Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Unek-uneknya


__ADS_3

Saat ini Alisa sudah berada di samping Hadi yang berbaring sambil membaca buku. Tentu Alisa menunggu sikap manis dan belaian mesra dari pria yang berada di sampingnya itu.


Biasanya Hadi paling gak bisa dekat-dekat dengannya tanpa memeluk ataupun meminta jatahnya. Terakhir berhubungan ketika di Surabaya waktu itu dia bela-belain dari luar Negeri menyusulnya ke sana.


Alisa yang berbaring menghadap langit-langit sesekali melirik ke arah Hadi yang tampak fokus membaca buku itu.


Namun setelah sekian lama di tunggu. Tidak ada pergerakan dari Hadi atau sekedar mengajaknya bicara, membuat Alisa berbalik memunggungi dan mematikan lampu, menggantinya dengan yang temaram. Bersama hati yang keselnya bukan main.


Hadi menoleh pada Alisa yang memunggunginya, buku disimpan lalu memposisikan dirinya untuk tidur. Mendekati Alisa lantas memeluknya dari belakang, namun siapa sangka.


Alisa memindahkan tangan Hadi dari pinggangnya, sebagai penolakan untuk di peluk.


"Kenapa sayang hem?" Hadi bersuara pelan sambil mengecup tengkuknya.


Alisa melonjak. "Aku lupa sesuatu," dia buru-buru ke kamar mandi dan berdiri di depan wastafel dan menatap dirinya di cermin. Manik matanya yang indah tidak mampu membendung lagi air mata yang memaksa keluar.


Dia menangis. Dadanya teramat sakit, di saat dia butuh sandaran! belai kasih sayang. Namun seolah keberadaannya itu tidak di anggap. Atau hanya pelampiasan di saat butuh saja. Ibarat hembusan nafas yang di pentingkan tak dirasakan keberadaannya, dan sangat di butuhkan tapi tak tergenggam.


Alisa jadi kepikiran kalau liburan nanti, dia akan membawa Dirga dan kedua adiknya. Dan entah mau liburan kemana? tapi di pikir lagi. Dirga baru saja masuk sekolah, masa mau bolos lagi.


Kemudian Alisa keluar dari kamar mandi lantas kembali ke tempat semula tanpa melihat ke arah Hadi yang entah sudah tidur atau belum.


Malam yang dingin dilewati dengan hati yang dingin pula.


Pagi-pagi Alisa duduk di dekat Hadi yang sudah memegang laptopnya.


"Yank, untuk urusan di Lampung kau saja yang pergi. Sekalian buat refreshing agar tidak terlalu berkabung terus," tutur Alisa dengan lembut.


"Aku masih malas untuk ngantor apalagi ke luar kota, kau saja dengan Mita dan Zidan." Segampang itu Hadi bilang pada Alisa.

__ADS_1


Alisa mendongak menatap ke arah hadi. Dan dia bingung harus berkata apa lagi supaya pria ini mengerti. Kalau dia nggak seharusnya terus-terusan terburuk nggak kesedihan.


"Terus maunya gimana dong? apa kau akan terus begini, meratapi nasib. Merasa kehilangan orang yang sangat kau sayang? sementara kau melupakan tanggung jawab kamu sebagai suami, sebagai pimpinan perusahaan dan juga sebagai ayah?" ungkapnya Alisa dengan suara yang agak bergetar menahan sedih.


"Lisa ... tolonglah mengerti, aku masih butuh waktu untuk menata hati, aku masih butuh waktu untuk menerima kenyataan ini--"


"Terus mau sampai kapan? sampai semua hancur lebur. Apa kau paham perasaan aku? apa kau juga mengerti gimana kami atau yang lain yang sama merasa kehilangan? kita semua sama merasa kehilangan walau dalam perasaan lain! tapi bukan berarti terus-menerus seperti ini." Suara Alisa menggebu-gebu.


Alisa menggelengkan kepalanya, dia benar-benar sudah merasa tidak tahan dengan sikapnya dan pemikiran Hadi.


"Aku pasti bangkit, aku pasti seperti semula. Cuma aku masih butuh waktu! tolonglah mengerti?" Hadi menutup laptopnya dan memandangi ka arah Alisa.


"Kalau boleh ku katakan sesuatu. Aku nggak suka kau kayak gini terus, kau itu seorang suami. Seorang ayah dan seorang CEO! tanggung jawabnya mu sangat besar dan banyak! seharusnya kau tidak terus terpuruk dalam kesedihan hanyut dan berlarut-larut dalam keadaan yang akan membawamu terus-terusan tidak punya semangat hidup." Ujarnya Alisa sambil menggerakkan tangannya.


"Selama ini kau percayakan semuanya padaku, seseorang yang belum ngerti apa-apa. Aku nggak mempunyai pengalaman sebelumnya. Kurang paham dengan dunia bisnis, aku capek. Aku lelah dengan semua ini," kini Alisa mengutarakan segala yang menjadi unek-uneknya dalam hati.


