Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Curiga


__ADS_3

Hadi memakai kimono handuk, setelah sebelumnya memberikan handuk lain ke Alisa.


"Sayang, aku balik ke mara dulu, karena barang semua di sana." Hadi hendak menyentuh dan mengecup pipi Alisa.


Namun Alisa menghindar. "Sudah wudu, dan cepetan kembali sana! siang nih," sembari melirik ke arah jam.


Hadi tersenyum dan buru-baru keluar dari kamar Alisa menuju kamar sebelah.


Setibanya di kamar nya, Hadi menemukan Zidan yang baru saja mandi.


Zidan Menatap heran ke arah Hadi dengan pandangan meneliti. Intens dari atas ke bawah. Hadi yang dari semalam tidak ada dan balik-balik dengan handuk kimono serta tampak segar ketara baru selesai mandi.


Jelas bikin Zidan bertanya-tanya. Heran dengan, beberapa pertanyaan bergolak di dalam hati nya. "Dari mana Bos?"


"Em, dari--" Hadi tidak melanjutkan kalimatnya dan memilih berpakaian dan buru-baru menunaikan kewajibannya biarpun terlambat.


"Bos, jam segini baru ..." Zidan menggeleng dan tidak habis pikir.


Namun, dia curiga kalau Hadi dari kamar Alisa. Pikirannya mulai melayang dan traveling kemana-mana.


"Jangan-jangan dia dari kamar Alisa, tapi gak mungkin." Zidan menggelengkan kepalanya.


Saat ini Hadi sudah berpenampilan rapi dan formal. Lalu keluar lagi dan membuat rasa penasaran Zidan membuncah sehingga dia pun mengintip dari pintu.


Dan ternyata ... Hadi masuk ke dalam kamarnya Alisa.


Degh!


Berjuta dugaan memenuhi benaknya Zidan. Curiga dan sebagainya terus bergemuruh dalam batin Zidan, sesak dan kecewa pun menghiasi perasaan nya saat ini.


Alisa sedang memasukan mencuci pakaian kotornya di wastafel termasuk pakaian Hadi bekas barusan.


Tiba-tiba tangan kekar memeluk perutnya dari belakan dan menindih kepalanya dengan dagu, Alisa memandangi sekilas dari pantulan cermin.


Dimana pria yang baru saja menjadikan dia pria seutuhnya itu sudah berada lagi di sana, bak perangko yang tidak mau jauh.


"Aku lapar," gumamnya Hadi sambil mengeratkan pelukannya itu.


"Makan lah!" balas Alisa sambil mengucek cucian.


"Makan kamu." Goda Hadi sambil mencium pucuk kepala Alisa.


"Iih, apaan sih." Alisa tersipu sambil menggeleng.


"Semalam kenapa kau memaksi pakai yang menggoda aku hem? kan aku jadi gak kuat!" selidik Hadi sembari terus memeluk wanitanya itu.

__ADS_1


"Suruh siapa kau masih, aku sendirian kok, lagian entah kenapa piyama. Lupa ku masukan, sementara ini yang gak niat ku bawa malah ada di koper. Aku juga tidak mengerti," akunya Alisa.


"Hem ... aku gak bisa tidur semalam, makanya aku ke sini. Jadi mulai malam tadi aku di sani ya?" Hadi menatap Alisa dari cermin.


"Iih ... jangan!" Alisa menggeleng seraya menatap Hadi lewat pantulan kaca.


"Kenapa sayang? pokonya aku gak mau tidur di kamar lain!" Hadi lah kini yang menggeleng.


"Nanti orang tua, aku gak mau!" lanjut Alisa.


"Ooh, gak bisa aku gak akan bisa tidur bila jauh sama kamu--"


"Ahc, gombal." Pipi Alisa memerah. Bikin Hadi tambah gemas.


"Bukan gombal, nanti saya tidak tidur di sini! kamu masukan si Zidan, gak mau saya." Hadi berkata demikian karena tau kalau Zidan akan mengajak Alisa jalan ke pantai.


Alisa mengangkat wajahnya lagi sembari berkata. "Emangnya kenapa? orang gak bakalan ngapa-ngapain kok."


"Pokoknya gak boleh!" Hadi memberikan kecupan kecil di tengkuknya sang istri.


"Aduh-duh. Duh ... ini apa?" Alisa baru nyadar kalau di lehernya ada beberapa titik merah, dia sentuh dengan perasaan heran. "Ini di gigit serangga bukan sih? masa di hotel gini ada serangga sih? atau semut, tapi di bagian lain gak ada."


Alisa mengamati tangan dan kakinya, mulus tak ada tanda merah satupun.


