
Hadi terus meluncurkan mobilnya dengan dengan kecepatan tinggi hingga hampir saja dia menabrak kendaraan orang.
"Astagfirullah ... hampiri saja. Aku menabrak orang,"gumamnya Hadi sambil mendadak rem ya dan mengusap wajah dengan kasar. Lalu dia keluar dari mobil untuk memastikan kendaraan yang hampir dia tabrak itu tidak apa-apa.
Hadi berjalan dan sebentar berbincang dengan pihak yang bersangkutan. Dan Alhamdulillah tidak kurang suatu apa pun.
Namun walaupun begitu Hadi mengeluarkan uang untuk bila ada kerusakan yang tidak terduga.
"Ya Allah hampir saja." Hadi menggeleng lalu memasuki kembali mobilnya.
Selang beberapa saat Hadi sudah berada di dalam kantor dan tidak untuk sarapan karena sang istri dari rumah sudah bawel menyuruhnya untuk sarapan.
Sekarang Hadi sedang mengadakan pertemuan dengan semua staf, setelah seminggu di libur dari kantor.
"Kenapa agak layu, apakah ada masalah?" tanya Zidan sambil berjalan beriringan dengan Hadi.
"No, tidak ada masalah apapun. Saya oke." Hadi menggeleng sambil menunjukan senyumnya.
...----...
Liana baru saja keluar dari kampus. Dan dia berniat untuk pulang dan malas untuk mengikuti satu pelajaran lagi.
Helm sudah ia pakai dan dia bersiap untuk menyalakan motornya. Namun tiba-tiba Rahman datang dan memegangi stang motor Liana.
"Lian, aku ingin bicara sama kamu!" Rahman menatap Liana dengan lekat dan penasaran.
"Apa, mau apa dan rasanya tidak perlu kita bicara lagi." suara Liana dengan nada dingin.
"Nggak, kita harus bicara. Apa benar kau meminta cerai? kenapa, kita baru saja menikah. Masa kau mau kita bercerai--"
"Emang kenapa? dari pada kita bersama namun kau itu tidak punya rasa pada ku. Apa kau pernah merasakan gimana sakitnya?" ketus Liana sambil sambil membuang muka ke lain arah.
"Tapi kamu itu mencintai ku kan?" Rahman memegang tangan Liana yang langsung Liana tatap tidak suka.
"Apa gunanya aku cinta sama kamu dan iya aku cinta berat sama kamu, tapi itu dulu dan bukan sekarang!" Liana sambil menarik tangannya dari genggaman Rahman.
__ADS_1
"Aku akan berusaha untuk belajar lagi mencintai mu. Dan aku mohon jangan ceraikan aku!" Rahman memohon agar Liana tidak menceraikannya.
"Kenapa baru sekarang kamu datang, Man? seminggu lho aku tinggalkan kamu, tapi kamu baru sekarang datang di saat aku sudah mantap bercerai. Dan keputusan ku sudah bulat dan mantap. Tidak bisa berubah lagi." Kata Liana dengan nada serius dan tegar.
"Tidak, Lian. Aku tidak mau kehilangan yang kedua kalinya, aku mohon. Jangan ambil keputusan itu, pikirkan lebih matang lagi. Kita sudah menjadi suami istri. Apakah semudah itu kamu melupakan ku!" Rahman terus merajuk.
"Kau datang itu hanya untuk membicarakan itu, dan tidak meminta maaf sama sekali! kamu satu Minggu lebih menjadi suami aku, apa kau memberiku nafkah? tidak, jangan mentang-mentang aku mampu atau aku tinggal sama keluarga ku hingga kamu tidak perduli dengan nafkah yang seharusnya kau berikan."
Rahman merasa tertampar dengan omongan Liana barusan, karena dia menyadari bila selama ini dia tidak menunaikannya sebagai suami.
"Kau gila ya? aku iri sama Alisa yang lebih beruntung mendapatkan bokap gue ketimbang dirimu. Dia langsung di sayang dan dia di beri haknya sebagai istri oleh bokap gue. Sementara gue. Tidak mendapat apa pun." Liana dengan suara bergetar.
