
"Masuk?" suara bariton Hadi terdengar, menyilakan tamunya masuk.
"Permisi?" suara tamu yang datang mendekati meja nya Hadi.
Dan Alisa hanya melihat sekilas lalu dia memfokuskan penglihatan dan pikiran juga jari jemarinya yang lentik itu pada kerjaan yang cukup bikin kepalanya pusing.
"Silakan duduk? apakah kau membawanya yang saya pinta?" Hadi bertanya perihal yang dia pinta pada orang tersebut.
"Tentu, saya membawanya." Orang tersebut menyerahkan dua buah paper bag kepada Hadi.
"Oke, terima kasih dan bayarannya saya transfer." Hadi mengulurkan tangan sembari mengangguk pelan.
Kemudian wanita tersebut pun mengundur diri, setelah sebelumnya menerima transferan dari Hadi sebagai bayaran atas tenaga dan waktu yang sudah dia keluarkan.
'Aduduh, gak kuat! mana Om mana?" Alisa melonjak naik dari duduknya dan buru-baru mendekati mejanya Hadi.
"Apaan? yang jelas dong kalau bicara itu!" Hadi merasa heran dengan ekspresi wajah Alisa yang meringis seperti menahan sesuatu.
"Itu, Om ... itu, gak kuat nih." Alisa memicingkan sebelah matanya.
"Astagfirullah. Apaan? ngomong yang jelas! Hadi semakin kebingungan.
"Itu, Om, toilet? kebelet nih pengen pipis." Kata Alisa sambil menggoyangkan kedua bahunya.
"Ha ha ha ... ngomong dong tadi! bilang itu saja susah. Mana saya ngeri." Hadi tertawa lucu.
"Iya di mana?" tanya Alisa tampak gelisah sekali.
Hadi menunjuk ke arah salah satu pintu yang berada di sana. "Tuh, kamar dan di sana ada kamar mandinya."
Alisa melihat ke arah yang Hadi tunjuk dan Hadi bergantian. "Di situ ada kamar?"
"Iya," Hadi mengangguk.
Alisa setengah berlari mendekati pintu tersebut. "Ya ampun, apa ini? kamar buat beristirahat?"
Manik Alisa tertegun melihat isi ruangan tersebut, layaknya kamar hotel yang lengkap dengan tempat tidur, nakas kecil dan lemari pun ada di sana.
Kemudian, pandangan Alisa menyisir ruangan tersebut lantas mendapati sebuah pintu yang Alisa yakini pintu toilet.
"Uawaw ..." lagi-lagi manik nya Alisa dibuat terpukau, karena ini bukan cuma toilet saja. Melainkan kamar mandi yang lengkap dengan shower nya.
"Benar-benar wow ... ck-ck, ck. Ini kantor apa kamar hotel sih?" Alisa dibuat berdecak kagum dan hampir saja lupa kalau dia masuk ke tempat tersebut karena ingin pipis.
Setelah beberapa menit, gadis itu keluar dengan perasaan lega karena sudah di keluarkan. Alisa berjalan menuju ruang kerjanya.
"Ini kantor apa kamar hotel sih, Om?" tanya Alisa sambil berjalan mendekati mejanya.
Hadi melirik ke arah Alisa yang sedang berjalan. "Kau bertanya?"
"Oh ... bukan Om. Aku lagi bernyanyi, sudah! gak perlu di jawab." Alisa mengibaskan tangannya sembari mendudukan bokongnya di tempat semula.
Hadi meninggalkan kepalanya sambil mesem, lalu dia menyibukkan kembali dirinya pada pekerjaan yang ada.
Alisa heran ketika melihat tumpukan berkas di mejanya. "Om, ini. Ini sejak kapan menumpuk di sini dan dari mana asalnya?" tanya Alisa seraya melirik ke arah bos sekaligus tunangannya tersebut.
"Sajak tadi. Jangan banyak bertanya dan pelajari saja," jelas Hadi tanpa menoleh.
