
“Em ... nggak usah, Om. Biar aku pulang sendiri saja, lagian om mau ngantor lagi bukan? jadi aku pang sendiri saja.” Ungkap Alisa sambil tersenyum garing.
“Is, oke, kalau begitu ... saya pesankan taksi biar kamu cepat sampai rumah dan tentunya dengan selamat.” Hadi langsung pesankan taksi buat Alisa pulang.
“Baiklah kalau pesankan taksi dan terima kasih? yang sebanyak-banyak.” Alisa mengangguk hormat.
“Oke, ya sudah hati-hati saja taksi mu sudah datang!” setelah beberapa saat menunggu kedatangan taksi.
“Ya, sudah. Aku akan pulang dulu!” Alisa masuk ke dalam taksi, yang bersiap untuk membawa Alisa untuk pulang.
“Ya, hati-hati?” Hadi munculkan kepalanya di jendela.
Taksi merayap, membawa Alisa ke pulang. Hadi menatapi taksi yang membawa Alisa sampai menghilang, barulah dia masuk ke dalam mobilnya. Dan detik kemudian Hadi melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Alisa yang berada dalam taksi. Sambil melamun dan membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Tetapi ... mau pulang tapi takut juga kalau di rumah ada Luky.
Akhirnya dia mau memutuskan untuk ke salon aja biar sambil menunggu waktu agak sore. Malas lama-lama di rumah bila gak ada siapapun di rumahnya.
Alisa menyetop taksi di depan sebuah salon yang pernah dia datangi di saat dia mau perpisahan sekolah waktu itu.
“Pak, turunin di sini saja? makasih ya?” Alisa turun dan tidak lupa membawa semua belanjaan nya.
Alisa berdiri sejenak dengan tangan menjinjing beberapa paper bag, lalu kemudian berjalan mendekati salon dan minta di dandani untuk acara lamaran dan berdalih untuk menghadiri acara lamaran teman.
Ngomong-ngomong, pekerja salon nawarin bekerja di sana. Biarpun tidak bisa, Alisa bisa sambil kursus juga katanya. Tapi sangat di sayangkan kalau tawaran itu harus dia abaikan karena katanya Alisa sendiri akan bekerja dengan om Hadi.
Sebenarnya Alisa tertarik, tapi gimana juga kalau kehidupan nya akan terikat dengan Hadi, si calon suami nya itu.
Alisa melamun sambil memandangi wajahnya dari cermin. Setelah di rias, wajahnya manglingi dan akan membuat orang pangling juga dengan kecantikannya itu.
...----...
Sementara di rumah Diana. Dia sedang mengecek barang-barang yang akan di bawa ke tempat Alisa, ada beberapa hantaran yang akan siap untuk di bawa. Seperti cincin dan seperangkat perhiasan, setelan tidur. Pakaian dalam. Alat salat, makanan dan alat make up. Parfum, sepatu dan sendal.
“Saya rasa sudah cukup, tapi tolong di tambah lagi kua nya serta buah-buahan nya juga,” pinta Diana pada asistennya.
__ADS_1
Yang langsung di tanggapi dengan anggukan oleh asistennya tersebut, Kemudian pun mereka pun mengadakan yang menjadi permintaan dari sang majikan.
Diana tersenyum melihat hantaran yang sudah siap tersebut. Putra Dirgantara, pun datang dari sekolah dan menghampiri sang mama.
“Mah, itu buat apa?” tanya Dirga sambil menunjuk ke arah hantaran yang berjejer.
“Ini semua buat di bawa ke rumah kak Alisa, apa Dirga mau ikut?” sahutnya sang bunda.
“Em ... mau. Tapi ada acara apa Mah? Kok bawa semua ini segala dan seperti hantaran mau menikah segala?” Dirga menatap heran.
“Em ... apa ya? nanti juga kau akan mengerti sayang ...” sambungnya Diana sambil mengusap rambut Dirga.
“Oh ... kalau begitu aku mau ganti baju dulu ya Mah?” Dirga beranjak dari duduknya dan meraih kembali tas nya, di bawanya ke kamar.
“Oke sayang, makan dulu? jangan lupa ya?” Diana mengangguk.
