
Semua orang yang berpapasan dengan Hadi dan Alisa termasuk scurity mengangguk hormat.
Setibanya di ruangan kerja. Manik mata Alisa terpukau dengan bunga-bunga kesukaannya berjejer memenuhi di ruangan kerja tersebut bak taman bunga saja.
"Ya Allah ... bunga. Ini semua buat aku?" Alisa menatap ke arah Hadi, suaminya dengan tatapan penuh haru.
"Iya sayang ... ini semua buat kamu." Hadi tersenyum sambil memegangi sebuket bunga kesukaan Alisa yang bertuliskan.
Terima kasih sayang, sudah mau mengandung benih dari cinta kita i love you
"Makasih yank ... makasih banget!" Alisa mengambil bunga dan lalu memeluk Hadi dengan sangat erat.
Hadi membalas pelukan sang istri. "Sama-sama sayang dan aku juga berterima kasih karena kamu mau membesarkan benih dariku!"
Alisa memudarkan rangkulannya. Dan menciumi bunga yang ada di pelukannya! juga bunga-bunga yang ada di ruangan itu. Setelah menikah, dia lebih dibuat menyukai bunga-bunga apalagi sering di diberi hadiah bunga dari sang suami, membuat tambah suka saja.
Sesaat kemudian. Hadi sudah mulai beraktifitas dengan kerjaannya. Dan Alisa pun dia mulai berkutat dengan laptop dan beberapa berkas.
Hari sudah menunjukkan sore dan sunset pun sudah keluar nampak indah di pandangan mata. Alisa dan Hadi sudah berada di dalam mobil untuk menuju pulang namun dia mampir dulu ke swalayan untuk membeli susu bumil.
"Susunya mau rasa apa sayang? ini banyak varian rasanya nih! aku jadi bingung." Hadi menawarkan beberapa varian rasa.
"Tapi kan Yank ... aku nggak punya keluhan apapun, maksudnya belum. Jadi aku harus beli susu apa ya? bingung sendiri!" Alisa pun kebingungan.
Kemudian Hadi pun mencari dan meneliti. "Ini sayang susu buat mengurangi mual dan pusing nih. dan rasanya mau apa?" Hadi menunjuk ke berapa merk susu bumil yang berada di jajaran atas.
Alisa pun melihat ke arah tumpukan susu bumil yang berjejer rapi yang berada di atas dan dia sendiri tidak bisa menjangkaunya.
"Mau yang mana sayang? mau rasa buah. Vanilla atau ..."
"Nah itu tuh ... yang coklat aja lah. Lagian kalau rasa lain belum tentu aku suka." Alisa menunjuk susu ibu hamil yang rasa coklat.
"Oke." lalu Hadi mengangkat pinggangnya Lisa agar dia bisa menjangkaunya sendiri susu bumil yang dia mau.
Setelah tubuhnya melayang di udara Alisa pun mengambil susu bumil yang rasa coklat dan setelah itu barulah Hadi menurunkan tubuhnya Alisa kembali dan berdiri tegak.
"Ngambilnya yang kecil, nggak yang besar gitu?" tanyanya Hadi sambil melihat barang yang berada di tangan.
"Kan ini baru mau nyoba! nanti kalau emang udah enakan, cocok baru beli lagi. Kalau nggak diminum kan sayang, atau mubazir! kecuali kalau kamu mau meminumnya!" Alisa menyimpan barangnya di keranjang belanjaan.
__ADS_1
"Nggak mau! aku daripada aku minum susu bumil mendingan minum susu tanpa kemasan yang asli dari pabriknya langsung." jawabnya Hadi.
"Emang ada susu tanpa kemasan dari pabriknya langsung?" selidik Alisa.
"Ada dong, yang setiap malam aku minum." Tambahnya Hadi sekenanya.
Alisa mengerutkan kening emang suaminya minum susu apa? perasaannya nggak pernah bikinkan ataupun menyediakannya! kecuali pagi-pagi susu hangat itu pun dari kemasan atau kaleng.
"Ya sudah, kalau nggak ngerti!" Hadi mengibaskan tangannya. sambil mendorong troli belanjaan.
Setelah membeli susu bumil, mereka pun segera pulang dan tidak lupa membeli beberapa buah-buahan kesukaan Alisa.
"Nggak ada yang mau di beli lagi?" tanya Hadi setelah berada di dalam mobil.
Alisa menggeleng seraya berkata. "Nggak mau ah, sudah aja."
"Ya sudah, jalan Pak?" pinta Hadi pada supir.
"Baik, Tuan." Pak Mur mengangguk lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Alisa mengemil buah-buahan di sepanjang jalan. Padahal sebelumnya Alisa tidak suka ngemil.
Bibir Hadi menyembunyikan senyumnya melihat sang istri yang sudah beberapa biji habiskan buah jeruk dan apel.
