Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Menerima


__ADS_3

“Apa tidak salah? Kalian mau melamar Alisa putri kami yang masih terbilang muda tersebut untuk dinikahi ayah dari sahabatnya sendiri. Sepertinya lebih pantas menjadi bapak ketimbang jadi suami,” ucap pak Anwar dengan nada pedas.


Hadi hanya melihat ke arah pak Anwar tanpa ekspresi dan lalu melirik ke arah alisa yang baru kelihatan mengangkat wajahnya sekilas melirik ke arah ayah sambungnya itu.


“Bisa-bisa nya pak anwar bicara seperti itu dihadapan orang nya, tidak punya sopan-sopannya banget!” batin nya Alisa tanpa ia mampu ungkapkan dengan kata-kata, kemudian dia menunduk kembali sembari menggigit bibir bawahnya.


“Tidak, Bapak. Kami tidak salah dan kami yakin kalau pilihan kami adalah sudah tepat,” timpal Diana dengan lirih serta melihat ke arah sang suami.


“Kalau menurut saya sih ... jodoh itu tidak pernah memandang usia kasta dan tahta, biarpun usia beda dan apalah perbedaannya. Kalau jodoh? ya ... tidak akan dapat terpisahkan lagi,” ucap pak Didi selaku kakaknya om Hadi.


“Tapi kan pria ini mempunyai istri, bukan pria lajang yang membutuhkan pendamping.” Tambahnya pak Anwar kembali.


“Memang, itu benar sekali Bapak siapa?” tanya pak Didi bertanya nama pak Anwar.


“Anwar, nama saya Anwar.” Jawabnya pak Anwar seraya menunjuk dadanya.


“Pak Anwar, begini ya? saya jelaskan, mamang Hadi ini beristri. Tetapi pinangan ini atas nama sang istri sendiri dan dia yang ikhlas untuk meminang putri anda sebagai madu nya nanti, bukan niat yang berasal dari adik saya sendiri. Bukan.” Pak Didi menjelaskan pada pak Anwar yang tampak kurang setuju.


“Oya, silakan diminum dulu dan dicicipi kue nya. Maaf kami tidak bisa menjamu kalian dengan semestinya,” ungkap bu Juli mencoba mencairkan suasana yang tampak menegang.


Semua pun mengambil minum nya masing-masing. Dan mencicipi kue hantaran yang di buka, disajikan di meja.


“Saya ingin mendengar jawaban secepatnya dari kalian terutama dari Alisa. Apa pinangan ini akan diterima oleh kalian terutama Alisa.” Tanya Diana penasaran terhadap pinangannya tersebut.


Bu Juli terdiam sejenak lalu menghela nafas dan menatap ke arah putrinya yang terus menunduk dalam. Kemudian mengalihkan pandangan ke arah bu Diana yang menatap penuh harap.

__ADS_1


“Saya ... memberikan keputusan ini pada Alisa, biar dia yang menjawabnya sendiri. Dan apapun keputusannya Alisa, saya sebagai ibunya akan mendukung. Dan juga semoga keputusannya itu adalah yang terbaik untuk ke depannya.” Ungkap bu Juli dengan jelas dan menatap ke arah Alisa dan Diana bergantian.


Diana menarik nafas dalam-dalam dang mengalihkan pandangannya pada Alisa. Begitu pun pasang mata yang lainnya melihat ke arah Alisa semuanya. Merasa penasaran jawaban apa yang akan Alisa ucapkan?


Alisa yang tampak gugup dan keringat dingin pun bercucuran dari kening dan telapak tangan nya.


“Please ... terima pinangan mama gue? gue gak mau ya sampai tante Dania yang menggantikan atau menjadi istri papa gue!” bisik Liana sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Alisa.


Alisa menoleh dan menunjukan wajah gugupnya itu pada sang sahabat.


“Jangan gugup dong ... percaya deh sama gue, kalau hidup, lu akan terjamin bersama bokap gue.” Bisik lagi Liana sambil terus meyakinkan sahabatnya itu untuk menerima pinangan sang bunda.


