Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Angin segar


__ADS_3

"Ya, sudah. Kita pulang? tapi kita makan dulu!" Hadi berlalu meninggalkan Alisa, berjalan duluan.


Alisa termenung melihat punggung Hadi yang berlalu duluan. Lalu dia menyusul langkah Hadi dengan langkah yang gontai.


Mereka sudah berada di mobil, yang kini melaju dengan kecepatan sedang dan ketika di depan sebuah restoran mobil tersebut berhenti.


Hadi turun duluan dengan menenteng jaketnya mengitari mobil, membukakan pintu buat sang tunangan yang kini sedang gusar.


"Jangan di bikin pusing, ini sudah menjadi keputusan mu yang tidak ingin mempolisikan laki-laki brengsek itu, dan itu sama saja kau membiarkan ibu mu terus di bohongi suaminya." Hadi berucap sembari berjalan di samping Alisa.


Alisa hanya menoleh tanpa ekspresi dengan mencoba mencerna omongan Hadi yang ada benarnya juga.


"Om?" panggil Alisa lirih sambil berjalan memasuki pintu masuk restoran tersebut.


"Hem?" sahut Hadi sambil melirik.


"Aku, terserah Om saja bila mau laporin. Aku tidak keberatan," ucap Alisa pelan.


"Tapi saya melihat kamu tidak ikhlas. Jadi saya tidak ingin berbuat sesuatu yang sekiranya tidak kau inginkan." Jelas Hadi sambil memilih menu makan malamnya.


"Mbak. Tolong minta es batu ya?" pinta Hadi pada pelayan restoran.


Alisa menatap mbak itu lalu ke arah Hadi yang melihat dirinya.


"Mata mu begitu bengkak. Harus di kompres biar gak bengkak lagi," ucap Hadi sambil menyesap minumnya.


Alisa pun menyesap minumnya sambil menggerakkan matanya yang memang terasa sembab.


Beberapa saat kemudian, Alisa mengompres matanya dengan es batu yang pelayan restoran berikan. Dengan tangan kanan menggerakan sendok ke mulutnya.


"Saya tidak akan memaksakan kehendak, bila kau sendiri kurang berkenan. Jadi ... biarlah sampai Tuhan yang bergerak menyingkap semuanya tanpa ada campur tangan kita." Hadi menghela nafas panjang, lalu matanya mendapati Liana bersama seorang laki-laki memasuki restoran tersebut.


Melihat Hadi mengarahkan pandangannya ke arah pintu, Alisa pun tak ayal melihat ke arah sana.


"Liana, Rahman?" gumamnya Alisa pelan.


Jadi menoleh pada Alisa yang barusan bergumam. "Itu kekasih mu bukan?"


Alisa menggeleng. "Sudah putus. cincin nya pun sudah ku kembalikan."


"Oh," ucap Hadi dengan sesingkat mungkin.


Sementara Liana dan Rahman tidak melihat keberadaan Alisa dan papanya berada di sana.

__ADS_1


"Man. Kita duduk di sana ya?" Liana menarik tangan Rahman ke meja 10 agak jauh dari papa dan Alisa.


Rahman nurut saja dengan ajakan Liana. Tanpa menoleh kemana-kemana.


"Gimana, apa kau tidak akan menyapa dia?" tanya Hadi sambil melirik ke arah mantan kekasih Alisa.


"Nggak," Alisa menggeleng.


"Kenapa? jangan menyimpan dendam." Hadi sambil memakan makan malamnya.


Alisa menunduk dengan perasaan yang tidak menentu dan bermacam pemikiran tentang Liana dan Rahman.


"Apa mereka ada hubungan?" batinnya Alisa sambil menunduk dalam.


Selesai makan. Hadi mengajak Alisa pulang. "Yo, kita pulang? sudah malam!"


Alisa mengangguk. Lalu berdiri sambil meraih tas nya.


Mereka berjalan berdua melintasi Liana dan Rahman yang sedang asik mengobrol dan sehingga tidak melihat Hadi dan Alisa.


"Kanapa tidak di tegur?" tanya Alisa sambil berjalan di belakangnya Hadi.


"Biar saja, jangan ganggu mereka berdua." Jawabnya Hadi seraya menghentikan langkahnya menunggu Alisa agar berjalan berdampingan.


Sesaat kemudian, mobil tersebut melaju dengan cepat. Yang sebelumnya Hadi membantu memasang bell safety di tubuh Alisa.


"Makasih!" balas Alisa dengan tatapan sendu.


Perjalanan tidak terasa, tau-tau sudah sampai di pekarangan rumah Hadi. Dan Alisa buru-baru masuk agar tidak bertemu orang banyak, malu bila harus menampakkan matanya yang bengkak.


Alisa mendekati tempat tidurnya dan menjatuhkan dirinya di sana.


