
“Apa kau yakin di bawah ada orang yang mencurigakan?” selidiknya Hadi sambil menatap putranya tersebut.
“Bener Pah ... aku tidak bohong. Kalau tidak percaya Papa lihat saja ke bawah.” Jawab anak itu meyakinkan.
“Ada apa?” tanya Alisa yang baru keluar dari kamar mandi dengan menggunakan piyama alias baju tidur yang sopan.
“Aku tadi mimpi buruk, Mom ... terus aku melihat sekelebatan orang yang memakai baju hitam dan berada di bawah. Coba lihat Pah ...” Dirga kembali melihat ke arah sang ayah.
Kemudian Hadi pun ke luar, namun sudah terdengar suara riuh dari lantai dasar. Dirga dan Alisa pun mengikuti Hadi yang lebih dulu ke luar dari kamar tersebut.
Hadi mempercepat langkahnya menuruni anak tangga dan menghampiri beberapa asisten yang sedang berkumpul dan saling beradu argumen, juga ada scurity di sana.
“Ada apa ini berkumpul di sini?” selidik Hadi setelah berada di lantai dasar berbaur dengan mereka.
Semua orang yang berada di sana menoleh pada Hadi yang baru saja datang ke tempat tersebut.
“Barusan ada dua orang yang mencurigakan, dan dia berusaha mencongkel jendela mobil Alphard. Untungnya keburu diketahui.” Kata scurity menjelaskan.
“Apa? pencuri, emangnya dia masuk jalan mana?” Hadi kaget mendengar mension nya kemasukan pencuri.
“Mungkin lewat belakang dan menggenakan tangga. Dan sekarang mereka sudah di bawa polisi." Ungkapnya scurity.
“Lho, kok gak terdengar suara sirine polisi sih?” gumamnya Alisa menatap semuanya.
“Kebetulan polisinya tidak menggunakan suara yang berisik tersebut.” Tambahnya scurity. Lalu mereka berjalan ke lokasi. Dan di sana masih ada beberapa polisi dan scurity lainnya.
Alisa yang berpegangan dengan Dirga juga sang ibu mertua yang juga terbangun.
“Ada-ada saja ya orang jahat itu.” Kata sang ibunda Hadi.
“Namanya juga orang jahat Bu ... kalau orang baik tidak akan seperti ini. Lagian masih untung juga keburu di ketahui ya Bu ...” balasnya Alisa.
“Iya juga sih ... cari masalah kau penjahat. Bila kau tidak membuat ulah, tidak mungkin juga kau di tangkap oleh polisi, kasian juga itu orang,” sambungnya sang ibu mertua.
Hadi, untuk beberapa saat berbincang dengan polisi dan untuk dugaan sementara adalah ... mereka mengincar mobil nya Hadi sehingga dia nekat naik tangga dari luar untuk melawati tembok tinggi tersebut.
__ADS_1
Kini semua bubar dan Hadi juga Alisa kembali ke kamar. lalu mereka berbari di bawah selimut dengan kepala Alisa berada di atas dada nya Hadi.
“Sayang?” panggil Hadi sambil menatap langit-langit.
“Hem ... apa?” Alisa mendongak sesaat melihat wajah pria matang dan masih sangat tampan.
“Gagal deh ... bulan madu kita di malam pertama ini.” Hadi mesem sambil membelai rambut sang istri dengan mesra.
Dengan refleks Alisa mendongak dan menepuk dada Hadi. “Apaan malam pertama? mimpi keli ya?”
“Lah, kan iya sayang ... ini malam pertama kita setelah tadi siang mengucap ijab kabul. He he he ...” Hadi terkekeh.
“Sudah ribuan malam nih ... bukan malam pertama lagi.” Alisa mengulum senyumnya.
Hadi semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh sang istri yang juga memeluk dirinya.
“Yank?” gumamnya Alisa sambil menggerakkan jemarinya di dada bidang sang suami.
“Kanapa?” tanya Hadi sambil memejamkan kedua manik matanya.
Kedua mata Hadi yang sudah terpejam pun terbuka kembali seiring perkataan dari sang istri.
“Sayang ... aku juga ingin kita terus berkumpul dan menempati rumah ini yang cukup luas untuk kita tempati bersama. Namun melihat gelagat dari mertuanya Liana, membuat aku harus membiarkan mereka bertanggung jawab akan Liana.”
“Iya sih ... aku Cuma khawatir saja dengan Liana,” ungkap Alisa tentang Liana.
“Liana sudah dewasa dan bisa memilih juga memilah, lagian tinggal menikmati saja dengan akibat yang pernah mereka lakukan sesuatu yang tidak di pikirkan sebelumnya. Dulu juga kamu pasti cinta bukan pada Rahman, namun kamu bisa menjaga diri dan tidak semudah itu memberikan sesuatu yang berharga dari dirimu! sehingga kamu memberikan semuanya pada ku.” Hadi mengungkapkan dan membandingkan putrinya dengan sang istri.
