
Hadi membawa tubuh Alisa ke dekat tempat tidur, yang bikin Alisa semakin dibikin spot jantung ketika Hadi kembali ******* bibirnya dengan lembut dan penuh gairah. Apalagi tangan Hadi mulai bergerilya ke area dadanya, semakin membuat jantung Alisa semakin ingin terperanjat dari tempatnya.
Bagaimanapun inilah kali pertama seorang Alisa diperlakukan seperti itu oleh lawan jenisnya. Membuat tubuh Alisa meriang panas dingin, bergetar lemas. Lutut apalagi. Rasanya tubuh ini mau luruh saja ke lantai, cuma tangan Hadi yang kiri begitu kuatnya menyangga tubuh Alisa dengan cara memeluk pinggangnya.
Hadi terus saja melancarkan aksinya terhadap gadisnya tersebut, kecupan maut semakin ia lepaskan untuk menikmati dan mendapatkan sensasi yang lebih dahsyat lagi. Tangan kanan pun terus bergantian menjamah dan bermain dia bukit yang indah bahkan berhasil menyelusup ke dalam kemejanya Alisa.
Kedua tangan Alisa Menempel di kedua bahu Hadi, dia benar-benar merasakan panas dingin di tubuhnya. Keringat dingin pun mulai bercucuran dari kening dan telapak tangan pun basah dengan peluh. Alisa sudah tak kuasa lagi untuk berdiri dan merasa kehabisan oksigen juga, pengap dan sesak.
Hadi mengerti dengan situasi, ia pun sesaat memberikan Alisa ruang untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dari sekitar. Tampak dada Alisa naik turun tak beraturan, wajahnya pun memerah.
Kini bibir Hadi menelusuri area leher jenjangnya gadis yang tampak terhanyut dengan suasana, pria itu memberikan banyak kecupan kecil namun tanpa meninggalkan jejak di sana.
Nafas keduanya sudah sangat memburu, terdengar hembusannya begitu berat. Dengan perlahan Hadi mendorong bahu Alisa dan berbaring di atas tempat tidur.
Manik mata Alisa menatap sendu pada pria yang berada di atasnya. Hatinya menciut matilah dia saat ini juga, harus melepaskan sesuatu yang selama ini dia jaga.
Tatapan Hadi yang penuh arti serta tangan yang tidak pernah berhenti bermain di titik-titik area sensitifnya Alisa. Semakin merasa bebas dengan diamnya gadis tersebut. Perlahan jemari Hadi bermain dan membuka kancing kemeja krem yang Alisa kenakan sehingga terbuka lebar dan mengekspos yang ada di dalamnya. Sebab kaca matanya penghalangnya pun sudah tidak karuan karena ulahnya pria itu.
Alisa yang merasakan tubuhnya semakin kaku, tegang dan gemetar hebat. Ketika Hadi me-nye-sap buah segar yang benar-benar masih ori tanpa sentuhan orang yang tak bertanggung jawab. Hanya Hadi yang pertama memiliki dan menikmatinya.
Namun tiba-tiba Alisa menggelinjang bangun dan meringsut memeluk lututnya menutupi tubuh bagian atas. “Jangan, Om. A-aku, aku gak mau. Aku belum siap! Hik-hik-hik.”
Hadi bengong, dia berekspektasi kalau Alisa akan pasrah dan memberikan haknya saat itu.
Alisa menangis terisak, lalu turun dengan menyilangkan kedua tangan menutupi dadanya sebab kemejanya terbuka. Membawa langkahnya berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
Kedua netra Hadi menatap kecewa ke arah Alisa yang menghilang di balik pintu. Sedang ingin-inginnya melepaskan sesuatu yang menyiksa dirinya! di tolak juga, sungguh jauh dari ekspetasinya seorang Hadi Dirgantara.
Korbannya pergi, menolak untuk melayani keinginan yang sudah memuncak di ubun-ubun, jari Hadi memijat batang hidungnya. Kepalanya terasa sangat berat. Kalau saja tidak ada pelampiasan sih oke, bila harus menahan juga dan itu jelas.
Daripada ada pelampiasan, tapi tidak bisa di pakai. Itu sih menyakitkan, yang ada menyiksa diri. Namun kendati demikian bibir Hadi masih sempat tersenyum lebar, karena mengingat setidaknya dia sudah mendapatkan apa yang ada dalam diri istri mudanya tersebut.
