
Pagi-pagi sekali Bu Juli datang bersama Dirga yang di jemput oleh pak Mur, jadi jelas bisa barengan dengan Bu Juli datangnya.
Bu Juli menangis histeris memanggil putri cikal nya yang terbaring g lemah di atas tempat tidur..
"Kamu kenapa Nak ... kenapa gak bilang kalau lagi hamil?" sang ibu memeluk Alisa.
Hadi yang selalu dekat Alisa memberi ruang pada sang mertua untuk berdekatan dengan putrinya.
Alisa tidak menjawab melainkan menetes kan air mata yang tidak dapat ia bendung.
"Kalau lagi hamil muda itu hindari capek dan stress, Masalahnya kamu itu hamil pertama Nak ..." sambung sang bunda.
Ibunya Hadi mendekati. "Bu Juli ... ini takdir dan belum rejekinya saja. Lisa sedang berduka dan jangan kita omongin terus. Kasihan dia, doakan saja ya!" dengan lirih.
Bu Juli melirik ke arah besannya dengan tetapan yang berkaca-kaca. Bagaimanapun dia seorang ibu yang merasakan gimana rasanya kehilangan.
"Aku nggak tahu, kalau aku lagi hamil sebelumnya, Bu." Suara Alisa bergetar sambil menangis.
"Ya sudah ... yang sabar ya? semoga cepat sembuh dan lain kali kamu harus pandai menjaga dirimu sendiri!" tuturnya sang ibu yang berusaha tegar serta menerima kenyataan.
Dirga yang sedari mamatung dalam pelukan sang ayah. akhirnya membuka suara dan mendekati Lisa. "Mommy, mana adiknya Dirga, katanya Mommy membawa adiknya Dirga?"
Semua orang yang ada di sana mematung mendengar pertanyaan dari Dirga, siapa juga yang bilang kalau Alisa balik ke Jakarta membawa adiknya.
Alisa menatap Dirga dengan tatapan nanar lalu Alisa menyeka air matanya. "Dirga ... adiknya belum ada, adeknya sudah duluan pergi menghadap yang maha kuasa. Karena Mommy nggak bisa menjaganya!"
"Em ... apakah adik Dirga meninggal seperti mama?" suara anak itu lirih.
Alisa mengangguk pelan sambil memegang tangan nya Dirga. Dengan tiba-tiba Dirga menangis sangat kencang.
"Haaaaa ... Kenapa adik Dirga harus meninggal duluan? aku kan belum melihatnya, aku belum sempat menggendongnya, mana adik Dirga? dia pasti lucu. Gemuk dan menggemaskan bukan? hik-hik-hik, Dirga mau melihatnya!" anak itu ngamuk sambil duduk di lantai.
__ADS_1
Semua pasang mata melihat ke arah Dirga yang menangis kejer, ingin melihat adiknya dan menangisi kenapa adiknya harus meninggal?
Hadi buru-baru mendekat dan berusaha menyenangkan Dirga. "Dirga-Dirga tenang sayang ... ini rumah sakit, tidak boleh berisik. Nanti menggau pasien lain, Mommy juga jadi tidak bisa istirahat bila Dirga menangis begini."
"Hik-hik-hik, kenapa adiknya Dirga meninggal! kan Dirga mau adik dari mommy, Pah ... mau adik yang lucu yang menggemaskan. Dirga baru saja kehilangan mama, masa sekarang harus kehilangan adik! aku mau adik bayi Pah mau adek!" Dirga terus mengamuk diperlukan Hadi.
Hadi menjadi mencelos dengan kata-kata yang diucapkan Dirga, mengingatkannya lagi kepada Diana dan karena kesedihan yang telah kehilangan Diana juga membuat dia kehilangan sang calon bayi dari Alisa.
Tangan Hadi terus memeluk Dirga seraya mengusap punggungnya dan berusaha menenangkan.
Ibunya Hadi, Bu Juli dan Liana terdiam dengan pikiran yang masing-masing. Sementara Dedi bersama istri sudah pulang jadi tinggallah mereka yang ada di sana.
Lantas ibunya Hadi mendekati Dirga, setelah anak itu sedikit reda menangisnya. "Kalau Dirga mau punya adik, harus rajin berdoa minta sama Allah biar segera dikasih lagi adik. Yang sehat mommy nya juga adiknya, ya?"
Dirga keluar dari pelukan sang ayah dan berpindah kepada sang Oma. "Aku mau adik yang lucu Oma, yang gemuk dan menggemas kan! semua teman-temanku sudah punya adik, ada yang dua ada yang satu. Cuman aku aja yang nggak punya adik!" anak itu semakin merajuk namun tangisnya sudah berhenti.
