Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Saudara sambung


__ADS_3

"Huuh ... mungkin ini saatnya aku terima saja lamaran tante Diana, dan suatu saat nanti aku bisa melanjutkan hidup ku lagi setelah nanti bercerai dari om Hadi." gumamnya Alisa sambil beres-beres rumah.


Tiba-tiba. Alisa kedatangan seseorang, yang membuat hati Alisa was-was dan gelisah seketika. Alisa menjadi gelisah, ketika melihat Luky datang di saat dirinya sendiri di rumah.


“Sudah pada pergi ya? kenapa kau masih berada di rumah? Bukankah kau juga berkerja?” tanya Luky sambil menatap intens ke arah Alisa.


“Em ... i-iya, dan aku ... be-belum berangkat, iya belum berangkat.” Jawabnya Alisa tampak serba salah.


Luky menyunggingkan bibirnya, dan membawa langkahnya mendekat ke arah Alisa yang semakin terlihat panik tersebut.


“Kenapa kau tampak panik begitu? seperti lihat penjahat saja, aku gak gigit kok. Aku baik dan akan membuat mu bahagia," ucap Luky semakin mendekat.


Dan Alisa terus saja menghindar dengan cara mundur. Namu mentok pada sofa yang berada di sana, sehingga dia terduduk. Begitupun dengan Luky yang juga duduk di samping Alisa yang terlihat ketakutan.


Dengan bibir tersenyum Luky berkata. “Maukah kau menjadi kekasih ku?”


Alisa berusaha mengatur nafasnya dengan teratur dan sesekali membuangnya kasar. “I-itu, tidak mungkin. Bang Luky ini bagaimanapun adalah saudara ku.”


“Tapi kita ... adalah saudara sambung dan bukan kandung. Jadi apa salahnya bila kita pacaran? Saya suka sama kamu dari semenjak jumpa pertama lho.” Ungkap Luky dengan tatapan yang semakin intens ke arah Alisa yang semakin di buat cemas, lantas berdiri.


Geph!


Tangan Luky menangkap pergelangan Alisa yang langsung di tepisnya.


“Jangan pegang-pegang, saya tidak suka!” ucap Alisa sambil kembali mundur tidak mau berdekatan dengan Luky.


“Jangan sok suci, Lisa ... kau juga sering bergandengan tangan dengan kekasih mu. Bahkan mungkin kalian berciuman, kan? Jangan munafik.” Jelasnya Luky dengan tatapan yang mulai bernafsu.

__ADS_1


“Jangan fitnah aku, Bang. Aku tidak seperti itu.” Alisa menggelengkan kepalanya.


Luky terus maju mendekati Alisa dan tangannya tak ayal berusaha untuk menjangkau tubuh Alisa yang terus menghindar, dan tangan Luky pun dapat menangkap tangannya Alisa.


“Lepaskan tangan ku? Jangan kurang ajar ya? aku bisa teriak agar kau di keroyok warga!” ancam Alisa.


“Ha ha ha ... teriak saja, Alisa ... saya tahu kalau jam segini itu, warga pada gak ada. Dan sekencang apa pun suara mu, tidak akan ada yang mendengar ataupun menolong mu.” Luky tertawa puas karna dia sudah tahu situasi di sana dalam waktu-waktu seperti itu.


Alisa kebingungan harus gimana? dan terus menarik tangannya yang terkunci di genggaman Luky. “Tolong lepaskan aku? Bang. Apa sih maunya Abang?”


“Saya Ingin kan tubuh mu!” Luky menggigit bibir bawahnya sendiri.


Membuat Alisa meremang mendengarnya, takut bukan main dan dia berusaha menggigit tangan Luky yang memegang tangan nya tersebut.


“Aw,”  Luky mengibaskan tangannya yang merasa panas dan perih itu, matanya melotot ke arah Alisa yang terus menghindar dari jangkauan Luky.


“Baiknya abang pulang saja,aku takut sama abang! Aku mohon abang pulang ya? nanti Abang khilaf. Sana pulang, Bang?" pinta Alisa penuh permohonan.


Blak ....


Luky pun ikut masuk, Alisa melipir hendak keluar, tangan Luky dengan cepat menangkap kembali tangan Alisa di tarik ke dalam lalu merangkul pinggangnya. Dia dorong ke tempat tidur.


