
Melihat Dania berada di sana. Alisa sengaja menempel ke Hadi, hingga beranikan diri mencium pipinya. "Aku bawakan makan. Belum makan bukan?"
Dania sungguh muak melihat keberadaan Alisa dan berlagak mesra dengan Hadi. Ingin rasanya melempar tas ke mukanya.
"Belum, saya belum sempat makan!" Hadi mengangguk.
Alisa mendekati Diana yang terbaring sakit tersebut. Lalu mengusap pipi nya. "Tante. Cepat sembuh ya? sedih rasanya ya Allah ... melihat tante Diana seperti ini. Segera angkat lah segala penyakitnya itu, beri dia kesembuhan segera!” gumamnya Alisa dalam hati.
Lalu menoleh ke Hadi yang malah sibuk membuka berkas yang dia bawa dari kantor barusan. “Dasar, bukannya makan. Malah sibuk buka berkas?”
Alisa kembali berjalan mendekati Hadi. “Makan dulu? napa sih?” sambil mendudukan dirinya di dekat pria itu.
“Yang ini nih, salah deh kayanya dan minta di perbaiki lagi nih.” Hadi menunjukan salah satu berkas yang dia anggap belum sempurna.
“Oke, aku akan suruh mereka untuk memperbaikinya. Makan dulu, katanya belum makan.” Suara Alisa pelan.
“Ini juga dikit lagi ada yang kurang, oya besok kamu cek laporan keuangan bulan ini ya, soalnya laporan bulan ini belum aku terima, kau cek aja dan datanya sesuaikan dengan laporan satunya, ngerti lah? gak harus aku jelaskan lagi.” Pesan Hadi sambil menutup berkas tersebut yang sudah dia bubuhi dengan tanda tangan.
“Iya, aku mengerti dan akan aku kerjakan besok.” Alisa mengangguk dan mengerti dengan yang Hadi jelaskan.
“Ini kenapa kancing baju mu terbuka?” suara Hadi pelan seraya menyentuh kancing kemeja Alisa yang paling atas terbuka tapi masih cukup menutupi bagian dada.
“Apaan terbuka? kancing nya aja kok ... bajunya tertutup kok,” Alisa memperhatikan dirinya.
“Iya sih ... saya harap kamu lebih pandai menjaga kehormatan di luar, kamu kan istri saya.” Sambung Hadi dengan suara sangat pelan dan netra yang bergerak melihat ke arah yang lain.
Alisa tidak menjawab, dia memilih mengambil makan nya Hadi yang malah di anggurin. Lalu Alisa menyuapi Hadi. “Aa ... buka mulutnya? Susah amat sih makannya, nanti kamu sakit dan siapa juga yang repot nanti.”
Hadi membuka mulut nya sambil mesem juga. “Kau takut aku sakit?” selidik Hadi sambil menggoda namun dengan suara yang pelan.
“Apa kau lupa, kalau istri mu itu sedang terbaring sakit? kalau kau sakit. Siapa yang akan merawat tante?” elaknya Alisa sambil memanyunkan bibirnya.
“Iya-iya ...” Hadi mesem-mesem, rasanya gemas dan ingin melakukan sesuatu. Namun apa daya di sana ada orang jadinya harus ditahan.
Dania yang tampak kepanasan melihat Hadi dan Alisa, hanya bisa menghela nafas dan membuang muka.
"Ya sudah, aku pulang dulu ya?" Alisa beranjak setelah selesai menyuapi Hadi.
Hadi terdiam dengan helaan nafas yang berat. "Iya, sama pak Mur, kan?"
__ADS_1
"Iya, dia menunggu di bawah." Alisa menyoren tas dan beberapa map di tangan.
Namun sebelum pergi, Alisa mendekati Diana yang kini terbangun yang sedang berdekatan dengan Liana.
"Tante, aku pulang dulu ya?" memegang tangan nya.
"Kenapa buru-baru Lisa ... temani Abang di sini," tutur Diana.
"Lisa belum mandi, dan ... besok mau masuk kerja juga. Tante cepat sembuh ya? biar cepat pulang!" ucap Alisa dengan lirih.
"Doakan saja ya Lisa ..." balas Diana lagi.
"Iya, Lian ... Dirga. Aku pulang dulu!" Alisa pamit pada kedua anak sambung nya itu.
Dirga mengangguk. "Iya Kak. Aku mau ikut pulang ya Kak?" Dirga melirik ke arah Liana dan Alisa bergantian.
