Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Kesepakatan


__ADS_3

“Saya juga tahu, kalau kamu tidak mungkin mau menikah dengan pria tua seperti saya yang lebih layak menjadi ayah kamu, begitu bukan?” kini Hadi menatap tajam ke arah Alisa yang langsung menunduk tidak sanggup bila harus membalas tatapan tajam pria itu.


“Saya pun begitu, saya tidak mau menikah lagi apalagi di saat ini. Istri saya masih ada dan saya masih punya harapan dia untuk sembuh,” jelas Hadi kembali.


“Terus gimana? apa Om akan menolak permintaan tante?” selidik Alisa yang sedikit di bikin bingung.


“Tidak, saya pasti akan mengabulkan nya. Karena saya ... jujur saya terkadang was-was bila itu permintaan nya yang terakhir!” ungkap Hadi seraya menyesap minumnya. Pikirannya melayang-layang di dalam hatinya yang paling dalam, merasa cemas juga.


Begitupun dengan Alisa yang menarik gelasnya dan menyedot air yang terasa segar melewati tenggorokan.


“Aku punya kekasih dan tidak mungkin kita menikah! Kau ayah sahabat ku dan kita cukup kenal lama—“


“Justru karena itu istri ku ingin kita menikah, sebab dia mengenal kamu dan mungkin dia percaya jika kau akan mampu seperti yang dia mau,” ucap Hadi memotong perkataan dari Alisa.


“Hati aku tetap berkata tidak, Om. Aku tidak mau menikah dengan Om dan Om cari saja wanita lain yang lebih sebanding dengan Om,” ucap Alisa sambari menggeleng.


“Sudah saya bilang, kalau saya yang bisa memilih. Tentunya saya tidak ingin menikah lagi.” Jelas nya Hadi sambil melihat ke arah jam yang berada melingkar di tangan kirinya itu.


Setelah menyesap minumnya, Hadi mengajak Alisa untuk pulang dan besok sore bertemu lagi untuk melanjutkan obrolannya kembali.


Alisa menghabiskan minuman dan cemilan nya, sayang bila harus di tinggalkan. Mubazir.


Hadi tersenyum melihat nya, dan berniat untuk membelikannya. Namun Alisa tolak dengan alasan


sudah cukup.


Setibanya di depan rumah, Alisa langsung turun dan di antar Hadi biar dia bilang kepada orang tua nya kalau Alisa dari rumahnya dan mina maaf kalau Alisa pulang terlalu malam.


“Saya meminta maaf kalau saya terlalu malam mengantarnya pulang?” ucap Hadi dengan nada hati-hati kepada ibunya Alisa dan bapak sambung nya.


“Oya, tidak apa-apa kok.” Kata bu Julia yang mengangguk hormat.


“Ya sudah, aku pergi dulu karena alisa sudah selamat sampai tujuan.” Hadi berpamitan kepada orang tua Alisa.

__ADS_1


“Baik, Tuan. Hati-hati ya?” sahut bu Julia.


“Assala’alaikum?” Hadi berlalu dan memasuki kedalam mobil nya.


Bu Julia dan suami menutup pintu dan masuk ke dalam kamar mereka.


Sementara Alisa yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamarnya, semasih Hadi berada di depan pun Alisa pun masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


“Aku gak mau menikah dengan pria itu yang usia nya pun mungkin sama dengan usia bapak ku, masih mending sih kalau om Hadi itu gak genit seperti yang lain yang kadang ku temui di luar sana.” Gumamnya dalam hati.


Alisa membaringkan tubuhnya di sebelah adik nya, Lilis yang tampak lelap sekali.


...---...


Keesokan hari nya. Alisa sepulang kerja di ajak ketemuan dengan Hadi di cafe yang sama, dan Alisa langsung ke sana dari tempat kerjanya.


Setibanya di cafe yang semalam, Alisa pun duduk di kursi yang sudah Hadi pesan dan dia pun sudah berada di sana.


“Maaf bila menunggu lama?” ucap Alisa sambil mendudukan dirinya di depan Hadi.


