Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Ingin bicara


__ADS_3

"Iya-iya ... ini juga mau mandi." Hadi bangun dengan malas berjalan ke kamar mandi.


Alisa tersenyum sambil menatap punggung Hadi yang memasuki pintu kamar mandi.


Beberapa saat kemudian. Hadi merengek kembali tentang permintaan yang tadi. "Sayang, ayo dong?"


Alisa yang sedang berbaring menoleh sambil sedikit menurunkan selimutnya. Menghadap pada Hadi yang sudah bertelanjang dada.


Kemudian, Hadi mendekati sang istri yang selalu bikin dia candu. Lantas dia mencumbu sang istri yang tampak pasrah.


Malam ini di lewati dengan percintaan yang sangat mengasyikan. Sampai pagi menjelang.


Sekitar pukul 05 kurang keduanya sudah bangun dan sudah berjamaah. Dan sekarang Hadi sedang berpakaian formal dengan rapi.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Lisa. Pah ... kalian sedang apa? aku ingin bicara." Suara Liana dari luar.


Alisa yang sedang memakaikan dasi Hadi saling bertukar pandangan dan melihat ke arah daun pintu.


"Ada apa pagi-pagi Liana sudah menemui kita?" Hadi menatap sang istri.


"Ntah! aku bukain dupu ya?" Lisa membalikan badan.


"Iya, sebentar!" pekik Alisa sambil membawa langkahnya mendekati pintu.


Pintu sudah terbuka dan tampak Liana berdiri langsung mengarahkan pandangan ke arah Alisa yang membukakan pintu.


"Aku ingin bicara sama kalian, kalian ada waktu bukan?" Liana tampak serius.


"Mau bicara apa?" Alisa merasa heran. "Em ... kita bicara di sana saja!" Alisa menunjuk sofa yang berada di depan kamar.


"Yank?" Alisa memanggil Hadi yang masih berdiri di dalam sambil mengenakan jam tangan.


Hadi pun berjalan mengikuti dua bidadari nya yang sudah duluan menuju sofa dan duduk di sana.


Kini ketiganya sudah duduk di berhadapan. wanita sepuh yang masih memakai mukena pun hadir di sana.


"Ada apa nih? serius kayanya!" Hadi membuka suaranya setelah beberapa saat di sana terasa hening.


Liana yang tampak gelisah dengan tangan bertaut satu sama lainnya di atas pangkuan dan terasa dingin.

__ADS_1


Melihat Liana yang tampak gusar. Alisa mendekat dan memegangi pergelangannya sahabatnya tersebut. "Ada apa? kamu ada masalah hem! coba cerita saja dan kami siap mendengarkannya kok!"


Liana mengembuskan nafasnya dengan kasar. Serta menelan Saliva nya kali-kali tenggorokannya yang terasa kering. "Aku ingin bicara dengan kalian sebenarnya, em ... aku ingin berpisah dari Rahman."


"Apa?" Alisa langsung shock mendengarnya, begitupun dengan Hadi yang rasanya tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Kalian itu baru saja meni ... kah. Masa kalian mau berpisah?" Alisa menggeleng sungguh tidak percaya.


"Emangnya ada masalah apa?" tanya Hadi beserta tatapan yang sangat lekat pada putrinya tersebut.


Mulanya Liana menggelengkan kepalanya. Namun atas dasar dorongan sang Oma dan Alisa terus meminta Liana untuk cerita. Akhirnya Liana cerita juga kenapa dia sampai berniat bercerai.


"Jadi selama kamu di sini tidak pernah ketemu dia?" selidik Alisa sambil memegangi tangan Liana.


"Iya, aku sudah yakin. Kalau aku ingin bercerai." Liana mengangguk sambil berderai air mata.


Alisa memeluk Liana dengan erat. "Ya Allah ... kenapa rumah tangga mu seperti ini!"


Liana dan Alisa berpelukan sambil menangis.


"Dasar kurang ajar. Laki-laki yang tidak bertanggung jawab, awas saya akan datangi dia!" Hadi berdiri hendak mendatangi Rahman.


Alisa langsung berdiri berdiri dan memegangi tangan Hadi. "Yank mau kemana? jangan terburu-buru dengarkan dulu Liana."


"Tapi sayang. Aku tidak bisa diterima kalau putri ku di sia-siakan." Hadi tampak marah. Tidak terima bila Liana ternyata begini dalam rumah tangganya.


"Tolong, aku ingin bercerai, Pah ... tolong urus semuanya." Pinta Liana pada sang ayah.