“Jangan membanding-banding kan, karena tidak akan pernah sama. Bagaimanapun semuanya sudah menjadi bubur, dan tinggal menikmati saja. Dan jangan terlalu menyalahkan Liana juga kasihan.” Alisa mencoba membujuk sang suami agar membuka hati agar bisa terima kenyataan nya yang menimpa Liana.
“Iya sayang ... aku pun mengerti itu! namun untuk sementara ini, biarlah mereka mandiri. Lagian mereka bukan orang susah juga dan soal kuliah akan tetap berjalan kok dan aku yang menangani biaya kuliahnya.” Balasnya Hadi sambil cuph mengecup pucuk kepalanya Alisa dengan mesra.
“Ya, kuliahnya itu pasti akan terus berjalan kok. Tidak mungkin Liana berhenti juga.” Tambahnya Alisa sambil menempelkan pipi di dada sang suami yang memberinya ketenangan.
“Sayang, sepertinya aku tidak akan melakukan bulan madu malam ini deh ... mood ku hilang gara-gara tadi Dirga mengganggu kita. Jadi buyar deh ...” ucap Hadi sambil beberapa kali mendaratkan kecupan mesra di pucuk kepalanya Alisa dengan mesra.
__ADS_1
Hening ....
Tidak lama kemudian mereka pun terlelap menjemput mimpinya masing-masing dengan saling berpelukan sangat erat seolah memberi kehangatan satu sama lian, melewati sebuah malam yang indah bulan bersinar terang, serta bintang pun bertaburan di langit yang hitam.
Tik ... tik ... tik ... suara denting jarum menghiasi sepinya suasana yang begitu hening tanpa suara apapun selain suara jarum jam.
“Man,” gumamnya Liana sambil memeluk pria yang sedang tidur terlentang tersebut. Dengan .ata yang terpejam.
Rahman terbangun dan melihat jarum jam yang sudah menunjukan pukul 03.00. Lalu menyingkirkan tangan Liana yang memeluk perutnya. Kemudian dia pun bangun lalu turun dari tempat tidur, berjalan mendekati kamar mandi.
Liana pun terbangun menatap sipit suaminya yang memasuki kamar mandi. Lalu memeluk guling sebagai teman tidurnya. Tidak lama kemudian Rahman kembali dari kamar mandi. Berbaring di tempat semula.
Liana melepas gulingnya dan berpindah memeluk tubuh Rahman mencari kehangatan. Sementara Rahman sendiri hanya terdiam tanpa merespon pelukan dari Liana yang kini sudah menjadi istrinya tersebut.
Lama-lama Liana semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Rahman, karena merasakan begitu dingin dan suhu AC pun terlalu tinggi sehingga menimbulkan rasa dingin yang teramat menyiksa tubuh.
Kedua netra Rahman melotot ketika tubuh Liana semakin rapat dan tangan nya menyentuh barang pusaka yang memang terbangun dan semakin tegang di buatnya, membuat tubuh Rahman menggigil dan menyentuh tangan Liana dan menyingkirkannya dari tempat tersebut.
Namun setelah di singkirkan, tangan Liana kembali memeluk dan menyentuh barang pusaka serta mengelusnya. Bikin sang empu merem melek yang tadinya tidak ingin bersentuhan pun sepertinya tidak akan mampu.
"Rahman kau itu jangan bego. Masa sebelum nikah mau menyentuhnya, namun setelah halal malah kau biarkan begitu saja! sayang dong ... mubazir. Penuhi sana kewajiban mu itu, dah sah ini!"
"Tapi kau menikahinya terpaksa karena sudah terlanjur. Takut dia hamil. Dan dihantui dengan dosa!"
"Alah ... terpaksa-terpaksa, nikmati saja. Bodoh banget dulu menikmati dan sekarang gengsi. Nikmati saja selagi mau! kecuali kau benar-benar tidak mood!"
Rahman terus bermonolog sendiri dalan hati, sehingga dia mau memandangi wajah cantik Lina yang tengah nyenyak itu. Dan perlahan dia mengecup bibir Liana. Selanjutnya dia menunaikan kewajibannya pada Liana yang langsung terbangun.
Keduanya melakukan itu menjelang pagi. Dan Liana merasa sangat bahagia bisa melakukannya lagi di saat sudah sah.
Pagi-pagi Alisa sudah berkutat di dapur menyiapkan sarapan untuk suami dan Dirga yang minta nasi goreng dan ayam goreng ....
...🌼---🌼...
Selamat menunaikan puasa bagi yang menunaikan nya. Makasih banyak bagi yang masih mengikuti Alisa dan Hadi.
__ADS_1