“Iya, Om.” Alisa mengangguk lalu dia terdiam dan sibuk dengan pikirannya sendiri.


“Gimana apa sudah pikirkan tentang perkataan istri ku? Maksud saya apa kau sudah siap untuk di lamar dan menikah dengan ku?” selidik Hadi sembari memanggil pelayan di sana.


"Maaf, Om. Rasanya aku belum siap menikah dan aku punya kekasih hati, intinya aku punya janji dengan pria lain,” ungkap Alisa dengan sangat meyakin kan.


“Gimana kalau kita menikah kontrak sampai batas waktu yang kita sepakati tentunya?”


“Menikah kontrak? maksudnya Om?” selidik Alisa merasa terkesiap mendengarnya.


“Iya kawin kontrak, tentunya hanya kita berdua yang tahu dan pengacara ku saja yang tahu,” imbuhnya Hadi sambil meneguk minumnya.


“Kita akan menikah dan di balik itu kita akan menandatangani perjanjian, yang di antaranya jika istri saya sehat atau amit-amit tiada. Kita akan bercerai dan kau bebas memilih pria yang kau suka atau kembali kepada kekasih mu itu.” Jelas Hadi dengan tatapan yang penuh serius.

__ADS_1


Alisa terdiam sejenak memikirkan apa yang di ajukan oleh Hadi.


“Dengan begitu kita berdua tidak mengecewakan istri saya dan kita memenuhi permintaan nya sementara waktu. Kita berpura-pura menjadi suami istri beneran di hadapan tante tapi tidak di belakang,” sambungnya Hadi Dirgantara.


“Berarti kita menipu tante dong?” Alisa menatap sejenak lalu kembali menunduk melihat ke arah meja.


“Terpaksa! Kita sama-sama tidak mau menikah bukan? saya tidak mau menduakan istri saya dan kau juga gak mau menikah dengan saya karena saya sudah tua dan kau juga mempunyai kekasih,” ujar Hadi kembali.


“Tapi om, bukan maksud ku mempermasalahkan usia. Tetapi ... aku—“


“Aku kenapa? tidak usah banyak alasan, saya tahu kok. Dan kau itu masih muda, tidak mungkin mau punya suami seusia saya yang tidak jauh dari usia bapak mu almarhum. Saya cukup tahu diri kok.” Ungkap Hadi dengan mengulum senyum nya.


“Em ... boleh aku mengajukan sesuatu? Bila kita jadi menikah?” ucap Alisa sambil menunduk.


“Apa? bicara lah? Bila masuk akal ya saya penuhi dan bila tidak masuk akal maaf saja, tapi kau tidak perlu khawatir bila soal nafkah. Akan saya perhatikan karena bagaimana pun kau itu istri ku nanti nya.”  Tegas Hadi sambil menatap ke arah Alisa.


“Aku ... ingin kau menambahkan di surat perjanjian nanti, kalau antara kita tidak ada kontak pisik


apalagi hubungan ... em ...” Alisa tampak ragu-ragu.


“Hubungan apa? hubungan apa yang kau maksudkan? Emangnya kau mengerti tentang hubungan yang kau maksudkan?” selidik Hadi sembari terus tersenyum dan lalu meneguk minumnya.


“Eh ... hubungan yang ... yang di lakukan suami istri, jangan sampai melakukan seperti itu.” Sambung nya Alisa agak malu-malu.


“Apa kau sudah melakukan nya dengan kekasih mu?” selidik Hadi dengan wajah dadar.


Mata alisa melotot dengan sempurna kepada Hadi si pria tua yang bikin dia tersinggung. “Om pikir aku wanita gampangan apa? boro-boro melakukan seperti itu, ciuman saja aku belum pernah!” ucap Alisa dengan jelas.


Membuat Hadi menatap tajam kepada Alisa. "Masa iya gadis yang sudah tahu pacaran, belum pernah berciuman? Rasanya itu tidak mungkin.” Batinnya Hadi sambil menatap datar ke arah Alisa ....


.


.

__ADS_1


...Bersambung!...


__ADS_2