
Hadi lebih mendekat. "Sayang, Abang bingung kalau sayang susah minum obat gini."
"Tolong, Abang ... Diana capek!" keluh Diana sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Hadi.
Hadi membelai kepala sang istri. Dengan mesra hingga Diana terpejam.
Ibu nya Diana pun keluar dari ruangan tersebut. "Ibu mau ke kamar dulu ya?"
"Iya, Bu!" balas Hadi.
"Bujuk dia terus agar mau minum obat!" tambahnya sang ibu mertua.
"Baik, Bu." Hadi mengangguk.
Setelah sang ibu mertua keluar dari kamar tersebut, Hadi membaringkan diri dengan sang istri Diana.
"Abang itu ingin sayang tidak malas minum obat, agar sayang cepat sembuh. Kalau sembuh kan Abang tenang dan kita kembali ke Jakarta segera. Abang banyak meninggalkan pekerjaan! kasihan Alisa, dia masih muda dan yang tidak punya background bisnis harus terjun langsung sendiri ke lapangan juga!"
"Tapi dia pintar kan? dia mampu menjalankan tugasnya." Suara Diana pelan.
"Alhamdulillah ... dia mampu, cuman dia mengeluh, capek dan kadang dia dalam bahaya juga." sambungnya Hadi.
"Ya udah, besok kita pulang saja ke Jakarta. Diana juga kangen suasana di sana, kangen sama Alisa yang sudah mampu menggantikan aku, bahkan lebih dari peran aku. Aku pun belum tentu mampu menggantikan tugas mu itu," ucap Diana lirih.
Hening ....
Sesaat suasana hening tanpa adanya perbincangan.
"Abang?" lirih ya Diana.
"Apa sayang!" gumamnya Hadi.
"Aku bahagia sekali, Abang sudah menjadi suami yang terbaik buat Diana. Abang begitu perhatian perduli sama Diana, terima kasih Abang ...."
"Sayang, semua itu sudah kewajiban Abang. Abang sudah sewajarnya berbuat hal demikian terhadap sayang. Bahkan lebih dari itu juga." Balas Hadi sembari membelai pucuk kepala sang istri.
"Abang ... Diana titip anak-anak ya! aku percaya Abang dan Alisa bisa menjaga mereka--"
__ADS_1
"Sayang jangan bicara begitu, emang sayang mau kemana? sampai-sampai bicara seperti segala! kita akan menjaga mereka sama-sama. Sampai nenek dan kakek. Melihat dan mengasuh cucu kita." Timpal Hadi.
"Tapi, cepat atau lambat itu pasti terjadi! antara kita pasti terpisah. Mungkin aku besok atau lusa meninggalkan Abang." Dania menatap sendu.
"Kalau soal itu, siapa tahu Abang yang duluan. Dan sayang yang akan hidup lebih lama bersama anak-anak--"
"Tidak, Abang itu besar tanggung jawabnya. Apalagi Abang punya istri yang harus Abang sayang dan perhatikan, anak-anak juga," lirihnya Diana kembali.
Hadi menghela nafas panjang lalu kembali mengecup keningnya sang istri di bawanya kembali ke dalam pelukan.
"Boleh, aku meminta sesuatu pada abang?" suara Diana sembari menggerakan kepalnya melihat ke arah wajah Hadi.
"Apa, katakanlah pada Abang?" jadi membalas tatapan sang istri.
"Aku minta Abang mencium ku, saat ini aku ingin merasakan kehangatan dari bibir Abang, kehangatan seperti yang sering Abang berikan pada ku!" Diana menatap penuh harap.
Hadi menggerakan kepalanya lalu bangun sembari menatap istri nya itu. "Sayang mau Abang cium? boleh, kenapa tidak sayang ... gitu doang, gampang."
Diana tersenyum tipis. Sementara Hadi sempat kepikiran, kalau cuma cium msh gampang. Dia pikir Diana mau minta apa lagi.
Degh.
Perkataan itu bikin spot jantung. Bagaimana tidak? dalam keadaan seperti ini. Hadi tidak mungkin melakukan hubungan badan atau menunaikan kewajiban terhadap sang istri yang lemah seperti ini. Jangan kan melakukannya bernafsu saja tidak! sudah duluan merasa kasihan.
