Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Lesu


__ADS_3

"Kau pasti penasaran, dengan kami berdua! selingkuhan atau apa lah? dan saya malas untuk banyak bicara!" Hadi langsung menunjukan foto sebagai bukti kalau dirinya Alisa adalah pasangan suami istri.


Bahkan di gambar itu terpampang jelas di saksikan oleh sang istri, Diana.


Zidan menatap gambar tersebut yang memang benar Alisa dengan kostum pengantinnya, tangan nya pun bergetar bagaikan kesemutan memegangi handphone milik Hadi.


Bibirnya pun tak kalah bergetar, lalu manik matanya beralih pada Alisa yang menunduk dan Hadi yang begitu tenang.


"Jadi, kalian sudah menikah?" selidik Zidan dengan perasaan hancur. Ternyata orang yang dia taksir sudah menikah.


"Iya, seperti yang kau lihat. Dia istri ku, istri yang sah. Biarpun belum di umumkan atau di adakan resepsi nya. Karena memang belum di sahkan di Negara dan itu kemauan Alisa." Jelasnya Hadi.


Lemas sudah tubuh Zidan mendengarnya. Tak terpikir olehnya, kalau Alisa dan Hadi adalah pasangan suami istri. "Kenapa tidak di umumkan? biar tidak menjadi fitnah."


"Ada alasan kami yang memang masih inginkan itu disembunyikan!" sambungnya Hadi.


"Alasan?" Zidan mengerutkan keningnya.


Sementara Alisa hanya terdiam. mendengarkan obrolan mereka berdua.


"Jadi, saya harap kau tidak perlu berharap lain lagi tentang Alisa. Karena dia istri saya." Tegas Hadi dengan nada serius.


Membuat Alisa mengangkat wajahnya dan mengatakan pandangan pada Hadi.


"Kok bicara begitu sih? kita kan sudah sepakat kalau nanti akan ada perpisahan." Gumamnya Alisa dalam hati.


Zidan semakin terpukul. Mendengar nya, semakin lemas saja tubuhnya bagai tiada daya dan upaya. Tatapan nya nanar ke arah Alisa, dari ekspresinya saja sudah terlihat kalau Zidan itu tulus dan serius kepada Alisa.


"Oke, saya ... tidak akan berharap lagi." suara Zidan lesu. Kemudian dia beranjak dari duduknya itu.


Hadi pun meraih tangan Alisa dan diajak pergi dari lobby. Mendekati lift untuk menuju kamar mereka.


Namun sebelum masuk kamar Alisa, Hadi mengambil barangnya dari kamar Zidan. Dan di sana Zidan sedang berada di kamar mandi.


Alisa terbengong-bengong sambil duduk di sofa. Sampai Hadi masuk pun Alisa masih melamun.


Cuph. "Sedang mikirin apa sayang?" Hadi sembari mengecup kening Alisa dengan mesra.

__ADS_1


"Om kenapa bilang seperti itu pada Zidan, kita kan sudah sepakat kalau suatu hari nanti kita akan berpisah." Protes Alisa.


"Yang mana sayang? soal itu. Aku pikir-pikir dulu lah." Hadi membuka kancing nya. Lalu berlutut di hadapan Alisa yang duduk di tepi tempat tidur.


"Kok bilang gitu sih?" Alisa heran.


"Dengar ya? kita sudah resmi menjadi suami istri, kita sudah menikmati apa namanya hubungan suami istri, apa kau masih ingin melanjutkan perjanjian kita?" lirihnya Hadi sambil menangkap kedua tangan Alisa.


"Masih lah, begitu kok perjanjian nya juga." Kata Alisa sambil menatap ke arah Hadi yang berlutut di hadapannya.


"Baiklah, lanjutkan saja!" gumamnya Hadi sambil mendekati bibirnya Alisa yang mundur.


Hadi menatap lekat dengan mundurnya kepala Alisa. Namun Alisa memberi senyuman yang membuat Hadi pun tersenyum.


"Aku siapkan buat mandi dulu ya?" Alisa menarik tangannya dari genggaman Hadi.


"Mandi bareng ya?" Hadi berdiri dan membuka kemejanya yang lantas dia berikan kepada Alisa.


"Om aja duluan, panggilnya Abang, atau sayang!" Hadi menangkup wajah Alisa dan lantas mendaratkan kecupan di keningnya.