__ADS_1
Alisa hanya menggerakkan bibirnya saja. Lalu membuka salah satu berkas tersebut.
"Ini, ganti baju mu, sebentar lagi kita akan meeting." Hadi menyerahkan dua paper bag pada Alisa.
Alisa mendongak pada pria yang kini berada di sampingnya tersebut, sembari menerima yang Hadi berikan. "Dari mana ini?"
"Pakai saja." Hadi kembali ke ke mejanya.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Permisi?" ucap seorang wanita bertubuh gold, tinggi dan penampilannya pun sangat elegan.
"Iya, masuk?" Hadi merespon dengan sangat cepat.
"Terima kasih." Wanita tersebut berjalan mendekati meja CEO Hadi. "Maaf Pak, 30 menit lagi akan dilaksakan meeting."
"Iya, saya akan segera siap-siap." Hadi pun mengangguk.
"Dan ini harus ada yang harus anda tanda tangani." Wanita tersebut menyodorkan berkas yang langsung Hadi terima dan membaca isinya.
Alisa yang berada di kamar mandi mengganti bajunya berserta jas yang tersedia. "Hi hi hi ... gak pernah gue menyangka akan bekerja kantoran seperti ini! huuh ... siapa sangka bila aku akan menjadi asisten pribadi seorang CEO."
Alisa memandangi dirinya di cermin, lalu memakai bedak dan mengoleskan lip cream ke bibirnya. Biar gak pucat.
Saat ini Alisa sedang menyiapkan berkas untuk keperluan meeting. Tidak lupa membawa ballpoint untuk mencatat hasilnya nanti, dan dia harus menyiapkan diri untuk memulai komunikasi antar staf.
"Huuh ..." Alisa mengembuskan nafas dari mulutnya. "Semangat Alisa ... ini hari pertama dan kamu harus menyesuaikan diri. Oke? lu harus bisa!"
"Eeh ... orang mana? kok gak kelihatan perginya!" Alisa celingukan bahkan balik kursi dan meja pun menjadi sasaran pencariannya.
Alisa kebingungan. "Apa sudah keluar atau ..."
Cklek!
Terdengar suara pintu di tutup. Alisa langsung melihat ke sumber suara dan ternyata Hadi yang baru saja keluar dari kamar. Sepertinya dia baru dari kamar mandi.
"Hohoo ... aku pikir Bos sudah keluar meninggalkan ku, sudah ku cari ke kolong meja dan kursi tidak ada!" sambut Alisa sambil menunjuk ke arah belakang.
"Ehem. Kau pikir ... saya curut ya, dicari di kolong segala? masa orang segede gini sembunyi di kolong meja atau kursi! yang benar saja lah," pria itu menggeleng sembari tersenyum tipis.
"Ya ... kali saja mengecil. He he he ..." Alisa tertawa kecil.
''Barang saya memang bisa mengecil, kalau tubuh saya gak bisa!" respon Hadi sekenanya.
"Barang apa, Om?" tanya Alisa yang tidak mengerti dengan maksud dari Hadi.
Hadi terdiam sesaat, lalu mengibaskan tangannya di udara. "Sudah lah!"
Kemudian mereka berjalan, keluar dari ruangan tersebut. Dan menuju ruang rapat.
Hadi mengenalkan Alisa sebagai asisten pribadinya dan tentunya dia yang akan mengurus semua keperluan seorang CEO dan mengatur hampir semua urusan kerjaan.
Semua staf yang berada di ruangan tersebut menyambut ramah pada Alisa.
__ADS_1
"Saya harap kalian semua saling mendukung dan membantu sama lain." Jelas Hadi menatap ke arah semuanya.
Kemudian, rapat pun dimulai dan Alisa bersiap mencatat hasil meeting nya nanti.
Selesai meeting. Lanjut makan siang, sementara Alisa makan sambil sibuk mencatat jadwal kerjaan besok dan ternyata besok Hadi harus melakukan pertemuan dengan investor asing.