"Sudah, kau tidak boleh manggis lagi. Cukup! jangan buang air mata mu Alisa, kamu harus yakin bila suatu saat semua kebohongan akan terbongkar." Alisa menepuk kedua pipinya.


Alisa bangun dan berjalan mendekati pintu kamar mandi. "Oo. Dia sudah perlukan sesuatu gak ya?"


Langkah Alisa berbelok kembali ke tempat tidur. Dimana tas nya di simpan, lalu mengirim chat Hadi. Siapa tahu dia butuh sesuatu.


Namun Hadi tidak membalas. Karena Hadi menyimpan ponselnya di kamar. Sementara dia berada di kamar istri tercintanya. Diana.


"Nggak balas, apakah ... dia sudah tidur?" Alisa mengetuk-ngetuk jarinya ke kening.


"Tapi gak mungkin juga tidur lebih cepat? orang sama-sama baru masuk kok! bodo ahc!" Alisa melanjutkan kembali niatnya untuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Sementara Hadi yang sedang berada di kamar Diana dan sedang baringan bersama mengantar Diana untuk tidur.


"Abang ... Alisa sudah pulang?" tanya Diana sembari mendongak.


"Iya, sudah. Sekarang dia istirahat di kamarnya," balas Hadi sembari membelai kepala sang istri.


"Apakah Abang bertemu dengan ibunya?" Diana kembali bertanya.


"Em ... tidak! Abang menemukan dia menuju pulang, jadi abang tidak sampai ke rumahnya, sayang." Hadi mengecup kening sang istri begitu mesra.


"Ooh, Abang. Aku bahagia sangat, kau begitu menyayangi ku sampai detik ini kau selalu menemani ku. Mencintai ku!" ungkap Diana sambil menempelkan pipinya di dada Hadi yang hangat dan bikin nyaman.


Dada yang sebentar lagi akan terisi oleh istri mudanya, Sebentar lagi bukan lagi Diana yang berada dalam pelukannya Hadi. melainkan Alisa, madunya.


"Mencintai mu adalah kewajiban ku. Menemani mu sudah tugas ku sampai bila-bila juga. Karena sayang adalah istri Abang sampai kapan pun," balas Hadi sembari mengecup kening Diana dengan durasi yang lama.


"Tidurlah sayang. Abang temani sayang sampai lelap." Hadi mengusap bahu Diana pengantar tidur.


"Terima kasih Abang. Diana sayang sama Abang, cinta aku selamanya pada Abang." Gumamnya Diana.


Setelah beberapa saat kemudian, Diana pun terlelap dalam pelukan sang suami tercintanya.


Perlahan, Hadi menggeser tubuh sang istri yang sudah terlelap tersebut. Hadi sudah lama tidur terpisah kerana permintaan Diana juga, dan dia pun tidak sanggup tidur bersama. Takut dia tak mampu mengontrol jiwa lelakinya sementara keadaan sang istri tidak memungkinkan untuk melayaninya.


Tangan Hadi menyelimuti sang istri sampai menutupi dada dan perlahan dia menapakkan kakinya ke lantai.


Hadi berdiri di ambang pintu lalu memutar kepalanya melihat ke arah sang istri. Sebelum dai melintasi pintu tersebut.


Kini Hadi meninggalkan kamar yang pernah menjadi kamar pribadinya bersama sang istri.


Langkah nya yang lebar membawa dirinya dengan cepat ke sebuah kamar yang kini menjadi kamar pribadi dan tidurpun sendiri. Setelah berada di kamar! Hadi pun membawa langkahnya ke kamar mandi namun netra nya tidak menemukan pakaian ganti di atas tempat tidur.


"Dia pasti sudah tidur, atau kalut dan tidak mau dilihat orang dengan matanya yang bengkak itu!" gumamnya Hadi sambil menatap tempat tidur yang biasanya tersedia pakaian ganti.


Kini Hadi bersiap untuk tertidur, dai berbaring mantap langit-langit sembari terus berpikir! gamana caranya supaya bisa menindak lanjuti Anwar. Takut nya dia berulah lagi mengganggu tunangannya, masih mending bila Alisa masih bisa menjaga diri! kalau sampai naas gimana? hadinyidak bisa membayang bila itu terjadi.


Tiba-tiba bibir Hadi tersenyum dan berasa mendapatkan angin segar, kepalanya pun mengangguk-angguk sembari meraih guling untuk di peluknya. Sementara peluk guling dulu. Nanti waktunya peluk seseorang atau di peluk.


Alisa yang baru saja terlelap. Tiba-tiba terbangun karena bermimpi bertemu ibunya yang sedang memanggil namanya ....


.


Jangan lupa like komen dan subscribe juga ya? biar dapat notifikasi nya.

__ADS_1


Makasih


__ADS_2