
Alisa hanya terdiam, dingin menyerang di sekujur tubuhnya. Apalagi di saat jari Hadi mengangkat dagunya.
Telunjuk Hadi mengangkat dagu Alisa yang menunduk, agar mendongak dan menatapnya. "Belum mandi? masih bau keringat ku di tubuh mu!"
Alisa tidak menjawab apa pun. Tangan Hadi bergerak ke tengkuk, lanjut kembali mengecup bibir Alisa dan menyesapnya dengan lembut.
Kemudian dengan berat hati, Hadi menarik kepalanya, mengusap bibir Alisa yang basah itu. "Aku pergi dulu ya!"
Alisa mengangguk sambil menatap dengan lekat. Tangan Hadi mengeratkan pelukannya pada pada Alisa.
Lalu kemudian, Alisa menyembunyikan wajahnya di dada Hadi yang semakin mengeratkan pelukannya. Ada rasa nyaman yang menyelinap ke diri Alisa.
Sesaat kemudian, Hadi pun bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut. Dia khawatir pada Diana yang di rumah sakit.
Alisa mengantar sampai di pintu kamar saja. Dia berdiri memandangi punggung Hadi yang memasuki pintu lift.
Setelah sosok Hadi tidak terlihat lagi. Alisa kembali ke dalam kamarnya lantas melanjutkan tidurnya yang lumayan masih ada waktu sekitar satu jam lagi ke subuh.
Namun di pejamkan, malah gak bisa tidur. Sehingga Alisa memilih untuk membersihkan dirinya saja. Berendam di bathub dengan air hangat dan aroma terapi.
Di lanjut membaca ayat-ayat suci dan berzikir memohon pertolongan agar Diana diberi kesembuhan.
"Ya Allah, angkatlah apapun menyakiti yang di derita Tante Diana. Kasihan dia! berikan yang terbaik padanya! Aamiin ..." Alisa mengusap wajahnya.
Jarum jam sudah menunjukan pukul enam. Karena Alisa belum keluar juga dari kamar, sehingga sang ibu mertua menggedor pint kamar putranya.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Lisa ... Lisa, dah bangun belum Nak?" suara ibunya Hadi di balik daun pintu.
Alisa yang ketiduran di atas sajadah sehabis subuh tadi. Menggerakan tangannya terganggu dengan suara pintu yang di ketuk.
"Em ... jam berapa ini?" gumam nya sambil melek dan melirik ke arah jam dinding.
"Ya Allah, pukul 6. Aku belum siapkan sarapan buat om Hadi." Alisa buru-baru beranjak dan membuka alat salatnya.
"Eeh, Abang kan gak ada, dia di rumah sakit." Alisa menggeleng.
Terdengar suara yang memanggil namanya dari balik pintu.
__ADS_1
"Alisa ... sudah bangun belum, Nak? sudah siang nih!" suara ibu mertua dengan lirih.
"I-iya, Bu ... sudah!" Alisa bergegas mendekati pintu dan membuka nya.
Blak ....
Sang ibu mertua menatap Alisa yang tampak sekali bangu tidur. "Lisa baru bangun tidur bukan?"
"Iya, i-itu. Bu ... Lisa ketiduran sehabis subuh." Ralat Alisa sambil membuka ikatan rambutnya dan berjalan mendekati meja rias ingin merapikan rambutnya.
"Tumben sekali Lisa baru bangun?" ibu mertua memasuki kamar tersebut.
"Em, Lisa ketiduran sehabis salat tadi. Lagian sudah beres-beres kok, Bu ..." jawabnya Alisa sembari menyisir.
"Ibu mau ke rumah sakit jenguk Diana. Lisa mau ke sana?" tutur ibu mertua.
Alisa terdiam sejenak. "Aku kemarin sore ke sana. Dan nanti sepulang kerja Lisa mau kesana lagi sambil memberikan berkas pada om Hadi eh Abang!"
"Ooh, ya sudah kalau begitu. Ibu sendiri saja ke sananya--"
"Ibu jangan ke sana sendirian. Di antar supir saja ya? atau nanti pak Mur, Lisa suruh pulang agar mengantar Ibu ke rumah sakit ya?" Alisa memotong perkataan dari ibu mertuanya tersebut.
"Nggak usah, biar Ibu sama pak Ujang saja. Kalau supir Lisa takutnya Lisa ada urusan mendadak keluar, biar ibu sama yang ada di rumah saja." Tolak sang ibu mertua.
"Baiklah, kalau begitu." Alisa bergegas masuk ke ruangan pakaian untuk berganti kostum dengan pakaian formal.