Diana tersenyum simpul melihat wajah suaminya yang pucat. "Diana hanya bercanda Abang ... aku gak minta seperti kok. Gak mungkin juga Abang tega melakukannya di saat Diana sakit seperti ini. Makanya Diana menyuruh Abang menikahi Alisa."
Hadi sudah panas dingin dan keringat pun terlihat di pelipisnya. Dia kira istrinya serius meminta itu. "Bukan apa-apa Abang tidak tega kalau sayang sedang sakit."
"Diana cuma minta itu saja kok." Diana menatap lekat wajah Hadi dan tangan yang masih tertancap jarum infus itu membelai pipi Hadi yang berbulu halus. Dia kecup kanan dan kiri. Mungkin saja ini sentuhan yang terakhir untuknya.
Nyess ....
Bibir itu menempel di pipi Hadi kanan dan kiri terasa sangat dingin sekali yang dapat Hadi rasakan.
Kemudian wajah Hadi mendekati bibir sang istri yang pucat tersebut. Ia kecup dengan sangat lembut dan durasi yang lama agar dapat memberikan kehangatan pada bibir Diana yang sangat dingin itu.
Lalu kepala Diana hampir oleng bila tidak Hadi tahan. Kedua manik matanya terpejam.
__ADS_1
"Sayang?" panggil Hadi dengan perasaan aneh dan was-was. Jantung Hadi mulai berdegup sangat kencang penuh kekhawatiran entah kenapa.
Diana membuka matanya. "Abang ... anak-anak dan ibu mana? Diana ingin tidur bersama mereka!" pintanya Diana.
Dengan perasaan aneh. Hadi langsung memanggil Liana dan sang adik, Dirga! juga ibu Lia. Agar datang ke kamar tersebut melalui pesawat telepon.
"Sayang! ini Abang, sayang bangun?" gumamnya Hadi sambil memeluk kepala Diana.
"Diana lelah, Diana capek. Aku ingin istirahat Abang ... bawa Diana pulang ya? Diana tidak mau di sini terus ..." suaranya sangat pelan dan nyaris tidak terdengar.
"Iya sayang, iya kita akan pulang! tapi sayang sembuh dulu." Suara Hadi parau dan rasanya tenggorokannya kering tanpa setitik air.
Bu Lia, Liana dan Dirga datang. Juga seorang perawat dan dokter yang Hadi panggil juga.
Mereka sudah merasa tidak enak hati dengan panggilan Hadi. Apalagi melihat Hadi yang memeluk kepala Diana dengan erat.
"Mama? mama?" panggi Dirga yang langsung Hadi minta mendekat.
Begitupun dengan Liana yang langsung berderai air mata, padahal dia tidak tahu yang terjadi sebenarnya.
"Mah? ini Liana Mah. Mamah ingin kita tidur bersama bukan?" suara Liana lirih.
Bu Lia menelan Saliva nya yang terasa menyiksa di tenggorokan. "Diana? Ibu mau kita tidur bersama. Biar Diana bisa peluk Ibu." Suara Bu Lia sudah bergetar menahan tangis.
Diana membuka matanya dan mengedarkan pandangan pada sang ibu, Liana. Dirga dan Hadi bergantian, lalu dia mengukir senyumnya yang termanis. Selanjutnya dia bergumam dan terdengar membaca dua kalimat syahadat.
Kemudian selesai bergumam. Diana menutup mata sambil kembali tersenyum, detik kemudian tubuhnya terkulai lemah bila saja Hadi tidak menahannya lantas di peluknya sangat erat.
Hadi sadar, kalau sang istri sudah tiada. Tidak bernafas lagi, Hadi menangis tak bersuara sembari memeluk tubuh sang istri dengan sangat erat. "Innalilahi. Sayang, jangan tinggalkan Abang!"
Melihat Diana terkulai lemas. Yang lain kaget, di tambah Hadi menangis dan bergumam! barulah mereka sadar kalau Diana sudah tiada dan meninggalkan dunia ini dengan tenang.
Liana dan omanya menjerit. Menangis sejadi-jadinya. Setelah itu Dirga pun memeluk sang bunda sambil memanggil mama ....
...🌼---🌼...
Manusia hanya bisa berencana dan Tuhan yang menentukan.
__ADS_1