Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Pulang


__ADS_3

"Ya sudah, aku mau packing dulu ya?" Alisa berdiri dan meninggalkan Hadi yang masih di posisi yang sama dan tersenyum melihat pergerakan sang istri.


Alisa membereskan semua barang-barang nya ke koper. Kemudian Alisa menoleh pada Hadi yang kini sedang sibuk dengan laptop nya. "Yank, kok aku baru ingat sih. Kita belum membeli oleh-oleh! gimana dong?"


"Hem ... penting kah membeli oleh-oleh? Dirga gak mau oleh-oleh apa pun selain adik." Hadi mendekat serta berjongkok di dekat sang istri.


"Nggak harus juga sih!" Alisa menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, gak usah. Yang penting kita membawa kebahagian kita saja!" Hadi menarik kepala Alisa lalu di kecupnya.


Setelah selesai paling packing, kemudian mereka pun beristirahat untuk menyiapkan diri besok pagi akan terbang. Pulang ke tempat asal.


"Bobo yo. Biar besok pagi kita dengan segar bisa pulang!" ucap Hadi sambil merangkul bahu sang istri yang berbaring dan menempelkan kepala di dadanya.


"Masih betah dan belum ingin pulang sih sebenarnya, namun bagaimana dengan di sana." Gumamnya Alisa sembari memejamkan matanya.


"Lain kali saja kita ke sini lagi. Aku gak akan bisa berhenti untuk melakukan bulan madu! emangnya sayang sanggup melayani ku terus menerus?" Hadi menyunggingkan bibirnya.


Alisa langsung membuka matanya dan mendongak. "Iih ... nggak capek kah?"


"Nggak! pengen terus nih!" Hadi menyunggingkan bibirnya sambil mengarahkan tangan Alisa mendekati ke milik nya.


Namun Alisa langsung menarik tangannya. "Ach ... ngantuk aku." Memejamkan mata kembali.


Hadi mengulum senyumnya. Sambil membelai rambut Alisa dan sesekali mengecup pucuk kepalanya.


Waktu ke waktu terus berputar dan malam pun semakin larut. Dan membawa mereka berdua ke sebuah pagi yang berhiaskan dengan kicauan burung yang indah mewarnai pagi di daerah sana.


Hadi sudah tampak segar berjalan santai di luar Vila. Namun Alisa baru mandi, setelah tadi berjamaah tiduran lagi.


Langkah Hadi berjalan kembali memasuki kamarnya dan mendapati Alisa yang masih menggunakan handuk dan sedang membuka koper untuk mengambil bajunya.


Hadi berkali-kali menelan Saliva nya yang terasa tercekat di tenggorokan.

__ADS_1


"Sayang, kau menggoda ku ya?" Hadi mendekati istri ya setelah mengunci pintu kamar.


Alisa menoleh. "Ha? siapa yang menggoda? aku baru selesai mandi dan mau memakai baju. Kok di bilang menggoda sih!"


Alisa berdiri lalu hendak membawa bajunya ke toilet.


Geph.


Tangan Alisa di tangkap oleh Hadi sehingga dia hentikan langkahnya. Hadi memeluk munggung sang istri dan mengambil pakaian yang berada di tangannya.


"Apa sih ... aku mau berpakaian. kan sebentar lagi mau ke bandara!" Alisa menatap heran pada suaminya.


"Masih ada waktu tiga jam lagi untuk ke bandara. Kita bisa berolah raga dulu sebentar!" Hadi mendekatkan dirinya ke tubuh Alisa dan menyusuri wajahnya.


"Aku baru saja mandi. Malas aku mandi lagi!" rengek Alisa sambil sedikit mendorong dada Hadi yang tak bergeming sedikit pun.


"Nanti aku mandikan jangan banyak merengek. Nanti aku tambah gemes!" bisik Hadi sembari menggigit kupingnya Alisa yang merasakan sensasi yang berbeda.


Alisa menelan Saliva nya, ketika merasakan ada yang bergerak di bawah sana dan meronta-ronta.


"Yank, a-apa tidak akan telat ke bandara?" suara Alisa terbata-bata bagai menahan beban yang berat.


Hadi yang sedang berenang di atas danau kecil yang syahdu tersenyum sembari berkata. "Tidak sayang ... masih banyak waktu dan jangan khawatir. Oke nikmati saja yang kita lakukan ini."


Kedua tangan Alisa meremas punggung Hadi dan seolah semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh pria matang itu. Dan menikmati suasana yang indah ini.


