Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Merepotkan


__ADS_3

Hari ini Alisa ke kantor sendirian tanpa adanya Hadi dan dia harus bisa untuk menghandle semuanya termasuk pertemuan ataupun meeting.


"Karena pak Hadi berhalangan hadir pada meeting ini, jadi hanya di wakilkan pada saya dan pak Zidan." Alisa berkata dengan berwibawa.


"Iya, kita mulai bahas saja tentang kinerja kita yang harus lebih di tingkatkan lagi." Tambahnya Zidan dengan pandangan yang di edarkan pada semua yang hadir di pertemuan ini.


Alisa bikan cuma ikut berbicara, namun wanita yang berpenampilan smart ini juga harus mencatat semua hasil dari pembicaraan di meja ini.


...----...


Karena kodisi yang terus memprihatinkan, akhirnya Hadi memutuskan untuk membawa Diana ke rumah sakit besar biar dia dirawat di sana dan mendapat perawatan lebih insentif.


Hadi yang dengan setia menemani sang istri, ibu yang ingin menemani pun Hadi larang dengan alasan kesehatan sang ibu. Dania yang tadi ikut pun entah kemana, katanya sih mau kerja.


"Abang ... aku di sini bisa dengan suster kalau Abang mau ngantor, pergi saja. Aku tidak pa-pa." Suara Diana lirih sangat.


"Tidak apa, Abang bisa pantau kerjaan dari sini kok." Hadi mengusap tangan Diana dengan lembut.


"Tapi Abang pasti banyak kerjaan." Tambahnya Diana menatap lekat ke arah sang suami.


"Ada Alisa yang urus semuanya, dan dia akan bertanya atau hubungi aku bila dia benar-benar kurang faham atau pun membutuhkan ku!" sambung Hadi dengan lirih.


"Anak itu, bisa? pintarnya dia." Tambahnya Diana.


"Dia itu bisa kalau di kasih kepercayaan yang pull, biarkan dia belajar agar di bisa dan ngerti dunia bisnis," sambungnya Hadi.


Bibir dia tersenyum dan dia tidak berkata-kata lagi selain memejamkan mata! menikmati rasa sakit yang menyerangnya saat ini.


Dan Diana tidak ingin terlalu memperlihatkan betapa menderitanya dia dengan penyakit yang dia idap. Tangan Diana memegangi tangan Hadi yang tidak jauh dari dirinya sambil membuka laptop di pangkuan.


Yang terbayang di ruang mata saat ini adalah pernikahan Hadi dengan wanita yang ia persembahkan untuk sang suami tercintanya.


"Ya Allah ... jadikan rumah tangga suami dan madu ku bahagia dan langgeng. Aku ikhlas meninggalkan suami dan anak-anak ya Allah." Batinnya Diana dengan penuh keikhlasan.

__ADS_1


Hadi yang terus memantau kinerja di kantor sesekali tersenyum. Dan menoleh pada sang istri yang tampak terpejam itu.


"Abang?" suara lirih nya Diana sembari membuka matanya sedikit.


"Iya, sayang ... ada apa? mau ke toilet atau mau apa?" Hadi menutup laptop nya dan melirik ke arah sang istri.


"Aku ingin ke toilet. Abang bisa kan bawa aku ke sana?" suara Diana yang sangat pelan.


"Tentu sayang, Abang bawa sayang ke sana." Hadi bergegas turun dan bersiap memangku tubuh Diana yang semakin terasa ringan tersebut. Tidak lupa membawa kantong infusan ke dalam toilet.


Diana yang ingin buang air besar pun duduk di kloset duduk di tungguin oleh Hadi sampai selesai dan membersihkannya.


"Maaf, Abang ... aku merepotkan Abang, tapi pasti ada masanya semua ini berakhir!" ucap Diana sambil di pangku oleh Hadi dibawa kembali ke tempat tidur nya.


"Iya, harap Abang juga kalau ini segera berakhir dengan kesehatan sayang agar kita dapat berkumpul dan bahagia seperti dulu lagi." Hadi penuh harap biarpun harapan itu sangatlah tipis untuk Diana sembuh kembali.