"Apakah kamu yakin. Ingin bercerai. Tidak akan menyesal nantinya?" tanya Hadi sambil menatap lekat pada putrinya.


"Aku yakin, Pah. Tolong di urus semuanya!" jawabnya Liana.


"Oke kalau begitu. Papa akan urus semuanya." Hadi mendudukan kembali dirinya di tempat semula.


Alisa dan sang ibu mertua mengangguk pelan. Dan Hadi terdiam sejenak, memikirkan nasib sang putri.


Dengan cepat Hadi berdiri lalu menuruni anak tangga.


"Yank mau kemana?" Alisa sontak berdiri dan menyusul Hadi yang berjalan cepat.


"Yank, tunggu?" teriak Alisa pada Hadi.


Hadi menghentikan langkahnya. dan berbalik menghadap Alisa. "Aku mau temui pengacara untuk mengurus perceraian Liana, sayang jangan khawatir. Aku gak akan macam-macam kok."


"Tapi kamu belum sarapan. Mau langsung ke kantor bukan?" Alisa menatap cemas.

__ADS_1


"Aku bisa sarapan di kantor. Aku pergi dulu ya?" cuph Hadi mengecup kening Alisa. "Temani Liana."


Alisa mengangguk. Kemudian Hadi pergi keluar dan Alisa berbalik menaiki anak tangga. Menemui Liana yang masih berada di tempat semula.


"Lian, aku tidak menyangka kalau pernikahan mu akan sesingkat ini." Alisa merangkul bahunya Liana yang berwajah sendu.


"Gue sudah ikhlas kok dengan ke adaan ini, buktinya dia tidak perduli juga sama gue. Dia masih belum move on dari kamu, aku tidak sanggup bila bersuami kan pria seperti itu." Jawabnya Liana.


"Oma, ingin yang terbaik buat Liana." Omanya mengusap punggung Liana.


"Aku juga ingin yang terbaik untuk Liana." Tambahnya Alisa yang berharap yang terbaik juga buat sang sahabat.


"Gue ingin berpisah. Lagian gue tidak hamil juga." Liana tampak bulat dengan niatnya yang ingin bercerai.


...----...


Hadi sedang berbincang dengan pengacara soal perceraian Liana dan Rahman. Lanjut dia ke kedai untuk menemui Rahman.


Setibanya di kedai. Hadi langsung ke ruangan Rahman yang kebetulan ada di ruangannya.


Datang-datang Hadi langsung mencengkram kerah baju Rahman dan di angkatnya. "Kau kurang ajar. Sudah membuat putrinya seperti sekarang ini!"


Rahman kaget dengan kedatangan Hadi yang secara tiba-tiba dan langsung mengangkat kerah bajunya. "Apa maksud mu? datang-datang menyerang ku."


"Kamu itu sebenar nya niat gak nikahan putri ku ha? sehingga baru seminggu dia sudah mantap minta cerai." Bentak Hadi dengan masih megang kerah baju nya Rahman.


Degh.


Rahman tampak sangat shock mendengarnya, dia tidak menyangka kalau Liana akan meminta cerai di saat pernikahan baru seminggu.


Sementara setau dia kalau Liana sangat mencintai dirinya namun ternyata dia memang seminggu ini mereka pun tidak ada bertemu.


"Apa? dia meminta cerai? kau tidak bercanda kan? atau jangan-jangan kau yang meracuni pikirannya." Rahman menuduh Hadi yang justru meracuni Liana untuk meminta cerai.


Brak ....


"Saya itu baru tau haru ini kalau dia mau meminta cerai, saya baru datang dari raja Ampat. Makanya saya langsung ke sini dan mengurus perceraian Liana dengan mu." Jelas Hadi setelah menggebrak meja.


"Alisa sangat beruntung tidak jadi menikah dengan mu. Sebab kamu bukan laki-laki yang baik buat Alisa. Tapi sayang justru putri ku yang menjadi korban kamu, sampai berjumpa lagi di pengadilan nanti." Tegas Hadi sambil berlalu pergi.


Rahman melongo. Rasanya tidak percaya dengan yang dia dengar itu. "Liana meminta cerai?" gumamnya Rahman.


Lalu kemudian Rahman pun keluar dari ruangannya. Dia ingin bertemu dengan Liana.


Hadi yang keluar dari kedai nya Rahman, langsung saja memasuki mobilnya lanjut meluncur ke kantor ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Jangan lupa like komen dan lainnya, makasih juga yang sudah mendoakan kesehatan ibu aku. Terima kasih banyak ya.


__ADS_2