Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Gombal banget


__ADS_3

Kini Liana sudah memakai pakaian malamnya dan baru saja keluar dari kamar mandi, mendapati Zidan yang sedang berada duduk di atas tempat tidur bersandar tampak santai, langsung mengarahkan pandangannya kepada Liana yang mengenakan pakaian tugas malam berwarna merah ati.


Sehingga kedua netra mata Zidan enggan berkedip! terus saja menatap ke arah Liana yang sengaja berjalan melenggok ke arah dirinya.


Liana ingin benar-benar menikmati malam pertamanya bersama Zidan di malam ini juga. Tidak apalah dia sedikit menggoda, orang Zidan suaminya kok,begitu pikir Liana.


Zidan yang terus memandangi ke arah Liana yang tanpa berkedip merasa panas di kedua matanya, hingga akhirnya dia menggercapkan kedua netra nya tersebut.


"Memangnya itu mata nggak panas apa? melihat sampai nggak berkedip begitu! tenang, nggak akan ke mana-mana. Aku ada di sini," suara Liana sembari menunjukkan senyumnya yang sedikit menggoda Zidan.


Zidan pun menarik kedua sudut bibirnya. "Hem. Iya aku lupa aku kira belum nikah, ternyata sudah sah dan aku boleh dong ... melakukan ... apapun?"


"Boleh, tapi apa dulu?" Liana menatap lekat ke arah Zidan yang kini mulai berani menggenggam tangannya dan diremas dengan lembut.


Pasang mata mereka bertemu, saling pandang begitu dalam.


"Ehem, ya apa saja yang aku mau, karena ... yang ada pada dirimu pasti aku suka!" ucapnya Zidan dengan tatapan yang meneliti ke seluruh tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Benarkah, semuanya kau suka?" Liana sedikit malu-malu ketika tangan Zidan beralih posisi menyentuh lehernya yang jenjang dengan sentuhan.


"Mengapa ya! di dekat kamu seperti ini ... jantung ku berdetak, berdetaknya lebih kencang seperti genderang mau perang!" gumamnya Zidan dengan tatapan yang tidak pernah berpaling dari Liana barang sedikit pun.


"Gombal banget! emangnya ketika tidak ada aku, jantung kamu tidak berdetak, berhenti gitu?" balasnya Liana sembari mengulum senyumnya.


"Asli sayang ... kalau melihat kamu seperti ini darah ku mengalirnya lebih deras dari ujung kaki sampai ke ujung kepala, mungkin aku lagi ingin ... ingin itu" Zidan tampak ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu yang dia inginkan dari Liana.


"Ingin apa? bilang ingin apa?" tantang nya Liana sembari mengalungkan kedua tangannya di leher Zidan serta tatapan yang begitu sangat lekat nan mesra.


"Emang nggak apa-apa kalau aku katakan sekarang? kamu nya siap nggak? jangan-jangan nggak siap lagi, nggak jadi ah. Takut kamu nya nggak siap." Zidan menggeleng seraya mengusap kedua pipi Liana yang wajah itu begitu dekat dengan wajahnya hingga hembusan nafas pun menyapu kulit masing-masing.


"Iih ... ngomong dulu, kalau gak ngomong sih mana aku tau maunya apa?" suara Liana dengan nada sangat manja.

__ADS_1


Zidan menarik kedua sudut bibirnya dan juga menarik tengkuk Liana lalu bibirnya mendekati salah satu telinga Liana, kemudian berisik. "Aku inginkan dirimu malam ini, siapkah kamu memberikan nya kepadaku?"


Membuat bibir Liana mengembang lalu dia mengangguk dan berkata. "Aku siap bila harus memberikan di malam ini juga, cuma ....aku minta maaf, seperti yang kamu tahu kalau ini bukan yang pertama."


"Shuuuuttt ..." Zidan menempelkan telunjuknya di bibir Liana seraya berkata kembali. "Jangan bilang begitu lagi. Aku tidak apa-apa dan aku akan menerima mu apa adanya."


Liana langsung memeluk Zidan dengan sangat erat, dengan kata-kata itu dan semua pembuktian dari Zidan yang siap menerima dia apa adanya membuat Liana teramat bahagia serta hatinya dibuat berbunga-bunga.


"Terima kasih sayang! terima kasih, kau mau menerima aku apa adanya! dan aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk mu. Dan memberikan nya padamu saat ini juga!" suara Liana dalam pelukan Zidan.


Zidan merasakan kalau tubuhnya menggigil panas dingin. Menerima pelukan Liana yang semakin erat dan tubuhnya begitu sangat rapat. Sehingga nyamuk saja tidak akan bisa lewat di sela-sela tubuh mereka berdua.


