
Dirga, menangis sejadi-jadinya sambil memeluk sang bunda. "Mama, mama bangun? Dirga gak mau mama meninggal. Mama bangun Mah?" sembari tersedu.
"Sayang, pergilah dengan tenang, bila kau memang sudah tidak kuat. Karena pada kenyataannya aku pribadi tidak bisa menggantikan rasa sakit mu." Hadi mengusap air mata uang menggenang di sudut pipinya.
Lalu Hadi membiarkan Diana diurus oleh dokter dan perawat, namun untuk menghilangkan rasa penasaran! satu kali lagi dokter memeriksakan apakah Diana benar-benar sudah tiada dan hasilnya memang benar.
Sementara Liana dan omanya sedang berpelukan dalam keadaan masih menangis pilu. Mereka masih berharap kalau Diana masih bisa bertahan untuk tetap hidup. Tidak meninggalkan mereka semuanya secepat ini.
Namun apa hendak dikata jika takdir sudah bicara. Manusia hanya bisa berencana dan Tuhan juga yang menentukan, bermacam usaha sudah Hadi jalani. Tetapi hasilnya hanya bisa memasrahkan pada Tuhan yang Maha Kuasa! karena hakikatnya manusia hanya wajib berusaha.
Hadi menghela nafas dengan sangat dalam, lalu ia hembuskan dengan panjang. Dia keluar dari ruangan tersebut untuk mengurus semuanya.
Lantas dia pun menyuruh seorang untuk membereskan semua barang yang ada di kamar hotel agar jenazah Diana selesai dibersihkan dan siap juga di bawa pulang ke Indonesia! barang-barang pun siap tinggal angkut.
Tidak terbayang gimana hancurnya perasaan Hadi di saat ini, di tinggal wanita yang sangat dia cintai yang sudah menemaninya puluhan tahun lamanya.
"Ya Allah ... berat rasanya. Kau ambil orang yang sangat aku cintai selama ini." Beberapa kali Hadi mengusap wajahnya dan nafas yang tampak begitu berat.
"Papa, mama. Pah ... Dirga gak punya mama lagi." Suara itu terdengar dari belakang Hadi sontak Hadi memutar tubuhnya mengarahkan pandangan pada anak bungsu dari pernikahannya dengan Diana.
"Lalu Hadi berlutut dan merentangkan kedua tangan, memeluk putra bungsunya itu. Hatinya semakin teriris pedih, sakit, sangat menyesakkan dada.
"Sabar ya sayang ... doa kan mamanya semoga beliau di tempatkan di surga. Mungkin ini yang terbaik buat mama! karena mama sudah terlalu capek menahan sakit, dan Tuhan lebih sayang sama mama. Sehingga dia dipanggil secepat ini," ucapnya Hadi dengan lirih.
"Tapi Dirga jadi nggak punya mama aku nggak punya siapa-siapa lagi Pah ... Hik-hik-hik." Anak itu terus menangis di dalam pelukan sang ayah.
"Siapa bilang Dirga nggak punya siapa-siapa? Papa ada, kak Liana ada oma juga ada! dan ... Kak Alisa juga ada!" Hadi langsung mengingat Alisa. Gadis itu adalah istri kecilnya yang sudah mulai dia sayang dan dia cintai! namun perasaan itu jauh dengan perasaannya terhadap Diana yang lebih besar dan mendalam.
__ADS_1
Lagi-lagi Hadi menarik nafas yang begitu berat. Ingin rasanya menangis sekerasnya dan menjerit sekencang-kencangnya memanggil nama sang istri agar dia kembali, tidak sampai meninggalkan begini. Tetapi itu sangat tidak mungkin! tidak mungkin dia lakukan dan tidak mungkin juga terjadi, orang yang sudah meninggal tidak mungkin hidup lagi. Biarpun ada! hanya satu diantara ribuan dan itu pun ada sebab dan musabab yang sulit diuraikan dengan kata-kata.
Kemudian Hadi bangkit dan menyuruh Dirga untuk menghampiri Kakak dan Omanya, sementara dia sendiri akan pergi ke ruangan memandikan Diana untuk yang terakhir kalinya.
"Permisi, Pak? mohon waktu nya dulu sebentar!" kata seorang pria yang menjadi asisten Hadi selama berada di sana.
Hadi menoleh ke arah sumber suara, dimana sang asisten berdiri menatap ke arah dirinya. "Iya ada apa?"
"Apakah yang di Indonesia akan segera ditelepon, agar menyiapkan semuanya?" tanya asisten nya itu.
"Iya, kabari saja dan bilang untuk menyiapkan semuanya. Tolong jangan tanya lagi." Jelas sambil membawa dirinya ke salah satu ruangan di mana mayat sang istri berada.
"Baiklah, akan saya laksanakan." Orang itu pun mengundur diri dan pergi meninggalkan kembali tempat tersebut.
