
Kini Diana memeluk Alisa dengan erat sambil berkata dengan sangat pelan. “Lisa… titip abang ya? jadilah istri yang baik panut terhadap suami. Abang itu penyayang orangnya, Lisa juga akan disayang sama dia.”
Alisa hanya mengangguk pelan dalam pelukan Diana.
Semua orang ikut berbahagia, bersuka cita dengan pernikahan ini, dan lalu mereka memburu dan menikmati hidangan yang tersedia.
Kecuali Dania yang tidak ikut menyaksikan pernikahan Hadi dan Alisa. Dia memilih berdiam diri di kamarnya. Hatinya bagai terbakar api yang berkobar. Tidak terima dengan pernikahan mereka berdua.
“Seharusnya yang menjadi pendamping mu itu adalah aku, bukan dia budak yang masih ingusan, bau kencur.” Gumamnya Dania sambil mengepalkan tangan.
Dania tampak geram dan kesal juga kecewa. Berharap manis, pahit yang dia cicipi. Berharap bahagia eh... kecewa yang ada.
“Lagian … ngapain sih? mbak Diana memilih dia? Bukannya aku yang jelas-jelas saudaranya, malah memilih orang lain. Gak jelas banget.” Dania terus bermonolog sendiri.
Rkeeeet ... pintu terbuka dan sang ibu masuk mendekati putri keduanya tersebut. "Kau ini kok berdiam diri terus di sini sih?sudah berdandan cantik tapi gak turun, percuma.”
“Malas, Bu … ngapain nonton pernikahan mereka? gak penting banget. Panas nih, Bu... dada ku panas, sakit ... seharusnya aku yang berada di pelaminan itu. Bukan dia,” gerutu Dania sambil berkaca-kaca.
“Kamu ini, emangnya kamu pikir Ibu suka dengan pernikahan ini?tentunya Ibu juga lebih suka kamu yang menggantikan Diana, biarpun dibilang turun ranjang, kan mendingan kamu adiknya. Tapi sekarang kan sudah terlanjur dan itu pilihan kakak mu, jadi terima saja. Siapa tahu jodoh mu nanti pria yang lebih segalanya dari Hadi.” Sang ibu membujuk Dania sambil memeluknya.
“Tidak segampang itu, Bu … dan aku sukanya sama Hadi. Ibu tahu kan? kalau aku naksir Hadi sebelum mbak Diana dan Hadi menikah. Aku cinta berat sama dia,” akunya Dania masih dalam pelukan sang bunda.
“Ibu tahu itu, tapi gimana kalau memang tidak jodoh? ya susah. Kita tidak bisa memaksakan diri, serahkan semua pada yang maha kuasa, mungkin ada jodoh yang terbaik untuk mu.” Bu Lia terus membujuk putrinya agar tidak larut dengan kesedihan.
Sementara yang berada di bawah, sedang memberikan ucapan selamat kepada pengantin baru. Diana pun tak luput menemani kedua mempelai. Diana duduk di samping sang suami sebelah kanan di pelaminan yang sama. Sedangkan Alisa di kiri, bak pangeran di dampingi dua permaisuri yang cantik-cantik.
Rahman yang hadir di acara istimewa antara Hadi dan Alisa itu tampak digandeng oleh Liana yang kini bukan hanya sahabat bagi Alisa, tetapi anak sambung. Dia digandeng Liana ke hadapan orang tuanya yang berada di kursi pelaminan yang berwarna keemasan tersebut.
“Ayo. Sayang ... kita berikan selamat pada papa dan mama baru ku nih,” ucap Liana dengan bibir tersenyum indah, seolah tidak menjaga perasaan keduanya yang sebagai mantan, yang mungkin saja masih tersimpan rasa cinta.
__ADS_1
“Selamat ya?” ucap Rahman yang menatap ke arah Alisa yang bikin pangling, berubah 90 derajat. Hampir saja dia tidak mengenali Alisa dari kejauhan.
'Iya. Makasih,” balas Alisa dengan tatapan mata yang berkaca-kaca. Sejenak mereka bersalam.
“Selamat juga? semoga samawa,” kini Rahman mengucapkan selamat kepada Hadi sebagai mempelai pria nya Alisa.
“Terima kasih atas kehadiran dan doanya?” balas Hadi sambil menyambut tangan Rahman.
