Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Mengantar


__ADS_3

"Bu, aku pamit kuliah dulu ya?" pamit Liana pada sang ibu mertua yang sedang bersantai di depan.


"Iya, sayang. Hati-hati, Oya. Ibu mau belanja mingguan! apa yang ingin kau beli?" tanya Bu Irma.


"Nggak, Bu ... aku tidak ingin membeli apa-apa." Jawabnya ambil mengeluarkan kunci motor.


"Ya, Biarpun tidak mau membeli apa-apa. Uang nya mana buat belanja!" sambung ibu mertua.


"Ha? Bu ... aku belum di kasih uang sama Rahman, jadi uang apa yang harus aku kasih? kan suami itu dia! bukan aku." Liana dengan beraninya bilang seperti itu sembari menatap dingin pada ibu mertua.


Bu Irma tidak lagi berkata-kata. Dibikin kena mental oleh Liana.


"Lah aku, aja gak di kasih uang kok. Nanti saja kalau Rahman kasih aku uang." Liana menaiki motornya. Kemudian melaju setelah mengenakan helm, berangkat kuliah.


"Biarpun belum di kasih uang, kan dia itu anak orang kaya. Masa gak punya uang. Aneh tuh anak ya?" gumamnya Bu Irma.


Liana terus melajukan motornya. Menuju kampus yang ada di kota tersebut.


Setibanya di kampus. Tiba-tiba merasa mulas dan buru-baru ke toilet dan ternyata dia datang bulan. Membuat Liana terbengong-bengong sesaat dan lalu tersenyum.


"Berarti aku gak hamil! bener, aku gak hamil. Tapi ... kata orang tidak sedikit juga banyak yang hamil di saat haid." Liana menggaruk tengkuknya. Kemudian buru-baru membeli pembalut.


"Sepertinya aku harus ke dokter kandungan untuk memastikan aku ini hamil atau tidak, ya benar! sekarang aku harus memastikan itu." Monolog Liana.


...-------...


"Yank, segini cukup gak pakaian buat kamu?" tanya Alisa sambil melirik ke arah sang suami yang sedang sibuk dengan laptop nya.


"Jangan banyak-banyak sayang, di sana kita bukan untuk kerja kantoran, tapi kerja di ranjang. Jadi gak perlu banyak baju!" Hadi sambil menolehkan kepalanya pada sang istri.


"Apaan sih?" Alisa tersenyum dan mengambil sebagian pakaian Hadi dari koper, begitu dengan miliknya yang di kurangin.


Setelah itu. Alisa duduk di sampingnya Hadi yang sibuk dengan benda pipih nya itu.


"Sudah selesai?" tanya Hadi sambil melirik ke arah sang istri.


"Sudah, semuanya sudah siap dan tinggal angkut nanti." Jawabnya Alisa sambil menempelkan dagunya di bahu Hadi.


Hadi menoleh ke samping dan menatap lekat ke arah wajah Alisa dan berniat mengecupnya.


"Mommy, Papa. Nanti pulangnya jangan lupa membawa adek ya?" suara Dirga yang baru muncul dari balik pintu secara tiba-tiba.


Untung saja keduanya sedang tidak melakukan apapun. Baru saja berdekatan.

__ADS_1


"Iya nanti, sabar saja ya? nanti juga akan ada waktunya buat Dirga mempunyai adek." Jawabnya Hadi sambil mesem.


"Em ... gak bisa instan dong Abang ... semuanya butuh proses. Gak segampang itu!" tambahnya Alisa sambil memberi tempat pada Dirga untuk duduk di tengah-keduanya.


"Iya, pokok ya. Sepulang dari sana harus cepat hamil Mommy nya, aku sudah tidak sabar nih nungguin nya." Dirga melihat keduanya bergantian kanan kiri.


"Oke, berdoa saja ya ... semoga doa Dirga yang di dengar sama Allah." Alisa mengusap pindang putra sambungnya itu.


"Ya Allah ... aku mau adik yang lucu, gemuk dan menggemaskan. Kalau bisa kembar ya Allah kaki-kaki dan perempuan, biar mommy hamilnya sekali saja. Aku kasian juga sama ibu-ibu yang sedang hamil. Mau berdiri susah, jalan pun kasian takut jatuh. Aamiin!"


Dirga menengadahkan kedua tangannya ke atas sambil mendongak juga. Hadi dan Alisa mengaminkannya.


"Semoga langit mendengar dan mengabulkan!" Alisa berucap penuh harap.


"Pah, Lisa ... aku punya berita bahagia nih!" suara Liana dari balik pintu lalu menghampiri papanya dan Alisa.


"Berita apa tuh?" Alisa penasaran.


Liana duduk di hadapan papa dan Alisa tepatnya berseberangan. "Aku ... sedang haid dan aku barusan ke dokter kandungan untuk memastikan kalau aku apakah ada kemungkinan sedang hamil sambil haid atau tidak."


