
Alisa dan Hadi berdiri di teras, sudah dua kali mengucap salam. Tetapi tidak ada jawaban juga.
“Kok sepi? apa mungkin orangnya sedang tidak ada kali,” Hadi melirik ke arah Alisa yang menatap pintu.
“Entah, atau mungkin sedang di belakang kali ya?” Alisa Berniat untuk melewati sisi samping menuju pintu bekalang, namun terdengar suara derap langkah mendekati pintu.
“Assalamu'alaikum?” ucap Alisa kembali.
Blak ... pintu terbuka, tampak seorang wanita dengan usia sekitar empat puluh menit, yaitu istri dari Lukman, pamannya Alisa.
“Wa'alaikum salam … eh … kamu Lisa, masuk?” wanita tersebut menyilakan tamunya untuk masuk.
Setelah berjabat tangan. Alisa melirik ke arah Hadi lalu membawa langkahnya masuk dan membuka sendalnya terlebih dahulu.
Melihat Alisa membuka sendalnya, Hadi pun mengikuti Alisa, membuka sepatunya barulah masuk.
“Paman mana, Bi? aku ada perlu sama paman.” Selidik Alisa sambil duduk di sofa yang tidak jauh dari Hadi.
“Paman sedang bekerja dan pulangnya nanti sore, Lisa. Sebentar ya, Bibi mau minum dulu.” Kata istrinya Lukman.
“Em, nggak usah, Bi. Kami gak lama kok, aku Cuma mau tanya, apakah ibu pernah ke sini dan bicara dengan paman?” selidik Alisa kembali.
Istri pak Lukman duduk dan mengingat sesuatu. "Oh ... soal itu, ada. Kak Juli datang ke sin dan ngobrol dengan paman, iya soalnya Alisa mau menikah. Lusa kan ya, acaranya?"
“Iya. Lusa saya harap ke sana bersama keluarga.” Undang Hadi.
“Ini siapa?” tanya istri pak Lukman.
“Saya calon suami Alisa.” Jawabnya Hadi sambil melirik ke arah Alisa yang sedang menunduk.
“Oh, kira-kira …” ucap istri pak Lukman kembali, lalu seolah berpikir sesuatu. Dia kira bukan calon suaminya.
“Eh … kalau begitu syukurlah, Lisa ke sini takutnya ibu lupa atau paman dan bibi lupa. Makasih ya, Bi? Lisa dah ganggu.” Alisa beranjak di ikuti oleh Hadi.
“Lho, kok buru-buru?”
“Em ... Lisa masih ada urusan, Assalamu'alaikum?” Alisa memeluk bibinya lalu berjalan keluar.
“Wa'alaikum salam.” Balas yang punya rumah.
Mereka terus berjalan dan Hadi membukakan pintu mobil buat Alisa.“ Itu kakak adi adik ayah mu?” tanya Hadi, lalu mengitari mobilnya.
Setelah Hadi duduk di tempatnya. Barulah Alisa menjawab. “Paman itu adik dari bapak dan yang barusan itu istrinya paman.”
“Iya tahu kalau itu istrinya—“
__ADS_1
"Tahu dari mana?" selidiki Alisa sambil mengerutkan keningnya.
“Dari pak hansip, tadi aku tanya pak hansip dulu sebelumnya ke sini.” Jawabnya Hadi sambil menyalakan mesin mobilnya.
Alisa melongo mencerna omongan dari Hadi. “Maksudnya?”
“Ya … gak mungkin lah kamu minta wali sama perempuan, berarti yang tadi itu istri dari laki-laki yang akan menjadi walibkamu. Masa gitu saja gak faham!” Hadi menggeleng.
“Ooh … iya sih, kira-kira aku tahu dari mana?” gumamnya Alisa.
Setelah berjalan beberapa puluh meter, tiba-tiba mobil berhenti mendadak di tempat yang agak sepi malah. Hadi menepikan mobilnya ke pinggir, beberapa kali cek mesin, tidak bermasalah. Dan akhirnya keluar untuk mengecek ban.
Dan setelah mengitari mobilnya tersebut, “Hem kempes bannya nih,” gumamnya Hadi sambil berjongkok.
Alisa menyembulkan kepalanya dari jendela. “Kenapa, Om?Kempes apa?”
“Iya, kempes harus ganti ban dulu,” jawabnya Hadi sambil berdiri dan menyingsing kan lengan bajunya sampai ke siku.
“Terus gimana dong … seeprtinua jauh dari bengkel deh,” ucap Alisa dengan nada bingung.
“Tidak apa, saya bisa menggantinya sendiri kok,” sahutnya lagi.
“Gimana caranya?” tanya Alisa kembali.
Alisa pun turun dan melihat cara kerja Hadi yang katanya bisa sendiri mengganti ban.
“Kau duduk di dalam saja, diluar panas. ”Titah Hadi pada Alisa yang berdiri melihat dirinya bekerja.