Derap langkah yang terdengar dengan gontai, mendekati mayat sang istri, yang dimana Di sana pun sudah berada berapa perawat dan orang-orang yang bertugas memandikan jenazah.
"Selamat jalan sayang. Semoga kau pergi dengan tenang, mungkin ini akhir dari penderitaan mu selama ini! aku akan selalu merindukanmu. Dan namamu akan selalu bertahta di hatiku terukir indah di sana tanpa tergantikan. Aku sangat mencintaimu dari awal sampai akhir." Gumamnya Hadi di dekat wajah sang istri.
Hadi hanya mengangguk kan kepalanya pelan sambil mendengus, kemudian bersiap untuk memandikan jenazah sang istri.
...----...
Di suatu sore, Alisa dan kawan-kawan sudah berada di area bandara, untuk kembali ke kota Jakarta. Karena urusannya selama di sana sudah selesai, sebelum take off mereka pun menikmati sunset yang begitu tampak indah, menjadi sebuah lukisan yang tiada taranya.
"Akhirnya kita bisa balik juga ke Jakarta! setelah sekian lama kita berada di kota ini dan bukan liburan tapi karena kerjaan. Kalau kalian mau liburan dulu, boleh. Nanti aku yang rekomendasikan deh sama bos, aku kasih waktu 2 hari saja," kata Alisa pada Zidan, Burhan dan Mita.
"Pengen sih ... liburan! tapi kayaknya nggak sekarang deh, apalagi dari atasan belum ada izin untuk liburan! mungkin kalau mau rekomendasikan akhir bulan saja!" jawabnya Mita sambil tersenyum kepada Lisa.
__ADS_1
"Saya sih, pengen liburan! tapi malas kalau cuma sendirian apalagi wanita cantik nya juga mau pulang he he he ... bercanda. Bu, bercanda," celetuk Burhan dengan ada bercanda.
"Ibu Mita nya mau pulang ya?" Alisa melirik Mita yang menggeleng.
"Untuk aku sih gak mau liburan di sini, soalnya berapa hari juga, ya ... anggap saja saya liburan! apalagi sendirian! males." Menurutnya Zidan sembari melepas pandangan ke arah matahari yang berwarna merah itu.
"Oh, gitu ya? ya sudah! Aku nggak jadi merekomendasikan kalian untuk liburan, terserah kalian lah maunya kapan dan ngomong sama CEO kita, ku harap semua start dan karyawan tidak menganggap ceo kita itu liburan panjang, saat beliau tidak ada di kantor manapun, karena itu suatu keperluan yang sangat dibutuhkan untuk kesembuhan istrinya!" ucap Alisa dengan nada sangat serius dan lalu kepikiran sosoknya Diana.
"Nggak lah. Saya yakin yang lain pun tidak merasa dan berpikir seperti itu! Karena kami tahu betul gimana sifatnya CEO kita. Dia seorang pekerja keras, giat dan ulet. Bertanggung jawab! tidak ada kata lelah atau berputus asa!" tambahnya Zidan.
Membuat Alisa menoleh dan berkesimpulan, gimana sosok seorang Hadi di mata staf dan karyawan nya.
"Huuuh ..." Alisa menghembuskan nafasnya melalui mulut, lalu kemudian melihat putaran jarum jam.
"Kita harus bersiap-siap sekarang, berapa saat lagi kita harus masuk pesawat," wanita cantik itu berdiri dan menyoren tasnya serta mematikan ponsel yang berada di tangannya itu.
"Oke, ayo?" Zidan pun beranjak, diikuti oleh rekannya yaitu Mita dan Burhan.
"Aku sudah kangen sama orang-orang rumah! baru kali ini aku pergi meninggalkan mereka. padahal ibu dan adik-adik aku emang sudah nggak serumah." Gumamnya Alisa sambil berjalan.
"Mungkin Ibu bukan cuman kangen sama mereka, tapi yang dikangenin sebenarnya itu adalah ..." Mita menggantungkan perkataan nya.
"Tetoooottt, sudah pasti suaminya siapa lagi? biar pun istri muda, setahu aku sih selalu lebih di sayang gitu sama diperhatikan!he he he ..." ucapnya Burhan memotong perkataan dari Mita.
Alisa melirik sekilas ke arah Burhan sambil terus berjalan, pikirannya berkata. "Nggak juga ah. Nggak tuh yang muda yang diperhatikan! tetap aja yang sudah tua yang pertama yang nomor satu kan, yang diprioritaskan tentu saja yang nomor satu dan nomor 2 itu tetap saja nomor 2, istri muda atau nomor 2 harus tahu diri, namanya juga istri muda, ya nomor dua."
Mereka berempat kini sudah berada di dalam pesawat yang siap terbang membawa para penumpangnya ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Ikhtiar itu wajib dan hasilnya serahkan pada yang maha kuasa.