
"Abang ... apa kau sudah bangun?" suara Diana dari balik pintu kamar tersebut.
Hadi langsung berdiri, mendengar suara Diana, sang istri. Lalu menarik paksa tangan Alisa di bawanya ke dekat tempat tidur yang masih berantakan.
Alisa yang kebingungan dengan maksud Hadi, jelas menolak. Namun tangan Hadi mengunci dan menyuruhnya berbaring di atas tempat tidur dan berselimut sampai menutupi leher.
Mau tidak mau, Alisa menurut saja. Lantas Hadi pun berbaring di samping Alisa satu selimut dengannya, tangannya menarik bahu Alisa supaya mendekat dan pura-pura tidur.
Di balik dada yang deg-degan. Alisa tersenyum lucu. Namun ada rasa kesal juga. "Apaan sih? gak jelas banget."
Daun pintu kembali di ketuk dan suara Diana terdengar kembali. "Abang? Lisa ... sudah bangun belum? sudah siang nih, apa kalian sudah salat subuh?"
"Em ... sayang, masuk saja! pintunya tidak di kunci kok." Balas Hadi sambil menempelkan telunjuknya di bibir dan menoleh pada Alisa yang memandanginya kebingungan.
"Tidur!" bisik Hadi sambil mengusap wajah Alisa.
Membuat Alisa mengangguk dan memejamkan kedua matanya.
Pintu pun terbuka dan Diana yang di kursi roda bersama ibunya Hadi juga mbak, masuk ke kamarnya Hadi yang sudah rapi dan Hadi sedang baringan di samping Alisa yang hanya terlihat wajahnya saja.
Kedua manik mata Diana mendapati sang suami sedang tiduran di samping madunya yang masih tampak tertidur.
"Hadi sudah salat subuh belum? sudah siang nih!" suara sang bunda sambil menatap intens ke arah mereka berdua.
"Oh, sudah, Bu ... tadi sudah bangun dan salat subuh. Kami berdua tidur lagi." Jawabnya Hadi sembari pura-pura masih mengantuk.
"Ooh, kirain aku belum bangun." Diana menatap keduanya, di balik rasa sakitnya ada rasa bahagia yang menyertai perasaannya Diana.
Bahagia, karena sudah memberikan pendamping untuk Hadi yang sehat, cantik dan masih muda lagi.
Hati istri mana yang tidak sakit? Orang yang di sayang menikah lagi atau beristri lagi. Namun ini demi orang yang dia sayang bahagia. Dia rela berkorban dan memilihkan istri untuk suaminya! dari pada sang suami jajan di luar atau memilih sendiri, yang akan lebih terasa sakitnya. Mending dia turun tangan sendiri dan memilihkannya.
"Sebaiknya kalian sarapan dulu," sambung sang bunda nya Hadi.
"Iya, Abang ajak Lisa sarapan dulu dan setelah itu barulah tidur lagi. Kalian pasti capek bukan?" Diana menambahkan ucapan dari sang mertua.
"Iya, Bu. Sebentar lagi, iya sayang bentar aku turun. Sayang juga sarapan dan minum obat, Mbak tolong jagain Ibu." Hadi mengedarkan pandangan kepada mereka semua.
__ADS_1
Mbak mengangguk. Lalu kemudian, Diana dan sang ibu mertua mengundur diri dari tempat tersebut.
Pintu sudah di tutup, Hadi bangun. Begitupun dengan Lisa, setelah memastikan suana aman dan langsung saja melonjak dan menjauh dari Hadi.
"Iih, jangan cari kesempatan dong!" Alisa turun dari tempat tidur.
"Apanya yang mencari kesempatan?" Hadi tidak mengerti.
"Apanya? tangannya di kondisikan dong? peluk-peluk segala dan gerak-gerak juga," Alisa memajukan bibir bawahnya.
"Ha ha ha ... kalau saya tidak bergerak ... berarti saya tamat, alias mati. Mau kamu menjadi janda sebelum waktunya dan tidak mendapatkan apa pun?" Hadi menatap sambil menunjukan giginya yang berbaris putih.
"Iih, apaan gak nyambung amat!" Alisa membalikan badan.
Geph!
"Eeh, mau kemana? emang suaminya gak di kasih makan nih? dengar tidak barusan istri saya bilang apa?" Hadi menangkap pergelangan Alisa.
Sehingga Alisa mematung dan menoleh. "Hi hi hi ... tidak, aku kan barusan tidur!"
"Hem ... bikinkan saya sarapan?" pinta Hadi sambil merapikan pakaiannya.
Hadi mengerutkan keningnya. "Emangnya kenapa? dan tanya-tanya, apa maksudnya?"
"Ya ... itu, di tanya apa kek. Yang berkaitan dengan pengantin baru, aku kan jadi malu dan juga gak tau harus jawab apa?" Kata Alisa dengan suara pelan.
