
Liana sedang teleponan dengan seorang pria yang janjian untuk ketemuan di salah satu tempat, bibir Liana mengembang dan lanjut bersih-bersih, untuk bersiap pergi ke tempatnya Alisa.
“Semoga semuanya lancar dan tidak ada halangan apa pun,” gumamnya Liana penuh harap.
Setelah beberapa saat. Liana pun sudah siap dan tampak cantik, kemudian ke amar ibunda apakah dia sudah siap atau belum?
Ternyata sang bunda pun sudah tampak siap dengan dibantu oleh sang ayah dan asisten pribadinya. “Mama sudah siap?”
“Sudah, mama sudah siap kok.” Lirihnya Diana sambil melirik ke arah sang suami yang sudah tampak gagah dan tidak terlihat kalau dia sudah berusia empat puluh.
“Wieh ... Papa ganteng deh, persis yang difoto lho Pah. Serius,” puji Liana kepada papanya.
“Kau bisa saja, sepertinya kalau memuji seperti itu suka ada maunya.” Hadi menatap curiga pada Liana.
“Ih ... Papa, memang begitu kok. Papa ganteng kan Mah?” Liana menoleh pada sang bunda.
Diana mengulas senyumnya sembari mengangguk pelan. “Mama jadi ingat waktu itu ketika kita mau menikah, kau ganteng seperti ini, dan rasanya tidak ada yang berubah dari penampilan mu.”
Hadi hanya tersenyum dan menggeleng. “Jangan memuji ku, nanti aku keras kepala.”
Terdengar derap langkah mendekati pintu kamar Diana dan ternyata Dania yang datang dengan wajah yang kurang bersahabat.
“Mbak, itu di bawah hantaran buat siapa? Buat aku kah?” gadis berumur yang berkerudung itu menatap curiga dan diakhirinya dengan gede rasa kalau barang yang di maksud itu untuk dirinya sebagai lamaran, Tapi kok tidak mengundang orang tua yang berada di luar kota.
“Saya mau melamar Alisa, buat suami saya.” Kata Diana sembari menatap ke arah Dania yang tampak shock mendengarnya.
“Apa? mau melamar Alisa? apa mbak gak salah? mau menjadikan dia mu madu Mbak?” selidik Dania.
Dia benar-benar tidak menyangka kalau itu bukan isapan jempol semata, kalau yang dikatakan Diana adalah benar. Diana mau melamar Alisa untuk dijadikannya madu.
“Saya tidak mengerti dengan jalan pikiran Mbak Diana, mau menghadirkan orang lain dalam kehidupan Mbak. Apa tidak memikirkan akibatnya nanti? Dia orang lain mbak, orang lain. Kalau saja Mbak mau menghadirkan wanita lain di dalam rumah tangga mbak, tentunya harus irang dalam yang kan lebih mengerti Mbak dan keluarga.” Ujar Dania dengan jelas kalau dia menentang keputusan sang kakak. Lebih-lebih dia sendiri mau kalau menjadi istri Hadi Dirgantara.
__ADS_1
Semua yang ada di sana menghela nafas panjang mendengar perkataan Dania yang tidak setuju kalau kakaknya melamar Alisa.
“Itu sudah menjadi keputusan, Mbak Dania ... jadi siapapun tidak berhak untuk menentangnya,” lirihnya Diana sembari mengembuskan nafasnya dalam-dalam.
“Ya ampun Mbak ... dia masih terlalu muda untuk abang—“
Liana maju beberapa langkah mendekati tante nya. “Em ... kalau Tante, tentunya sebanding ya usianya? Tidak kemudaan dan tidak ke tuaan ya? tapi sayang ya? mama lebih memilih daun muda dan anak yang masih bua kencur seperti yang Tante bilang itu.’’
“Tapi bukankah waktu itu Mbak bilang mau melamar ku untuk Abang? kenapa malah anak itu yang Mbak lamar? seharusnya Mbak gak usah bilang akan memilih aku bila kenyataan nya utu Cuma omong kosong doang.” Kata Dania dengan nada marah pada sang kakak.