“Hah, tolong? tolong aku ...” pekik Alisa dibuat kian takut dan jantung dibuat seolah berhenti ketika dirinya terjerembab ke atas tempat tidur yang langsung dia melonjak dari hendak berlari ke luar. “Abang istighfar, Bang. Abang tidak boleh melakukan ini pada ku!”


Lagi-lagi alisa tertahan dan di tindih oleh tubuh Luky yang tampak semakin aneh, nafasnya terengah-rengah menyapu kulit wajah Alisa yang terus memutar otak, agar bisa berontak dan terhindar dari perbuatan bejat nya Luky.


Luky tersenyum penuh dengan kemenangan, melihat Alisa terdiam dalam kungkungannya itu. Sorot matanya yang menakutkan bergerak melihat dua gundukan gunung yang tampak menantang untuk di daki tersebut.

__ADS_1


Alisa semakin ngeri melihatnya. Perlahan dia menarik kedua kakinya yang mulanya terkesan mengangkang, bikin Luky semakin mengembangkan senyumnya. Dia pikir kalau Alisa mulai pasrah dan kemudian Luky mendekatkan wajahnya ke wajahnya Alisa dan hendak menciumnya.


Dugh! kedua dengkul Alisa menendang perut Luky dengan sekuat tenaga, sehingga tubuh Luky terdorong ke belakang dan memberi ruang pada Alisa untuk melonjak bangun dan berlari keluar dari dalam kamar.


Luky yang merasa perutnya kesakitan nyengir dan mengusap kedua belah perutnya itu, tetapi tidak mengurungkan niatnya terhadap alisa. Bahkan semakin dibuat penasaran, apalagi sesuatu miliknya sudah on sedari tadi dan menjadikan dirinya harus bisa menidurkan nya kembali dengan tenang.


Sehingga dia mengejar kembali kemana perginya Alisa. “Alisa? jangan pergi dan tidak perlu bersembunyi? Sabab saya akan bisa menemukan mu, dan bila tidak sekarang pun, besok atau lusa. Saya pastikan akan dapatkan dirimu.” Teriaknya Luky sambil celingukan dan membuka setiap pintu yang ada di rumah tersebut.


Namun yang di cari bak hilang di telan bumi, tidak ada dan suara nafas nya aja tidak terdengar lagi. Bau nya pun menghilang.


“Alisa? Alisa dimana kau? Jangan kau sembunyi! karena biarpun aku gak dapat sekarang juga. Masih ada hari esok yang akan menanti saya ha ha ha ....”


Sementara Alisa yang ke luar dari kamarnya itu, langsung ke luar rumah dan bersembunyi di balik penyimpanan barang-barang bekas. Termasuk cucian yang menggantung. Alisa seolah menahan nafas ketika terdengar suara derap langkah nya Luky mendekat ke arah alisa bersembunyi.


Alisa pun membungkam mulutnya sendiri agar tidak ketahuan oleh sosok Luky yang kini dia dah tahu sipat aslinya itu.


“Sial, kemana tuh cewek? Mau di ajak bersenang-senang malah kabur.” Gumamnya Luky sambil celingukan.


Dan beberapa saat kemudian, Luky membawa langkahnya meninggalkan tempat tersebut sambil mengusap sesuatu yang on terus itu.


Luky kembali masuk ke dalam rumah dan tidak mungkin Alisa bisa masuk kembali ke sana di saat-saat ini, kecuali di rumah ada yang lain seperti sang bunda.


“Ya Allah ... gimana ini? aku gak mungkin masuk, sama saja masuk ke dalam lobang buaya! Tapi aku harus kemana? mana gak menyakui uang sama sekali. Ada pun di kamar. Ya Allah berilah aku pertolongan? Aku gak tau harus berbuat apa?” Alisa terus bermonolog sendiri.


Sudah gak pegang uang, ponsel juga di dalam kamar. Alisa berusaha mengontrol nafasnya yang ngos-ngosan dan dada terus berdebar.


“Aku takut ya Allah ... takut dia mengambil sesuatu yang aku jaga. Kekasih bukan, suami bukan! kurang ajar banget berusaha mengganggu ku?” batinnya Alisa sambil terus celingukan, khawatir Luky kembali mencari dirinya ....

__ADS_1


.


...Bersambung!...


__ADS_2