
"Gue, sangat bahagia. Karena Alisa sebentar lagi akan menjadi istri papa gue yang artinya ibu sambung dan jelas bukan Tante Dania yang jadi istri papa," ungkap Liana dengan wajah yang mencerminkan rasa bahagianya.
"Oh, jadi intinya ... kau itu tidak mau kalau ayah mu menikahi Tante mu gitu? bukankah itu lebih baik? sebab Tante lebih mempunyai ikatan batin dengan kalian!" Rahman merasa heran.
"Ya, tentu. Tetapi aku tidak suka itu, Tante terlalu oper protektif." Jawabnya Liana sembari mengerutkan keningnya.
"Dengan menikahnya Alisa dengan papa, itu membuat ku leluasa mendekati mu, Man. Aku gak kagok bila terus mendekati kamu. Aku senang mendengar hubungan kalian yang renggang ini! tanpa aku harus berbuat apa-apa. Ibu mu sudah bergerak signifikan dan memberikan jalan padaku!" batin Liana dengan senyuman di bibirnya.
"Kenapa kau melamun? dan bibirmu senyum-senyum? tidak kesambet bukan?" Rahman mengarahkan punggung tangannya ke kening Liana.
"Apaan sih? gue baik-baik saja! heran. Kau pikir aku kena sihir atau kena mahluk halus, dasar." Liana memanyunkan bibirnya ke depan.
Kini Alisa sedang berada dekat Tante Diana. Dan tangan Diana memegangi kedua tangan Alisa serta tatapan yang teduh.
"Sebentar lagi kita akan menjadi keluarga besar, Tante titip om dan anak-anak ya? bila ada--"
"Tante-tante! jangan bicara yang macam-macam lagi, aku tidak mau mendengar nya. Karena aku yakin ... kalau Tante itu akan baik-baik saja. Percaya deh," ucap Alisa sambil sambil menggeleng.
"Tapi Lisa ... Tante berkata sesuatu yang--"
"Sudah, aku tidak ingin mendengarnya lagi." Tambah ya Alisa kembali.
"Oke, mulai sekarang Alisa lebih bebas buat datang ke rumah kapan saja. Temui calon suami mu, ambil hatinya dan buat dia jatuh cinta!" ucap Diana pelan.
Gadis manis pemilik nama Alisa Lisna putrian itu, menarik bibirnya membentuk senyuman. Serta kepalanya melirik ke arah Hadi yang kebetulan melirik ke arah dirinya lalau mengalihkan pandangannya ke lain arah.
"Insya Allah ... aku akan main ke sana sesering mungkin." Alisa sembari menunjukan senyumnya.
"Jangan sungkan ya? ataupun kagok sama siapa pun. Termasuk sama tante Dania! kalau seandainya dia bicara yang tidak-tidak, jangan di ambil hati ya?" pinta Diana dengan lirih.
"Em ... iya, Tante ... tenang saja!" balas Alisa sembari menunjukan senyumnya yang manis tersebut.
__ADS_1
Kemudian karena waktu sudah semakin gelap, menjadikan Diana dan keluarga harus berpamitan.
"Man, boleh kah aku datang ke kedai mu? ya ... seandainya sekedar makan atau ... mencari angin gitu?" ucap Liana sambil menggigit bibir bawahnya.
"Tentunya, boleh dong! kenapa tidak?" jawabnya Rahman dengan nada dingin dan menatap datar ke arah Liana. Gadis yang usianya sama dengan sang kekasih, yang kini entah gimana jalan cerita selanjutnya hubungan mereka.
Dengan refleks Liana memegang tangan Rahman seraya berkata. "Makasih ya Man?" makasih banyak ya?"
"Hem ..." Rahman bergumam.
Dari dalam, keluarlah orang tua Liana, yaitu Hadi dan Diana serta om dan tantenya menyusul di belakang. Serta dua asisten sang bunda.
"Lah, mau pulang sekarang?" Liana melonjak dari duduknya.
"Iya, kita pulang sekarang! tapi bila mau menginap di sini sih tidak apa-apa!" sahutnya Hadi.
Liana mendekat. "Pah. Aku mau tidur di mana? orang Alisa gak punya kamar, diakan barengan sama kedua adiknya." Suara Liana pelan, lalu mengangguk pada Alisa yang kebetulan keluar dari balik pintu.
