
Alisa kembali dengan menu makanan yang Hadi pinta, namun Hadi tidak segera menyantapnya kerena dia terlalu sibuk dengan laptopnya.
Alisa yang bersiap untuk baring di sofa, merasa kesal juga melihat makanan yang dia suguhkan masih juga belum di sentuh seorang Hadi.
Kemudian Alisa Kembali menghampiri dan duduk tidak jauh dari pria yang sangat fokus dengan layar laptopnya tersebut. "Sudah, lu bilang.Belum juga di makan!"
Hadi menggerakan netra nya ke arah Alisa yang duduk di hadapannya itu.
"Mau makan gak? kalau nggak aku simpan kembali." Alisa kembali berkata.
Lagi-lagi Hadi hanya melirik ke arah makanan dan Alisa.
"Rrggghh ..." Alisa dengan kesal berniat menyuapi Hadi yang mengabaikan omongannya.
"Kalau gak ikhlas, jangan aja, saya mencari yang ikhlas!" ucap Hadi tanpa menoleh lagi.
Alisa memanyunkan bibirnya, lalu menarik senyumnya yang di paksakan. Dia menaikan kakinya semua hingga bersila di hadapan Hadi. Lantas menguapi pria itu dengan sendok.
Hadi pun akhirnya membuka mulut, dengan tatapan tetap ke layar dan tangan sibuk juga ke papan keyboard.
"Apaan sih, sibuk amat? gak bisa besok apa?" selidik Alisa sambil menyuapi Hadi.
"Harus segera selesai, dan besok harus sudah siap! lagian menyibukkan diri dengan dirimu pun mana mau!" jawab Hadi melirik sekilas.
"Apa maksud mu?" Alisa tidak mengerti dengan yang Hadi maksudkan.
"Sudah lah, kalau kau tidak mengerti! anggap angin lalu saja." sambung Hadi sembari membuka mulutnya.
"Iih, gak jelas banget jadi orang." Alisa menyuapkan suapan terakhir dan di akhirinya dengan memberikan minum.
Kedua netra Hadi mendapati kancing piyama Alisa terbuka di bagian dada yang mungkin tidak Alisa sadari. Sehingga belahannya dengan kulit kuning Langsat sedikit terlihat.
Ketika netra nya Hadi dengan intens melihat itu, Dengan pikiran yang mulai traveling ke mana-mana dan dengan refleks ada yang bangun.
Tangan Alisa segera mengancingkan nya seraya berkata. "Mesum!"
Hadi mengarahkan ke wajah Alisa. "Bukan mesum. orang nyata di depan mata, ya jangan di sia-sia kan. Munazir!"
"Dasar, laki-laki hampir sama,apa lagi di kasih jalan. Di embat langsung!" Alisa mengerucutkan bibirnya.
Hadi bisa mesem-mesem seraya berkata. "Itu tandanya normal, karena lalu gak normal gak bakalan begitu!"
__ADS_1
"Iih ..." Alisa menaikan kedua bahunya.
Alisa kemudian turun, menyimpan bekas makan di meja. Lalu berbaring dengan selimut menutupi penuh tubuhnya.
Hadi hanya bisa menghela nafas dalam-dalam sembari memandangi ke arah Alisa yang tertutup dengan selimut.
...---...
Sudah sekitar satu bulan Alisa dan Hadi menikah, dan hari ini Hadi sedang menemani Diana cek-up. Dan Alisa sedang makan siang di sebuah restoran yang tidak jauh dari kantor tempanya bekerja.
Sambil makan dia pun sibuk membuka ponsel mengecek tugas juga.
"Akhirnya aku jauh juga dari baby besar dan manja itu, aku bisa bernafas lega nih, gak di rumah. Gak kantor! manjanya ... Tante Diana gak ilfil kali ya? ngadepin orang macam itu!" gumamnya Alisa sambil mengarahkan pandangan ke arah layar ponsel.
"Siapa yang manja? hem ... boleh ku duduk cantik?" tanpa di perbolehkan, Zidan langsung duduk ikut gabung di mejanya Alisa.
Gadis itu pun kaget melihat keberadaan Zidan secara tiba-tiba di sana. "Em-em boleh, tentu."
"Bos mu mana? tumben dia tidak bersama mu! sedang bersama istrinya kah?" tanya Zidan sambil memesan makan dan minum.
"Iya, kayanya." Alisa mengangguk.
Kau tambah cantik saja, rajin perawatan ya? tapi tanpa perawatan pun kau tampak cantik kok." Puji Zidan tak ragu-ragu.
Zidan mengambil sesuatu dari belakang badannya, yaitu sebuah buket bunga mawar ping. Ini bunga untuk mu! semoga kamu suka."
Alisa mengedipkan manik matanya berkali-kali melihat bunga tersebut yang Zidan sodorkan ladanya dirinya.
