Ada yang masuk ke dalam kamar Alisa berjalan mendekati tempat tidur tersebut. Di bawah sinar yang temaram pria itu naik ke tempat tidur Alisa.
Dia tiada bukan yaitu Hadi. Dia merasa tidak tahan dengan dorongan yang menyiksa dirinya, dan akhirnya menyempatkan untuk pulang barang sebentar. Diana ada yang nungguin yaitu Liana dan Dania dan mereka berdua tidak tahu kalau Hadi pulang.
Hadi melempar kemejanya yang entah mendarat di mana. Dia sendiri merangkak naik mendekati Alisa yang tampak sangat nyenyak sekali.
"Sayang?" bisik Hadi dengan suara bergetar di dekat telinga Alisa, jemarinya mengelus pipi yang lembut itu.
"Lisa? aku pulang!" suara Hadi terdengar berat. Kemudian mendaratkan kecupan di kening dengan durasi yang lama.
"Lisa ... Abang pulang! bangun lah!" Hadi menepuk-nepuk pipi Alisa yang tampak nyenyak tersebut.
Hadi memberikan ciuman pada kedua pipi Alisa! tetap dia tidak bergeming. Tapi ketika Hadi mengecup bibirnya, barulah Alisa menggerakan anggota tubuhnya dengan perlahan.
Alisa kaget, ketika merasakan ada yang menempel di bibirnya. Tangan Alisa menepuk dada pria yang berada di atas tubuhnya itu. "Emmm. Lapas?" tubuh Alisa melonjak kaget.
"Sayang, Lisa! ini Abang," suara Hadi dengan cepat dan mengunci tubuhnya, setelah memberi jeda agar Alisa menghirup udara yang sebanyak-banyaknya.
"O-Om, kenapa di sini? bukannya menunggui, Tante di rumah sakit!" Alisa terheran-heran.
Hadi menatap lekat ke arah Alisa yang menunjukan muka bantal tersebut menatap sendu. “Aku pulang sebentar dan besok sepertinya aku jadi menyiapkan keberangkatan ke luar Negri itu,” ucapnya pelan.
“Aku hanya ingin bilang sama kamu, tolong gantikan aku di kantor, urus semua. Kau akan di bantu oleh banyak orang di sana termasuk Zidan dan Burhan. Kalau ada kesulitan ... tanya saja mereka! juga ada Mita yang akan
membantu kamu.” Ujar Hadi dengan posisi yang sama.
Alisa hanya menatap sendu ke arah Hadi yang terus menatap intens ke arah dirinya.
“Ke Bandung pun. Kamu saja bersama Burhan dan Zidan. Dan kamu akan dibarengi oleh Mita yang akan menjadi asisten mu selama aku tidak ada di kantor. Tolong pengertiannya ya?” sambung Hadi sambil mendekatkan bibirnya ke kening Alisa dan mengecupnya kembali.
“Em ... apa kau perlukan sesuatu?” Alisa mau bangun setelah Hadi menjauhkan wajahnya itu.
Tangan Hadi mendorong bahu Alisa agar seperti posisi yang semula. “Aku tidak lama di sini dan akan segera kembali ke rumah sakit.”
Alisa mengangguk pelan. “Pakaian mu sudah aku siapkan.”
__ADS_1
“Terima kasih ya, dan terima kasih juga atas perhatian serta pengertiannya darimu.” Hadi kembali mendaratkan kecupan di pipi dan kening, akhirnya mendaratkan juga kecupan itu di benda tipis nya Alisa.
Dada Alisa berdebar, ingin menolak namun tak kuasa antara tubuh. Hati dan pikirannya tidak sinkron. Hati berkata jangan mau di cumbu Lisa ... paling sebentar kau ditinggalkan, pikiran nya ngomporin. Kau itu nantinya akan
di cerai kan! jadi jangan mau kau itu diperlakukan selayaknya seperti istri. Sementara tubuhnya ikut menikmati setiap sentuhan dari Hadi sehingga terhanyut dengan suasana.
Tangan Alisa merangkul punggung pria yang sepertinya sudah tidak kuasa menahan hasratnya lagi. Nafasnya yang memburu seiring darah yang memanas bergolak dalam diri menyebar ke seluruh tubuh.
Hadi terus mencumbu Alisa. Sementara pikirannya kepikiran sang istri yang berada di rumah sakit. Namun bila ini ditinggalkan pun tanggung, rasanya sudah berat banget ke bawah ingin segera menumpahkan lahar panas yang sudah berkumpul dan siap untuk di keluarkan dari perutnya.
Selanjutnya Hadi melakukan kewajibannya pada Alisa, meskipun pikirannya sesekali teringat pada Diana yang sangat menghawatirkan. Sejenak Hadi terdiam dan menjeda permainannya, Sesaat kemudian Hadi memfokuskan pikirannya pada yang ada di hadapannya ini. Akan terasa sia-sia bila tidak menikmati permainan nya ini dengan sepenuhnya.
Kini Hadi begitu menikmati perannya sebagai nahkoda dalam permainan yang mengasikan dan bikin candu itu, dalam jarak waktu satu jam, Hadi sudah mencapai puncaknya hingga beberapa kali.
Beberapa kali dia pun mengecup kening Alisa sembari berucap makasih.
“Makasih sayang, sudah memberikannya pada ku?” ucap Hadi sembari mengelus pipi nya Alisa dengan lembut.
Alisa hanya menggerakkan kedua maik matanya saja sambil menaikan selimut agar menutupi tubuh.
Gegas pria yang sudah merasa cukup puas dengan servis Alisa itu, menurunkan kakinya ke lantai dan meraih celana yang dia pakai sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Dengan pelan, Alisa bangun sambil menjepit selimutnya di ketiak. Manik matanya mencari piyama yang tadi Hadi lempar begitu saja. Alisa mengikat rambutnya setelah mengenakan piyama, lantas memasuki wardrof. Untuk menyiapkan pakaian Hadi yang pasti mau kembali ke rumah sakit.
Sesaat, Hadi kembali dengan handuk yang melilit di pinggang dan handuk kecil yang dia pakai buat mengeringkan rambutnya yang basah. Alisa buru-buru mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambutnya Hadi.
“Sini? ku bantu keringkan rambut mu,” pinta Alisa dan menarik tangan Hadi agar duduk di bawah.
Dan Hadi pun menurut dengan perintah sang istri kecilnya sambil menatap lekat ke arah wajah cantik yang mulai dia rasakan ada sesuatu. Alisa pun mengeringkan rambut Hadi dengan ikhlas.
Beberapa saat kemudian. “Sudah.”
“Makasih sayang.” Lanjut Hadi mempersiapkan diri untuk pergi kembali.
Alisa membantu juga merapikan kemeja nya Hadi, melipat tangan bajunya sampai ke siku. Kemudian tangan kekar Hadi merangkul bahu istrinya itu dipeluknya erat. Mungkin mulai besok tidak bertemu lagi untuk sementara waktu ....
__ADS_1
...🌼----🌼...
Rasa itu sudah mulai di rasakan keduanya, namun belum ada pengakuan saja. Apalagi Alisa, dia tidak mau hanyut dengan perasaan.