"Nggak mau, Om, Om Hadi!" canda Alisa sambil berlari ke kamar mandi, tak ayal di kejar Hadi ke dalam sana dan menangkap gadis itu.


"Ampun-ampun, gak mau! aduh ... sakit." Desis Alisa.


Hadi cemas, kenapa sayang?" tanya Hadi sambil menundukkan kepalanya pada Alisa.


"Sakit, sebenarnya dari pagi itu sakit dan perih apalagi kena air hangat perih banget." Suara Alisa pelan.


"Ooh, di sana! kan tadi sudah bilang, obatin. Olesi salep yang tadi Lisa ..." Hadi mengelus pipi Alisa dengan punggung jarinya.


"Belum, ribet dan susah! lagian kan harus santai! masa waktu kerja kita bersantai ria? gak enak kan!" akunya Alisa.


"Ya sudah, kita mandi dulu. Nanti aku yang obatin." Tambahnya Hadi sambil bersiap mandi.


"Iya, nanti aku obatin sendiri saja." Alisa duduk di bathub ambil mengisi airnya yang baru setengahnya Hadi pun sudah masuk dengan menggunakan celana pendek.


Ketika Alisa mau berdiri, pinggangnya di rangkul Hadi dan lantas di tarik ke dalam bathub. "Ahc ..." membuat tubuh Alisa basah kuyup.

__ADS_1


"Om, apaan sih? kan basah!" Alisa menggelinjang.


"Mandi sayang, tangannya Alisa Hadi kunci. "Ayo mandi sama Abang."


Kemudian Alisa menyiramkan air ke arah Hadi dengan tangan kanannya. Akhirnya mereka bukan cuma mandi berdua, tapi juga main air, saling siram satu sama lain sehingga kamar mandi di penuhi dengan air sabun.


Hadi memandikan Alisa bak sedang memandikan anak kecil, persis kalau Hadi memandikan Diana. Dalam hati, Hadi berkata.


"Diana, maafkan Abang sayang. Bila Abang mulai menikmati pernikahan dengan Alisa." Batinnya.


Alisa menatapi pria itu yang lembut dan penuh kasih sayang, membuat dia merasa kasihan bila membiarkan nya begitu saja. Apa salah nya sih ia melayani nya? kalau soal nanti berpisah, ya ... berpisah saja. Lagian belum tercatat juga di Negara.


Selesai mandi. Hadi menggendong tubuh Alisa ke kamar ala bridal style. Menjadikan tubuh Alisa melayang dan mengalungkan kedua tangannya.


Alisa Hadi dudukan di atas tempat tidur. "Di mana salep nya?" tanya Hadi.


"Di dalam tas!" Alisa menunjuk tas nya.


Tangan Hadi meraih tas Alisa dan mengambil benda kecil dari dalamnya.


"Sini aku mau olesi di leher." Alisa meminta benda itu. Tapi Hadi mengolesinya sendiri leher yang tampak mulus itu, merahnya pun dah mulai memudar.


"Sudah memudar nih merahnya, Abang obatin ya di sana, sini duduknya agak tengah." Hadi menepuk kasus agar Alisa duduknya bergeser.


"Ha? nggak-nggak. Aku obati sendiri saja di kamar mandi." Alisa hendak turun.


Namun bukannya turun, malah Hadi pindahkan posisi duduk nya ke agak tengah dan bersandar ke bantal yang dia tumpuk dulu.


"Aku, mau sendiri saja, sini salepnya?" Alisa meminta benda kecil itu dan menegakkan duduknya.


Lagi-lagi, jadi dorong bahunya ke belakang dan lalu mengangkat kedua kaki Alisa yang langsung Alisa turunkan kembali dan merapat.


"Sayang, nanti sakit dan bengkak nya lama. Ngerti gak?" suara Hadi sambi kembali membuka dan mengangkatnya.


"Aku malu ... biar aku sendiri saja!" Alisa menegakkan lagi duduknya dan Lagi-lagi juga Hadi buat Alisa menyandarkan diri dirinya ke bantal.


Pada akhirnya Alisa memejamkan kedua manik matanya, malu banget. Ketika kedua kakinya, Hadi angkat dan membukanya ....

__ADS_1


...🌼----🌼...


Tumbuhnya benih-benih cinta, yang akan menyatukan dua hati dan kepala yang berbeda.


__ADS_2