
Setelah kepergian kawan sekaligus pengacaranya itu, Hadi ambil map yang di atas meja yaitu surat kesepakatan tersebut, ia buka dan dibaca dengan seksama. Lalu dia simpan di laci lantas dia kunci.
Kemudian dia membereskan mejanya, bersiap untuk pulang. Di luar ruangan bertemu dengan Zidan dengan menenteng sebuah tas kerjanya yang berwarna coklat.
“Kabar Alisa gimana ya?saya hubungi gak pernah di balas.” Zidan melihat ke arah Hadi yang berjalan dengan langkah santai.
“Baik. Mungkin dia lagi malas dan makanya tidak membalas chat darimu. Maklumlah suasana hati perempuannya naik turun,” balas Hadi sok tau.
“Hem, rumahnya di mana ya? aku mau main ke rumahnya, siapa tau akan diterima oleh orang tuanya.” Zidan kembali bertanya karena dia penasaran juga dengan keberadaan Alisa.
Hadi menghentikan langkahnya sambil menoleh ke arah Zidan yang menatap dirinya berharap jawaban. “Kau itu mendekati orang tua nya atau mendekati orangnya?”
“Ya … orangnya, Cuma siapa yang tahu kalau mendekati orang tua nya akan lebih mudah untuk mendapatkan orang nya. Iya gak?” Zidan menaik turunkan alisnya.
“Hem ... tanyakan saja pada orangnya nanti ya, saya tidak ada hak untuk memberi tahu siapa pun. Nanti dia ngamuk sama saya, biarpun kelihatannya lembut di balik itu dia galak juga bagai singa lapar.” Hadi melanjutkan langkahnya.
“Iya kah? bisa macam itu?” selidiki Zidan sambil mengikuti langkahnya Hadi.
“Ya ... seperti itu lah,” sahutnya Hadi tanpa menoleh lagi.
Zidan berdiri terpaku memandangi punggungnya Hadi.
Hadi memasuki mobilnya, kemudian melaju dengan cepat meninggalkan kantornya menuju salah satu tempat yang ingin dia kunjungi sebelumnya pulang. Dan sekalian menjemput seseorang.
Mobil melaju dengan cepat dan Hadi begitu fokus menyetir sehingga tidak menghiraukan panggilan teleponnya, yang terus berbunyi.
Kendaraan yang dibawa Hadi itu berhenti di area pemakaman dan Hadi memasuki tempat tersebut. Rupanya dia ziarah ke makam ayah handa nya yang sudah lama meninggal.
“Assalamu'alaikum?” Hadi berjongkok di samping makom tersebut.
Dia membacakan doa dengan khusuk. Doa untuk ayah handa. Setelah itu beberapa saat kemudian Hadi mengusap wajahnya lalu berdiri beranjak dari tempat tersebut.
Lalu kemudian Hadi meluncurkan kembali mobilnya ke suatu tempat untuk menjemput sang ibu yang tinggal bersama sang kakak, yaitu Dedi.
Selang sekitar tiga puluh menit dalam perjalanan. Pada akhirnya tiba juga di depan rumahnya Dedi.
“Assalamu'alaikum ... Ibu sudah siap?” kedatangan Hadi langsung di sambut oleh sang ibu yang tampak sudah siap untuk ikut dengannya. Hadi pun langsung memegang tangan sang bunda di ciumnya penuh rasa hormat.
“Wa'alaikumus salam … iya Ibu sudah siap, takut keburu hujan, langit sudah tampak mendung, kan?” balasnya sang bunda sambil memeluk putra keduanya.
“Nggak mau masuk dulu?” sapa Dedi, kakaknya Hadi yang muncul dari balik pintu.
“Iya, Bang. Kami pergi sekarang saja.” Hadi menuntun tangan sang bunda dan tangan satunya menjinjing tas pakaian milik sang bunda.
__ADS_1
Sebelumnya mengucap salam ke arah sang kakak. Yang langsung membalasnya dan juga melambaikan tangannya.
“Pelan-pelan, Bu ... Hati-hati.” Kata Hadi sambil tetap pegang tangan sang ibunda.
"Hadi ... apa yakin kau akan menikah lagi, jujur. Ibu takut kau itu tidak bisa adil, berat mempunyai istri dua itu!" tutur sang bunda.
"Insya Allah. Bu ... lagian ini permintaan Diana, justru saya khawatir bila tidak dipenuhi." Jawabnya Hadi sambil bersiap menyetir.
"Syukur kalau Diana ridho. Dan Ibu harap ... kau menjadi suami yang baik dan adil. Sayang sama istri dan anak-anak! intinya sayang sama keluarga, itu harap Ibu," ujar sang ibu kembali.
Hadi mengangguk tanda mengerti. Hadi melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kediamannya. Dan langit mulai kembali menangis mengucurkan air hujan walaupun gerimis.
