
"Kenapa gak Papa aja sih yang pergi ke Lampung? kasihan lho Alisa bolak-balik ke luar kota, selama ini dia Belum liburan juga." Celetuknya Liana kepada sang ayah.
"Oma juga sudah bilang seperti itu ya kalau Alisa itu butuh istirahat sejenak dan apa salahnya kalau dia diajak berlibur iya kan?" timpal nya sang oma.
"Hooh. Papa ini nggak kasihan apa sama Alisa? dia sudah banyak berkorban waktu, tenaga dan pikiran. Apalagi Mama drop terus berobat ke luar Negeri lalu meninggal, Papa dalam masa bergabung. Semuanya Lisa yang handle. Seharusnya Papa kasihan sama dia memberikan ruang buat istirahat, kan sudah saatnya Papa bangkit, jangan larut dalam, kesedihan dong ... Alisa itu bukan sekedar staf atau karyawan Papa, dia istri Papa yang butuh perhatian dan kasih sayang!" Liana menatap papanya.
Sementara Hadi tidak berkata apapun, sebenarnya dia pun memang menyadari kalau Alisa itu sangat berarti selama ini. dan sedikit menyesali nya, sehingga membiarkannya ke Lampung dalam keadaan marah juga, hingga tidak berpamitan padanya ataupun yang lain.
"Iya nih, Papa jahat! seharusnya mommy itu banyak di rumah, istirahat dari kantor. Mengurus suami dan mengurus anak-anak, bukan di kantor terus! jadinya kan sekarang ini aku nggak pergi sama Mommy, jadi sedih," tambah Dirga yang cemberut dan wajahnya menunjukkan rasa sedihnya.
"Ya sudah, kita berangkat sekarang yok? nanti kesiangan." Hadi berdiri sembari mengusap kepala nya Dirga.
"Coba ada mommy, terus Papa juga mau nganterin. Berarti kita bertiga ada Papa ada juga mommy, kan lengkap. Kalau kayak gini sama aja! nggak lengkap, ada mommy, Papa nggak ada. Ada Papa mommy nggak ada, huuh ..." anak itu terus mengomel seolah menyalahkan Hadi yang membiarkan mommy nya pergi.
Hadi mengusap tengkuknya, dia jadi bingung harus bagaimana. Kalau menyusul istri kecilnya gimana dengan kantor pusat apalagi ini hari pertama dia masuk.
Kini keduanya, sudah berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh sopir lainnya.
"Pah, aku sayang sama mommy, dia baik. Pintar lembut dan penyabar, hampir sama, sama mama. Kalau dia pergi gimana Pah? aku nggak punya mommy apalagi tante dan aku nggak mau punya mama seperti tante." Dirga membuka obrolan.
"Aku nggak mau mommy pergi, maunya mommy sama Papa terus sama kita semua, terus mempunyai baby yang lucu juga gemuk. Oya Pah bikinkan aku adik yang lucu dong? teman-temanku semua sudah mempunyai adik. Hanya aku saja yang belum!" wajah anak itu mendongak pada sang ayah yang terus saja terdiam.
"Emangnya Dirga mau punya adik?" tanya sang ayah.
"Mau dong ... Aku kan sudah besar, semua teman aku sudah punya adik. Ada yang satu, ada yang dua. Dan aku akan menyayangi adik aku, mau aku gendong. Mau aku ajak main, aku mau adik dari mommy ya? kalau mommy hamil. Aku akan menjaga dia, biar dia nggak kecapean!" sambung nya Dirga.
Mendengar itu, Hadi menjadi melamun kepikiran Alisa, istri kecilnya yang sedang merajuk bahkan minta cerai. Membuat perasaan Hadi menjadi campur aduk, baru kepikiran dia kalau Alisa minta cerai.
"Ya ampun ... aku baru ingat kalau Alisa minta cerai, gimana ini? aku jadi bingung sendiri!" Hadi terus menggelengkan kepalanya, Hadi baru ingat kata-kata itu dari Alisa.
__ADS_1
"Gimana Pah. Kasih Dirga adik ya? tapi dari mommy, nggak mau dari siapa-siapa. Pasti lucu deh kalau mommy lagi hamil he he he ..." Dirga tersenyum lucu.
Bibir Hadi pun tersenyum membayangkan kalau Alisa hamil. Dan dia akan memanjakannya seperti dia memanjakan Diana dulu ketika hamil Liana dan Dirga.
"Papa kenapa sih ... senyum-senyum sendiri? bukannya jawab. Kapan mau bikin adik ... aku mau adik dari mommy, ya Pah ... aku mau adik." Rajuk Dirga.
"Dirga kenapa sih, sekarang ini menjadi manja? padahal dulu nggak manja!" tanya Hadi sambil mengusap kepalanya Dirga.
