Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Surat


__ADS_3

"Kenapa senyum-senyum begitu?" tanya Alisa sambil mencibirkan bibirnya.


Bibir Hadi tersenyum karena melihat wajah Alisa yang tegang itu. Bikin suka saja menggodanya.


"Siapa bilang, senyum-senyum? ketawa nih! he he he ... tegang banget!" jadi kembali menggeser posisi duduknya.


"Eeh, stop. Jangan mendekat lagi? aku sudah mentok nih, atau aku balik ke kamar semula nih." Alisa menggerakan tangannya menyuruh Hadi berhenti menggeser duduknya yang terus mendekat.


"Silakan saja, tapi saya juga ikut ke sana. Apa susah nya? bukankah suami istri itu tempatnya sama-sama, jadi apa kata orang bila kita tidur beda kamar." Hadi mengulum senyumnya.


"Heh ... itu kertas apa? berhenti bercanda, aku capek dan ingin tidur." Alisa menunjuk kertas yang Hadi pegang.


"Ini surat yang mu di tanda tangani boleh. Nggak juga ... itu lebih baik!" tangan Hadi menyodorkan kertas tersebut kepada Alisa.


"Lebih baik ... maksudnya?" kening Alisa mengerut.


"Ya, gak pa-pa sih? saya ... jadi merasa berdosa saja, bila saya melainkan kewajiban sebagai suami pada mu."


"Berdosa?" Alisa tidak mengerti.


Hadi menyandarkan punggungnya ke bahu sofa dengan tangan di rentangkan. "Ya ... saya Kan merasa berdosa bila tidak melakukan kewajiban saya sama kamu, sementara janji suci saya kepada Allah untuk perlakukan mu selayaknya istri."


Alisa terdiam dan mencerna maksud dan tujuan yang Hadi ucapkan. "Tidak-tidak. Aku gak mau, aku gak cinta sama Om. Aku ingin melanjutkan hidup dengan orang yang aku sayang nantinya, siapapun itu."


"Kalau saya yang kamu sayang?" Hadi menatap lekat.


"I-itu tidak mungkin. Lagian ... Om jug--"


"Abang, panggil saya Abang. Kecuali di kantor. Itupun kalau kamu mau merahasiakan pernikahan kita, kalau mau terbuka panggil saja Abang." Jelas Hadi.


"Abang? oo." Alisa kaya orang enek.


"Kenapa? jijik amat lihat saya seperti itu!" mata Hadi memicing.


"Bu-bukan begitu! masa aku panggil Abang sih?" Alisa menggelen kasar.


"Emangnya kenapa dengan panggilan itu? bagus kok. Diana pun panggil suaminya dengan panggilan Abang, kan sama. Kamu juga istri saya! walau belum seutuhnya sih?" jelas Hadi sambil mengambil air mineral lalu di teguk nya.


"Iiy," Alisa bergidik. Kemudian membuka kertas yang di dalam map tersebut.


Lagi-lagi bibir Hadi menyungging. "Buka dan bacalah, setuju tanda tangani dan bila gak usah."


Alisa melirik, lalu mengarahkan pandangannya ke arah kertas tersebut.

__ADS_1


...


Surat kontrak tertera, merupakan. Surat keputusan yang berlaku mutlak.


Pernikahan ini hanya sipat sementara saja, dikarenakan permintaan dari seorang wanita yang sangat pihak satu cintai.


Dalam pernikahan ini tidak akan ada kontak pisik, kecuali sentuhan kulit biasa terdiri dari tangan atau pipi dan kening. Selebihnya tidak.


Pihak ke satu tidak akan menuntut untung berhubungan intim pada pihak kedua, kecuali khilaf.


Pihak kedua tetap akan mendapatkan nafkah lahir yang di antaranya uang belanja, uang jajan. Transpor dan lain-lain, serta berhak meminta bila pihak kedua telat memberikannya.


Pihak pertama berhak meminta di layani dalam tanda kutip di tempat tidur bila mendesak.


Selama pernikahan, pihak kedua harus tidur satu kamar dengan pihak pertama.


Pihak kedua boleh menggugat cerai. Bila istri pihak pertama sudah sembuh dari sakitnya ataupun telah tiada.


Dan pihak pertama akan mengabulkan permintaan pihak kedua untuk bercerai.


Pihak kedua berhak meminta haknya sebagai istri. Bila saja pihak kedua sudah mempunyai rasa atau ikhlas dalam memberikan kewajiban dia seutuhnya.


Pihak pertama memberi kebebasan kepada pihak kedua untuk merencanakan kehidupannya setelah berpisah nanti.


Demikian surat perjanjian ini dibuat. Dengan yang mendatangani tentunya pihak pertama dan kedua.