"Aku sih nggak aneh! sudah sering hadapan wanita hamil, cuman ya gitu. Biasanya kamu nggak pernah hamil sekalipun buah, tapi sekarang kulihat belum 10 menit sudah banyak berapa buah yang kamu habiskan! yang sehat aja ya bumil ku?" balasnya Hadi sembari tersenyum dan mengusap perutnya Alisa.
Kini tangan Alisa pun memegangi tangan Hadi yang berada di atas perutnya. Entah kenapa merasa nyaman saja ketika perutnya disentuh oleh sang suami. Seraya menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.
Selang beberapa saat di perjalanan. Baru saja Hadi dan Alisa sampai di mansion, langsung disambut riang oleh di ganteng untuk Dirga.
Dirga menyambut orang tuanya ketika baru saja turun dari mobil.
"Mommy, beneran kan Mommy hamil? bayi nya dua apa satu? laki-laki atau perempuan?" Dirga mengajukan berapa pertanyaan kepada Hadi dan mommy nya dengan tatapan yang bergantian.
Alisa tersenyum saya berkata. "Iya, Mommy hamil tapi kan belum ketahuan laki-laki atau perempuan nya. Belum di USG sayang berapa bulan lagi ya kan yank?" Alisa melirik ke arah sang suami.
"Iya, untuk mengetahui laki-laki atau perempuan itu nanti USG dalam berapa bulan lagi bukan sekarang! jadi sabar aja dulu ya? yang penting doain biar semuanya sehat mommy nya juga adik bayinya ya?" tambahnya Hadi.
"Ya ... harus nunggu lagi dong! tapi tidak apalah yang penting mommy sekarang sedang hamil dan akan memberikan aku adik, semoga saja, ya Allah ... bayi nya dua! laki-laki dan perempuan. Aku janji, aku akan menyayanginya dan akan mengasuhnya!" gumamnya Dirga sembari mendongakkan wajahnya ke langit serta mengusap wajahnya.
__ADS_1
"Terima kasih ya Abang ... sudah ngeluarin Mommy. Doain biar sehat juga ya Mommy maupun calon bayinya." Alisa mengacak rambutnya Dirga.
"Iya, Mom. Aku rasanya gak sabar untuk menunggu adik bayi lahir, berapa bulan sih nunggu Dede bayi lahir?" selidiknya Dirga sembahyang menata ke arah Alisa.
"Nunggunya 9 bulan lebih, Dirga ..." jawab sang ayah sambil berdiri memegangi tas kerja nya.
"Kok 9 bulan lebih? sekarang kan sudah diambil berapa bulan!" Dirga mengerutkan keningnya.
"Iya benar. Sekarang aja baru 2 bulan kurang! berarti tinggal ngitung sisanya!" timpalnya Alisa.
"Ooh gitu, ya sudah berarti aku tinggal menunggu ya? sabar-sabar ... orang sabar badannya lebar. Aku mau nonton dulu ach." Anak itu mengelus dadanya lalu Dirga menaiki anak tangga.
"Jangan lupa salat magrib ya?" pesan Alisa.
"Iya, Mom." Dirga mengangguk sambil mempercepat langkahnya.
Kemudian Hadi langsung masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri, setelah mencium tangan sang ibu mertua Alisa pun menyusul sang suami.
"Sudah belum mandinya," selidik Alisa ketika melihat sang Suami yang masih juga memakai kemeja yang tadi dan duduk memangku laptop.
"Belum, pengen di mandiin!" jawabnya sambil melirik dengan lirikan nakal.
Kedua manik mata Alisa memutar. Lanjut Alisa mengambil pakaian ganti di wardrof. Sesaat kemudian Alisa pun kembali membawa pakaian ganti untuknya dan juga Hadi.
"Katanya mau mandi ... ayo dong ..." Alisa ngajak Hadi untuk mandi.
"Baiklah sayang ku ..." Hadi berdiri, setelah menutup laptop nya ia simpan di atas meja.
Kemudian berjalan mendekati sang istri yang sedang membuka jam tangannya dan dengan gegas. Hadi mengangkat tubuh sang istri di bawanya ke kamar mandi.
Dengan refleks Alisa mengalungkan kedua tangannya di pundak Hadi. "Eeh," tatapan Alisa begitu lekat pada wajah tampan itu yang kadang memanjakannya.
"Waw ... bunga lagi." Gumamnya Alisa sambil melihat ke dalam kamar mandi yang terdapat beberapa bunga di beberapa sudut.
Alisa, Hadi turunkan, lalu Alisa berjalan mendekati bunga yang di pas nya. Ia sentuh dan ia ciumi dengan bibir yang merekah mengembang.
"Ya Allah ... di kantor bunga, di kamar mandi juga bunga. Tapi di kamar tidak ada?" Alisa menolehkan kepalanya pada Hadi yang sedang membuka bajunya.
"Tunggu saja kejutannya nanti. Sayang mau kamar kita bertabur bunga? boleh. Apapun yang dapat membahagiakan istri ku ini, akan di lakukan!" Hadi memegangi kepala Alisa serta di kecupnya berkali-kali ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Ayolah ... jangan lupa jempol nya agar tambah semangat nih.