“Iya, Mah.” Fikri melanjutkan langkahnya untuk ke kamar pribadinya.
Tidak lama kemudian pesanan Diana pun sudah datang dan Diana langsung menggabungkan dengan lainnya.
Liana yang baru datang dari kuliahnya. Dan mendapati sang bunda tengah mengecek barang-barang hantaran yang tertata dengan sangat cantik.
“Assalamu’alaikum ...” suara Hadi sambil menyimpan tas kerja nya di atas meja.
“Wa’alaikumus salam ...” jawab semua yang ada di sana berbarengan.
“Abang ... sudah pulang?” sapa Diana dengan lirih dan sebuah senyuman menenangkan.
“Iya, kan Abang sudah bilang, kalau Abang akan pulang cepat dan makan di rumah.” Jawabnya Hadi sambil mencium kening sang istri dengan mesra.
“Ya sudah makan dulu gih? apakah sudah menunaikan dzuhur?” selidik sang istri.
“Soal itu sih ... sudah dan Abang pengen mandi dulu.” Sahutnya Hadi sambil mencium tangan sang istri lembut.
“Sudah, makan dulu sama Liana. Setelah itu mandi dan baru bersiap untuk pergi.” Titah Diana kepada suami dan putrinya.
“Baiklah ... Abang mau mandi dulu, tapi sayang sudah makan bukan? dan minum obat juga.” Hadi kembali beranjak sambil mengayunkan langkahnya untuk mengambil tas kerjanya.
__ADS_1
“Aku sudah makan tadi untuk minum obat. Dan tinggal kalian saja yang belum makan.” Kata Diana.
“Kalau aku mau makan dulu ahc.” Liana malah berpindah ke tempat makan.
Namun Hadi malah menatap ke arah barang-barang yang berjejer di pojokan. “Ini, buat di bawa semua?”
“Iya, ini semua. Untuk Alisa semua!” Diana mengangguk pelan sambil melihat kearah Hadi.
Hadi menganggukkan kepalanya beberapa kali, lalu melanjutkan langkahnya untuk ke kamar yang berada di lantai atas.
Namun berapa langkah. Hadi hentikan langkahnya dan menoleh pada sang istri yang tampak melamun. “Yo, sayang. Ku antar ke kamar? masih ada waktu untuk beristirahat.”
Hadi membawa sang istri ke lantai atas dimana kamar nya berada.
“Abang pasti capek. Aku biar sama asisten saja ke kamarnya, abang mau mandikan dan belum makan juga.” Lirihnya Diana kepada sang suami.
“Tidak apa, bukankah sudah kewajiban Abang untuk mengurus istrinya ini, Abang bahagia kalau bisa membahagiakan istri Abang ini.” Ungkap Hadi sambil tersenyum dengan tulus.
“Aku pun sangat bahagia ... sekali, mempunyai suami seperti Abang yang penyayang dan perhatian, aku sangat beruntung mendapatkan suami seperti Abang,” ucap Diana dengan lirih dan bangga bersuamikan sosok Hadi Dirgantara.
"Aduh ... jangan bilang begitu nanti hidung ku kabur nih,” balas Hadi sambil tersenyum dan terus mendorong kursi roda.
“Makasih ya? sudah menjadi suami ku! yang baik dan perhatian
sangat mencintai ku. Dari dulu sampai detik ini.” Lirihnya Diana.
Hadi memindahkan Diana ke atas tempat tidur. “Sekarang sayang istirahat dulu sampai nanti waktunya kita pergi.”
“Iya sayang, Abang juga mandi terus makan.” Pesan Diana sambil berbaring.
Tangan Hadi menarik selimut untuk menyelimuti tubuh sang istri. Sebelum pergi ... Hadi mencium kening sang istri penuh cinta.
Kemudian Hadi keluar dari kamar sang istri sambil menjinjing tas kerja nya.
Membawa langkahnya ke kamar pribadi, dengan sedikit melamun mengayunkan langkahnya yang terasa mengambang dan berasa berat.
Sudah benarkah keputusan dia untuk menuruti kemauan sang istri yang ingin menjodohkan dirinya dengan gadis muda yang seusia putrinya itu ....
__ADS_1
.
...Bersambung!...