"Ha ha ha ... sayang ... gak nyadar apa?" Hadi tertawa lepas mendengar gumaman dari Alisa yang polos banget dan gak nyadar.


"Aku kan yang buat itu!" bisik Hadi sambil menarik bibirnya ke samping.


"Ahc ... gimana dong, kelihatan kan! Alisa berbalik jadi berhadapan dengan Hadi. Tangannya memukul pelan dada Hadi yang langsung di tangkapnya.


"Tapi suka kan sayang, hem?" Hadi malah memainkan kedua matanya.


"Iih ... gimana kelihatan orang, malu!" Alisa cemberut.m bikin Hadi gemas melihatnya.


"Iya-iya, nanti ku beli salep nya buat menyamarkan nya. Untuk sementara pake bedak saja dulu, oke?" ucap Hadi yang tetap terkekeh.


Alisa berlari keluar dari kamar mandi, mengambil bedak lantas dia bubuhi lehernya dengan bedak agar tersamarkan merahnya.


"Tuh kan ... masih ada, masih kelihatan?" keluk Alisa dengan nada manja.


Hadi mendekat dan merapikan rambut Alisa ke samping sehingga bisa menutupi tanda kepemilikan tersebut. Untungnya cuma bagian kanan saja.


"Gara siapa ini?" Alisa makin merapikan rambutnya yang terurai itu dan menyamping agar menutupi lehernya.


"Gara-gara siapa ya? yang pasti gara-gara yang menggoda." Hadi menaikkan alisnya.

__ADS_1


"Aish ... siapa juga yang menggoda? orang tidur sendiri kok." Alisa mengerucutkan bibirnya.


"Gak bisa, mulai sekarang gak bisa sendiri lagi." Cuph kecupan kecil mendarat di kening nya Alisa.


"Huuh ... gak mau!"


"Harus, cepetan bereskan kerjaannya! aku tunggu untuk sarapan sudah siang nih sayang ... kita harus ngantor!" Hadi duduk di sofa sambil mengambil ponsel Alisa dan membuka nya.


Alisa pun segera beranjak kembali ke kamar mandi.


"Hem ... istri chat sama siapa nih?" Hadi membaca chatan Alisa dengan Zidan dan beberapa pria beberapa hari lalu. Memang tanggapan Alisa, biasa saja terhadap mereka, namun rayuan mereka cukup membuat Hadi terbakar api cemburu.


Namun tidak bisa apa-apa bila itu masih di batas kewajaran.


Alisa kembali dari kamar mandi. "Ayo, pergi? siang nih!" Alisa menyambar tas nya dan mengecek isinya. "Ponsel ku mana?"


Hadi memberikan ponsel milik Alisa dan tangan Alisa malah di tarik ya sehingga Alisa terduduk di pangkuannya Hadi. Dengan refleks Alisa melingkarkan tangan di leher Hadi, takut jatuh.


Tangan Hadi pun memeluk pinggangnya yang ramping tersebut. "Saya, tidak suka kamu chattan dengan pria lain. Kecuali urusan kerja."


"Kenapa? hak aku dong ... lagian aku gak ada hubungan apa pun kok. Cuma teman saja." kata Alisa.


"Gak ada teman antara pria dan wanita, sesungguhnya kalau tahunya singel. Pastinya akan menyimpan harapan." Tambahnya Hadi.


"Berarti laki-laki memang begitu ya? termasuk Om sama wanita lain. Kalau anggapan Om seperti itu." Alisa menatap lekat.


"Nggak semua juga, tapi sebagian saja." Ralat Hadi sambil mendekatkan wajahnya.


"Ya sudah, anggap saja aku dan emang pria ku tidak termasuk seperti kan?" belanya Alisa sambil berusaha berdiri.


Namun Hadi tahan. Tidak membiarkan Alisa beranjak dari pangkuannya.


"Sudah siang, tau sudah siang ini!" ucap Alisa sambil menjauhkan wajahnya dari Hadi.


"Berikan kiss dulu?" pinta Hadi.


Alisa menggeleng. Malu-malu begini di suruh begitu, mana mau lah.


Hadi mengulas senyumnya. Lalu mengecup bibir Alisa dengan singkat. Lanjut mereka bersiap untuk keluar kamar untuk mencari sarapan. Setelah itu ngantor.


Blak ....


Pintu terbuka, dan di ambang pintu sudah berdiri sosok Zidan yang menatap tajam ke dalam terutama tangan Hadi yang memegangi tangan Alisa ....


...🌼----🌼...

__ADS_1


Ayo-ayo ... jangan lupa like komen dan vote nya nih jangan pelit jempol ya 🙏 he he he ... makasih.


__ADS_2