"Ayo! kalau mau pulang sama Kak Lisa." Ajak Alisa dengan senang hati.
"Em ... boleh, Al. Titip ya?" Liana melirik ke arah Alisa yang kini berdiri.
"Kau ini, kaya sama siapa aja orang pulang ke sana juga!" Alisa mesem.
"Mah, Dirga pulang dulu ya! capat sembuh juga," Dirga mencium tangan Diana yang terdapat jarum infus tersebut.
Diana hanya memberi isyarat dengan matanya saja.
"Yo, Dirga." Alisa merangkul bahunya Dirga berjalan dan Alisa pun menyempatkan diri tersenyum pada Dania yang tampak merasa senang.
Dania senang, karena Alisa tidak akan berada di sana. Sehingga dia punya kesempatan buat dekat-dekat dengan Hadi.
Hadi bukannya antar Alisa ke mobil. Dia malah mendekati istri pertamanya, Diana. "Sayang, sudah bangun? belum makan dan minum obat."
Hadi mengambil makan Diana yang sudah lewat jam makan karena dia tidur nyenyak.
"Tadi dokter memeriksa sayang, tidur masih!" Hadi menyuapi sang istri.
Diana membuka mulutnya. Dan perlahan mengunyah. "Aku gak lapar."
"Haris makan, Mah ... paksain!" Liana mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
Diana mendekat lantas duduk di dekatnya Hadi. "Mbak itu harus cepat sembuh karena itu harus makan juga. Nanti tambah sakit bila tidak makan! iya kan Bang?"
"Benar, sayang harus makan! Abang tidak mau sayang sakit terus. Ini cukup yang terakhir saka!" Hadi dengan lirih sambil terus menyuapi sang istri.
"Abang, jangan khawatir. Ini yang terakhir kok, kalian juga jangan cemas nanti aku sembuh." Suara Diana pelan.
Alisa yang berjalan bersama Dirga, sesekali menoleh ke belakang. Kali saja Hadi menyusul untuk sekedar mengantarnya ke mobil, namun tidak ada bayangnya sedikitpun. Bikin hati Alisa kesal. Tetapi apalah daya dia harus mengerti kalau Diana lah yang harus lebih di prioritaskan oleh Hadi.
Lagian Alisa ini hanya di peruntukan buat teman ranjang saja kali.
"Kak, lapar. Beli bakso yo?" Dirga mengusap perutnya sambil mendongak.
"Boleh, kita cari di depan ya!" timpa Alisa sambil menyimpan berkas ke dalam mobil.
"Pak, kita mau cari bakso dulu di depan. Mau di pesankan gak? nanti ku bawakan!" tawar Alisa pada pak supir yang Hadi panggil pak Mur.
"Tidak usah, Non. Bapak sudah maka masih kenyang." Jawab pak Mur mengangguk hormat.
"Ooh, ya sudah kalau seperti itu." Kemudian Alisa merangkul bahu Dirga berjalan mencari bakso yang katanya ada di sekitar itu.
Keduanya makan bakso di sana berdua.
"Kak, kalau mama meninggal gimana ya?" Dirga dengan tiba-tiba bicara seperti itu.
Alisa yang sedang asyik makan dengan refleks mengangkat wajahnya dan juga mengalihkan pandangan dari Dirga ke lain arah.
Hatinya Alisa dibuat mencelos. Sedih mendengarnya. "Dirga harus terus berdoa ya. biar mama sembuh lagi seperti dulu!"
"Tapi lama banget, Kak ... kasihan. semakin hari malah semakin parah." Suara Dirga dengan nada sedih sambil mengaduk bakso di mangkuk.
Alisa menggeser duduknya dan memeluk anak itu. "Sabar ya? Allah itu sayang sama mama, dan Allah akan memberikan yang terbaik."
"Sayang gimana, Kak ... mama sakit dan itu bikin tersiksa!" Dirga protes.
"Sekarang, Dirga habisin dulu makannya ya? nanti bicaranya. Sayang kan kalau gak habis! tidak sedikit lho anak-anak yang gak bisa makan enak seperti Dirga." Alisa menghela nafas dalam-dalam sambil menatap anak itu yang tampak sedih ....
...🌼----🌼...
Jangan lupa like komen dan lain nya ya? makasih semua reader tersayang, semoga kalian sehat dan murah rejekinya juga🤲
__ADS_1