"Bila setuju tandatangani. Bila tidak? ya tidak usah! lagian nih ya? mungkin tidak akan mengubah apa pun. Ada dan tidak ada ya surat itu, akan sama. Saya punya hak meminta hak saya sama kamu bila saya mau kapan pun!" Hadi memainkan matanya pada Alisa yang langsung bergidik.


"Nggak jelas banget, iih ..." Alisa menatap lekat ke arah kertas tersebut.


Namun kendati bicara demikian. Alisa mengambil ballpoint dan membubuhkan tanda tangannya di atas kertas itu.


Bibir Hadi tersenyum. Lalu dia pun menorehkan tinta hitam sebagai tanda tangannya.


Alisa beranjak dengan cepat memasuki wardrof, di tatap oleh pasang matanya Hadi yang tidak tahu akisanmau ngapain.


Sesaat kemudian Alisa kembali dengan membawa selimut dan bantal. Lalu Alisa berkata. "Satu kamar bukan berarti satu ranjang bukan?"


Hadi melongo ke arah Alisa yang berdiri memeluk selimut dan bantal.


"Awas ... aku mau tidur!" pinta Alisa sambil menatap Hadi yang melongo.


"Tapi kalau sampai ketauan istri ku, Diana. Aku tidak tanggung jawab ya?" Hadi beranjak dengan map di tangan.

__ADS_1


Alisa langsung membaringkan dirinya di sofa panjang yang sebelumnya menepuk-nepuk bantal yang jendak ia pakai.


Tampak Alisa beberapa kali menguap dan lalu memejamkan kedua matanya sambil komat-kamit.


Pria yang berstatus suami Alisa itu masih berdiri tidak jauh dari Alisa berbaring. "Sudah salat isya belum?"


Alisa yang sudah memejamkan kedua manik matanya, membuka mata sesaat saraya berkata. "Kan sudah tadi."


Lanjut Alisa terpejam serta menutup dirinya sampai kepala. Hadi yang iseng, menarik selimut Alisa yang bagian kepala.


"Bai"


"*ih, ngantuk!" Alisa kembali menutupi kepalanya dan memeluk selimut itu dengan sangat kuat.


Sehingga tidak dmsedikitpun terlihat celah untuk nyamuk sekalipun.


Rasa iseng Hadi masih ada, lalu berjongkok. Dekat kepala Alisa sembari berucap. "Dasar. Ada suami, masih juga mau tidur sendiri! apa tidak ingin ada yang meluk?" goda Hadi sambil nyengir.


Namun yang di ajak bicara diam tak bergeming. Sesungguhnya dia mendengar dan bergidik geli.


Hadi beranjak dari jongkoknya. sambil mesem menyimpan map di laci yang dia kunci kembali itu.


Detik kemudian. Hadi pun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang bertabur kelopak bunga ini. znam7n entah kenapa? ada rasa kesal yang menyiksa hati. Ia bangun dan membuang kelopak bunga yang bertabur di seprai.


Hingga kini beralih bertaburan di lantai. Berserakan dan kotor, Hadi menjadi benci suasana kamar ini yang berhias ala pengantin, namun di tempat tidurnya tetap sendiri.


Netra nya menatap ke arah Alisa yang di gulung selimut. Hadi melempar selimut nya juga ke bawah. Mencabut bunga-bunga yang berada di setiap ujung tempat tidur dan dia lempar juga ke sembarangan tempat.


"Huuh ... astagfirullah ..." Hadi duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajah lalu memegangi kepalanya yang terasa pusing.


Perasaan ini dan ke adaan yang seperti ini yang dia benci!sementara tidak ada untuk pelampiasannya. Hadi berbalik dan tidur telungkup untuk menekan sesuatu yang sekian lama tidur kini mendadak bangun.


Hadi tidur gedebag-gedebug. Tidak nyaman. Telungkup salah. telentang juga gak enak. Terpejam tak Lena, membuka mata juga tetap berasa tersiksa.


Kondisi ini berlangsung hingga sekitar pukul satu malam, Hadi masih terjaga. Ke kamar mandi pun sudah beberapa kali. Kini dia terduduk dan memandangi ke arah Alisa yang tanpa selimut lagi.


Mungkin Alisa merasa kepanasan sehingga selimutnya dia turunkan. Hadi mengambil remote AC untuk mengatur suhu nya.


Hadi yang terkadang merasa stres, dia ingin mengusap sebatang rokok. Begitupun saat ini dia mengambil sebatang rokok untuk dia bakar dan di isapnya!


Namun hanya satu isapan saja lalu dia matikan kembali disimpannya di tempat semula. Selanjutnya Hadi membaringkan tubuhnya dan mencoba terpejam.


Namun detik kemudian ....

__ADS_1


.


...Bersambung!...


__ADS_2