Lagi-lagi Diana menghela nafas dalam-dalam. “Mbak minta maaf, tapi waktu itu juga mbak bilang kalau ada dua calon yang akan mbak pilih, jadi gak tertuju banget sama kamu.” Lirih Diana kembali.
“Ooh, sepertinya Tante itu ... terobsesi banget ya sama papa? sepertinya Tante ini—“
“Sudah-sudah, kita harus segera pergi? takutnya keburu sore nih,” Hadi bersiap mendorong pegangan kursi roda sang istri.
Liana mengangguk dan seraya berkata. “Tante mau ikut gak? tapi lebih baik ga ikut sih, daripada membuat ulah, mulut Tante kan pedas level 9 jadi gak usah ikut saja!”
Dania mencibir kesal pada keponakan nya. Liana yang selalu mengibarkan bendera perang dengan nya.
“Dania, apa yakin gak mau ikut?” suara Hadi memanggil Dania.
Namun Dania terdiam dengan hati yang gondok dan marah. “Awas, suatu hari nanti aku harus bisa mendapatkan yang aku mau.” Batin nya Dania penuh ambisi.
“Aduh, Papa ... dia itu tidak suka sama Alisa. lebih baik tidak ikut, daripada nanti bikin kacau dengan omongannya yang pedas itu.” Protes Liana yang sedikit mendorong bahu sang ayah.
Sementara Diana terdiam, ada benarnya juga kata-kata Liana itu.
Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil yang besar dan muat untuk semua keluarga, sementara barang-barang sudah di belakang dan Dirga sudah duduk di depan bersama supir.
“Yey ... kita berangkat ke tempatnya kak Alisa.” Suara Dirga dengan sumringah.
__ADS_1
Diana melamun melihat ke depan dan bergelut dengan pikirannya sendiri.
“Sayang, you oke?” Hadi melirik sang istri yang yang tampak anteng melamun.
Diana menoleh ke arah suaminya yang berada di samping nya itu. “Aku oke. Jangan khawatir, aku oke-oke saja.”
Sepanjang perjalanan Liana sibuk dengan ponselnya dan senyum-senyum sendiri.
Diana dan Hadi ke tempat alisa itu menggunakan dua mobil. Mobil yang satu adalah membawa bingkisan lainnya dan dua asisten dan keluarga dari Hadi, yang terdiri dari kakak dan juga beserta istri yang menyusul, mereka pun mengerti dan menyetujui keputusan dari Diana.
Setibanya di kediaman Alisa. Mobil tersebut menepi dan di sambut oleh bu Juli dan suami yang memakai setelan rapi.
Hadi menurunkan sang istri dan dipindahkan nya ke kursi roda yang dipersiapkan oleh Liana dari bagasi.
“Assalamu’alaikum ...” ucap Hadi dan Diana. Liana hanya tersenyum dan mengangguk hormat.
“Wa’alaikum salam ... Ayo. Silakan masuk? aduh, saya merasa kaget dan gimana ... gitu? malu juga telah kedatangan tamu yang sangat istimewa.”
“Apa kabar bu Juli? yang tampak awet muda, dan sehat?” ucap Diana dengan suara lirih.
“Alhamdulillah ... ahc, bisa saja. Justru saya lebih tua karena keadaan, saya itu capek dan kerja serabutan, bisa-bisanya bilang saya awet muda.” Bu Juli menggelengkan berkali-kali sambil tersenyum.
“Tapi bu Juli harus bersyukur, sudah diberi kesehatan. Tidak seperti saya yang sakit-sakitan,” Diana berucap lirih dan menahan sedih.
"Jangan bilang seperti itu, sabar! semoga segera sembuh." Bu Juli mantap haru. Kemudian mereka berpelukan dengan sangat erat.
Hadi bersalaman dengan keluarga Alisa. Yaitu bu Juli dan suami yang memandang dirinya dengan tatapan aneh.
“Jadi minder dan ahk tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata. Kalian sudi datang ke sini yang bahkan dengan tujuan yang tidak saya duga sebelumnya.” Bu Juli menunduk.
Hadi tidak berkata apapun selain mendorong kursi roda sang istri masuk ke dalam ....
__ADS_1
.
...Bersambung!...