“Huuh ... bismillah ... ya Allah, berikan aku keberanian untuk menjawab dan semoga keputusan ini adalah yang terbaik. Dan setelah ini tante Diana sembuh! agar aku bisa terlepas dari pernikahan ini dengan om Hadi nantinya.” Batin Alisa sambari mengembuskan nafas nya yang terasa berat itu.


Pak Anwar memang berharap kalau Alisa menolak dak tidak mau menikah dengan Hadi. Rasanya dia tidak rela saja, kepalanya terus menggeleng ke arah Alisa, berharap mengerti.


Namun siapa sangka, ternyata alisa malah menerima pinangan tersebut. Alisa melihat sekilas ke arah Hadi yang entah melihat kemana. “Aku ... aku terima pinangan ini dan bersedia menjadi istri Om Hadi, sebagai madu nya, Tante.”


Membuat semua merasa lega mendengar jawaban dari Alisa yang menerima lamaran tersebut.


Lain lagi dengan Pak Anwar yang justru merasa marah dan kesal. Seharusnya Alisa tidak menerima pinangan Hadi untuk menjadi istrinya.


“Alhamdulillah ... ya allah ... saya merasa lega karena Lisa menerima pinangan ini. Tante ucapkan makasih banyak dan sungguh membuat hati Tante merasa bahagia yang tiada terkira. Akhirnya keinginan Tante akan kesampaian juga,” lirihnya Diana dengan senyuman yang terus merekah di bibirnya


Sesaat kemudian. Diana menoleh pada sang suami agar segera menyematkan cincin di jari manis tangan kirinya Alisa. “Abang, sematkan cincin di jari manisnya Alisa.”

__ADS_1


Liana yang mengambilkan hantaran beserta sang tante, lalu memberikan cincin yang ada permatanya ke Hadi yang bangkit dan mendekat ke arah Alisa yang tetap menunduk malu, apalagi akan berhadapan dengan sang calon suaminya yang tiada lain adalah sahabatnya sendiri.


Hadi meminta jari manis yang kiri pada Alisa, yang sejenak di abaikannya. Karena gugup dan sempat memberikan jari tangan kanannya.


“Kau sudah tidak sabar ya untuk menjadi istri ku?” gumamnya Hadi pelan dan nyaris tidak terdengar.


“Ha? maksudnya?” Alisa pada akhirnya mengangkat wajah nya melihat ke arah Hadi yang bikin hati keduanya cenat-cenut tak karuan. Alisa menaik turunkan alisnya.


“Itu, jari tangan kiri. Bukan jari tangan kanan, yang itu nanti bila sudah menikah,” sambung Hadi kembali dengan tetap pelan.


Membuat Alisa langsung menarik tangan kanannya diganti dengan tangan kiri sambil tersipu malu, apalagi jadi sorotan tatapan orang-orang yang berada di sana.


“Tangan kanannya nanti ya? kalau sudah menikah ya Lisa di sematkan cincin nya.” lirih Diana dengan bibir tersenyum lucu.


“Alhamdulillah ... sekarang dek Alisa ini sudah menjadi tunangannya Hadi dan tidak akan lama lagi akan menjadi suami istri. Semoga tidak ada halangan dan rintangan nya ya? Aamiin ... ya Allah,” ucap pak Didi sambil mengusap wajahnya dan diikuti oleh yang lainnya.


Bukan hanya Diana yang punya peran untuk melamar Alisa tentunya tampak sangat bahagia, Liana pun tak kurang-kurang bahagianya setelah Alisa menjadi tunangan nya sang ayah.


Bu Juli mengusap wajahnya sembari mengucap Aamiin dan merasa haru juga, pada akhirnya tinggal satu langkah lagi untuk menjadi seorang istri.


“Untuk hari pernikahan, akan di laksanakan satu bulan setelah ini. Karena saya tidak ingin membuang-buang waktu, Bu Juli. Dan ... akan di gelar di kediaman saya. Biar bu Juli sekeluarga menginap di sana serta bu Juli tidak perlu memikirkan persiapan apa pun,” ucap Diana yang ditujukan ke arah bu Juli yang mengusap sudut matanya ....


.


Jangan lupa like dong ... komen juga dan lainnya🙏

__ADS_1


__ADS_2