"Jangan pergi dulu, sarapan dulu, Nak ..." tutur nya wanita sepuh itu sambil berdiri hendak keluar dari kamar tersebut.
"Iya, Bu ..." Alisa meraih tas lalu menggandeng tangan ibu mertua.
"Lisa ingatkan Hadi untuk sarapan dan makan, dia suka lupa!" lirih ibu mertua sambil berjalan bersama.
"Iya, Bu ... kemarin juga aku bawakan makan buat om Hadi eh. Abang." Alisa menimpali.
"Nah, itu maksud nya! dia suka begitu." Tambahnya ibu mertua.
Setibanya di lantai bawah. Alisa dan ibu mertua langsung ke dapur dan Alisa hendak membuat susu hangat.
"Non, sarapan dah siap." Kata mbak sambil menunjuk ke meja.
"Iya, Mbak. Aku mau buat susu hangat doang. Nanti ku makan kok. Ibu mau susu hangat?" Alisa mengalihkan pandangan ibu.
"Boleh," jawabnya ibu mertua.
__ADS_1
Melihat Dania menghampiri meja makan membuat ibunya Hadi bertanya.
"Dania, kapan kau pulang?" sambil menatap lekat.
Manik mata Dania melirik ke arah ibunya Hadi. "Aku pelang sekitar 30 menit yang lalu. Lanjut mandi. Karena aku harus ngantor. Oya nanti siang ibu ku mau datang mungkin langsung ke rumah sakit."
"Ooh, gimana ke adaan Diana sekarang?" tanya ibu Hadi.
Alisa terdiam sambil berpikir, apakah semalam ... Hadi pang hanya untuk mengunjunginya saja tanpa menemui ibunya? memang waktu dini hari sih, mungkin saja Hadi gak enak bila mengganggu ibunya yang sedang tidur.
"Em ... begitu lah, Bu ... kondisinya seperti dan tidak ada perubahan. Padahal dari pada seperti itu mendingan ma--"
"Huus. Kamu ini bicara apa sih? pamali jangan bilang seperti itu, justru kita harus doakan agar dia sehat dan Allah angkat penyakitnya itu!" tutur ibunya Hadi yang tidak suka Dania bicara seenaknya.
"Bukan begitu. Aku cuma kasihan saja dengan kondisinya seperti yang itu." Ralatnya Dania sambil sarapan.
"Aku pergi dulu ya, Bu?" Alisa pamitan sama ibu mertua setelah menikmati sarapannya.
"Iya, Hati-hati yang Lisa." Pesan sang ibu mertua yang tangannya di cium oleh Alisa.
"Iya, Bu!" Alisa mengangguk. Kemudian meraih tas dan beberapa berkas yang ia tenteng.
Setelah itu, Alisa mengayunkan kedua langkahnya sambil menenteng berkas yang dia masukan ke dalam mobil.
"Pak, nanti mampir dulu ya di warung makan. Dan setelah aku sampai di kantor antarkan makanan buat tuan." Pesan Alisa pada pak Mur yang langsung menanggapi dengan anggukan.
Ketika mobil siap untuk jalan. Tiba-tiba Dania mengetuk pintu. "Hai. Boleh numpang ke depan ya? please ..." seakan menyatukan kedua tangannya di dada.
Alisa menarik nafas dalam-dalam. "Emang tempat kerja Tante di mana gitu?" tanya Alisa sambil menurunkan kaca jendela.
"Di depan, tidak jauh kok, ikut ya?" Dania langsung menarik handle pintu depan samping supir walaupun Alisa belum mengijinkannya.
"Lho, kok mesin masuk saja sih? tapi tak apa lah. Oke, kalau ke depan. Asal jangan putar-putar saja." Mau tidak mau ya ... mau gimana lagi. Dania dah masuk.
"Dirga, ayo masuk? pergi sekolahnya sama Kak Lisa ya!" Alisa memanggil Dirga yang mau masuk mobil satunya.
Dirga mau sekolah yang akan di antar sama pak Ujang. Di panggil oleh Alisa, anak itu langsung menghampiri.
"Pak, supir, Dirga berangkat sama kak Lisa saja!" Dirga langsing menarik tas dan tempat bekalnya makan siang.
Akhirnya mobil yang Alisa tumpangi membawa Dirga dan Dania mengantarnya untuk ke tempat masing-masing.
Bibir Dania tersenyum sinis melirik ke arah Alisa yang duduk bersama Dirga ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Ikuti terus kisah nya, terima kasih pada yang sudah setia dan semoga yang maha kuasa memberikan kesehatan dan rejeki yang melimpah pada kita semua.