
Di luar kamar, Alisa bertemu dengan mbak yang langsung meminta Alisa untuk menyerahkan nampannya.
"Oh, ya udah, makasih ya? aku mau mengambil tas kerja ku, Oya tolong juga lihat Dirga apa dia sudah siap atau belum? mau berangkat soalnya." Kata Alisa.
"Ooh, Dirga sudah siap dan berada di bawah." Mbak menunjuk ka bawah.
"Iya kah, bagus kalau begitu. Aku ke kamar sebentar." Alisa bergegas melanjutkan langkahnya ke kamar dia tuk mengambil tas kerjanya.
Kini Alisa menuruni anak tangga dan di sambut oleh Dirga yang sudah tidak sabar ingin segera berangkat ke sekolah.
"Berangkat sekarang Yo, Mom? nanti keburu siang!" Dirga menarik pergelangan Alisa.
"Iya, boleh." Alisa pun berjalan ke ke depan. Namun sebelumnya Alisa pamit dulu pada sang ibu mertua yang berada di teras bersama asisten rumah menyiram bunga.
"Bu, Lisa pergi dulu ya?" Alisa mencium punggung tangan ibu.
"Iya, hati-hati. Oya kenapa gak ajak Hadi untuk mengantarkan? jangan biarkan dia melamun terus di rumah!" Ucap lirih sang mertua.
"Sudah, Bu ... tapi gak mau dianya!" balas Alisa sambil menyuruh Dirga tuk cium tangan.
Sang ibu mertua terdiam mendengar penjelasan Alisa tentang putranya itu.
Alisa kini sudah berada di dalam mobil bersama Dirga dan pak Mur sebagai supir. Dan mobil langsung melaku dengan kecepatan sedang menuju sekolahan Dirga.
Selang beberapa puluh menit, tibalah di depan sekolah nya Dirga dan anak itu pun turun dengan wajah yang sumringah dan riang.
"Mommy. Aku sekolah dulu ya!" Dirga berdiri di depan Alisa.
Alisa mencium pucuk kepalanya dan mengusap rambutnya. "Yang rajin ya dan jangan nakal, oke?"
"Iya, Mommy." Anak itu setengah berlari bergabung dengan teman-teman sekolahnya.
Alisa berbalik lalu masuk kembali ke dalam mobil serta perintahkan pak Mur untuk jalan ke kantor.
"Tuan, belum masuk kantor ya Non?" tanya pak Mur dari depan dan melihat Alisa dari kaca spion.
__ADS_1
"Belum, Pak ... dia terus saja tampak sedih, bukannya aku gak mengerti. Tapi kan dia itu di butuhkan sama banyak pihak," Keluhnya Alisa.
"Mungkin tuan masih berkabung dan nanti juga dua akan bangkit seperti biasa, Non yang sabar saja. Tuan gak akan begitu selamanya." Sambung pak Mur kembali.
Selang waktu, mobil tersebut sampai di parkiran yang khusus para staf. Alisa turun sambil menyoren tas nya yang berisi laptop dan lainnya.
Berjalan dengan perasaan mengambang. Namun dia harus tetap semangat di saat Hadi belum bisa hadir di kantor.
Mau tidak mau dia harus tetap menggantikan Hadi,
Waktu terus bergulir membawa Alisa ke sebuah malam. Dan dia sudah berada di mension berbaur dengan yang lain di acara tahlilan, setelah itu menemani Dirga belajar bersama Liana juga.
"Sudah, belajarnya? kak Lian ngantuk nih." Liana menguap.
"Sudah, aku juga ngantuk. Mom, besok kalau ada PR temenin lagi ya?" Dirga pun menoleh pada Alisa yang sedang membaca buku novel.
"Oh, iya sayang, kalau sudah. Mommy balik ke kamar dulu ya? dan cepat tidur" Alisa mengacak rambut Dirga yang membereskan buku-bukunya.
"Iya Mommy." Dirga langsung berbaring di atas tempat tidurnya memeluk guling.
"Oke!" anak itu mengangguk lalu terpejam.
Kepala Alisa menoleh pada Liana yang sudah berdiri di dekat pintu menunggu Alisa.