Di dalam kamar mandi, Alisa menangis dan membasuh wajahnya berkali-kali. Rasanya pengen mandi, namun tidak ada baju ganti sementara pakaian dalam Alisa yakini kotor bila dia menunaikan salat dzuhur nanti.
Alisa menarik nafasnya dalam-dalam, lalu ia hembuskan dengan panjang. Dia menatap wajahnya dari cermin yang tampak lusuh dan pucat. "Huuh ..."
Alisa membasuh mukanya berkali-kali. Lalu buru-buru keluar setelah merapikan pakaian dan rambut.
Hadi yang sedang mondar-mandir, melihat ke arah Alisa yang baru saja keluar dari balik pintu dengan terus menunduk.
Alisa keluar dari kamar dan mengambil dompet dari tas, lalu keluar dari ruangan kerja.
Tidak terlalu lama kemudian. Alisa kembali dengan menenteng paper bag baju ganti dan makanan buat makan siangnya dengan Hadi. Rupanya Alisa keluar! untuk membeli baju ganti karena dia ingin mandi terlebih dahulu. Sementara Hadi kembali sudah berkutat dengan laptopnya.
Lalu Alisa bersih-bersih sambil mencuci, dan barusan dia juga membeli sabun agar bisa mencuci pakaian kotor di sana.
Setelah kejadian itu, Alisa dan Hadi banyak diamnya. Alisa makan sendiri dan Hadi menyibukkan dirinya pada kerjaan.
Jelas Hadi masih Marah dan kesal. Sedang ingin-inginnya umboxing, eh ... di tolak padahal sedang tegang-tegangnya waktu itu. Dan Hadi pun tahu kalau Alisa pun sebenarnya sudah terangsang, tapi gadis itu malah menghindar begitu saja.
Alisa merasa tidak enak pada Hadi sehingga dia mendiamkannya. Tapi dia juga merasa paling bentar lagi Hadi bicara lagi sama dirinya.
__ADS_1
Namun ketika Alisa nyamperin dan ajak bicara tentang kerjaan. Hadi menjawab hanya dengan sepatah dua patah saja dengan nada dingin pula.
“Uuh … ngambek apa dia ya?” dalam hati Alisa bergumam sambil melihat ke arah Hadi yang anteng dengan kerjaannya.
“Em … makan siang, sudah lewat. Makan lah dulu! nanti kau sakit.” Alisa melihat makanan Hadi yang masih utuh belum tersentuh.
Hadi tidak menjawab ataupun menoleh Alisa yang mengajaknya bicara.
Alisa menaikan kedua bahunya lalu berjalan kembali ke meja kerja yang dia tinggalkan.
Hingga akhirnya jam kerja sudah habis dan waktunya untuk pulang. Alisa membereskan mejanya setelah melihat Hadi sudah merapikan semua map dan beranjak dari duduknya, menjinjing tas kerja dan menenteng jasnya di tangan.
Alisa buru-buru ikuti langkahnya Hadi, keluar dari ruangan kerja tersebut. Setelah mematikan lampu dan menutup gorden.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil dan Hadi segera menyalakan mesin dan melajukannya dengan kecepatan sedang.
Sesekali Alisa melihat ke arah Hadi yang begitu fokus melihat ke depan, dimana jalanan terlihat ramai dengan berbarengan nya orang-orang keluar dari kantor masing-masing.
Seiring suara mesin yang halus, terdengar suara cacing di perutnya Hadi berdemo. Dan itu jelas terdengar oleh Alisa yang langsung menoleh ke arah perut Hadi. Kebetulan makanan yang tadi, Alisa bawa.
Alisa langsung mendekatkan sendok ke mulut Hadi yang mulanya tidak merespon sama sekali.
“Kau boleh marah pada ku, tapi jangan marah pada makanan. Nanti kau sakit dan mereka akan menyalahkan ku, karena tidak bisa memperhatikan makan selama ini, ungkap Alisa. Hingga akhirnya jadi membuka mulut menerima suapan dari sang istri ....
...🌼----🌼...
__ADS_1
Siapa yang gak kecewa sih ... sesuatu yang sudah di nantikan. gagal total.