"Gila, besok ada pertemuan dengan pihak asing, sementara gue gak bisa bahasa Inggris. Gimana ini? kalau ada ponsel bagus sih enak bisa sambil belajar dengan apk bahasa, lah ini jadul pun tidak. Aku tinggal di rumah, capek deh Lisa ..." Alisa menepuk jidatnya sendiri.
Puk! bahunya ada yang menepuk, seorang pemuda yang menjadi staf di perusahaan tersebut. Alisa menoleh dengan mulut penuh.
"Kau pengalihan kerja dari mana?" selidik pemuda yang memiliki nama Zidan, sang eksekutif muda.
Alisa mengedipkan kedua matanya, melihat ketampanan pemuda tersebut dengan secara dekat. Lebih tampan dari Rahman.
"Ya Tuhan ... ternyata dari jarak dekat seperti ini dia lebih tampan!" hatinya Alisa bergejolak.
"Hi ... saya bertanya nih!" Zidan mengibaskan tangan nya di depan wajah Alisa yang bengong dan tidak berkedip.
"Ooh, tanya apa barusan?" Alisa kebingungan sambil mengunyah.
"Ehem. Saya tanya ... kau pengalihan kerja dari mana sampai terdampar di sini?" ulang Zidan sambil menggeserkan berkas milik Alisa.
"Ooh ... itu ya! terdampar di perusahan ini." Alisa mengangguk-angguk kepalanya seraya kembali memasukan makanan ke mulutnya.
"Iya, dari mana?" Zidan terus mengulang pertanyaannya.
"Dari ... em, sorry. Aku duluan ya? sudah siang." Alisa beranjak sambil melihat ke arah jarum jam nya, dia belum melaksanakan kewajibannya.
"Oke, sampai jumpa lagi di lain kesempatan." Balas Zidan sambil menatap ke arah Alisa yang menenteng berkas di tangan berjalan meninggalkan tempat tersebut.
Hadi dan Alisa juga yang lain kini sedang berada di musholla.
"Untuk jadwal hari esok, pukul 10 anda akan mengadakan pertemuan dengan salah satu investor," ucap Alisa setelah kembali dari musholla.
"Itu jadwal yang sudah ada, ya bukan kamu yang buat!" kata Hadi sambil berjalan.
"Em ... iya, kan aku baru masuk, jadi aku belum membuat perjanjian apa pun. Ya Tuhan ... aku lupa! tadi ada email, katanya dari perusahaan xx ingin bertemu dengan anda." Ungkap Alisa baru ingat.
Namun Hadi sudah berjalan jauh dari Alisa yang sempat mengambil berkas yang terjatuh.
"Ya ampun ... ini orang cepat banget jalannya! seperti kereta eksekutif saja. Jius ..." Alisa mengejar Hadi yang sudah berada jauh.
"Aduh Om ... jangan terlalu cepat jalannya. Aku ngomong gak di respon!" ucap Alisa dengan nafas yang sedikit terengah-engah.
Hadi hentikan langkahnya dan menoleh ke arah gadis tersebut. "Ada apa?"
"Eh, itu. Ada email yang mengatas nama kan dari perusahan PT xx dan ingin mengadakan pertemuan dengan anda, Om." Jelas Alisa.
Hadi terdiam sejenak. "Buat aja jadwal secepatnya. Kalau bisa nanti sore saja."
"Oke. Akan ku buat perjanjian jadwalnya." Alisa sembari mengangguk.
Kini keduanya sudah berada di meja kerja masing-masing. Dan Lisa membuatkan janji dengan perusahaan xx untuk membuat janji pertemuan nanti sore.
"Oke, mereka menyetujui pertemuan nanti sore, Om." Alisa melirik ke arah Hadi yang sedang fokus menatap layar ponsel yang berada di depannya itu ....
.
__ADS_1
Jangan lupa subscribe ya? like komen dan vote nya agar aku tambah semangat.
Terima kasih.