"Masih mending semuanya masih bisa dikendalikan! dan perusahaan besar mu itu tidak hancur di tangan ku, gimana kalau dengan tangan ku atau tangan yang tidak bertanggung jawab? terus perusahaan terpuruk. Hancur? sebentar aku! aku gak bisa mengendalikannya! aku nggak bisa. Seharusnya kamu mengerti aku juga, Aku ini wanita yang nggak tahu apa-apa! yang justru membutuhkan bimbingan yang intens dari kamu."


Hadi menoleh pada Alisa. "Tetapi pada kenyataannya kamu mampu, kamu bisa mengurus semuanya--"


"Ya. Iya aku mampu! aku paksakan karena aku merasa dibebani tanggung jawab yang besar. Aku harus mampu menjadi asisten mu, karyawanmu staf mu. Bahkan menjadi istrimu. Apa kau tahu betapa lelahnya aku? yang berusaha menggantikan mu dalam segala hal? sementara di rumah. Aku mengharapkan sedikit sikap manis dan sentuhan belai kasih sayang sebagai penawar lelah ku di kantor! tidak aku dapatkan." Alisa menangkupkan wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Aku minta maaf dan aku butuh waktu sebentar lagi untuk ngelewatin ini semua." Suara Hadi tetap santai dan berusaha meraih tangan Alisa yang dia tepis.


"Aku sudah terlalu lelah, aku capek terus menggantikan mu yang aku rasa terlalu berat. Aku bukan siapa-siapa! pendidikan tinggi yang mampu menanggung semuanya!" lagi-lagi Alisa menggelengkan kepalanya sembari menyeka air yang menetes di sudut matanya.


Hadi mendekat sang istri kecilnya yang tampak banjir dengan air mata dan Alisa pun menjauh.


"Aku tahu kau hanya memperalat ku saja di saat kau butuh. Padahal yang sesungguhnya kau tidak memerlukan aku, aku ini hanya pelampiasan hasrat mu saja. Dan saat kau menginginkannya. Mungkin kau tidak peduli apa yang kuinginkan, yang ku butuhkan dan yang kuharapkan dari mu." Suara Alisa nyaris tak terdengar.

__ADS_1


Lagi-lagi Hadi terdiam! tidak bisa menjawab semua yang dikatakan oleh Alisa yang panjangnya sepanjang rel kereta api.


Kedua bahu Alisa bergetar dia menangis tersedu! dia benar-benar marasa muak dengan semua ini, sementara apa yang dia lakukan merasa tersia-siakan.


"Aku tahu, aku terlalu rapuh aku terlalu mudah untuk jatuh ke dalam pelukanmu! bahkan terlarut dan semua buayan yang kau berikan padaku. Dan ternyata semua itu hanya semu hanya untuk membangkitkan rasa cinta, rasa sayang dalam hatiku dan setelah itu kau jatuhkan aku, kau hempaskan ku ke dalam jurang perasaanku sendiri, hik-hik-hik." Alisa kembali menangis.


Hadi terkesiap mendengar kalau Alisa mencintai dan menyayangi dirinya.


"Oke, aku malas berdebat denganmu. Setelah aku pulang dari Lampung nanti, aku harap semuanya sudah selesai, urus lah perceraian kita." Akhirnya kata-kata itu terlepas juga dari bibir Alisa.


"Sayang!" Hadi teramat kaget mendengarnya, namun dia tidak tahu harus berkata apa? dia malah kebingungan. Ini sebuah tamparan keras buat Hadi.


Alisa beranjak dari duduknya dan langsung mengemas pakaian yang akan dibawa ke Lampung, tadinya dia ingin Hadi pergi ke Lampung dan dia pun tentunya ikut serta! namun pada kenyataannya begitulah jawaban Hadi yang membuat hatinya semakin terluka.


Biarpun masih pagi, Alisa berangkat ke bandara! sebenarnya dia bisa menyiapkan sarapan buat suaminya dan juga anak yang manja itu, Dirga. Dan keburu jika harus mengatakannya ke sekolah.


Namun Alisa merasa tidak sanggup, dia merasa dirinya terlalu sesak. Dan tangis pun rasanya tidak bisa dia bendung, sekalipun dia masih banyak waktu untuk di rumah dan menyiapkan semua, tentunya hanya akan memperlihatkan kesedihannya saja pada orang-orang rumah lainnya.


Alisa pergi pun ... tidak sempat berpamitan pada Hadi, pria itu tetap terdiam tak bergeming di tempatnya semula.


Begitupun dengan yang lain. Alisa nggak berpamitan dulu dan mereka masih di dalam kamarnya masing-masing, waktu baru menunjukkan pukul 05.25 wib. kecuali asisten yang sudah mulai beraktivitas yang melihat Alisa pergi.


Alisa kembali menangis tersedu di dalam mobil dan menyembunyikan wajahnya di sudut jok. Tangisnya terdengar sangat memilukan bahunya pun bergetar. Begitu tampak bila hatinya begitu terluka.


Pak Mur kelimpungan, tidak tahu apa yang terjadi pada majikannya itu, tahu-tahu dia menangis dalam mobil. Tersedu dan terdengar pilu ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa like komen dan lainnya. Makasih.

__ADS_1


__ADS_2