Sejenak anak itu terdiam lalu menoleh pada sang ayah. "Pah, gimana aku nggak manja sekarang ini. Sementara berapa tahun ke belakang mama sakit-sakitan! boro-boro aku bisa bermanja sama mama sama papa, yang ada kasihan sama mama yang sakit. Papa yang sibuk." Anak itu menjeda omongannya sembari menghela nafas panjang.
Dan Hadi menatap anak itu penuh haru.
"Sekarang mama sudah tiada, sudah tenang di sana dan aku punya mommy sebagai pengganti, wajarlah kalau aku jadi manja sama mommy. Biarpun aku udah besar kan kemarin-kemarin aku nggak manja! jadi manjanya sekarang he he he ..." ucap Dirga itu yang diakhiri dengan tertawa kecil.
Hadi menyunggingkan bibirnya sembari merangkul bahu anak itu di bawanya ke dalam pelukan dia. "Ya sudah, kalau manjanya masih di batas kewajaran! nggak papa, tapi kalau berlebihan ... nanti papa marah apalagi manja yang berlebihannya sama mommy, Papa nggak suka."
"Karena yang bisa bermanja dan berlebihan pada mommy itu ... hanya papa saja." Batin Hadi sambil memeluk erat bahu anak itu.
Kemudian mobil pun berhenti dan Hadi turun untuk mengantarkan Dirga ke kelasnya dan sedikit bertegur sapa dengan guru-guru yang bertemu dia.
Lanjut Hadi menuju kantornya yang sekian lama ini dia tinggalkan. Dan ini hari pertama dia masuk.
Selama beberapa waktu Hadi pun nyampe di kantornya, lantas disambut dengan hangat dan penuh hormat oleh semua staf dan karyawan di sana, ada juga yang karyawan yang baru mengucapkan turut berduka cita.
Dan setelah beberapa saat berbincang hangat dengan semuanya, Hadi masuk ke ruangan kerja pribadinya, yang terakhir satu ruangan dengan Alisa! semuanya nampak tak ada yang berubah dulu dan sekarang sama saja.
Kemudian mengarahkan pandangannya ke meja kerjanya Alisa. Bibir Hadi tertarik ke samping seolah-olah melihat Alisa hadir di sana.
"Kok aku senyum-senyum sendiri? kan di sini nggak ada siapa-siapa." Gumamnya Hadi sambil duduk di kursi kebesarannya itu.
__ADS_1
Seharian ini Hadi mulai beraktifitas seperti dulu lagi. Berperang dengan rasa malas dan rasa masih bersedih karena kehilangan sang istri.
Namun sambil bekerja, dia juga kepikiran Alisa yang meminta cerai dan kata-kata kedua anaknya. Liana seolah menyalahkannya yang membiarkan Alisa terus-menerus bekerja tanpa libur dan Dirga yang meminta adik.
"Baiklah, aku akan memberi Alisa cuti satu Minggu. Biar dia berlibur! Hadi bermonolog sendiri sambil menganggukkan kepalanya.
Waktu terus berputar ....
Saat ini Hadi sudah berada di rumah, ketika baru turun dari mobilnya. Hadi bertemu dengan Pak Mur.
"Oh, Tuan ada! kirain saya, Tuan menyusul non Alisa ke Lampung," kata pak Mur sembari berdiri sedikit membungkuk di hadapan Hadi.
"Saya baru pulang dari kantor Pak." Jawabnya Hadi.
Lalu Hadi berjalan menuju teras dan diikuti oleh Pak Mur.
"Sebenarnya saya kasihan lihat non Alisa, Tuan," kata Pak umur kembali.
Hadi menghentikan langkahnya lalu berbalik kepada Pak Mur seraya memasukan sebelah tangannya ke saku celana. "Kenapa emang?"
"Perginya dari sini ... di sepanjang jalan Non Alisa nangis terus!sepertinya dia terlalu lelah dan capek. Sampai-sampai saya tidak tega melihatnya, Tuan. Walaupun dia berusaha tegar di hadapan teman-temannya. Tapi tetap saja dalam hatinya sedang dalam keadaan rapuh, apa tidak sebaiknya, Tuan susul aja dia ke Lampung. Kasihan dia, Tuan," ujarnya Pak Mur dengan tampak serius.
Hadi terdiam dan tak bergeming di tempat, kepikiran istri kecilnya itu yang memang sepertinya dia sedang tidak baik-baik saja dan itu gara-gara dirinya juga yang bersikap dingin dan tak perhatian.
Kemudian Hadi menghela nafasnya yang panjang seraya berkata. "Makasih ya pak," menepuk bahu Pak Mur lalu Hadi pun pergi memasuki pintu utama.
Pria yang tampak gagah dan masih tampak tampan pun membawa langkahnya dengan hati yang semakin gelisah dan was-was ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Terima kasih reader ku yang menunggu selalu.