"Aku harap kamu terima bunga ini sebagai tanda persahabatan kita dan kamu juga sering membantu dalam hal pekerjaan ku!" Zidan menatap ke arah Alisa dengan tetap memegangi bunga tersebut yang belum Alisa ambil.
Bibir Alisa tertarik ke samping dengan manik matanya yang terus memandangi bunga tersebut. Mau di tolak gak enak, di ambil juga gimana ya?
Dengan ragu, akhirnya Alisa mengambil buket tersebut. "Makasih, kok tahu sih, kalau aku suka bunga?"
"Tentu dong ... aku tahu kesukaan mu, Termasuk bunga ini, sama-sama." Zidan merasa bahagia Alisa menerima bunganya.
Alisa mencium baunya bunga itu, lalu ia simpan di meja dengan bibir yang terus merekah dan tidak pernah pudar dari wajahnya. Merasa tersanjung atau apalah yang bikin hatinya berbunga begitu.
"Sekali lagi makasih ya?" ucap Alisa kepada Zidan yang kini tengah makan.
"Sama-sama, aku bahagia bila melihat kau bahagia." Zidan pun mengulas senyum senangnya.
__ADS_1
Selesai makan, mereka berjalan berdua menuju kantor, Alisa menenteng tas dan bunga di tangan.
"Boleh gak aku main ke rumah mu?" Zidan memberanikan diri mengutarakan secara tidak langsung, kalau dia ingin main ke rumahnya Alisa.
"Em ... Alisa bengong, karena jelas-jelas dia tinggal bersama Hadi. Eh ... lain kali saja ya, Oke. Aku duluan!" Alisa buru-baru masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Beberapa waktu kemudian. Gadi balik ke kantor setelah mengantar cek-up sang istri, di ruang kerjanya kosong dan netra nya mencari keberadaan Alisa yang tidak dia temui. Lalu masuk ke dalam kamar yang juga kosong melompong yang ada tas nya saja.
Namun dari kamar mandi terdengar suara air keran yang mengalir, membuat Hadi berspekulasi bila Alisa berada di kamar mandi.
Hadi balik ke meja kerjanya sambil membuka jasnya yang terasa panas. Tetapi sekilas melihat buket bunga di meja nya Alisa membuat dia merasa penasaran dari siapa?
"Hem, dari siapa nih? siapa yang memberi bunga ini dan untuk siapa?" Hadi menyentuh dan menatapi bunga tersebut.
Terdengar suara pintu dan Hadi langsung menoleh ke sumber suara. Dan langsung mengajukan pertanyaan. "Bunga siapa dan dari siapa?"
Sorot mata Alisa mengarah ke arah Hadi Du Bunga yang sedang Hadi pegang. "Itu, punya ku dari Zidan. Kenapa?"
"Tidak!" Hadi langsung menyimpan bunga di tempatnya semula.
Hadi membawa langkahnya ke meja semula. Dengan hati agak kesal dan sedikit terbakar, entah apa gerangan sehingga dihantui perasaan tersebut.
Kemudian mereka melanjutkan pekerjaannya dengan tugas masing-masing.
"Besok ada pertemuan dengan pihak perusahaan Sanjaya grup dan ... waktunya dipercepat lebih awal." Alisa berkata sembari melirik sekilas ke arah Hadi yang fokus ke menatap layar laptopnya.
Hadi hanya mengangguk pelan dan tanpa menoleh pada Alisa.
Sekitar pukul empat kurang, mereka pun bersiap untuk pulang. Namun ketika mendekati meja Alisa, dan sang empu sedang mengemas meja. Hadi menyentuh dan mengambil bunga dan ... dia buang ke dalam tong sampah.
Alangkah terkejutnya Alisa, melihat bunganya jadi buang begitu saja. "Kenapa dibuang bunganya?" menatap heran.
"Emang kenapa? kamu suka dengan bunganya, juga orangnya?" Hadi mengerutkan keningnya dan menatap ke arah Alisa dengan tajam.
"Bu-bukan begitu, kau tidak menghargai sekali pemberian orang, dia memberikannya padaku sebagai tanda terima kasih, kenapa kau buang!" Alisa menatap bunga tesebut di dalam tong sampah dengan perasaan sesak.
"Kau bilang, menghargai. Apa kau juga menghargai ku?" ucap Hadi dengan jelas.
"Maksud, Om apa?" tanya Alisa, hatinya semakin gondok dengan ulah Hadi yang seperti itu.
Namun Hadi bukannya menjawab, melainkan berlalu keluar dari ruangannya dan berjalan dengan langkah lebar menjauh ....
__ADS_1
...🌼----🌼...
Mungkinkah Hadi sudah dihinggapi rasa cemburu buta terhadap Alisa yang di dekati oleh Zidan?