Setibanya di kediaman Hadi Dirgantara. Sang ibu di sebut hangat oleh cucu-cucunya.
"Oma ... kenapa baru datang? Dirga kangen sama Oma." Sambut Dirga sambil memeluk sang Oma dari sang ayah.
"Oma, kan baru papa jemput sayang!" Omanya membalas pelukan cucu bungsu.
"Assalamu'alaikum ... besan. Apa kabar? kok baru datang?" sambut ibunya Diana.
"Wa'alaikumus salam ... Alhamdulillah baik. Iya baru di jemput, besan ... dari kapan besan datang?" balas ibunya jadi dengan lirih.
"Kemarin lusa kalau gak salah, ayo masuk?" ajaknya sambil memegangi tangan ibunya jadi yang usianya lebih sepuh.
"Oma, apa kabar?" kini Liana yang memeluk Omanya.
"He he he, sibuk Oma ... gak sempet!" akunya Liana.
"Oya, sibuk ... ya? sibuk pacaran apa benar sibuk kuliah?" tanya Omanya lagi.
"Kuliah Oma ... serius!" jawabnya Liana.
Diana yang baru datang bersama Alisa langsung mendapat tatapan lekat dari sang ibunda Hadi. Yang khususnya Alisa menjadi tujuan wanita sepuh itu.
Lalu melirik pada putranya. "Itu Alisa yang dulu masih kecil segini bukan?" menunjuk Alisa sembari memberi contoh tinggi anak-anak.
Hadi menunjukan senyumnya. "Iya, Bu ... dia calon istri saya!"
"Masih kecil bukan, besan?sebenarnya lebih sebanding Dania, Hadi itu. Dia masih kecil." Celetuk ibunya Diana.
Semua menoleh pada Bu Lia yang nyeleneh bicaranya. Asal nyablak dikira biasa saja nada bicaranya itu.
Diana termenung. Dibuat speechless, tak dapat berkata-kata.
__ADS_1
"Masya Allah ... kau cantik sekali Nak ... Kau sudah sebesar ini dan mau menjadi istrinya putra Ibu." ibunya Hadi memegangi kedua tangan Alisa dan menatap nya lekat, bibirnya pun tak luput menunjukan sebuah senyuman.
"Apa kabar, Bu ... lama tidak ketemu ya?" Alisa mencium tangan calon ibu mertua.
"Iya, lama sudah kita tidak bertemu. Kau semakin cantik saja, ya Allah ... hampir pangling, Ibu." Lirihnya ibu Hadi.
"Biasa saja, Bu." Alisa tersipu malu.
Kemudian ibunya Hadi mendekati Diana yang tersenyum. "Diana, gimana kabar mantu Ibu?"
"Begini saja seperti yang Ibu lihat, tidak ada perkembangan nya, Bu!" balas Diana sambil berpelukan dan mata yang berkaca-kaca.
"Yang sabar ya, Diana? Allah tidak akan memberi cobaan, bila umatnya tak mampu, Ibu selalu mendoakan untuk kebaikan mantu Ibu ini," tutur ibunya Hadi.
Setelah kangen-kangenan, mereka pun masuk dan berkumpul di ruan tengah.
"Saya mau mandi, tolong siapkan air hangat?" pinta Hadi pada Alisa yang sedang mengobrol dengan Diana dan dan ibunya.
Semuanya melihat ke arah Alisa.
"Iya," Alisa mengangguk. Lalu berpamitan kepada Diana dan yang lainnya.
Alisa berdiri dan mengayunkan kakinya. Namun pas melintasi Dania, kakinya di selonjor kan. Sehingga kaki Alisa membentur dan hampir terjatuh, tubuhnya oleng ke depan dan Hadi langsung menyangganya.
Sehingga Alisa bisa menyeimbangkan lagi tubuhnya dengan perasaan hampir spot jantung.
Semua terkesiap melihat Alisa yang hampir saja terjatuh bila tidak ada Hadi. Dan akhirnya bernafas lega.
Dania yang membuat ulah, malah dongkol. Niat hati ingin menjatuhkan Alisa malah dapat pelukan dari Hadi, sungguh jauh dari ekspetasi.
Buru-baru, Dania menarik kakinya agar semua terlihat baik-baik saja.
"Alisa, hati-hati dong? kamu ini kaya anak mau punya adek saja, tiap kali jatuh." Kata Liana sambil menatap ke arah Alisa yang nyengir padanya.
"Lisa, okay?" suara Diana lirih tampak cemas.
"Okay, Tante!" Alisa mengangguk pelan, Lalu bergegas menjauhkan tangan Hadi dari pinggangnya.
Sesaat kemudian. Alisa meneruskan langkahnya berjalan menuju kamar Hadi yang berada di lantai atas ....
.
Baru selesai revisi. Semalam author kurang enak badan.
__ADS_1
Mohon dukungan nya ya?
Makasih!