
Zidan menarik nafas dalam-dalam lalu dihembuskan dengan sangat panjang dia lakukan berkali-kali sehingga dia mendapatkan sedikit ketenangan.
"Aku tidak boleh gugup, aku harus setenang mungkin. Agar semuanya berjalan lebih lancar!" gumamnya Zidan sembari berusaha menenangkan dirinya.
Hadi yang sudah tampak gagah. Tidak pernah jauh dan selalu mendampingi sang istri. Bagaimanapun ia sangat cemas karena kondisi sang istri sering kram.
Kini teman-teman Liana pun tampak hadir dan ikut bahagia dengan acara pernikahan Liana, sahabatnya. Tidak seperti kemarin ketika menikah dengan Rahman yang tidak satu pun yang datang dan kebetulan memang tidak undang-undang dari pihak Liana nya.
Mereka mendampingi Liana sambil dihiasi canda dan tawa menggoda Liana. Sambil sedang berjalan menuruni anak tangga sesekali tersipu malu. Yang digoda terus oleh teman-temannya.
Kini acara ijab kabul pun sudah mulai. Di mana Hadi berjabat tangan dengan Zidan untuk melafazkan ijab dan Kabul, sebuah perjanjian kalau Zidan akan mempersunting Liana sebagai istrinya.
Dan sebelum melepaskan janji suci Zidan pun kembali terlihat menghela nafas yang sangat panjang, untuk mencairkan rasa gugup dan tegang yang melanda dirinya, keringat dingin pun tampak bercucuran dari pelipis dan tangan.
Kemudian Hadi pun memulai hijab dan kabulnya. Dengan cepat dan lantang pada akhirnya Zidan bisa melepaskan itu, sehingga terdengar kata sah-sah dan sah.
Alhamdulillah akhirnya. Zidan sudah sah menjadi suami dari Liana Begitupun sebaliknya.
Semua yang berada di sana mengucap Alhamdulillah dan merasa lega, juga bahagia dengan kebahagiaan Liana beserta Zidan yang kini sudah menjadi suami istri.
Para undangan handai dan taulan tetangga jauh juga tetangga dekat, para staf dan karyawan dari perusahaan yang dipimpin oleh Hadi hampir semuanya datang dan mengucapkan selamat atas pernikahannya Zidan dan Liana.
Dan juga para pembaca novel "Istri Kontrak Ayah Sahabatku" pun tak luput berada di tempat tersebut. Yang tidak bisa di sebutkan satu persatu namanya, karena insya Allah terlalu banyak bila harus dituliskan. Mereka semua turut berbahagia dan memberikan doa yang terbaik untuk kedua mempelai.
Wajah-wajah kebahagiaan yang tampak tergurat di wajah orang-orang yang berada di tempat pernikahan Zidan dan Liana.
Sorot mata yang berbinar mencerminkan kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, akhirnya Liana mendapatkan cinta sejati dari Zidan imam yang baik. Insya Allah tidak seperti Rahman.
"Selamat ya Lian ... semoga pernikahan ini penuh kebahagiaan rumah tangga sakinah. Intinya doa ku yang terbaik deh buat sahabatku ini!" Alisa memeluk sahabat + anak sambungnya penuh haru! akhirnya dia menemukan juga cinta sejatinya.
"Sama-sama, jangan berhenti doain gue ya? semoga gue bisa menjadi yang baik seperti kamu. Eeh awas perut mu ganjal banget!" Liana memudarkan pelukan Alisa karena perut Alisa yang buncit itu sangat mengganjalnya.
"Dasar, namanya juga orang hamil, ya gitulah nanti juga kamu ngerasain gimana rasanya hamil. Bahkan bukan cuman gini doang tidur nggak nyenyak duduk nggak enak! asli deh ..." Alisa sambil mengusap-usap perutnya.
"Iya sih ... gue ngerti, tapi jangan sekarang dulu kali ya ... gue kan belum selesai kuliah!" bisiknya Liana kepada Alisa.
__ADS_1
"Em ... ya ... kalau belum siap, KB aja dulu kasih jarak, beberapa bulan gitu, mungkin setahun tapi biarpun udah punya anak asalkan kita aja bisa bagi Waktu. Kuliah, anak dan rumah." Alisa pada Liana.
"Iya memang! tapi takutnya gue nggak bisa membagi waktu!" tambahnya Liana sembari mengusap-usap perutnya Alisa.
"Anak itu termasuk rezeki yang.kita tidak boleh menolaknya!" lirihnya sang Oma.