“Sudah sayang, hayo. Kita makan di sana? lapar nih,” Liana menarik kembali tangan Rahman dari pelaminan, setelah bersalaman dengan Diana sang mama.
“Siapa dia ya Bang?” tanya Diana sambil melirik ke arah Hadi.
Hadi mengusap tangan sang istri. “Entah, pacarnya kali.”
Alisa menghela nafas panjang sambil memandangi punggung Rahman yang di tarik oleh Liana.
“Abang, kok aku gak liat orang-orang dari kantor. Apakah yang kau tidak mengundang mereka atau memang tidak datang? tapi kan gak mungkin bila satu pun tidak ada yang datang.” Lirihnya Diana pada sang suami.
Alisa melirik ke arah Hadi sekilas. Padahal tidak ada pembicaraan Soal undangan sih, lagian Alisa tidak berniat mengundang siapa pun.
"Em ... termasuk teman-teman Alisa yang tidak ada yang di undang?” Diana melihat ke arah Alisa.
Alisa pun mengangguk. “Iya, Tante … Liana pun yang heboh. Tidak mengundang siapa pun selain pacarnya itu.”
“Ooh, yang barusan itu pacarnya Liana toh?” Diana mengangguk-anggukan kepalanya.
“Biarlah pernikahan ini tanpa undangan yang banyak! yang penting ... segala doa baik orang-orang yang ada di sini di ijabah oleh yang maha kuasa.” Tutur ibunya Hadi.
“Aamiin ya Allah …” timpal bu Juli mengaminkan juga yang lain.
__ADS_1
“Oya, besan mana?” ibunya Hadi celingukan mencari bu Lia yang terlihat hanya suami bu Lia saja yang sedang makan, bergabung dengan tamu lainnya.
Diana pun ikut celingukan.“ Mungkin Ibu bersama Dania, Bu … lagian sedari tadi aku tidak melihat dia, padahal tadi sudah berdandan cantik lho.”
“Ooh, iya sih. Ibu juga tidak melihat Dania selain tadi pagi di kamar." Sambung sang ibu mertua.
“Tante Dania pasti kebakaran jenggot. Pujaan hati menikah dengan ku, tenang tante, ini Cuma bersifat sementara kok. Setelah kami berdua bercerai, kau bebas dekati Om Hadi,” suara hati Alisa sambil celingukan.
Kemudian Hadi di suguhi makan berisi ayam yang harus di makan berdua saling menyuapi, mulanya mereka pun tidak mau, apalagi Alisa malu dengan Diana, namun karena terus di bujuk dan akhirnya mau juga. Mana menyuapi nya juga tidak menggunakan tangan tapi menggunakan mulut saja, yang mengharuskan wajah saling
Berhadapan sangat dekat.
“Pakai tangan saja, susah.” Gumamnya Alisa setelah dapat satu suapan saja dari ayam yang di gigit Hadi.
“Iya boleh, itu hanya simbol dan sudah bisa juga,” ujar ibu Hadi sambil mengangguk pelan.
Sore hari, acara pun selesai dan Alisa sedang berada di kamarnya Diana bersama Hadi juga. Mereka bertiga lalu mbak datang untuk menyiapkan obat dan Hadi yang memberikan obat tersebut pada sang istri.
“Diminum obatnya dulu sayang, biar sayang cepat sembuh, dan kita akan sangat bahagia bila sayang sembuh.” Hadi lantas memberikan minumnya.
“Iya, tante harus sembuh. Sehat seperti dulu lagi,” tambah Alisa sambil memegang tangan Diana sangat erat, memberi semangat untuk sembuh.
“Terima kasih, Abang ... Lisa juga, kalian adalah salah satu penyemangat saya. Demi kalian semua ... saya masih semangat untuk menjalani hidup ini walaupun menyusahkan kalian,” suaranya pelan sambil membeberkan keduanya yang masih menggunakan pakaian pengantin.
“Settth … jangan bicara seperti itu sayang, tidak ada yang merasa direpotkan sama sayang,” Hadi memeluk kepala sang istri.
Alisa mengalihkan pandangan dengan manik mata yang berembun. Pilu rasanya melihat kondisi Diana ....
.
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan vote nya juga.
Terima kasih