Suara nafas yang saling bersahutan yang terdengar indah dan menambah gairah untuk keduanya. Sekitar satu jam mereka menjalankan ritual terfavorit nya itu.


Kini keduanya setengah berbaring, dan berusaha mengontrol nafas yang masih terengah-engah di antara keduanya.


Alisa menjepit selimut di bawah ketiaknya. Lalu terbangun, menyampingkan rambutnya ke sebelah kanan. Hadi pun bangun dan mengecup bahu Alisa yang terbuka tersebut.


Kedua manik mata Alisa terpejam sesaat ketika bibir Hadi mendarat di bahunya itu. "Sudah yank. Kita harus bersih-bersih!"

__ADS_1


"Iya sayang iya ... nggak kok! kasihan istri ku ini kecapean, tiap hari harus melayani ku terus. Tapi senang kan? Hem ... ikhlas kan, melayani ku?" jadi membingkai wajah Alisa di tatapnya sangat lekat.


Alisa mengangguk pelan sembari membalas tatapan Hadi yang begitu dalam. Lalu memeluk nya dan menyembunyikan wajahnya di dada Hadi.


Hadi mengeratkan pelukannya sambil membelai rambut Alisa dan satunya lagi mengusap punggung wanitanya itu.


Setelah beberapa saat saling berpelukan dan tak ada kata yang terucap selain deru nafas yang terdengar teratur. Selanjutnya Hadi memangku tubuh Alisa ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri bersama.


20 menit kemudian mereka pun sudah selesai bersih-bersih. Lalu menyiapkan diri untuk segera ke bandara.


Dan Dirga pun sudah menanyakan keberadaan Papa dan mommy nya, sudah pulang apa belum katanya. Dirga nggak mau oleh-oleh apapun kecuali kabar baik yaitu pengen punya adik.


Hadi dan Alisa hanya saling pandang dan melempar senyuman. Emangnya dikira mudah apa bikin adik dari terigu? iya! tinggal goreng atau kukus, jadi deh.


...-----...


Sudah seminggu lamanya Liana tinggal lagi di mension dan selama itu juga tidak pernah Rahman mendatangi Liana ke sana. Begitupun Liana tidak pernah menghubungi ataupun mendatangi ke kedai.m suaminya.


Karena Lina sudah bertekad ingin berpisah dari pria itu meskipun dalam hati kecilnya setiap hari berharap, menantikan pria itu datang untuk menjemputnya namun semua hanya harapan.


Karena buktinya jangankan untuk menemui atau mendatangi untuk meminta maaf. Chat atau telepon pun tidak ada, terkadang hati Liana itu menangis! menjerit ternyata dia sudah mencintai orang yang salah.


Orang yang dia cintainya selama ini bukanlah orang yang tepat, padahal dia sudah bela-belain berkorban termasuk kehormatan dirinya.


Ada juga yang menghubungi Liana adalah ibu mertuanya, yang terus membujuk Liana agar segera pulang. Namun Liana ogah! karena bukan ibu mertua yang dia inginkan untuk membujuk dia pulang, tapi suaminya.


"Sudah seminggu ini aku tinggalkan Rahman, tidak sekalipun dia datang untuk menemui ku ataupun menanyakan kabar ku lewat chat atau telepon! mungkin aku sudah salah mencintai orang yang tidak pernah mencintaiku sekalipun banyak pengorbanan yang kuberikan!" Liana menghela nafas panjang, lalu dia hembuskan dengan kasar.


Gadis itu duduk di atas motornya yang terparkir di pinggir jalan. Dia baru saja pulang dari kampus untuk manuju mension, sebentar lagi dia akan menjemput sang ayah dan sahabatnya ke bandara.


"Mama maafkan aku? dengan nasib yang aku alami ini! Mungkin ini juga salahku, yang secara tidak langsung aku telah merebut Rahman dari Alisa! tapi yang sesungguhnya Alisa lebih beruntung. Karena mendapatkan papa yang bisa mencintainya dan mama juga memang tepat memilihkan dia untuk menjadikan istri papa! dan pada akhirnya aku juga yang harus menyesali semuanya," monolog Liana dalam hati dengan mata yang berkaca-kaca.


Sebelum melanjutkan perjalanannya. Liana mengusap dua sudut mata yang terdapat buliran air bening itu, barulah dia melajukan motornya dengan kecepatan sedang ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Terima kasih banyak yang masih menunggu kisah Hadi dan Alisa.


__ADS_2