"Em ... nggak tau memang pura-pura gak tau?" goda Hadi sambil memainkan matanya.
"Nggak tahulah, Om. Kalau tau sih tentunya aku sudah bobol duluan dong!" Alisa mesem-mesem sendiri.
"Mau tahu gak? kalau mau tahu saya akan kasih tahu." Tawar Hadi.
Alisa memutar otaknya yang mulai traveling. "Apaan?"
Hadi mendekat dan berdiri di hadapan nya Alisa. Menatap lekat dan tangannya membingkai wajah Alisa. Dengan hati yang seakan senam jantung. Tatapan Hadi semakin dalam ke arah wajah Alisa.
Begitupun jantung Alisa yang tidak dapat dipungkiri dag-dig-dug tak menentu. "Mau apa sih? Om Hadi bikin aku jantungan saja." batinnya.
__ADS_1
"Kau mau tahu kan? ini ... salah satunya pengantin baru!" ucap Hadi pelan dengan suara yang agak bergetar. Wajahnya mendekat pada wajah Alisa yang sedikit mundur.
Hampir saja Alisa memejamkan kedua matanya, dan langsung membuka tangan Hadi yang membingkai wajahnya itu. "Ehem, Om. Aku mau siapkan sarapan dulu, makannya di bawah kan?"
Hadi terdiam, hampir saja dia mencium bibir nya Alisa, cinta sih cinta sama istri pertama. Tapi istri kedua juga wajar lah bila di sentuh, orang istri yang tentunya halal. Sayang juga bila di sia-sia kan bahkan akan berdosa bila dia membiarkan begitu saja.
Tampak Hadi menghela nafas panjang melihat langkah Alisa yang melintasi pintu.
Kemudian Hadi pun berjalan, membawa langkahnya ke sebuah ruangan yang terdapat beberapa alat olah raga. Dia berniat untuk nge-gym sebentar sebelum sarapan.
Alisa yang kini tengah menyiapkan sarapan buat Hadi. Begitu serius memasak dengan sepenuh hati. "Hem ... harum baunya."
"Ehem. Masak buat suami, kemarin buat tunangan. Enak ya dapat suami kaya? tapi ... apa enaknya sih, kalau masih juga harus capek-capek masak segala!" suara Dania yang menghiasi suasana dapur yang yang sedang berperang dengan wajan dan sodet.
Alisa menoleh ke arah Dania yang sudah tampak rapi untuk ngantor. "Em ... Tante, apa salahnya sih melayani suaminya untuk makan, memasak dan sebagainya? biarpun banyak duit dan tinggal beli atau tinggal nyuruh asisten buat masak, apa perlu ya? menyuruh asisten melayani suaminya dia tempat tidur juga? kan banyak duit. Ha ha ha ..."
Dania menatap datar ke arah Alisa yang sudah mulai berani menyahut perkataannya.
"Atau mungkin, calon suami Tante ... takut di suruh segalanya di layani asisten kali ya? terus fungsinya istri apa dong, kalau segalanya asisten yang ngurus? begitupun tante Diana, menikahkan aku dengan om Hadi untuk melayani semua keperluannya. Termasuk makannya," sambungnya Alisa.
"Dasar kurang ajar, beraninya ya bilang seperti itu padaku! dasar anak kemarin sore." Dania menyiramkan air dalam gelas ke wajah Alisa.
Beberapa asisten yang berada di sana teramat dibuat kaget dengan apa yang terjadi. Sungguh diluar dugaan.
Tangan Alisa mengusap wajahnya yang basah kuyup. Dengan tatapan yang tidak bersahabat ke arah Dania yang menatap dirinya penuh amarah. "Tante itu seharusnya bisa memberi contoh yang baik, pada orang yang lebih muda yang kau sebut anak kemarin sore. Bukan kaya gini Tante! Tante tidak mencerminkan orang yang pantas saya hormati."
Beberapa asisten mendekat, mereka takut kalau Dania membuat ulah lagi terhadap Alisa.
"Saya tidak mau ya! siapa juga yang ingin di hormati oleh orang macam kamu, kamu itu orang baru dan kamu bukan siapa-siapa kalau tidak nikah sama Abang Hadi." Dania melotot dengan tangan masih memegangi gelas.
Yang asisten takutkan, gelas tersebut di lempar ke arah Alisa. Sehingga ada mbak memegangi tangan Dania dan mengambil gelasnya.
Kendati demikian, Alisa tidak lupa dengan masakannya buat Hadi. Lalu dia tuang ke dalam piring lantas dia bawa ke lantai atas. Dia khawatir bila disimpan di meja. Takut rasanya berubah seperti waktu itu lagi ....
.
Mohon dukungan nya ya?
__ADS_1
Makasih