Namun tidak ada yang tahu, nasib orang di masa yang akan datang.


Tidak satupun orang yang tahu rahasia Tuhannya. Tentang dirinya ataupun tentang yang lainnya, manusia hanya bisa berencana dan Tuhanlah yang menentukan itu semua.


Hadi sangat mencintai dia, istrinya dari awal sampai akhir hayat nanti. Dalam keadaan nya yang lemah, Diana terus mengulas senyum pada Hadi. Wanita itu bahagia memiliki pendamping seperti Hadi.


"Abang ... jangan sia-siakan Alisa ya? dia juga butuh kasih sayang dan perhatian dari Abang selaku suaminya!" tutur Diana dengan suara yang pelan.


"Sayang ... Abang mohon! jangan banyak pikiran atau pun itu, fokus saja dengan kesehatan sayang ya?" Hadi mengelus kepala Diana yang di balik kerudungnya itu rambut yang sangat tipis.


Hati hadi mencelos, sedih. Kasihan bercampur pedih, tak tega melihat kondisi ini yang bukannya membaik malah semakin parah. Hadi akan berusaha semaksimal mungkin agar sang istri sehat kembali.


Dan Hadi sudah membuat keputusan, kalau dalam beberapa hari tidak ada perubahan di diri Diana. Ia akan menerbangkan Diana ke Singapura dan berobat di sana.


"Ya, aku akan bawa Diana ke luar Negeri dan berobat di sana. Bila perlu anak-anak pun di bawa agar terus dekat dengan mamanya!" monolog Hadi dalam hati.


Tatapan Hadi terus mengarah ke arah Diana yang terpejam dan tangannya terus mengelus pipi nya yang sangat kurus.

__ADS_1


"Sayang, cepat sembuh? biar kita terus bahagia dan bersama!" gumamnya Hadi. Setelah itu ia kembali membuka laptop.


"Assalamu'alaikum ..." suara Liana dan Dirga yang datang berdua.


Hadi menoleh dan menjawab. "Wa'alaikumus salam ... kalian berdua saja?"


"Iya, Pah!" Dirga mengangguk sambil menoleh pada sang bunda terbaring lemah itu.


"Gimana keadaan Mama. Pah?" tanya Liana sambil mendekati sang bunda.


Liana duduk di dekat sang bunda dan memegang tangannya yang dingin. "Mah, sembuh dong Mah! jangan seperti ini terus, kami sedih bila Mama begini terus."


Dania yang baru datang. Berdiri di dekat pintu, perhatikan sang kakak yang terbaring sangat lemah dan berdekatan dengan suami juga anak-anak nya.


Dania mendekati Hadi yang tengah sibuk dengan laptop nya. "Abang, ini aku bawakan makan siang untuk mu!"


Wanita berkerudung itu menyimpan makanan di atas meja yang tidak jauh dari Hadi berada.


"Bawa apa Tante? aku mau dong!" Dirga cepat mengambil makan siang yang Dania peruntukan buat papanya.


"Ambil saja, makan. Papa masih kenyang kok!" Hadi menyuruh Dirga memakannya.


Dania menatap kesal, orang dia bawakan buat Hadi, menunjukan kalau dia perhatian sama Kaka iparnya. Namun eeh ... di makan sama ponakannya.


Di lorong rumah sakit, ada seorang wanita muda nan cantik rambut di ikat simpel. Sedang berjalan tergesa-gesa membawa sebuah paper bag berisi makanan, dia tahu kalau suami nya belum makan siang, sehingga dia bawakan dari sepulang kerja.


"Assalamu'alaikum?" Alisa masuk ke dalam ruangan dimana Diana di rawat.


"Wa'alaikumus salam ..." jawab yang ada di sana serempak.


Hadi menoleh dan langsung menyambut kedatangan Alisa. Bagaimanapun dia harus menjaga perasaan Alisa, biarpun hatinya Hadi sedang gundah atau gimana-gimana ....


...🌼----🌼...

__ADS_1


Mampukah Hadi bersikap adil. Pada kedua istri nya yang bagaimanapun membutuhkan perhatian.


__ADS_2