"Saya minta maaf, Saya memang salah--"
"Sudah ya? aku mau pulang. Nanti saja ketemu di pengadilan!" Liana malas untuk bicara panjang kali lebar kali tinggi kali meter apalah, mendingan dia memilih pergi. Meninggalkan Rahman.
Motor Lian melaju dengan cepat meninggalkan area kampus. Sementara Rahman hanya termangu mematung di tempat dengan perasaan yang tidak menentu. Gusar dan gelisah masa dalam sekejap dia mau menjadi duda.
Selang beberapa puluh menit, Liana sampai juga di mension dan ne4etemi dengan Alisa dan omanya yang sedang santai di sebuah ruangan.
"Kau sudah pulang jam segini kabur ya?" tanya Alisa sembari memicingkan matanya ke arah Liana.
"Babur. Emang iya sih, gue kabur. gue malas belajar yang satu itu! makanya gue kabur!" jawabnya Liana sembari nyengir.
"Hem ... Dasarnya anak bukannya belajar yang benar malah begitu, nyontohin nggak bener lu!" Alisa sambil mesem.
"Biarin sekali-kali, gak tiap hari." Liana menyandarkan kepalanya dia bahu Alisa.
"Makan siang belum?" tanya sang omah kepada Liana.
"Belum, baru mau nyari makan siang nih." Liana pun berdiri mendatangi meja makan.
Alisa mendengar suara yang memanggil-manggil dirinya sukanya dia baru pulang sekolah. ia langsung menyebut kedatangan anak itu ke tangga.
"Iya sayang ... ada apa sih ... kok teriak-teriak?" Alisa sambil menatap ke arah Dirga yang baru menapakkan kakinya dia lantai atas.
__ADS_1
"Mommy-Mommy. Aku kesal!" wajah Dirga di tekuk begitu masam.
"lho, marahnya di mana kok dibawa ke rumah," Alisa merapikan rambut Dirga yang dekat telinga.
"Habis kesal, aku marah sama teman-teman selalu diejekin katanya si Dirga nggak punya adik, si Dirga sama mamanya sudah meninggal, makanya nggak punya adik. Begitu Mom." Bibir anak itu merengut cepat sekali kalau dia sedang kesal.
Alisa memeluk Dirga sambil membelai rambutnya. "Bilang saja memang iya Mama Dirga sudah meninggal tapi Dirga masih punya Mommy dan mommy akan memberikan adek buat Dirga tapi entah kapan, yang penting Dirga tajin berdoa saja. Semoga secepatnya Mommy dikasih momongan! biar Dirga punya adik."
"Mommy benar Dirga ... Dirga itu masih punya mommy, jadi tidak usah sedih atau kesal." Tambah omanya.
"Hem, benar itu." Alisa mengangguk pelan sembari merangkul bahu anak itu masih.
"Sekarang ... Dirga mengganti baju lalu makan!" lirih Oma nya.
"Oma benar, ganti baju terus makan." Alisa menepuk-nepuk bahunya Dirga.
"Baiklah. Dirga mau ganti baju dulu, aku mau mau ke kamar dulu ya Oma dan Mommy." Dirga pun berlalu meninggalkan Oma dan mommy nya.
Hari sudah sore dan Hadi pun sudah pulang dari kantor. Dan saat ini dia sedang berada di ruang kerjanya.
Alisa datang membawakan segelas air minum susu hangat. "Aku buatkan susu hangat nih." Alisa menyimpannya di meja depan Hadi sebelah kiri.
"Makasih sayang," Hadi bergumam sambil terus sibuk ke layar laptop.
"Sedari tadi wajah mu di tekuk begitu? senyum kek!" Alisa memeluk pundak Hadi dari belakang.
"Aku lagi sibuk sayang ... jangan ganggu." Pinta Hadi tanpa menoleh pada sang istri.
"Ya sudah, kalau tidak mau di ganggu. Aku pergi saja," Alisa melepas rangkulannya dan berdiri tegak.
"Bukan begitu sayang!" Hadi menolehkan kepalanya kepada sang istri sambil meraih tangan Alisa, di tariknya agar duduk di atas pangkuannya. Lalu mengecup bibir Alisa.
"Dasar mesum." Gumamnya Alisa setelah di lepaskan oleh Hadi ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan lainnya.