“Nggak pa-pa di sini saja.” Balasnya Alisa. Lagian gak enak juga dia enak-enakan duduk di dalam, sementara Hadi bekerja mengganti larangan sendiri. “Aku bisa bantu kok.”
“Tidak usah, kau masuk saja?” Hadi menatap ke arah Alisa dengan tatapan tajam dan seakan berkata turuti maunya.
Mendapat tatapan seperti itu, Alisa pun buru-buru masuk ke dalam mobil lantas duduk kembali di dalam mobil.
“Orang mau bantu juga! malah dipelototi, gimana sih?” gerutu Alisa dengan suara pelan.”
“Nggak usah ngomel. Saya tidak perlu bantuan dan kamu duduk manis saja, kecuali saya yang minta bantuan tersebut.” Suara Hadi dari belakang.
Alisa menoleh sambil menunjukan senyumnya. “Ha ha ha … dengar aja, Om ini. Padahal aku bicara pelan.”
Hadi tidak menjawab, dia tampak serius dengan masalahnya. Membuka ban lama yang kempes itu.
Langit yang awalnya begitu cerah, kini berubah menjadi gelap dan mendung yang menandakan mau hujan.
Pandangan Alisa ke langit yang tampak sangat mendung itu. Lalu melihat ke arah Hadi. “Selesai belum, Om?” kayanya mau hujan deh. ”Suara Alisa dari dalam mobil.
__ADS_1
Hadi tidak menjawab, hanya melirik saja ke arah Alisa dengan ujung matanya.
Kepala Alisa celingukan, mencari sekiranya ada payung karena langit sudah mulai menunjukkan rasa sedihnya, menangis.
Kemudian. Alisa pun turun kembali mendekati bagasi mencari payung dan Alhamdulillah ada, segera Alisa mengambil dan membukanya.
Hadi melihat kaki perempuan yang berdiri dekat dirinya, air hujan gerimis yang barusan membasahi punggung dan kepalanya. Kini berkurang, pandangan Hadi mengarah ke kedua kaki yang kecil lalu melihat maju ke atas.
Siapa lagi kalau bukan Alisa, gadis itu yang memayungi Hadi yang terkena hujan. Sesaat pasang mata mereka pun bertemu, hingga akhirnya keduanya melihat ke arah yang berbeda.
“Beres belum?” selidiknya Alisa yang mengarahkan pandangan ke arah ban yang sudah terpasang itu.
“Dikit lagi, tinggal mengunci.” Jawabnya Hadi.
Sesaat kemudian, Hadi pun selesai lalu menyimpan ban lama ke tempatnya beserta dongkrak dan yang lainnya. Alisa terus mengikuti Hadi dan memayungi pelan pria tersebut.
Usai menutup bagasi, Hadi berdiri dengan tegak menghadap ke Tah Alisa dan tangannya memegang gagang payung. Tatapan mereka pun kembali bertemu.
“Masuklah duluan?” pinta Hadi sambil mengambil alih payung dari tangan Alisa.
Alisa masuk duluan, payung. Hadi yang pegang sampai Alisa masuk, dia pun berjalan dengan cepat mengitari mobilnya. Lalu menutup payung dan di simpan ke belakang jok. Setelah itu menyalakan mesin, lantas mobil mulai merayap. Lama-lama melaju dengan cepat.
Alisa sesekali melihat wajah Hadi yang basah, rasanya kasihan juga. Ingin rasanya mengelapnya, semetara Hadi sendiri sibuk dengan setirnya dan telepon dari kantor. Kemudian Alisa mengambil beberapa lembar tisu lalu dia mendekat ke arah Hadi.
Meski ragu-ragu, tangan Alisa mengelap wajah Hadi yang basah dengan tisu. Hadi yang tengah sibuk bicara juga di telepon tidak menyangka kalau Alisa akan perduli sama dia, setelah barusan memayungi.
Obrolan di telepon pun berakhir. Hadi melihat ke arah Alisa yang kini tengah meneguk air putih.
Pas Alisa menoleh dan menaikan alisnya. “Kenapa melihat aku suka itu? Ooh ... soal tadi ya? yang barusan juga? jangan ge'er ... aku perduli secara kemanusiaan saja, bukan apa-apa!” sambil sedikit mendelik.
“Ha ha ha … apa-apa juga tidak apa!” Hadi tertawa lepas.
“Ih …” Alisa menggoyangkan bahunya sambil menggeleng juga.
“Kenapa, jijik ya?” tanya Hadi tanpa menoleh pada Alisa lagi.
“Oh, nggak. Bukan begitu,” Alisa menggeleng sambil menunjukan senyumnya.
Di luar masih hujan dan semakin deras membuat jalan tampak licin. Menjadikan pengendara harus lebih hati-hati.
Tujuan kali ini adalah menuju pulang. Hadi tidak balik lagi ke kantor. Dan memutuskan untuk pulang saja sambil mengantar calon istri ini ....
.
...Bersambung!...
__ADS_1