"Yo?" Alisa merangkul bahu Liana, keluar dari kamarnya Dirga.
"Lo gak capek. Ngantor Mulu? maksud gue mengurus semua terus tugas bokap!" Liana melirik ke arah Alisa.
"Em ... kalau dibilang capek sih, capek, apalagi bukan cuma harus fokus dengan tugas ku saja, tetapi juga mengurus semuanya." Alisa menghela nafas panjang.
"Lalu capek, Lo libur aja dulu. Cuti," sambung Liana sambil berjalan pelan.
"Nggak bisa gitu juga, apalagi bos nya tidak ada. Di saat gak ada pimpinan, kita harus berada di posisinya masing dan tahu tanggung jawab kita." Balas Alisa.
"Tapi gue kasihan juga sama lu!" Liana menatap ke arah Alisa.
__ADS_1
Alisa memegang kedua bahunya sahabat termasuk anak sambung nya itu. "Aku gak pa-pa kok, tenang saja!" Kemudian Alisa bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Liana pun masuk ke dalam kamarnya, setelah Alisa meninggalkan dia.
"Pasti si om, tidur di kamar Tante Diana, seperti malam kemarin." Pikir Alisa mengingat semalam pun dia tidur sendirian. Karena Hadi tidur di kamarnya Diana.
Tetapi pas Alisa membuka pintu, Tampak Hadi sedang berdiri memunggunginya, bersiap untuk tidur.
Alisa menutup pintu dengan pelan, dan berjalan mengendap-endap mendekati lalu geph. Memeluk suaminya dari belakang Alisa merasa rindu dengan belai kasihnya Hadi yang selama ini tidak dia dapatkan semenjak itu di Surabaya, ada rasa kangen yang tak mampu dia ungkapkan.
Namun, apa yang Alisa dengar dari bibir seorang Hadi. Dia justru menyebut nama Diana di saat dia peluk. Membuat Alisa sontak menarik kedua tangannya dari perut Hadi.
Dadanya terasa sesak dan sakit ... bagai di tusuk sembilu perihnya sampai ke relung hati.
Hadi yang bertelanjang dada yang bersiap berbaring itu berbalik seiring Alisa menarik tangannya yang merangkulnya dari belakang itu. Entah kanapa nama itu justru lepas dari bibir Hadi.
"Sayang," Hadi menatap ke arah Alisa yang sedang menatap nanar pada dirinya yang sudah membuat kesalahan, dengan menyebut nama Diana yang tertuju padanya.
Bibir Alisa bergetar menahan tangisnya. Dia mundur beberapa langkah dan memutar badan mendekati tempat tidur di bagian lain, lalu naik menarik selimut! berbaring menghadap tembok dengan perasaan yang terluka.
Hadi bengong. Menatapi Alisa yang tampak marah dan sedih. "Aah ... sial, kenapa aku malah menyebut nama Diana sih? dia jadi marah dan sedih. Bisa-bisa nya ku menyebut nama Diana di saat dia berada di sisi ku." Hadi teru merutuki dirinya yang dengan sembarangan membuat hati istri kecil nya terluka.
Alisa menangis yang tak bersuara. air matanya membanjiri pipi lalu jatuh ke ke banyak yang terasa panas di pipi. Di saat ia merindukan belai kasihnya dari Hadi, justru kebalikannya. Hadi cuek dan mengabaikannya.
Sesaat kemudian, Hadi naik dan mendekati Alisa dan menyentuh bahunya. "Sayang, aku minta maaf? aku ... gak sengaja."
Alisa terdiam. Hanya hatinya yang terus bermonolog. "Aku tahu, aku hanyalah istri kontrak! tapi kau harus sadar, aku masuk ke keluarga ini bukan kemauan ku! dan kau juga yang mengajarkan ku tau arti seorang istri."
"Kau yang mengajarkan ku cara sentuhan dan bercinta, kini aku merindukan belai kasih mu. Kau malah seperti itu dan menyakiti ku! terus saja kau larut dalam sedih mu itu." Alisa terus bermonolog.
Suasana hening ....
...🌼---🌼...
Ayo-ayo mana dukungannya buat author nya nih? biar tambah semangat.
__ADS_1