
"Huuh ... hampir saja aku dibuat malu. Dasar tuh nenek lampir! awas ya? kalau ada kesempatan akan ku balas dan buat perhitungan, he he he ... nggak-nggak. Gak boleh, pamali!" gumamnya Alisa sambil menunggui air di bathub penuh.
Air bathub pun penuh, Alisa keluar dari kamar mandi. Dugh. Lagi-lagi kening Alisa membentur sesuatu dan dia langsung mendongak,
Hadi yang berdiri di ambang pintu bertelanjang dada nyengir. Menunjukan barisan giginya yang putih bersih, dia nyengir. "Sudah ku bilang. Kalau jalan itu jangan terlalu menunduk juga."
"He he he ..." Alisa mengusap keningnya. "Kan ada pepatah mengatakan! kalau jalan itu jangan terlalu melihat ke atas! nanti tersandung."
"Itu, terlalu! makanya jangan terlalu, sedeng-sedang saja." Jelas Hadi. "Tadi kenapa mau jatuh segala? bukan kurang makan? memalukan sekali bila kau kekurangan makan!"
Pria itu melepas tatapannya pada Alisa sembari melipat tangan di dada.
Alisa berjalan, keluar dulu dari kamar mandi. "Em ... biasa tersandung aja!"
Geph.
Tangan Hadi menangkap siku Alisa yang mau pergi. "Bukan karena Dania yang iseng padamu?"
Kedua netra Alisa menatap tangan Hadi, sehingga Hadi pun menyingkirkan tangannya. "Menurut, Om itu ulah siapa?" Alisa balik bertanya.
Hadi terdiam, karena dia yakin kalau itu ulahnya Dania. "Lain kali, harus lebih hati-hati lagi."
Kepala Alisa mengangguk. Lalu memasuki wardrof untuk mengambil pakaian Hadi yang lengkap dengan **********.
Sementara Hadi masuk kamar mandi. Untuk membersihkan dirinya di sana.
...---...
Sore ini, Bu Juli baru pulang dari kerjaannya. Dengan langkah yang gontai, rasa lelah dan capek menyelimuti tubuhnya.
Pas masuk ke rumah, terdengar suara suara suara aneh dari seorang wanita dan suara pria yang jelas-jelas itu suara suaminya.
Langkah Bu Juli mendekati pintu kamar dengan mengendap-endap. Pelan sangat agar tidak diketahui orang yang berada di dalam.
__ADS_1
"Ayo sayang? sudah gak kuat nih, lihat lah. Sudah berdiri tapi bukan tower nih." Suara pak Anwar dengan sedikit bergetar.
"Nanti aja ach. Jangan terburu-buru nanti gak nikmat!" suara manja seorang wanita yang tidak tahu siapa namanya.
"Ayolah sayang ... saya sudah tidak tahan!" Pak Anwar berusaha merayu wanita muda yang berada di hadapannya tersebut.
Tangan pak Anwar menggerayangi bagian-bagian tertentu wanita itu yang berusaha menghindar.
"Kenapa menghindar? saya tidak gigit kok. Justru saya akan memberikan sesuatu yang akan membuat mu ketagihan nantinya." Bisik pak Anwar sambil memegangi pipi wanita tersebut.
"Ooh, tidak sayang. Aku tidak menghindar, aku cuma menunggu banjir tapi bukan air hujan hi hi hi ... yang sabar ya sebentar lagi." balasnya sambil sedikit membuka pahanya. Sengaja menggoda pria hidung belang tersebut.
Bu Juli yang berdiri di ambang pintu. Berusaha menelan Saliva nya, tenggorokan yang terasa kering sekali. Dada ya terasa sesak bagai tiada ruang untuk bernapas.
Perlahan tangannya mengarah ke handle pintu yang sangat kebetulan sekali tidak di kunci dari dalam. Dengan leluasa Bu Juli mendorong dan Blak ....
Pintu terbuka, dengan jelas di dalam kamar tersebut. Suaminya sudah bersiap untuk bergulat dengan wanita yang masih berpakaian lengkap tersebut.
"Kau! ternyata kau lah yang picik! kau yang kurang ajar, kau yang buaya. Kau tidak tahu diri dan kau pasti yang berusaha menggoda putri ku, bukan putri ku yang menggoda mu!" suara Bu Juli bergetar menahan tangisnya yang ingin keluar dari bendungannya.
Wanita itu menunduk di pojokan. Sementara pak Anwar berdiri dengan bibir yang menyungging tanpa dosa.
