
Hadi yang merasakan singa nya on dari semalam. Namun belum terealisasikan sampai sekarang.
Sejenak mereka berdua saling bersitatap sangat dalam. Kemudian wajahnya Hadi mendekati wajah Alisa untuk menjangkau titik yang paling dia sukai.
Hadi ******* bibir Alisa dengan sangat lembut dan penuh gairah. Tak ayal tangan Hadi pun bergerilya ke mana-mana.
Alisa memejamkan kedua matanya. Menikmati setiap sentuhan dari Hadi yang semakin memanas, Hadi tersenyum senang melihat istri kecilnya mulai terhanyut dengan apa yang dia berikan.
Nafas Hadi sudah mulai memburu. Pertanda sebentar lagi akan di lepasnya singa lapar akan lendir pembawa nikmat, sebentar lagi akan terjadi pencetak gol yang membawa kemenangan.
Dada Alisa naik turun, jantungnya berdegup sangat kencang. pandangannya kian berkabut di saat Hadi tengah menikmati buah segar nan langka bila dicari dari kebunnya.
Jari jemari Hadi pun mulai bermain di sebuah lembah indah berumput tipis. Mencari gua kecil yang langka di datangi manusia, yang ada hanya mahluk astral saja yang bisa keluar masuk dengan bebasnya di wilayah tersebut.
Manik mata wanita muda itu merem melek dan tubuhnya meliuk-liuk dengan tangan merangkul kuat punggung Hadi yang membungkuk, menikmati buah khuldi miliknya itu.
"Sayang!" gumamnya Hadi mengangkat wajahnya melihat ke arah wajah Alisa yang menggigit bibirnya yang bawah.
Langsung saja Hadi Raup kembali dengan lembut dan namun penuh gairah. Darah yang mengalir di tubuhnya terasa panas dan hasrat untuk mencetak gol itu sudah memuncak naik ke ubun-ubun.
Dengan cepat Hadi memangku tubuh sang istri nya yang mungil ke tempat tidur. Dia naik menggerakan lututnya di atas tempat tidur dan membaringkan tubuh Alisa di sana.
Singa yang sudah on dan siap menerkam pun sudah meronta, tidak sabar untuk di lepas ke gua yang sudah banjir tanpa hujan.
Dengan perasaan yang sudah tidak sabar. Hadi yang berada di atas nya lawan mainnya itu, langsung melepas mahluk astral nya menerjang badai melewati lembah. Demi bisa memasuki gua kecil sejuta manfaat tersebut.
"Ups, pelan-pelan ..." desis Alisa sembari mendorong dada sang empu yang sedang mengoyak gua dengan mahluk astral itu.
Yang tak berperasaan keluar masuk pintu gua yang kecil, sementara kepala mahluk itu sebesar pergelangan tangan pemiliknya. Bikin penuh aja tuh pintu gua.
Hadi menjeda aksinya. Sampai Alisa terlihat santai dan tenang juga dapat mengontrol nafasnya yang tak beraturan tersebut.
__ADS_1
Setelah Alisa tampak tenang. nafasnya pun sudah terkontrol, Hadi kembali bermain-main dengan mahluk astral nya yang dengan liar di tempat yang menjadi favorit berjuta umat.
"Ahc ... Huuh ... nikmat sekali dan lezatnya kue lapis legit milik mu." Racau Hadi tidak karuan.
Alisa sesekali mengangkat kepalanya dan menggigit bibir bawahnya yang langsung Hadi menyambutnya dengan lembut dan menyesapnya kembali.
"Bodoh sekali bila aku harus melepaskan mu sayang ku. Kamu sangat berarti bagiku, kamu yang di berikan istri ku untuk menggantikannya dalam hidup ku!" batin Hadi.
Peluh di antara keduanya bercucuran dan saling bertukaran. Hadi masih terus melepas gol-gol yang cantik ke gawang milik lawan.
Kedua tangan Alisa merangkul punggung Hadi dengan erat seolah menyatukan tubuh kedua, saling memberi dan menerima asupan gizi yang di lepaskan.
"Yank ..." desis panjangnya Alisa seiring menegang tubuhnya mungil itu di bawah kungkungan seorang pria yang bertubuh kekar, pemilik rahang berbulu halus tersebut.
Begitupun dengan Hadi, dia benar-benar merasakan puncaknya yang indahnya tiada tara, tak dapat diungkapkan dengan kata-kata yang bikin jiwanya melayang terbang jauh ke langit ketujuh.
Sejenak keduanya tidak bergeming, kemudian tubuh Hadi ambruk juga di atasnya dada sang istri, tanpa buru-buru menarik makhluk astral ke dalam kandangnya semula.