Alisa tidak sanggup mendengarnya, Alisa menghadapkan wajahnya ke sebelah tembok dengan derai air mata yang terus mengalir di sudut matanya.
Dirga pun mengangguk dan di seka air matanya oleh sang Oma. Kemudian Dirga mendekati Alisa kembali.
"Mommy, cepet sembuh ya? dan semoga cepat ngasih adik lagi untuk Dirga! tapi jangan dibuat meninggal lagi ya?" pinta anak itu dengan polosnya.
Alisa pun langsung mengangguk serta mengusap pipinya Dirga dengan lembut. "Dirga doakan saja ya? mau kan doakan Mommy?" Alisa pelan.
"Mau, karena aku mau adik dari mommy. Jangan lupa yang gemuk dan menggemaskan ya?" anak itu memeluk Alisa.
Semua akhirnya dapat tersenyum melihat Dirga yang sudah tenang, Hadi melirik ke arah Liana dan lainnya.
"Kalau kalian mau pulang? pulang saja, Liana kamu kuliah dan Dirga juga sekolah biar mama! papa yang jagain," ucapnya Hadi kepada Liana dan Dirga khususnya.
"Hadi nggak ke kantor hari ini?" tanya sang Bunda.
__ADS_1
Hadi menoleh pada sang bunda. "Aku pantau dari sini saja, biar aku bisa menjaga Alisa sepenuhnya."
"Kalau gitu, Dirga yo sama oma pulang? biar bisa sekolah, nanti kesiangan nih!" ajaknya sang Oma sambil menarik bahunya Dirga.
"Ya sudah, kalau gitu aku pulang dulu buat kuliah, Lisa ... cepat sembuh ya? nanti sore gue ke sini lagi, kalau suami mu macem-macem! ketok aja kepalanya pake tangkai infusan. Ini semua kan gara-gara dia," ucapnya Liana kepada Lisa sembari pamitan.
Alisa tersenyum tipis mendengar kata-kata dari Liana. "Kau ini kurang ajar banget sama papa nya sendiri kayak gitu," balasnya Alisa.
"Nah gitu dong ... senyum! kan manis. Jangan nangis mulu, lagian gue cuma bercanda kok. Kamunya juga gak bakalan berani kayak gitu sama papa gue. Tapi kalau memang kesel boleh sih ... ketok aja kepalanya biar sadar, bila perlu barangnya sekalian biar kapok." Liana berberbisik di akhir kalimatnya.
"Eeh, bicara apa? Papa denger nih ... enak saja mau ganggu yang itu, gak bisa bikin adik buat Dirga dong." Sambar Hadi sembari mesem-mesem.
"Iih ... Papah dengar aja soal itu. tapi kemarin-kemain ke mana saja sampai Alisa kayak gini?" Liana pada sang ayah.
"Lian ... Sudah ach, jangan bahas itu mulu? bikin aku sedih tahu ..." Lisa genggam tangan Lian seraya tersenyum getir.
"Habis dedek gue!" Liana memanyunkan bibirnya ke depan.
"Iya ... kan papa sudah minta maaf! harus gimana lagi kalau kenyataannya seperti ini?" akunya Hadi membela diri.
"Makanya lain kali perhatian lagi sama istri. Kalau Alisa seandainya kerja lagi, cuma nemenin dan ringan-ringan saja! bukan dikasih beban yang banyak dan juga berat!" pesan Liana semakin berani kepada papanya.
"Iya-iya tuan putri, Papa ngerti dan Papa janji kalau papa akan menjaga dengan sepenuh hati mama kecil mu ini." Hadi menunjuk ke arah Lisa yang sedang mengulum senyumnya.
Lantas sang ibu mertua, Liana dan juga Dirga pulang, di sana tinggalan Ibu Juli dan Hadi menunggu! Alisa.
Kini Bu Juli duduk di dekat Alisa yang tampak tertidur, setelah diberi obat. Sementara Hadi setelah sarapan bersama bu juli sibuk dengan laptopnya yang ada di pangkuan.
Dia sibuk dengan pekerjaan di kantor juga laporan dari Lampung. Yang saat ini diurus oleh Zidan dan Mita yang katanya besok juga mereka akan pulang. Kerena urusan mereka di sana tinggal sedikit lagi ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Aku harap jangan lupa like comment dan dukungan lainnya agar aku tambah semangat!makasih.