"Bukannya niat menolak Oma ... tapi belum siap saja. Soalnya kan aku masih mau kuliah pengen selesaikan dulu dan Zidan pun setuju kok, setuju dia kalau aku menunda dulu." Liana menoleh pada sang oma yang kini mendudukan dirinya di kursi di atas pelaminan.
"Iya, kalau begitu Oma tidak bisa berkomentar apapun. Jalani saja lah, yang penting kalian bahagia!" tambahnya sang oma kembali.
"Kalau Liana nggak nunda. Kemungkinan punya anak lebih cepat, lo Lian dan nggak akan jauh beda tuh sama Alisa nanti bayinya kayak adik dan kakak. Ha ha ha ... kata seorang teman dari Liana dan juga Alisa.
"Soal itu sih nggak jadi masalah ... yang sekarang juga kalau gue nanti gendong bayi itu, pasti di kira anak gue! tapi masalahnya itu gue masih ingin fokus kuliah dan tidak terganggu apapun!" jelas Liana.
"Ya terserah ... keputusan ada di dirimu kok." Alisa menepuk bahunya Liana.
Kemudian Alisa menoleh pada sang ibu yang hanya ikut tersenyum mendengar obrolan mereka.
"Ibu sudah makan belum? makan dulu ajak anak-anak." Anisa sambil menunjuk ke arah meja makan, di mana makanan masih banyak dengan menu-menu pilihan.
Bisa menoleh ke arah yang sang Ibu tunjuk dan dia pun ikut tersenyum. Melihat kedua adiknya dan Dirga.
"Mereka libur kan, Bu ... biarkan mereka menginap di sini lah. Lagian aku masih kangen sama mereka berdua. Ibu juga." Alisa menatap sang ibu yang terus mengusap perutnya Alisa.
"Boleh, Ibu gak larang kok. Lagian mereka pasti senang lho ..." Sahutnya sang bunda.
Saat-saat Hiruk pikuk atau ramai nya banyak orang di mension. Berangsur berkurang mereka mulai meninggalkan tempat keramaian pesta.
Kini keluarga Hadi tengah berkumpul di meja makan, baru saja menikmati makan malam bersama.
"Kalian mau bulan madu kemana?" selidik Hadi pada Zidan dan Liana yang kini sedang meneguk minumnya.
"Terserah Liana maunya kemana! aku ngikut saja." Jawabnya Zidan yang menatap ke arah Liana yang mesem-mesem.
"Mau kemana, Non?" Alisa menatap lekat ke arah Liana.
__ADS_1
"Gue ... gak mau kalau sama bokap dan ibu muda gue." Liana mengulum senyum nya.
Semua pasang mata memandang ke arah Liana penasaran. "Emang dia mau bulan madu ke mana?
"Oh aku tahu kamu juga ingin ke raja Ampat kan? seperti kemarin bokap sama aku ... tahu aku!makanya kamu bilang nggak mau kalah sama bokap dan gue, ya kan? hem ... sirik aja!" Alisa menjepit hidungnya Liana.
"He he he ..." Liana terkekeh sambil menutupi mulutnya.
Semua yang ada di sana tersenyum pada Liana dan Alisa.
"Tapi tidak apa! apalagi sekarang kamu ada yang menemani, yang halal pula!" tambahnya Alisa. "Aku ikut senang."
"Aku ikut dong ... ke raja ampat?" rengek Dirga.
"Iih ogah ajak kamu. Nanti ganggu lagi. Liburan ke tempat yang lain saja!" Liana mengibaskan tangannya.
"Ajak jahat!" Dirga cemberut.
"Dirga liburannya mau kemana? sama kak Lilis dan Sinta liburannya." Alisa menatap ke arah Dirga.
"Kemana? tempat wisata yang mana ya?" Dirga mengetuk-ngetuk kan jarinya di kening seolah sedang berpikir.
"Lagian nih ya? kalau kamu liburan jauh-jauh nanti kamu terlambat lihat adek bayi nya. Pas lahir kamu gak lihat nanti, katanya mau lihat pas lahir?" bujuk Liana.
"Oh, iya. Abang lupa. Iya deh ... Abang gak mau kemana-mana, mau nungguin mommy saja." Dirga merasa di ingatkan.
"Yakin, nggak mau liburan nih?" tawar Hadi sambil melihat ke arah Dirga yang katanya tidak mau liburan.
"Nggak mau, Abang mau di rumah saja. Nungguin mommy." Jawab anak itu meyakinkan.
Kemudian selesai makan. Karena merasa capek dan lelah. Mereka pun langsung masuk ke kamarnya masih-masing.
Begitupun dengan Zidan dan Liana yang sudah berada di dalam kamar pengantin yang indah ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Hi ... apa kabar reader ku semua? semua kabar baik ya!