"Lisa ... kami pulang dulu ya?" lirihnya Diana pada Alisa.
"Iya, Tante!" Alisa mengangguk pelan, tingkahnya tampak kikuk karena ada Rahman di sana.
Setelah kepergian keluarga Hadi, Alisa berdiri di depan pintu dengan lamunan yang entah kemana? namun kendati demikian, kedua telinganya cukup mendengar dengan obrolan ibu dan ayah sambungnya di belakang.
“Sebenarnya saya kurang setuju si Alisa menerima pria itu, kurang cocok. Iya sih kaya raya lihat dengan hantaran yan di bawa pun sebegitu banyak dan menyilaukan mata,” ucap pak Anwar yang mengutarakan ketidak setuju nya itu.
“Emangnya kenapa? tidak setuju, itu harus ada alasan yang tepat dong? kita tidak bisa mencukupi Alisa, semua kebutuhannya, mungkin dengan menikah dia akan lebih bahagia,” ujar sang istri sembari membuka hantaran yang berisi sajadah atau alat salat.
“Kak Lilis, lihat nih parfum dan bedaknya.” Sinta bergumam memanggil sang kakak yang bernama Lilis.
Dan Lilis pun mendekati dan membuka hantaran tersebut.
__ADS_1
“Ya ... saya merasa kurang cocok saja dengan pria itu, se-sepertinya lebih banyak yang lebih pantas selain dia,” timpalnya dengan nada kikuk.
“Ahc, kau ini tidak masuk akal alasannya. Pokoknya biar saja dan doa kan. Semoga semua berjalan lancar tanpa ada halangan apa pun yang akan menjadi kerikil dalam menuju pernikahan mereka.” Sambung bu Juli penuh harap.
Alisa hanya melintasi mereka dan masuk ke dalam kamarnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Lantas tangannya meraih hantaran yang berisi seperangkat perhiasan, pasangannya cincin yang dia pakai.
Alisa duduk di tepi tempat tidur menatapi cincin yang melingkar di jari manisnya itu. Sementara perhiasan lainnya dia simpan di laci, selanjutnya membuka tatanan rambutnya.
“Sayang banget ya uang di pakai buat make up dan menata rambut doang dan di pakainya juga Cuma begitu-begitu saja,” gumamnya Alisa sambil menatap wajahnya dari pantulan cermin sambil membuka kepangan rambutnya.
“Kak. ini hantaran nya Kak,” Lilis dan Sinta membawa hantaran ke dalam kamar mereka.
“Em ... kenapa dibawa ke sini? sempit lho, sudah biar saja di sana dulu. Besok Kakak bereskan.” Alisa melihat yang kedua adiknya mengakut barang-barang dari Hadi untuk dirinya.
“Kami di suruh ibu untuk membawanya ke sini, Kak. Sebab ini milik Kakak Alisa.” timpalnya Lilis dan Sinta.
“Ya sudah ... simpan saja tapi yang rapi ya?” pada akhirnya Alisa menyetujui semuanya di bawa ke kamar.
Setelah itu, Alisa tidak keluar lagi selain ke toilet. Dan ada yang mengganggu hati serta pikirannya, yaitu dia tidak habis pikir. Kenapa pak Anwar tidak setuju dengan lamaran om Hadi padanya.
Kedua adiknya sudah tertidur lelap, sementara dirinya masih terjaga tak mampu pejam. Apalagi dengan kedatangan Rahman ke sana di sambut oleh Liana, apa maksudnya coba?
“Aku tahu kalau Liana memang naksir pada Rahman, tapi ... apa perlu menunjukan kedekatan nya dihadapan ku?” gumamnya Alisa sambil berusaha memejamkan kedua matanya.
“Dan Rahman pun semakin menunjukan kekecewaan nya padaku, seolah yang di tuduhkan ibunya adalah benar! aku tidak seburuk itu, Man. Aku masih punya harga diri. Aku mencintai mu dengan tulus,kenapa kau tidak percaya pada ku?”
Tidak terasa buliran air bening pun berjatuhan dari ujung matanya, air mata yang terasa panas itu menetes ke bantal dan membasahinya ....
.
...Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa klik titik tiga di atas bagian kanan tekan subscribe nya ya agar tampah semangat 🙏