"Ooh, nikmatnya sungguh tiada Tara, dan tidak bisa ungkapkan dengan kata-kata ataupun digambarkan dengan kampas sebagai lukisan yang indah." Gumamnya Hadi.
Beberapa saat kemudian tubuh Hadi bergerak menatap wajah cantik seorang Alisa, menyingkirkan anak rambutnya yang menghalangi wajah cantik tersebut. Ia selipkan di balik kupingnya.
Kemudian Hadi berbisik dengan kata-kata cinta yang jarang sekali Alisa dengar apalagi di hari-hari terakhir ini. "Kamu sangat cantik sekali, aku mencintaimu. Aku menyayangimu. Aku tidak akan pernah melepaskan mu walau barang sesaat."
Alisa tidak bergeming ataupun membalas perkataan itu, hanya menik matanya saja yang bergerak menatap wajah pria yang semakin lama dia sayangi.
"Apapun kemauan mu ... akan aku wujudkan, asal jangan meminta berpisah dariku! aku nggak akan pernah melepaskan dirimu sekalipun kamu menjauh atau kamu menghilang, kamu akan tetap menjadi istriku seutuhnya dan selamanya." Hadi menyatukan kedua tangannya dengan kedua tangan Alisa.
Membuat Alisa tetap terdiam 1000 kata, tidak dapat menjawab apapun. Karena memang berpisah bukanlah keinginannya, hanya sebagai gertakan saja! karena dalam hati kecilnya dia, ingin selalu bersama dengan pria yang baru saja bermain dengannya itu.
Tidak peduli dengan kata orang yang mungkin akan mengatakan, mungkin kamu sudah keenakan dengan segala fasilitas yang ada, rumah yang mewah kendaraan yang bagus. Pakaian, semua barang yang branded. Bodo amat.
__ADS_1
Yang jelas, Alisa sudah sayang dan cinta dengan pria yang menikahinya karena dijodohkan sang istri. Sekalipun tertulis di atas materai ada kontrak tersembunyi, kini semuanya persetan dengan semua itu.
Perasaan tak dapat dipungkiri dan rasa cinta juga rasa sayang bisa datang tanpa diduga.
Tangan Alisa hanya bisa mendekap bahu suaminya dan menarik, memeluknya dengan sangat erat. Serta tanpa sepatah kata pun yang dia ucapkan untuk seorang Hadi.
Hadi merubah posisinya menjadi terlentang sekaligus membawa tubuh sang istri tetap di dalam pelukannya.
"Tetaplah bersamaku sekalipun aku kesusahan, karena hidup tidak selamanya di situ, ada kalanya di bawah ataupun di atas seperti yang kita lakukan ini!" ucapan Hadi diakhiri dengan senyuman.
Yang membuat Alisa tersipu malu dan sedikit mencubit pinggangnya Hadi. "Iih ... kirain aku serius, ternyata kamu cuma bercanda!" dengan nada manja.
"Aku tidak bercanda sayang, aku serius! hidup itu seperti yang kita lakukan barusan. Kadang di atas dan terkadang berada di bawah, hanya ... aku minta sama kamu. Harus siap! bilakah kehidupan kita berada di bawah! tapi aku janji aku akan menjadi suami yang terbaik untukmu, bertanggung jawab kepada keluarga kita." Hadi menjepit hidung Alisa lalu merapikan rambut Alisa ke samping.
"Ya sudah, bukankah kamu mau ke kantor lagi? bersih-bersih sana!" Alisa berusaha untuk bangun dari atas tubuhnya Hadi.
Namun kedua tangan Hadi mengunci tubuhnya Alisa sehingga tidak bisa beranjak, apalagi ternyata mahluk astral itu masih tenggelam di gua kecil sejuta manfaat tersebut. Dalam keadaan masih hidup juga alias belum tidur.
Kedua manik mata Alisa bersitatap dengan kedua netra Hadi yang menatap dalam penuh rasa ingin memiliki selamanya. Seiring dengan perasaan geli, karena mahluk itu terus bergerak sendiri.
"Sudah, katanya mau ngantor lagi!" tutur Alisa.
"Sepertinya aku nggak balik lagi ke kantor sekarang, aku masih ingin menikmati lapis legit milikmu--"
"Ha? mana kue lapis? mau dong aku lapar nih." Alisa malah celingukan.
"Bukan kue sayang--"
"Apaan?" Alisa menoleh dan menatap penasaran pada suaminya ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Apakah Hadi akan unboxing lapis legit kembali, atau melakukan yang lain? seperti mencari durian yang sudah di janjikan.