"Kau sudah tahu kan, kebusukan ku? iya, saya yang sudah merekayasa semuanya. Agar kau percaya padaku, ha ha ha ... kau itu bodoh. Kau lebih percaya orang asing ketimbang anak mu," pak Anwar tertawa lepas.
Takut dengan ke adaan yang memanas, wanita yang tadi bersama Anwar pun segera kabur. sebelum dia pun terlibat di sana.
Bu Juli hanya melirik dingin pada wanita yang bergegas pergi. Dia tidak perduli siapa dia dan sebagai apa dia?
"Kau tega, saya yang menganggap rumah tangga ini naik-baim saja, ternyata tidak, kau duri dalam daging. Saya kecewa! sangat kecewa, saya akan melaporkan mu atar dugaan pemerko-sa-an terhadap putri ku!" jelas Bu Juli sambil membalikan tubuhnya hendak keluar dari kamar tersebut.
Geph.
Tangan Anwar menjambak rambut Bu Juli di tarik ya ke belakang. "Auw!"
__ADS_1
"Kau mau kemana wanita tua ha? apa kau mempunya bukti atas tuduhan itu ha? kau harus punya bukti yang kongkrit untuk itu, ha ha ha ... jangankan dirimu yang tidak tahu apa-apa. Anak mu pun sendiri yang mempunyai bukti untuk penjarakan saya atas tuduhan itu," lagi-lagi pak Anwar tertawa mengejek karena dia yakin sang istri tidak bisa berbuat apapun dengan tidak adanya bukti.
"Saya bisa melaporkan mu atas perselingkuhan di rumah saya, dasar kau tidak punya malu, kau tidak memberiku uang balanja karena untuk membayar wanita jalanan kan? ternyata lama-lama kau ketahuan belangnya! kau bukan pria yang bertanggung jawab." Pekik Bu Juli.
Tangan pak Anwar menjepit kedua pipi Bu Juli yang sudah tidak kencang lagi itu. "Sekarang kau tahu kan siapa saya sebenarnya? saya itu tida cinta sama kamu. Saya itu menginginkan putri kamu, Alisa. Bukan dirimu yang sudah tidak segar lagi, bau pesing! dan tidak memuaskan ku," matanya pak Anwar melotot dengan sangat sempurna pada Bu Juli.
"Lepas? kau itu juga bau bandot! kau pikir kau itu wangi dan perkasa ha? kau pikir kau itu tampan dan buat tergila-gila wanita? tidak. Saya mau sama kamu. Karena saya pikir kamu itu baik dan bertanggung jawab! tetapi ternyata tidak, justru kau sudah berkali-kali kurang ajar sama putri saya ..." suara Bu Juli bergetar dan menangis, dia menyesali yang sudah tidak percaya pada anaknya.
"Apa? apa kau bilang? saya bau bandot, kau bau Pesing wanita tua!" kepala Bu Juli kembali di tarik rambutnya, lanjut di jeduk-jedukan ke dinding.
Bu Juli teriak kesakitan lalu menginjak kakak pria itu, hingga melepaskan kepalanya. Bu Juli menjauh hendak keluar. Namun kembali rambutnya di tarik ke dalam, tubuhnya di seret di jatuhkan ke lantai membuat tersungkur.
"Kau jahanam? kau tidak punya hati, cuih!" Bu Juli meludah ke muka nya pak Anwar.
Pria itu mengusap wajahnya yang basah dengan ludah. Kemarahan dia semakin kalap dibuatnya, lalu mendorong bahu Bu Juli dan menindihnya.
Plak!
Plak!
"Auw! auw! aduuhh ..." Bu Juli merintih kesakitan.
Tamparan kanan kiri bersarang di wajah Bu Juli. "Kau pikir, kau masih muda dan cantik! Hoho ... jauh dari itu kau sudah peot."
"Ceraikan saya, saya tidak sudi bersuami kan kamu pria yang tau di untung, hidup dan numpang segalanya masih berani berbuat ini kepada ku?" teriak Bu Juli sambil berusaha bangun dari tindihan pak Anwar.
"Kurang ajar, kau pikir saya mau? jadi suami wanita peot gak biasa dandan. Bau apek seperti mu? saya ceraikan kamu saat ini juga dengan talak 3." Hardik pak Anwar sambil kembali mengulang tangan untuk menampar.
Bu Juli sudah memejamkan mata bilakah harus menerima tamparan lagi, namun sebelum lima jari pak Anwar sampai di pipi Bu Juli ....
.
...Bersambung!...
__ADS_1