"Terus, hasilnya gimana? maksud ku ... kata dokter gimana?" Alisa semakin tambah penasaran.


"Hasilnya ..." Liana menatap ke arah Hadi, Alisa dan Dirga yang melongo.


Wajah Liana merona menunjukan rasa bahagia dan lega. "Aku negatif, Alias aku tidak hamil dan aku langsung memakai kontrasep-si. Tidak apa-apa kan kalau aku KB dulu?"


Hadi dan Alisa saling bersitatap dengan senyuman di bibirnya. Lau melihat ke arah Liana kembali.


"Jadi kau tidak hamil? dan soal kamu pakai kontrasepsi sih, itu lebih bagus sebelum kamu lihat keseriusan suami mu itu." Kata Hadi.


"Iya, Pah ... Oya Pah, ibu mertuaku mentransfer uang buat biaya nikah kemarin 50 juta ke rekening ku, dan aku akan kirim ke nomor rekening Papa!" ucap Liana kembali.


Alisa menatap sang suami yang sejenak terdiam, memikirkan kiriman dari Bu Irma yang ternyata cuma 50 juta. Sok nya selangit tapi nyatanya nihil.


"Sudah lah, buat kamu saja. Tidak perlu kirim ke Papa, satu lagi. Pergunakan uang mu dengan baik. Karena kalau tek-tek bengek urusan lain biar Rahman dan ibu mertua mu yang urus, kamu jangan turun tangan!" pesan Hadi pada putrinya.


Liana mengangguk pelan dan merasa gimana gitu, suatu perasaan yang sulit dia ungkapkan. Lalu dia menunduk dalam.


Beberapa saat kemudian, Alisa dan Hadi bersiap untuk pergi untuk bulan madu.


Liana dan omanya juga Dirga akan mengantar yang mau bulan madu ke bandara.


Dan saat ini mereka sudah berada di dalam mobil dengan memasang safety ball.

__ADS_1


"Lisa, gue merasa lega deh!" Liana melihat ke arah Alisa yang duduk di dekatnya.


"Iya. Semoga Allah Memberikan mu yang terbaik." Alisa memegang tangan Liana.


Liana ingin sekali menceritakan yang di katakan oleh Rahman, namun bibir Liana terasa kelu dan dia pun merasa malu sendiri karena dia yang terlalu bucin sama Rahman yang notabene nya mantan dari Alisa sendiri.


"Apa kau sedang ada masalah, Lian? kalau kamu merasa ada masalah ... bilang aja sama aku!" Alisa merasa kalau sahabat juga anak sambungnya itu sedang kurang baik-baik saja.


Kedua manik mata Liana melihat ke arah papanya yang duduk di depan.


"Oke, nanti kau bisa cerita kapan saja dan tidak perlu sekarang!" sambung nya Alisa.


"Gimana dengan mertua mu, Nak ... baik kan? dan kamu harus rajin bila di rumah mertua, jangan di sana kan dengan di rumah orang tua sendiri ya? karena bagaimanapun itu berbeda." Tanya Omanya Liana.


"Em ... baik Oma ..." jawabnya Liana sambil mesem tipis.


Tidak terasa perjalan menuju bandara pun, sehingga mobil yang mereka tumpangi sudah menepi di area bandara.


Mereka pun berpisah di dalam bandara, Dirga lagi-lagi meminta untuk di bawakan adik dari Alisa sebagai mommy nya.


"Iya, doa kan saja!" Alisa memeluk anak itu sangat erat.


"Papa, ingat ya!" kini Dirga memeluk Hadi bergantian.


"Oke, yang rajin belajar dan nurut sama Oma ya?" kemudian tangan Hadi mengacak rambutnya Dirga.


"Pah, Lisa selamat bersenang-senang ya?" Liana memeluk Alisa dan menepuk-nepuk punggungnya.


"Iya!" Alisa mengangguk. "Kalau ada apa-apa derita sama aku ya?" balasnya Alisa.


Liana hanya mengangguk pelan dibuatnya.


"Hadi, di jaga istrinya baik-baik!" pesan sang bunda.


"Oke, Assalamu'alaikum ..." Hadi mencium tangan sang bunda. Lalu menuntun tangan istri kecilnya itu.


Semuanya melambaikan tangan mengiringi kepergian Alisa dan Hadi yang mau bersenang-senang di raja Ampat.


Liana dan yang lain segera menuju mobilnya, setelah pesawat yang membawa Alisa dan Hadi sudah terbang melewati angkasa. Dan Liana pun ikut pulang ke mension sebab motornya ada di sana ....


...🌼---🌼...


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang melaksanakannya, dan terima kasih pada yang masih setia dengan kisah Alisa dan Hadi.

__ADS_1


__ADS_2