Kemudian. Zidan mencium kening Liana dengan lembut sembari komat-kamit entah membaca doa apa. Selanjutnya tangan Zidan menarik selimut yang ia pakai untuk menutupi tubuh mereka berdua. Selanjutnya Zidan melakukan unboxing terhadap Liana. Sesuai harapan di malam pengantin tanpa ada halangan apapun. Sungguh lancar jaya berjalan dengan sangat mulus lus lus lus ....


Keesokan harinya, Liana dan Zidan sudah bersiap untuk perjalanan bulan madu. Yang tadinya mau ke raja Ampat dan jadinya ke labuan bajo, dan raja Ampat akan menjadi perjalanan yang ke dua nantinya.


"Selamat berbulan madu ya? selamat bersenang-senang juga, hati-hati di sana." Alisa memeluk Liana.


"Insya Allah gue jaga dan bila perlu pakai pagar atau terali besi ha ha ha ..." Alisa tertawa renyah.


Liana menunjuk ke arah Alisa sambil berkata. "Gila ya lo. Lo pikir tu anak hewan!"


"Bercanda manis ... iya gue jaga sepenuh hati." Alisa tersenyum.


"Titip Liana ya?" Hadi Menepuk bahunya Zidan sambil menatap tajam pada pemuda tersebut.


"Pasti itu Bos, eh Papa. Aku akan menjaga Liana." Zidan mengangguk sambil tersenyum.


Hadi menatap datar kepada Zidan yang tampak sangatencintai Liana. Putrinya.


"Oma, aku pergi dulu ya? sehat-sehat ya oma!" Liana mencium pipi kanan dan kiri sang Oma.

__ADS_1


"Selamat bersenang-senang ya cucu Oma ... semoga kau bahagia di sana." Balas sang Oma.


Kemudian Zidan dan Liana diantarkan mobil yang di sopir kan oleh pak Mur. Menuju bandara.


Alisa berdiri bersama adik menetapi kepergian mobil tersebut. Begitupun dengan ibunya Hadi yang merangkul bahunya Dirga.


"Ayo sayang, Ibu. Kita masuk?" ajak adik kepada sang istri dan juga sang ibu. "Dirga, ayo masuk?"


Lalu mereka pun memasuki pintu utama, meninggalkan teras setelah mobil yang membawa Liana dan Zidan menuju Bandara sudah menghilang.


"Aku ikut bahagia dengan kebahagiaan Liana, akhirnya dia menemukan cinta sejatinya ya? dan menemukan orang yang tulus juga menerima segala kekurangan nya!" gumamnya Alisa yang ditujukan kepada Hadi


"Sama, aku juga sangat bahagia. Zidan bisa menerima apa adanya Liana dan keluarganya yang juga begitu welcome dan itu yang aku harapkan." Tambahnya Hadi sambil berjalan menggandeng pinggangnya sang istri.


"Rasanya ... kebahagiaan kita sudah lumayan lengkap karena Liana sudah menemukan imam nya yang baik dan ibu hanya bisa mendoakan untuk kebahagiaan kalian semua. Terutama sekarang ini menghadapi persalinan Alisa yang Semoga ... Allah melancarkan dan memberikan keselamatan kepada Ibu dan bayinya!" ujar ibunya Hadi sembari menatap karena Alisa yang berdiri mengusap perutnya yang tampak bulat.


"Aamiin ... makasih Ibu, atas doanya. Semoga persaingannya lancar, Walau terkadang ... Alisa merasa takut. Khawatir, cemas semuanya bercampur aduk menjadi satu. Kalau nanti aku kenapa-napa!"


"Sayang-sayang, kok gitu sih ... jangan bilang gitu ah! kita berdoa saja. Semoga semuanya lancar dan selamat, aku akan mencari jalan yang terbaik untuk kalian berdua!" Hadi membingkai wajah Alisa sembari menggeleng dia tidak mau Alisa berkata yang bukan bukan.


"Suami mu benar, Lisa ... jangan bicara yang aneh-aneh! takutnya menjadi doa, semoga nanti lahirannya lancar dan selamat Ibu dan bayinya sehat walafiat! tidak kurang suatu apapun! itulah yang harus sering kita panjatkan kepada Allah sang maha pencipta. Karena dialah maha segalanya!" kata sang sang ibu mertua sembari menghela nafas panjang.


Dirga yang sedari tadi terdiam hanya memperhatikan saja ke arah papa dan Mommy nya juga Oma nya. Anak itu kurang mengerti dengan yang di katakan mereka.


"Aduh, duh-duh perut ku!" Alisa tiba-tiba meringis sambil memegangi pinggangnya.


Membuat sang ibu mertua merasa cemas dan langsung mengedarkan pandangan pada putranya, Hadi ....


...🌼---🌼...


Mana yang menunggu Alisa dan Hadi update. Mana like nya komen dan lainnya.

__ADS_1


__ADS_2